Pages

Friday, September 14, 2018

Review: Too Cold To Handle

too cold too handle
Detail Buku
Judul: Too Cold To Handle
Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2018
Tebal: 276 halaman
ISBN: 978-602-04-7773-2
Harga: Rp 64.800

Blurb
Things to be achieved before 30 versi Tika: 1. Menikah sama Gun. 2. Kalau bisa punya anak kembar. 3. Emmm... apa lagi ya? Hmm... pokoknya nikah sana Gun!
Nggak ada salahnya kan punya mimpi menikah dan membangun keluarga bersama cinta masa kecilku? Mimpiku bisa segera terwujud jika proses pendekatanku dan Gunawan berhasil dan berlanjut ke rencana pernikahan.
Memang sih sekarang sikap Gun agak dingin, sampai-sampai Sarah, teman baikku, menjulukinya sebagai manusia es. Namun semua itu hanya karena kami sudah lama tidak bertemu. Jadi ya wajar saja jika Gun terkesan cuek dan tidak memedulikanku. Meski pendiam, kurasa ada kemungkinan Gun sebenarnya perhatian padaku. Setidaknya kuharap begitu. 
Kadang memang terasa melelahkan....
Ah! Pokoknya aku tidak boleh menyerah. Sama halnya seperti banyak jalan menuju Roma, pasti ada cara membuat Gun berhenti bersikap dingin padaku. Dua bulan. Aku punya dua bulan untuk memastikan proses pendekatan kami berhasil. Dengan sisa waktu yang ada, aku harus bergerak cepat menyusun rencana untuk mencairkan manusia dingin itu agar mimpiku menjadi istri Gunawan bisa jadi kenyataan.

Review
Cantika, gadis berusia 24 tahun yang lebih sering dipanggil Tika ini merupakan tokoh utama dalam novel Too Cold Too Handle. Dia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan milik ayahnya. Yup, meskipun berstatus sebagai anak pemilik perusahaan, dia ingin memulai karirnya dari bawah. Namun meniti karir bukanlah cita-citanya, karena impian Tika yang sesungguhnya adalah menikah dengan Gun. 

Tika benar-benar terobsesi pada teman masa kecilnya itu. Banyak hal yang dia lakukan demi mendapat perhatian Gun. Mulai dari menguntit Gun di supermarket, memasak untuk Gun, menjebaknya dalam sebuah kencan, hingga ikut nge-gym bersama Gun. Sayang, karena sikapnya yang selalu ceroboh, semua usaha itu enggak pernah berhasil.

Sebaliknya Gunawan, pria berusia 28 tahun yang biasa dipanggil Gun ini justru merasa terpaksa menjalin hubungan dengan Tika. Apapun yang dilakukan Tika, dia selalu meresponnya dengan serius dan dingin. 

Coba bayangkan bagaimana interaksi di antara mereka. Menggemaskan. Awalnya, karakter Tika yang ceroboh terasa kocak dan menghibur. Namun melihat sikap Gun yang selalu dingin, lama-lama saya jadi kasihan juga.

Oiya, Tika juga mempunyai dua orang sahabat, Sarah dan Jo. Sarah selalu mendukung Tika meski terus mengingatkan sahabatnya agar lebih realialistis. Sedangkan Jo, rupanya dia memiliki perasaan khusus pada Tika, wuih....

Setting waktu yang digunakan pada novel ini yaitu masa kini. Adapun setting tempatnya di Kota Jakarta. Jadi adegan-adegannya pun berlokasi di tempat-tempat yang biasa ditinggali dan dikunjungi kaum urban Jakarta. Seperti apartemen (apartemen Tika dan apartemen Gun), kantor (ruang meeting kantor Tika, ruang kerja Tika, lobi gedung kantor Gun), restoran, gym, dan lain-lain. 

Setting tempat yang cukup menonjol sih apartemen Tika dan apartemen Gun. Jadi, sebelum PDKT dengan Gun, Tika tinggal di rumah orang tuanya. Namun demi bisa lebih dekat dengan Gun, Tika pun pindah ke apartemen yang sama dengan Gun, meski jarak ke kantor Tika malah jadi lebih jauh.

Yang kocak nih, kondisi apartemen Tika ini berantakan sekali sangat berbeda dengan apartemen Gun yang rapi banget. Alasannya?
"Pertama, gue nggak bisa bongkar-pasang barang-barang itu. Kedua, gue bentar lagi juga pindah ke tempat Gun." (Halaman 42)
Pede banget ya, hihihi....

Kisah antara Tika dan Gun ini dituturkan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu Tika sang tokoh utama. Jadi gaya bahasanya memang perempuan banget. Membuat saya jadi lebih mudah untuk ikut larut dalam emosi yang dirasakan Tika. Memprihatinkan tapi lucu di awal, hingga kemudian di pertengahan cerita mulai serius dan menyesakkan. 

Ini adalah kali pertama bagi saya membaca karya Sofi Melani. Ternyata saya langsung suka dengan gaya bahasanya. Ringan dan santai, serta lincah dan mengalir. Teknik penulisannya pun rapi sehingga nyaman dibaca. 
"Kenapa nggak dicoba aja, Om?" (Halaman 88)
Konflik utama dalam novel Too Cold Too Handle diawali dari usulan Tika mengenai rencana perkenalan antara dirinya dan Gun. Makanya, bagian awal novel ini diwarnai dengan berbagai usaha Tika agar bisa lebih dekat dengan teman masa kecilnya itu. Kocak deh. Tika sangat bersemangat karena jangka waktunya hanya 4 bulan saja (dan sekarang tinggal tersisa waktu 2 bulan lagi), sebelum Gun melanjutkan studinya ke Belanda.

Perjuangan Tika enggak mudah, karena Gun begitu dingin dan kaku. Walau begitu Tika enggak pernah menyerah. Hingga konflik mulai memuncak pada suatu kejadian, saat Tika menyadari bahwa Gun sebenarnya terpaksa menjalani rencana perkenalan tersebut. 
Ini benar-benar salah. Tanpa sadar aku telah mengurung Gun dalam penjara kasat mata dengan kehadiranku. Tidak seharusnya aku menjerat seseorang karena kepentingan perasaanku sendiri. (Halaman 165)
Konflik pun terasa semakin seru dengan adanya beberapa subkonflik di sepanjang cerita. Seperti masalah karir Tika, ujian persahabatan Tika dengan Jo, serta Sarah yang mengalami masa-masa berat dalam hidupnya.

Pssst, novel ini diperuntukkan bagi teman-teman yang berusia 18 tahun ke atas ya. Bab pembukanya saja sudah menunjukkan adegan yang ehem ehem, hihihi....

1 comment: