Saturday, October 11, 2014

Review: Gadis 360 Hari yang Lalu

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Gadis 360 Hari yang Lalu
Penulis: Sayfullan dkk
Editor: Nisrina Lubis
Cetakan: pertama, Juni 2014
Penerbit: de Teens
Tebal: 376 halaman
ISBN: 978-602-255-622-0
Harga: Rp 50.000 Rp 37.500 (beli di penerbitnya)

Review
Di antara serbuan novel-novel lokal yang menggunakan latar tempat berbagai kota di luar negeri sebagai daya tarik utamanya, de Teens (Diva Press) tiba-tiba menghadirkan kumpulan cerita pendek bercitarasa lokal, Indonesia. Tapi kumpulan cerpen ini enggak sembarangan loh. Karena dua puluh buah cerpen yang terdapat dalam buku ini ditulis oleh dua puluh orang alumni Kampus Fiksi terbaik, #KampusFiksiEmas. Untuk yang belum tahu, Kampus Fiksi merupakan acara pelatihan menulis gratis yang rutin diadakan oleh Diva Press setiap beberapa bulan sekali.

Namanya juga cerpen terbaik, pasti telah melalui seleksi yang sangat ketat. Maka tidak heran, apabila dalam hal teknik penulisan, cerpen-cerpen tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Semuanya terasa mengalir dan nyaman dibaca, meskipun gaya yang digunakan berbeda-beda. Mulai dari yang ngepop (ringan) sampai yang nyastra (membuat saya bertanya-tanya, ini kesimpulan yang saya tangkap sesuai enggak yah dengan maksud yang ingin disampaikan penulis) :D

Sayangnya, walaupun di bagian blurb disebutkan bahwa tema kumpulan cerpen ini adalah 'cinta dalam balutan kearifan lokal dari berbagai penjuru nusantara', tidak semua penulis menggunakan kearifan lokal sebagai jiwa dari cerpen-cerpen tersebut. Menurut saya, terdapat beberapa penulis yang menjadikan kearifan lokal sekadar tempelan dalam cerpennya.

Dari dua puluh cerpen yang terdapat dalam buku ini, berikut empat cerpen yang menjadi favorit saya.
  • Gadis 360 Hari yang Lalu oleh Sayfullan
Judul cerpen pembuka ini diambil menjadi judul buku karena berhasil menyandang predikat sebagai cerpen terbaik #KampusFiksiEmas. Sebenarnya ide ceritanya biasa saja, tentang sepasang suami istri yang harus berpisah karena perbedaan adat. Namun, aroma kearifan lokalnya terasa kental sekali. Mulai dari Upacara Kasada (upacara yang dilakukan masyarakat Tengger untuk memperingati pengorbanan diri Raden Kusuma) sebagai tempat pertama kalinya pasangan itu bertemu, sampai aturan adat suku Tengger (bahwa pengantin pria harus tinggal mengikuti pengantin wanita) yang menjadi pemicu konflik dalam cerita ini.
Setelah berbulan-bulan pasca pernikahan sakral itu, aku seolah tersadar, aku masih punya karier yang masih perlu diperjuangkan di ibu kota. Dan apakan aku harus melepasnya begitu saja? Demi menjadi petani dan adat yang tak kupercayai? (Hal. 17)
Selain ending yang nendang, penggunaan alur mundur juga membuat cerpen ini menjadi yang paling unik di antara cerpen-cerpen lainnya.
  • Darah Koteklema dan Air Mata Lama Fa oleh Farrahnanda
Cerpen ini juga tema kearifan lokalnya dapet banget, mengenai tradisi menangkap koteklema (paus) di desa Lamalera, Pulau Lembata, Flores. Penduduk Lamalera menggunakan minyak paus sebagai bahan bakar utama untuk penerangan. Tetapi mereka hanya menangkap paus yang sudah dewasa. Kisah persahabatan Robertus dan seekor paus sahabatnya lah yang membuat perasaan saya mengharu biru. Ending- nya itu loh, nyeuseuk :(
Berita bagus bagi Robertus, Lamalera si paus tidak pernah kena ujung tempuling para lama fa--juru tikam pemburu paus. Mungkin karena usia Lamalera si paus yang dirasa belum dewasa bagi penduduk Lamalera yang melihatnya. Sebuah hal yang harus dipatuhi dalam perburuan. Tapi…, Robertus tidak akan siap kalau Lamalera si paus tumbuh dewasa. (Hal. 55)
  • Retak-Retak Mutiara di Tepi Laut Wakatobi oleh Zachira
Menceritakan kehidupan suku Bajo di Kepulauan Wakatobi. Bagaimana mereka menjadikan laut sebagai rumah, serta adanya kepercayaan terhadap pamakitalo (makhluk halus penjaga laut) yang membuat mereka tidak berani berbuat macam-macam di laut.
Nah, lihat. Daunnya tidak tenggelam dan ujung tangkainya menunjuk ke satu arah. Itu artinya, kita boleh cari ikan di tempat yang arahnya ditunjuk daun sirih ini. (Hal. 284)
Arya, rela meninggalkan pekerjaannya sebagai peniliti di sebuah perusahaan swasta, demi mengajar di Pulau Kaledupa. Serta demi Hima, gadis Bajo yang telah menghangatkan hatinya. Namun sebuah fitnah menyebabkan Arya harus pergi meninggalkan Wakatobi. Twist di ending-nya benar-benar ngegemesin, bikin kepingin uwel-uwel penulisnya, hihihi....
  • Forgotten Promise oleh Mufidatun Fauziyah
Tema kearifan lokalnya sebenarnya kurang tereksplor. Hanya sedikit disebutkan mengenai sejarah pura yang terdapat di pantai Ngobaran, Gunung Kidul. Tidak spesial. Yang membuat saya suka dengan cerpen ini adalah paragraf pembukanya. Di sebagian besar ceritanya, penulis cerpen ini berhasil menyeret saya ke dalam dunianya yang gelap dan terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bagaimana kalau dunia ini mendadak gelap gulita tanpa penerangan apa pun? Semua orang tak dapat melihat apa pun karena tak ada cahaya sama sekali. Mereka mencari sesuatu atau berjalan dengan cara meraba-raba. Apakah kau akan berpikir bahwa dunia telah kiamat?! (Hal. 114)
Kalau udah ngomongin favorit, urusannya ya tergantung selera masing-masing. Kalau kamu? Ayo baca bukunya dan temukan cerpen favoritmu ;)

Rating
Tiga setengah dari lima bintang untuk kumpulan cerita pendek yang menyuguhkan keunikan dan kekayaan budaya nusantara kita tercinta ini :)

6 comments:

  1. keren riviewnya,
    isi bukunya juga keren, jadi pengen baca :D,
    salam kenal, :)

    ReplyDelete
  2. Goresan kalam yang semoga ruah-melimpah berkah, menjadi pelengkap amal dialam barzah,

    menjadi amal jariyah bagi sesiapa yang ringan mata membacanya, memperluas jangkauannya, serta menambah nilai kebermanfaatan nan faedah,

    indah kalam saat bermadah, alangkah elok mengusir hati rungsing yang kian gundah.

    sile pijakkan langkah di tempat kami bermastautin:
    sebelumkeringtintadanpatahkalamku.blogspot.com/
    http://rudi-rendra.blogspot.com/

    salam Madah Melimpah faedah.

    ReplyDelete
  3. Aku pernah baca judulnya Mbak, mungkin dari tweeter Divapress-nya. Iya Kampus Fiksi emang keren, sayang udah lolos seleksi, saya malah nggak datang ke Jogja karena pertimbangan lain :(

    ReplyDelete