Wednesday, October 24, 2018

Review: Hijrah Sakinah

hijrah sakinah

Detail Buku
Judul: Hijrah Sakinah - Mengatasi 55 Masalah Utama Pernikahan Semudah Senyum
Penulis: Hanny Dewanti
Penyunting: Ilona Alle
Penerbit: Ikon (Imprint Penerbit Serambi)
Cetakan: I, September 2018
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-61440-8-9
Harga: Rp 82.000

Blurb
Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang kalut dengan permasalahan rumah tangga.
Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang bingung arah rumah tangga kacau balau ini.
Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk belajar tentang bagaimana berumah tangga.
Buku ini juga diperuntukkan bagi Anda yang sedang mempertimbangkan untul mengakhiru rumah tangga.
Jika hari ini ada kesempatan, jangan ke mana-mana dulu. Buatlah secangkir teh hangat dan nyalakan muratal terbaik yang Anda sukai, lalu duduk sejenak untuk membaca buku ini. Buku ini akan menemani Anda dan menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam rumah tangga untuk Anda. Insha-Allah.

Review
Awalnya saya merasa sedikit ragu untuk membaca buku ini. Soalnya tema yang diangkat cukup berat, masalah rumah tangga. Apalagi saat membaca blurb-nya, duh jadi maju-mundur. Bukannya apa-apa. Saat ini kan saya sedang mempunyai bayi. Dengan waktu membaca yang sangat terbatas, rasanya kalau ada kesempatan untuk mencuri-curi membaca buku, saya lebih senang memilih buku fiksi yang ringan dan menghibur saja, hohoho....

Tapi karena penasaran dengan temanya yang sangat menarik, saya pun mulai melahap buku ini. Dan enggak menyesal. Setelah dibaca, isinya memang berat dan padat. Diperkuat dengan dalil dari Al-Quran dan hadist pula. Namun... disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan dan santai. Asyik dan seru deh. Jauh banget dari membosankan. Teknik penulisannya rapi, dengan cara penuturan yang runut. Membuat saya susah untuk berhenti membaca.

Buku ini terbagi dalam 10 bab, yang di dalamnya terdapat beberapa sub bab lagi menjadi 55 masalah utama dalam rumah tangga. Sebagai gambaran bagi teman-teman, berikut pembagian babnya.
  • Setelah Gebyar Pesta 
  • Finansial yang Harus Transparan
  • Soal Anak yang Membuat Galak
  • Pekerjaan Rumah? Pekerjaan Siapa?
  • Jarak yang Semakin Jauh
  • Tetangga, Oh Tetangga
  • Media Sosial Membuat Antisosial
  • Hancurnya Dinding Kesetiaan
  • Penghancur Rumah Tangga
  • Ini Keluarga Kita, Bukan Mereka
Yang ditutup dengan bab Sebelum Berpisah sebagai bahan renungan bagi teman-teman yang sedang mempertimbangkan untuk bercerai.

Unik-unik ya judul babnya. Begitupun dengan judul sub babnya. Pembahasannya lengkap banget. Mulai dari masalah rumah tangga yang tampak "ringan" seperti pekerjaan rumah dan tetangga. Kemudian masalah rumah tangga yang cukup berat seperti KDRT dan perselingkuhan. Hingga masalah rumah tangga yang biasanya tabu untuk dibahas dalam masyarakat kita, seperti seks dan keuangan.

Dalam tulisan yang berjudul Istri Itu Celengan Suami, para istri diingatkan agar bisa mengelola keuangan rumah tangga dengan lebih baik lagi. Bahwa uang yang diberikan suami, maupun uang yang dihasilkan sendiri oleh istri akan dimintai pertanggungjawabannya. Apalagi di zaman yang serba online ini, di mana begitu banyak godaan belanja untuk para istri, hehehe....
Istri kan memang celengan suami. Istri tidak harus bekerja mencari nafkah seperti suami. Namun, istri wajib menjadi parasut agar saat suami jatuh rasanya tidak terlalu menyakitkan.
(Halaman 36)
Kemudian saya senyum-senyum sekaligus terharu saat membaca tulisan yang berjudul Istriku Pembantu Gratisanku. Penulis menceritakan tentang seorang ayah yang menolak lamaran seorang laki-laki yang baru lulus dan sudah dapat kerja. Kenapa? Karena pandangan laki-laki tersebut mengenai seorang istri. 
"Jadi, setelah Neng seharian bantu orang tuamu di warung, terus pulang ke rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga gitu?"
"Iya, bener, Pak."
"Jadi, kamu mau menikahi anak saya biar dapat pembantu gratis di warung orang tuamu?"
(Halaman 74)
Hihihi.... Hai para suami, melakukan pekerjaan rumah tangga itu enggak akan mengurangi kejantanan kok. Justru hal tersebut bisa membuat istri semakin hormat dan sayang. Memang setiap rumah tangga itu enggak sama kondisinya. Kalau memang seorang suami enggak bisa membantu pekerjaan istrinya, cukup tunjukkan saja perhatian dan jangan terlalu banyak menuntut seperti yang dibahas penulis dalam tulisan yang berjudul Paling Tidak, Pedulilah Saja Dulu.

Lalu bagaimana apabila hadir perempuan lain dalam rumah tangga? Penulis memaparkan cara mengatasinya dalam tulisan yang berjudul Predator Itu Bernama Pelakor.
Kita perlu melakukan klarifikasi. Tapi, lakukan dengan cara yang anggun. Sungguh, keanggunan perempuan dinilai dari caranya bertutur kata. Selesaikan urusan ini dengan baik. Cari pihak ketiga yang amanah untuk menjadi mediator. Bagaimana dengan pelakornya? Tenang. Allah Maha Adil dan Mengetahui. Sungguh azab Allah sangat pedih.
(Halaman 170)
Dan masih banyak masalah rumah tangga lain yang dibahas dalam buku ini. Seperti hubungan dengan ipar, pola asuh anak, riba, suami yang cemburu, hobi, fenomena reuni serta kopdar, dan lain-lain. Beberapa masalah rumah tangga cukup relate dengan kehidupan saya, namun sebagian besar membuat saya tercengang. Menambah wawasan dan menjadi pelajaran yang dapat diambil hikmahnya.

Pertama, masalah dalam pernikahan itu merupakan hal yang biasa. Daripada menanggapi dengan emosi berlebihan, lebih baik menghadapinya dengan tenang.
Ya memang tidak mudah. Kalau mudah, pernikahan tidak akan disebut sebagai penyempurna agama.
(Halaman 210)
Kedua, apapun masalahnya, yang penting terus jaga komunikasi antara suami dan istri. 
Yang diperlukan hanyalah bibir untuk bercerita dan telinga untuk mendengar.
(Halaman 214)
Meski desainnya didominasi warna pink yang unyu-unyu, buku ini bisa dibaca baik oleh laki-laki maupun perempuan. Namun saya bertanya-tanya juga sih, kenapa mesti pink ya, khawatir mata menjadi lelah. Eh, ternyata enggak loh. Dipadukan dengan font yang nyaman dibaca, buku ini enggak membuat mata lelah. 

Kesimpulannya, buku ini benar-benar recomended. Dapat memberikan pencerahan menuju keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Read more >>

Friday, October 12, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Pemenang Giveaway



Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah meramaikan giveaway novel Black Leather Jacket karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dari Penerbit Twigora di blog ini. Kini saatnya saya mengumumkan siapa pemenang yang beruntung. 

So, langsung saja ya. Saya sampaikan selamat kepada...

Iput A. Futhona

Silakan segera mengirim biodata (nama, alamat lengkap, dan nomor telepon) ke email sweet_donath@yahoo.com dengan subjek "Pemenang Giveaway Black Leather Jacket", paling lambat tanggal 15 Oktober 2018.

Bagi teman-teman yang belum beruntung, enggak perlu sedih. Karena blog tour ini masih berlangsung di beberapa blog lain ;)


Read more >>

Wednesday, October 3, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Giveaway



Ini dia yang ditunggu-tunggu. Saya mempunyai 1 (satu) eksemplar buku Black Leather Jacket karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dari Penerbit Twigora untuk 1 (satu) orang yang beruntung. Caranya gampang banget.

Berikut syaratnya:
1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun media sosial berikut: 
3. Share banner giveaway di bawah ini di salah satu akun media sosialmu dengan hashtag #GiveawayBlackLeatherJacket dan mention kedua akun di atas. 
5. Tulis komentar pada postingan ini dengan format:
  • Nama:
  • Akun Twitter/Instagram:
  • Link Share:
6. Giveaway berlangsung pada tanggal 3-9 Oktober 2017. 
7. Pemenang akan diumumkan paling lambat pada tanggal 12 Oktober 2017.

Yuk! Ikut dan ajak teman-teman yang lain ya :)

Selanjutnya, Blog Tour Black Leather Jacket: Pemenang Giveaway


Read more >>

Tuesday, October 2, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Review dan Photo Challenge



Detail Buku:
PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL 
Status: BKP 
BLACK LEATHER JACKET 
ADITIA YUDIS & IFNUR HIKMAH 
SC; 14 x 20 cm 
Jumlah Halaman: 370 hlm 
Bookpaper 55 gr; 
ISBN : 978-602-51290-5-6 
Harga: Rp 88,000 

Blurb:
SETIAP CINTA BUTUH REVISI 

Laura tak punya alasan untuk menyukai Aidan. Pertama, novel debut lelaki itu kini mengalahkan novel-novel Laura di rak best seller. Kedua, foto Aidan yang terpampang besar di sampul belakang novelnya semakin mempertajam kecurigaan Laura: lelaki itu hanya penulis romance (genre yang dibencinya!) bermodal tampang. Jadi, maaf deh kalau dia merasa keberatan ketika Laura dipasangkan dengan Aidan untuk proyek novel selanjutnya. Tahu apa lelaki itu soal menulis novel berkualitas? 

Semakin jauh mengenal Aidan, Laura tahu bahwa lelaki itu punya pengetahuan luas tentang thriller, genre cerita favorit Laura. Aidan bahkan hafal kutipan-kutipan Agatha Christie! Sedikit demi sedikit Laura membangun respek tersendiri untuk Aidan—dan belakangan tanpa dia sadari… cinta. 

Tapi sebelum Laura berhasil membuat Aidan tahu tentang perasaannya, lelaki itu menghilang. Membiarkan proyek menulis mereka terbengkalai begitu saja—seolah tak ada artinya. Alih-alih marah, Laura merasa sangat kecewa dengan sikapnya itu. You’re breaking my heart, Aidan, and the saddest part is… you don’t even know about it.

Review
Novel ini dibuka dengan adegan saat Aidan meminta izin pada om dan kakaknya (Richard dan Allan) untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai Chief Technology Officer di perusahaan keluarga supaya bisa fokus melakukan revisi naskah novel Black Leather Jacket. Naskah tersebut merupakan karya ibunya yang belum selesai. Oleh karena itu, Aidan diam-diam menyelesaikannya. Dan ternyata ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya. Richard tentu saja mengizinkan, namun Aidan harus berjanji agar segera kembali setelah novelnya terbit.

Tak disangka, rupanya Black Leather Jacket menjadi novel best seller bahkan diadaptasi menjadi sebuah film. Aidan pun sadar bahwa dia sangat menikmati hidupnya sebagai penulis. Aidan semakin mantap untuk menekuni passionnya. Namun keputusannya tersebut membuat Allan marah karena harus menanggung pekerjaan adiknya. Hal ini juga memengaruhi hubungan Allan dengan Claudia, tunangannya.
Bukan berarti selama tinggal dan mengurus bisnis keluarga dia merasa terkekang, tapi menjadi penulis jauh lebih menyenangka. Dia merasa jauh lebih hidup.
(Halaman 43)
Lalu ada Laura, penulis senior di penerbit yang sama dengan Aidan. Saat ini, dia sedang berjuang menyelesaikan naskah novelnya yang berjudul Brown Eyes Don't Lie. Sebagai Ratu Thriller, karyanya tidak perlu diragukan. Namun Mya, editornya yang baru, meminta Laura agar memasukkan unsur romance ke dalam karyanya agar kisah dalam novelnya menjadi lebih kaya.

Permintaan yang berat karena Laura tidak suka menulis cerita cinta. Hingga Mya menyarankan Laura untuk bekerjasama dengan Aidan. Tentu saja, awalnya Laura menolak. Namun lama-kelamaan akhirnya dia mau menerima bantuan dari Aidan untuk merevisi naskah novelnya. Sayangnya, saat proyek mereka belum selesai, Aidan tiba-tiba menghilang.
Brown Eyes Don't Lie adalah targetnya, tapi urusan romansa membuat penyelesaian novel itu seperti angan-angan belaka. Susah diraih dan Laura semakin lelah.
(Halaman 50)
~~~

Saya suka sekali dengan tema novel ini, sangat menarik. Tentang penulis dan naskahnya, tentang penulis dan editornya, tentang penulis dan keluarganya, pokoknya all about penulis. Bahwa di balik setiap buku yang saya baca, ternyata ada bermalam-malam lembur yang dilalui penulis, ada berhari-hari riset yang dikerjakan penulis, ada berjam-jam diskusi bersama editor, serta mungkin ada hal lain yang terpaksa dikorbankan penulis seperti Aidan yang mengorbankan keluarganya.

Selain deskripsi fisik tokohnya yang membuat mupeng, wkwkwk..., saya juga suka dengan karakter kedua tokoh utamanya yang sangat bertolak belakang. Aidan yang santai berusaha membantu Laura yang keras kepala. Interaksi di antara mereka tampak kocak di awal, namun seiring bergulirnya cerita mulai terasa serius dan menyenangkan. 

Latar tempatnya digambarkan dengan cukup detail. Memudahkan saya untuk membayangkan dunia Aidan dan Laura. Gaya bahasanya santai dan nyaman dibaca. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, saya dibawa hanyut dalam plot yang enggak tertebak dan penuh teka-teki. Iya, selain gemas dengan sikap Laura yang keras kepala, dan kesal pada Mya yang hobi memaksa hehehe..., saya penasaran sekali dengan kisah antara Richard dan Lani. 

Dulu saya sering membaca karya-karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dalam bentuk flash fiction. Bahkan tulisan saya pernah bersanding bersama tulisan mereka dalam buku kumpulan flash fiction yang berjudul 15 Hari. Ceritanya bangga, hihihi.... Namun ini adalah kali pertama saya membaca karya mereka dalam bentuk novel. Duet pula. Keren! Enggak kentara bahwa novel ini disusun oleh 2 penulis. Memang sih ada beberapa pengulangan informasi, tapi enggak masalah.

Novel salah satu pemenang #SAS2BADBOY ini diakhiri dengan ending yang manis hingga saya pun bisa menutup buku sambil tersenyum. Saya juga merasa diingatkan lagi dengan pesan yang tersirat di dalamnya. Tentang memilih prioritas, menyayangi keluarga, dan menyelesaikan tanggung jawab.

Photo Challenge
Dalam photo challenge kali ini, saya diminta untuk menirukan gaya seperti pose di cover Black Leather Jacket. Hihihi.... Sudah mirip belum?


Read more >>

Monday, October 1, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Wawancara dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah

black leather jacket

Hai! Senang sekali rasanya karena kali ini saya kembali dipercaya oleh Penerbit Twigora sebagai salah satu host blog tour novel duet karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah yang berjudul Black Leather Jacket. Hari pertama, saya awali blog tour ini dengan pertanyaan yang saya ajukan pada kedua penulis yang biasa disapa Iif dan Adit ini. Selamat menikmati.

ADITIA YUDIS 
Lahir dan menetap di Lampung. Mulai menulis sejak tahun 2009 dan terus belajar hingga sekarang. Penulis favoritnya adalah Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan Ted Chiang. Sejak tahun 2010 sudah beberapa bukunya yang diterbitkan, antara lain novel adaptasi skenario 7 Misi Rahasia Sophie (2014),Time After Time (2015),Senandika Prisma(2016), dan Potret (2017). 
Email:aditiayudis@gmail.com
IG/Twitter: @adit_adit. 

IFNUR HIKMAH
Pembaca di pagi hari, editor di siang hari, penulis di malam hari. Menetap di Jakarta dan berkutat dengan kehidupan remaja sepanjang hari karena tuntutan pekerjaan. Menulis agar tetap waras karena butuh menuangkan isi kepala ke dalam tulisan. Sejak 2013 sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Mendekap Rasa (2013), Do Rio Com Amor (2015), Reborn (2016). Impian terbesar: interview Michelle Obama. 
Email: ifnurhikmah89@gmail.com
Instagram/Twitter: @ifnurhikmah/@iiphche 

1. Bagaimana awalnya bisa menulis novel ini berdua? Ide siapa? 

Iif: Setiap kali kita ngobrol, either itu langsung atau via chat, kita sering nyeletuk random dan kadang dari celetukan random itu bisa dijadikan ide novel, termasuk BLJ ini. Waktu itu, kita sama-sama ngefans dengan Aidan Turner, dan setelah marathon nonton Being Human bareng, tiba-tiba aja kepikiran buat menulis novel yang tokohnya terinspirasi dari Aidan Turner (hence, the name, hehe). Lalu, kita buat sinopsis bareng dan mulai menulis novel ini.

Adit: Idenya, nomor satu dari Aidan, nomor dua karena pengin menulis tentang dunia tulis menulis, yang nomor tiga adalah pengorbanan seseorang untuk impiannya. Impian atau keluarga adalah hal pelik. 

2. Apa pengalaman paling berkesan saat menyusun novel ini?

Iif: Pengalaman paling berkesan ada saat revisi, karena naskah ini sudah lama jadi revisi terasa berat #curhat. Ketika revisi, mau enggak mau harus menyelami lagi isi pikirannya Aidan dan Laura ini sambil mengira-ngira dulu perasaannya gimana ya pas nulis mereka. Rasanya kayak ketemu teman lama, catching up, cerita-cerita dan baru deh bisa kenal lagi.

Adit: Bagiku yang paling berkesan adalah proses duetnya sendiri. Ifnur adalah penulis yang aku kagumi tulisan-tulisannya. Selama menulis pun, aku benar-benar belajar banyak dari partnerku ini. Sering banget aku terkesan sendiri pas baca sebuah bagian yang kalau kutulis pasti hasilnya A, tapi di tangan Ifnur hasilnya bikin aku mikir 'kok bisa dia kepikiran seperti ini'. hehe.

3. Setelah novel ini apa akan ada novel duet lagi?

Iif: Mungkin saja, kenapa enggak? Cuma kapan dan soal apa, belum kepikiran, he-he.

Adit: Kemungkinan itu selalu ada. Ngomong-ngomong, kami masih punya satu lagi naskah kolaborasi yang belum dipinang siapa-siapa nih. Hahaha.

4. Kedua tokohnya kan berprofesi sebagai penulis, tapi kenapa judulnya Black Leather Jacket, apa hubungannya?

Iif: Ada satu detail di dalam novel ini yang lekat banget dengan kedua tokoh, yaitu black leather jacket. Jadi, kita rasa item itu cocok buat menggambarkan sosok Aidan yang jadi tokoh sentral di novel ini. Ketika baca, bakalan paham kok kenapa black leather jacket ini penting banget di cerita.

Adit: Black Leather Jacket adalah judul novel di dalam novel ini. 

5. Berhubung tokohnya penulis, apakah ceritanya juga terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis?

Iif: I wish I have love story like them, hehe. Kisah mereka pure fiksi semua, palingan beberapa detail soal pekerjaan sebagai penulis itu berkaca dari pengalaman kita, sih. Misalnya sulitnya menuangkan ide padahal di kepala tuh banyak banget yang mau ditulis, tapi pas depan laptop tiba-tiba stuck. Atau diskusi dengan editor biar ceritanya lebih greget, menuangkan hasil diskusi itu ke dalam tulisan, berkali-kali revisi, kurang lebih sama kayak apa yang kita rasa.

Adit: Sedikit-sedikit, di sana dan di sini dalam novel ini, ada pengalaman pribadi yang terselip. Ada juga keinginan dan mimpi-mimpi yang ikut tersisip. Tapi, aku enggak mau bilang di bagian mana saja. He he.

6. Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama?

Iif: Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama? Aidan Turner as Aidan, tapi itu ketinggian, he-he. Hmm... Marthino Lio boleh deh. Kalau Laura, sejak awal kepikirannya Marsha Timothy

Adit: Ya, Aidan Turner! 

Sumber: http://www.goodhousekeeping.co.uk/news/things-you-didnt-know-about-poldark-aidan-turner

Yup, sekian hasil wawancara saya dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah. Jadi penasaran nih sama Aidan Turner. Dan setelah melihat fotonya di Google, ya Tuhan, ganteng banget, hihihi....

Selanjutnya, Blog Tour Black Leather Jacket: Review dan Photo Challenge

black leather jacket

Read more >>

Sunday, September 30, 2018

Review: Song for Alice

song for alice
Detail Buku
Judul: Song for Alice
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Rinandi Dinanta
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
Cetakan: pertama, Juni 2018
Tebal: 322 halaman
ISBN: 978-602-51290-7-0
Harga: Rp 85.000

Blurb
SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMU ADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.
Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice--perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta.
Memang benar Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu.
Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruanh g tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?
Review
Song for Alice merupakan karya terbaru Windry Ramadhina yang diterbitkan oleh Twigora. Saya sudah jatuh cinta pada karya-karya Windry sejak membaca Montase. Setelah saat itu saya mulai membeli buku-buku Windry yang terbit sebelum Montase dan membeli buku-buku barunya sejak masa pre order, saking enggak mau ketinggalannya.

Nah, beberapa bulan yang lalu saya tahu sih ada pre order Song for Alice. Tapi entah kenapa kok enggak beli ya. Kayanya pas Rashya diare. Terus lupa deh, hiks.... Makanya senang banget waktu kemarin dipercaya oleh Mbak Rizkymirgawati dan Penerbit Twigora untuk mengulas buku ini di Instagram. Alhamdulillah....

Jadi, ada dua tokoh utama dalam novel ini. Pertama Arsen Rengga, pecinta musik rock. Usianya 24 tahun. Dua belas tahun yang lalu, ibunya yang merupakan guru piano di Lilt, Rae, meninggal. Pemilik sekolah musik tersebut, Kakek Lur, mengajaknya tinggal di rumahnya. Hingga empat tahun yang lalu, seorang produser menemukannya saat sedang tampil bersama bandnya, Looking For Charlotte. Dia pun pergi demi mencapai mimpinya.

Kini Arsen menjadi musisi rock yang naik daun. Konsernya sukses, lagunya diputar di mana-mana, penjualan albumnya bagus. Sayang, hobinya bersenang-senang dan minum-minum di pub. Kualitas musiknya pun berkurang sehingga lagu barunya mendapat komentar yang tidak menyenangkan dari seorang kritikus musik. 

Kedua Alice Lila, bukan penikmat musik rock. Usianya 22 tahun. Gadis yang serius ini senang memasang ekspresi galak, mengerutkan alis, dan memanyunkan mulut. Sejak kakeknya meninggal dua tahun yang lalu, Alice terpaksa meninggalkan kuliahnya di Manajemen UI demi mengurus Lilt.

Kini dalam kesendiriannya, dia berjuang mempertahankan Lilt yang terancam mati, murid yang berkurang, guru yang mengundurkan diri, serta tagihan yang menumpuk.

Selain Arsen dan Alice, terdapat beberapa tokoh pendukung yang melengkapi kisah ini. Ada Mar, manajer Arsen yang tegas dan efisien. Serta Len, Rik, dan O, anggota band lama Arsen, Looking For Charlotte. 

Serta tak ketinggalan beberapa tokoh tanpa nama yang ikut berperan dalam menggerakkan cerita seperti produser, pemuda kurus berkucir ekor kuda, dan pemuda bertubuh besar dengan tato di leher.

Sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya membuat Arsen memikirkan kembali hidupnya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah Kakek Lur dan Alice.

Alice enggak bisa menolak kedatangan Arsen. Apalagi Arsen banyak membantu Lilt. Mulai dari melunasi tagihan, merenovasi ruangan Lilt, turun menjadi guru gitar, hingga mengadakan konser untuk menarik murid baru bersama teman-teman lamanya, Looking For Charlotte. Namun Alice belum bisa sepenuhnya percaya pada Arsen.
"Saat ini, aku... tidak yakin bisa bergantung kepadamu."
"Kenapa? Karena aku pergi? Aku kembali, Al. Itu tidak cukup?"
"Aku tidak tahu apa kau akan tetap di sini atau... pergi lagi."

(Halaman 144)
Alice memang menyukai Arsen. Sejak mereka masih anak-anak, hingga tumbuh dewasa bersama. Maka ketika Arsen menciumnya dan berjanji enggak akan meninggalkannya lagi, dia mulai berharap dan ingin percaya.
"Apa aku bisa memercayaimu?"
"Aku pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi."

(Halaman 190)
Novel ini memiliki tema yang sederhana, yaitu tentang kesempatan kedua. Namun tentu saja penulis mengeksekusinya dengan luar biasa. Mulai dari tokoh-tokoh loveable dengan karakter unik yang kuat dan konsisten. Plot dan konflik yang enggak tertebak. Hingga musik rock yang bukan hanya sebagai pemanis cerita, namun menjadi jiwa dalam kisah Arsen dan Alice ini.

Gaya bahasanya sangat nyaman dibaca. Disampaikan dengan tempo yang sedang dan diksi yang memikat. Serta menggunakan alur maju dan beberapa adegan flashback. Deskripsi settingnya begitu detail, namun enggak membosankan dan justru membuat saya benar-benar merasa seperti berada di dunia Arsen dan Alice. 

Meski menggunakan sudut pandang orang ketiga, saya bisa tetap ikut hanyut dalam gejolak emosi yang dialami setiap tokohnya. Makanya, saat membaca kisah ini, hati saya enggak keruan. Patah hati, sedih, dan ingin teriak "Mbak Windry tega!" Hihihi.... Untungnya, penulis menutupnya dengan ending yang manis.

Rating
4,5 dari 5 bintang.

Read more >>

Thursday, September 27, 2018

Review: Intersection

intersection
Detail Buku
Judul: Intersection
Penulis: Khalinta
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2018
Tebal: 488 halaman
ISBN: 978-602-04-7903-3
Harga: Rp 86.800

Blurb
Maulana Firdhaus, seorang visual designer di salah satu kantor periklanan paling sibuk di Jakarta, kembali dipertemukan dengan orang asing yang tidak begitu saja percaya bahwa sebagai seorang perempuan, nama dia benar-benar Maulana.
Biasanya Moli kesal setiap kali ada orang yang mengernyit heran dan memastikan kebenaran namanya. Tapi kali ini berbeda. Enggara Arfan begitu memikatnya. Tampan, bertingkah gugup dan cerewet di waktu bersamaan, sekaligus seorang dokter jiwa.
Tidak ada yang menduga bahwa kesialan yang menimpa keduanya karena sebuah kecelakaan di persimpangan jalan akan membawa mereka ke hal-hal yang lebih dalam melibatkan perasaan. Berbekal kebetulan yang membuat Moli dan Ega tak kunjung menemukan alasan mengapa takdir mempertemukan mereka.
Why does this feeling, a burning desire to be with someone superspecial and very atrractive, is called as a 'crush'? Maybe because you never know when will it happened or under what circumstances two hearts could come across each other.Mungkinkah sebuah kecelakaan akan berujung pada takdir lain yang mengikat keduanya?
Meet them in intersection.

Review
Tokoh utama dalam novel ini terdiri dari dua orang, yaitu Moli dan Ega. Moli, seorang perempuan imut yang bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan advertising ini memiliki nama lengkap Maulana Firdhaus. Yup, namanya memang seperti itu dan ada alasannya kenapa bisa begitu. Makanya dia ingin dipanggil Moli.
"Biar kayak cewek." (Halaman 9)
Moli tinggal di sebuah apartemen. Dia ini mandiri dan mobilitasnya sangat tinggi. Setiap hari dia bekerja menggunakan motor yang diberi nama Si Kupi.

Lalu Ega, dokter jiwa yang memiliki nama lengkap Enggara Arfan ini super ganteng dan saleh banget. Pokoknya suami idaman deh. Dia sangat menyayangi ibunya. Perkenalannya dengan Moli diawali ketika Moli dan motornya tiba-tiba menabrak Ega dan mobilnya yang sedang parkir di pinggir jalan.

Meskipun kesal, Moli enggak bisa menutupi wajah kagumnya setiap bertemu dengan Ega. Sedangkan Ega, mulanya dia hanya merasa bersalah dan kasihan pada Moli. Namun lama kelamaan mulai tertarik juga sih. Soalnya Moli ini orangnya kocak. Tapi sayangnya enggak pedean. Apalagi saat dia mengetahui Izza, mantan pacar Ega sesama dokter jiwa yang cantik dan berjiwa petualang.

Moli memiliki sahabat yang bernama Jean. Orangnya asyik banget dan sempat membuat Ega cemburu. Kemudian ada Faya, kakak kesayangan Ega yang akhirnya menjadi roommate Moli di apartemennya. Dan masih banyak tokoh pendukung lain yang membuat kisah dalam novel ini terasa semakin seru seperti Mama dan Papanya Moli, ibunya Ega dan Faya, juga Lexa.

Yang keren nih, semua tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang khas dan kuat, yang terus berkembang menjadi lebih baik dan dewasa seiring dengan mengalirnya jalan cerita.

Setting waktu yang digunakan pada novel ini yaitu masa kini. Adapun setting tempatnya sebagian besar berada di Jakarta. Seperti apartemen Moli, kantor advertising tempat Moli bekerja, rumah sakit tempat Ega bekerja, dan lain-lain. Namun selain di Jakarta, ada juga setting tempat rumah keluarga Ega di Tangerang serta rumah keluarga Moli di Bogor. 

Berbagai setting tempat pada novel ini bukan hanya sebagai pelengkap loh, namun memiliki andil juga dalam menggerakkan cerita. Contohnya apartemen Moli. Perkenalan antara Ega dan Moli memang berawal dari kecelakaan yang menimpa mereka. Tetapi mereka menjadi semakin dekat, karena Faya (kakak Ega) merasa lelah bila terus bolak-balik Jakarta-Tangerang dan memutuskan untuk menjadi roommate Moli. 

Novel ini dikisahkan melalui sudut pandang orang pertama dari 2 sisi. Yaitu dari sisi Moli dan sisi Ega. Cara penuturan keduanya hampir mirip, menggunakan kata ganti gue untuk menyebut dirinya. Yang cukup membedakan adalah pembawaan Moli yang terasa menggebu dibandingkan Ega yang lebih kalem. Serta ditambah keterangan juga di setiap pergantian sudut pandang, jadi enggak akan membuat bingung.

Saya menyukai gaya bahasa penulis yang ringan dan lincah. Meskipun jumlah halamannya lumayan tebal, saya enggak merasa bosan karena cara penyampaiannya yang mengalir.
Ya, Gusti... ini cowok abis salat Zuhur kali ya, berbinar banget mukanya kayak dibarengin malaikat. (Moli, halaman 34)
Haduh, nyengirnya itu. Persis kayak anak TK dikasih balon hijau yang nggak jadi meletus. (Ega, halaman 57)
Yang membuatnya semakin seru, bertebaran juga perumpamaan-perumpamaan sederhana tapi membuat saya menjadi semakin mudah memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan Moli dan Ega.
"Hey, Dok!" sapanya terlalu ceria. Kenapa, sih? Ekspresinya kalau ketemu gue tuh selalu ada di antara terlalu ceria dan kaget, atau melongo lebih tepatnya. (Ega, halaman 54)
Yup, memang begitu ekspresi Moli setiap bertemu dengan Ega, enggak bisa jaim saking terpesonanya sama dokter ganteng ini. Apalagi Ega bukan cuma ganteng, tapi perhatian juga, seperti mengantar sendiri motor Moli dari bengkel, membantu membereskan apartemen Moli, dan lain-lain.

Makanya Moli enggak marah ketika Ega tiba-tiba mengakui Moli sebagai pacarnya di depan Izza--mantan Ega yang sudah menikah. Sayangnya, Ega langsung meminta maaf pada Moli, membuat Moli merasa enggak pantas menjadi seorang pacar buat lelaki kayak Ega. Di sinilah konflik terasa mulai memuncak.

Tapi, ternyata Ega sadar loh bahwa sebenarnya dia memang membutuhkan seorang perempuan seperti Moli. Hingga akhirnya Ega pun meminta Moli untuk menjadi pacarnya. Yeay! Udah nih, tamat? Happy ending? Belum lah. Malah konfliknya terasa semakin rumit.
"Gue enggak mau... jadi pihak yang selalu lebih sayang daripada pasangan gue." (Moli, halaman 207)
Jadi Moli sudah telanjur merasa enggak percaya diri bersanding bersama Ega. Ditambah lagi, dia selalu curiga permintaan Ega tersebut hanya agar ibu Ega yakin bahwa anaknya sudah bisa move on dari Izza. Di lain sisi, papa dan mama Moli selalu mendesaknya supaya segera menikah. Kompleks pokoknya. Baca deh supaya tahu serunya seperti apa.

Read more >>