Pages

Thursday, September 27, 2018

Review: Intersection

intersection
Detail Buku
Judul: Intersection
Penulis: Khalinta
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2018
Tebal: 488 halaman
ISBN: 978-602-04-7903-3
Harga: Rp 86.800

Blurb
Maulana Firdhaus, seorang visual designer di salah satu kantor periklanan paling sibuk di Jakarta, kembali dipertemukan dengan orang asing yang tidak begitu saja percaya bahwa sebagai seorang perempuan, nama dia benar-benar Maulana.
Biasanya Moli kesal setiap kali ada orang yang mengernyit heran dan memastikan kebenaran namanya. Tapi kali ini berbeda. Enggara Arfan begitu memikatnya. Tampan, bertingkah gugup dan cerewet di waktu bersamaan, sekaligus seorang dokter jiwa.
Tidak ada yang menduga bahwa kesialan yang menimpa keduanya karena sebuah kecelakaan di persimpangan jalan akan membawa mereka ke hal-hal yang lebih dalam melibatkan perasaan. Berbekal kebetulan yang membuat Moli dan Ega tak kunjung menemukan alasan mengapa takdir mempertemukan mereka.
Why does this feeling, a burning desire to be with someone superspecial and very atrractive, is called as a 'crush'? Maybe because you never know when will it happened or under what circumstances two hearts could come across each other.Mungkinkah sebuah kecelakaan akan berujung pada takdir lain yang mengikat keduanya?
Meet them in intersection.

Review
Tokoh utama dalam novel ini terdiri dari dua orang, yaitu Moli dan Ega. Moli, seorang perempuan imut yang bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan advertising ini memiliki nama lengkap Maulana Firdhaus. Yup, namanya memang seperti itu dan ada alasannya kenapa bisa begitu. Makanya dia ingin dipanggil Moli.
"Biar kayak cewek." (Halaman 9)
Moli tinggal di sebuah apartemen. Dia ini mandiri dan mobilitasnya sangat tinggi. Setiap hari dia bekerja menggunakan motor yang diberi nama Si Kupi.

Lalu Ega, dokter jiwa yang memiliki nama lengkap Enggara Arfan ini super ganteng dan saleh banget. Pokoknya suami idaman deh. Dia sangat menyayangi ibunya. Perkenalannya dengan Moli diawali ketika Moli dan motornya tiba-tiba menabrak Ega dan mobilnya yang sedang parkir di pinggir jalan.

Meskipun kesal, Moli enggak bisa menutupi wajah kagumnya setiap bertemu dengan Ega. Sedangkan Ega, mulanya dia hanya merasa bersalah dan kasihan pada Moli. Namun lama kelamaan mulai tertarik juga sih. Soalnya Moli ini orangnya kocak. Tapi sayangnya enggak pedean. Apalagi saat dia mengetahui Izza, mantan pacar Ega sesama dokter jiwa yang cantik dan berjiwa petualang.

Moli memiliki sahabat yang bernama Jean. Orangnya asyik banget dan sempat membuat Ega cemburu. Kemudian ada Faya, kakak kesayangan Ega yang akhirnya menjadi roommate Moli di apartemennya. Dan masih banyak tokoh pendukung lain yang membuat kisah dalam novel ini terasa semakin seru seperti Mama dan Papanya Moli, ibunya Ega dan Faya, juga Lexa.

Yang keren nih, semua tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang khas dan kuat, yang terus berkembang menjadi lebih baik dan dewasa seiring dengan mengalirnya jalan cerita.

Setting waktu yang digunakan pada novel ini yaitu masa kini. Adapun setting tempatnya sebagian besar berada di Jakarta. Seperti apartemen Moli, kantor advertising tempat Moli bekerja, rumah sakit tempat Ega bekerja, dan lain-lain. Namun selain di Jakarta, ada juga setting tempat rumah keluarga Ega di Tangerang serta rumah keluarga Moli di Bogor. 

Berbagai setting tempat pada novel ini bukan hanya sebagai pelengkap loh, namun memiliki andil juga dalam menggerakkan cerita. Contohnya apartemen Moli. Perkenalan antara Ega dan Moli memang berawal dari kecelakaan yang menimpa mereka. Tetapi mereka menjadi semakin dekat, karena Faya (kakak Ega) merasa lelah bila terus bolak-balik Jakarta-Tangerang dan memutuskan untuk menjadi roommate Moli. 

Novel ini dikisahkan melalui sudut pandang orang pertama dari 2 sisi. Yaitu dari sisi Moli dan sisi Ega. Cara penuturan keduanya hampir mirip, menggunakan kata ganti gue untuk menyebut dirinya. Yang cukup membedakan adalah pembawaan Moli yang terasa menggebu dibandingkan Ega yang lebih kalem. Serta ditambah keterangan juga di setiap pergantian sudut pandang, jadi enggak akan membuat bingung.

Saya menyukai gaya bahasa penulis yang ringan dan lincah. Meskipun jumlah halamannya lumayan tebal, saya enggak merasa bosan karena cara penyampaiannya yang mengalir.
Ya, Gusti... ini cowok abis salat Zuhur kali ya, berbinar banget mukanya kayak dibarengin malaikat. (Moli, halaman 34)
Haduh, nyengirnya itu. Persis kayak anak TK dikasih balon hijau yang nggak jadi meletus. (Ega, halaman 57)
Yang membuatnya semakin seru, bertebaran juga perumpamaan-perumpamaan sederhana tapi membuat saya menjadi semakin mudah memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan Moli dan Ega.
"Hey, Dok!" sapanya terlalu ceria. Kenapa, sih? Ekspresinya kalau ketemu gue tuh selalu ada di antara terlalu ceria dan kaget, atau melongo lebih tepatnya. (Ega, halaman 54)
Yup, memang begitu ekspresi Moli setiap bertemu dengan Ega, enggak bisa jaim saking terpesonanya sama dokter ganteng ini. Apalagi Ega bukan cuma ganteng, tapi perhatian juga, seperti mengantar sendiri motor Moli dari bengkel, membantu membereskan apartemen Moli, dan lain-lain.

Makanya Moli enggak marah ketika Ega tiba-tiba mengakui Moli sebagai pacarnya di depan Izza--mantan Ega yang sudah menikah. Sayangnya, Ega langsung meminta maaf pada Moli, membuat Moli merasa enggak pantas menjadi seorang pacar buat lelaki kayak Ega. Di sinilah konflik terasa mulai memuncak.

Tapi, ternyata Ega sadar loh bahwa sebenarnya dia memang membutuhkan seorang perempuan seperti Moli. Hingga akhirnya Ega pun meminta Moli untuk menjadi pacarnya. Yeay! Udah nih, tamat? Happy ending? Belum lah. Malah konfliknya terasa semakin rumit.
"Gue enggak mau... jadi pihak yang selalu lebih sayang daripada pasangan gue." (Moli, halaman 207)
Jadi Moli sudah telanjur merasa enggak percaya diri bersanding bersama Ega. Ditambah lagi, dia selalu curiga permintaan Ega tersebut hanya agar ibu Ega yakin bahwa anaknya sudah bisa move on dari Izza. Di lain sisi, papa dan mama Moli selalu mendesaknya supaya segera menikah. Kompleks pokoknya. Baca deh supaya tahu serunya seperti apa.

No comments:

Post a Comment