Tuesday, November 22, 2016

Review: The Geography of Faith


Detail Buku
Judul: The Geography of Faith - Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet sampai Yerusalem
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Zahra Haifa
Penerbit: Penerbit Qanita
Cetakan: I, September 2016
Tebal: 500 halaman
ISBN: 978-602-402-040-8
Harga: Rp 85.000

Review
Kesan pertama saya ketika melihat buku ini yaitu "Aih, lucunya...." Lihat saja desain sampul depannya yang cute banget. Jav juga sampai ikutan suka dan asyik bermain mobil-mobilan di atas permukaannya. Namun kesan tersebut langsung berkurang setelah saya membaca judulnya, duh berat banget temanya. Apalagi saat mengetahui jumlah halamannya, wuih sangat tebal. 

Tetapi kenyataan tersebut tidak mengurangi minat saya untuk membaca isinya. Saya memang belum pernah membeli dan membaca buku-buku filsafat, makanya penasaran. Dan ternyata seru juga sih. 

Jadi, buku yang memiliki judul asli Man Seeks God: My Flirtation with The Divine ini merupakan memoar dari penulisnya, mantan koresponden untuk National Public Radio (NPR). Semuanya berawal dari pertanyaan seorang suster di rumah sakit, "Sudahkah kau menemukan Tuhanmu?"
"Kenapa?" tanyaku begitu aku bisa bernapas lagi. Apakah tak lama lagi aku akan berjumpa dengan-Nya? Apakah kau telah melihat CT scan-ku? Kau tahu sesuatu? Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan ekspresi bijak dan seolah-olah tahu akan sesuatu, lalu meninggalkanku sendirian bersama pikiran kalut serta jubah pasien yang tidak memadai ini. 
(Halaman 15)
Rupanya, dia tidak mengidap penyakit kanker atau penyakit mematikan lainnya, hanya gangguan pencernaan. Namun pertanyaan suster tadi terus mengganggunya. Dia terlahir sebagai orang Yahudi, tetapi masih sangat meragukan eksistensi Tuhan.
Karena sepertinya tak ada kategori spiritual yang cocok untukku, aku merasa harus menciptakannya: Confusionist. Diambil dari kata confused atau bingung, kami Confusionist memang bingung--amat sangat bingung--dalam soal Tuhan dan agama.
(Halaman 18)
Maka selanjutnya dia pun mencari tahu ada berapa banyak Tuhan dan agama di dunia ini. Kemudian panik setelah mengetahui bahwa saat ini sudah terdapat sembilan ribu sembilan ratus agama, dengan dua atau tiga agama baru muncul setiap hari. Akhirnya dia mencetak daftar agama tersebut serta menyortirnya. Hingga hanya tersisa delapan keyakinan.

Delapan aliran kepercayaan tersebut yaitu Sufisme, Buddhisme, Fransiskan, Raelisme, Taoisme, Wicca, Syamanisme, dan Kabbalah. Tidak tanggung-tanggung, dia pun melakukan perjalanan ke berbagai kota-kota sumbernya dan mencari pembimbing untuk lebih mengenal delapan aliran kepercayaan yang telah dipilihnya.
Aku sengaja tidak memilih agama secara utuh, tetapi sedikit irisannya. Irisan Tuhan.
(Halaman 33)
Kota pertama yang dia kunjungi yaitu Istanbul di Turki. Tempat Rumi--sang pujangga Islam--menuliskan syairnya dan tempat asal para darwis yang berputar. Di kota ini penulis berusaha untuk berlatih sema, upacara berputar.
Sema bukanlah tarian. Sema adalah semacam kemurnian, namun pengertiannya sukar dijabarkan dengan kata-kata. Sema seperti mencicipi buah. Sulit dijelaskan, tetapi lezat. Sema adalah saat kesadaran menjadi murni. Saat hatimu berubah dengan terus-menerus berzikir, mengingat Allah.
(Halaman 88)
Kota selanjutnya yaitu Kathmandu di Nepal. Kota tersebut memiliki sejarah agama Buddha yang dalam. Di sini penulis belajar untuk bermeditasi.
'Agama' berasal dari bahasa Latin religio, yang artinya 'mengikat', tetapi Buddhisme justru menjunjung ketidakterikatan. Buddhisme agama yang melepaskan--melepaskan konsep jiwa, Tuhan, dan akhirnya dirimu sendiri.
(Halaman 175)
Kota berikutnya yaitu New York di Amerika Serikat. Pada sebuah penampungan tunawisma di Bronx Selatan, dia belajar untuk lebih mengenal Fransiskan, ordo Katolik.
Fransiskus percaya bahwa kita harus mengosongkan diri--dari harta benda, gagasan, kebanggaan--sebelum Tuhan bisa memasuki kehidupan kita. Bagi Fransiskus, kemiskinan tidaklah merepresentasikan perbudakan, tetapi kebebasan, karena dengan tidak memiliki apa-apa, kita tak perlu mempertahankan apa-apa.
(Halaman 207)
Penulis kemudian menghadiri pertemuan Raelian yang mewah di Las Vegas. Raelian adalah agama terbesar berbasis UFO. Mereka percaya bahwa semua makhluk hidup di bumi diciptakan oleh Elohim.
Raelian memuja teknologi secara ekstrem ('Sains adalah agama kita'), tetapi bukankah kita semua seperti itu? Bukankah kita memandang teknologi--bukan teknologi tertentu, tetapi konsep teknologi itu sendiri--nyaris sebagai kekuatan ilahi untuk kebaikan di muka bumi? Teknologi bukan hanya agama kita, melainkan sihir kita.
(Halaman 282)
Perjalanan pencarian Tuhan kemudian dilanjutkan dengan mengikuti tur agama Tao di Wuhan, Cina. Penulis berharap di kota ini dia dapat memperbaiki chi-nya yang bermasalah. 
Taoisme, berkisar pada mengosongkan diri dari segala keterikatan, pengetahuan, konsep, ambisi--semua itu, dan lebih lagi, hingga kita menjadi cangkang kosong. Tao mengisi lubang berbentuk Tuhan dengan Tuhan berbentuk lubang.
(Halaman 317)
Karena mempunyai ketertarikan pada sihir, maka penulis pun belajar mengenal Wicca pada seorang penyihir di Washington D.C.
Wicca adalah agama yang sangat demokratis. kita memilih sendiri dewa atau dewi yang ingin disembah, memilih bagian permata yang akan dipandangi, dan tak akan ada yang tersinggung. Tak akan ada Tuhan yang cemburu.
(Halaman 350)
Masih di kota yang sama, Washingtong D.C., penulis mengikuti Lokakarya Syaman. Dia mencoba praktik spiritual Syamanisme.
Kekuatan syaman terletak pada kemampuan mereka kesurupan sesuka hati dan mencapai tingkat kesadaran yang berbeda, dengan atau tanpa bantuan psikotropika.
(Halaman 379)
Kemudian terakhir, penulis menutup pencariannya dengan mengunjungi Tzfat (juga dieja Safed), kota kecil di kawasan pinggiran Tel Aviv, Israel untuk memahami Kabbalah.
Kabbalah (dan Yahudi secara umum) adalah tikkun, atau 'memperbaiki'. Pengikut Kabbalah percaya kita memiliki tugas unik untuk membantu memperbaiki dunia dengan memperbaiki diri kita, kesadaran kita.
(Halaman 437)
Meskipun diterjemahkan dengan sangat baik, namun saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melahap isi buku ini. Selain karena tebal, buku ini juga memberikan wawasan baru yang menurut saya cukup luar biasa--bahkan agak ajaib di beberapa bagian. Tetapi secara keseluruhan, isi buku ini sangat menarik. Mengandung kebijaksanaan yang mencerahkan, sindiran yang menohok, sekaligus humor yang menghibur. 

Rating
Tiga setengah dari lima bintang.

Read more >>

Friday, October 28, 2016

Review: My First Qur'an Story [3]

my first qur'an story
Detail Buku
Judul: My First Qur'an Story
Penulis: Tasaro GK
Penyunting: Yadi Saeful Hidayat
Ilustrator: Rizqia Sadida
Penerbit: Mizania Kids
Cetakan: I, Mei 2016
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-602-418-025-6
Harga: Rp 199.000

Review 
Sebelumnya Review: My First Qur'an Story [2]

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman menggunakan buku My First Qur'an Story untuk melatih whole language pada Jav. Kebetulan beberapa waktu yang lalu, saya baru mengikuti kelas literasi di sekolah Jav.

Apa saja whole language itu? Whole language bukan hanya membaca dan menulis seperti dalam calistung. Whole language yaitu kemampuan berbahasa secara utuh. Terdiri dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Itupun sebelum dipraktikkan, anak harus terlebih dahulu dipastikan bahwa kebutuhan bergeraknya sudah terpenuhi ya.

Latihan Menyimak.
Yaitu memperbanyak kosakata yang dimiliki anak dengan cara membacakan cerita. Kisah-kisah pada buku My First Qur'an Story menggunakan gaya bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh Jav. Namun tetap menggunakan diksi yang menarik, sehingga Jav enggak merasa bosan. Tentu saja harus dibarengi dengan intonasi yang mendukung. Selain itu, dengan membacakan cerita para nabi dari buku My First Qur'an Story, bukan hanya dapat memperkaya kosakata Jav tetapi juga menambah wawasannya terutama dalam hal pengetahuan agama Islam. 

Latihan Berbicara.
Salah satu caranya yaitu dengan meminta anak untuk menceritakan gambar pada buku. Kadang, saya meminta Jav untuk bergantian membacakan beberapa kisah dalam buku My First Qur'an Story. Iya, Jav belum bisa membaca tulisan. Oleh karena itu, saya memintanya untuk membaca gambar dan menceritakannya dengan kalimat sendiri. Ilustrasi pada buku My First Qur'an Story cantik-cantik. Ditambah dengan ingatan Jav dari cerita yang sudah pernah saya bacakan, dia pun bisa bercerita dengan lancar. Lucu deh.

Latihan Membaca. 
Bukan dengan cara mengeja seperti n-a na b-i bi nabi. Tetapi belajar mengenal huruf dulu, lalu secara bertahap mengenal suku kata, dan terakhir mengenal kata. Untuk mengenal huruf, Jav sudah bisa. Sekarang saya sedang melatih Jav untuk mengenal suku kata. Jadi saya meminta Jav untuk mencari suku kata tersebut di dalam buku My First Qur'an Story. Contohnya mencari suku kata ba, bi, bu, dan seterusnya. Seru loh. Apalagi, jenis huruf, ukuran huruf, dan jarak antar baris yang digunakan pada buku My First Qur'an Story pun pas sehingga dapat dibaca oleh Jav dengan jelas. 

Latihan Menulis. 
Bisa dengan cara meraba huruf dengan tekstur tertentu. Kebetulan tulisan judul pada sampul buku My First Qur'an Story menggunakan huruf yang timbul. Jav bisa belajar tracing huruf pada tulisan judul tersebut menggunakan jari telunjuknya. 

Kesimpulannya, buku My First Qur'an Story ini bagus banget. Manfaatnya bukan hanya dapat menambah pengetahuan anak mengenai kisah para nabi serta meningkatkan bonding antara orang tua dan anak. Namun bisa juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

Read more >>

Friday, October 21, 2016

Review: My First Qur'an Story [2]

my first quran story
Detail Buku
Judul: My First Qur'an Story
Penulis: Tasaro GK
Penyunting: Yadi Saeful Hidayat
Ilustrator: Rizqia Sadida
Penerbit: Mizania Kids
Cetakan: I, Mei 2016
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-602-418-025-6
Harga: Rp 199.000

Review 

Jadi sebetulnya, sebelum mempunyai buku ini, saya sudah mempunyai buku yang sama namun dalam versi yang berbeda. Penulisnya sama, Tasaro GK. Penerbitnya juga sama, Mizania Kids. Terus apa dong bedanya? Hihihi.... Enggak usah bingung, saya jelaskan ya. Selain perubahan judul buku dari Seri Kisah Al-Quran Pertamaku menjadi My First Qur'an Story, berikut perbedaan lainnya.

Pertama, isinya. Dalam buku versi lama cetakan tahun 2013 ini, satu buku hanya berisi satu cerita. Saya kurang tahu nih, Seri Kisah Al-Quran Pertamaku ini terdiri dari berapa jilid. Saya sih baru mempunyai empat judul, yaitu Gagak Pintar dan Nabi Adam A.S., Unta Tabah dan Nabi Shaleh A.S., Merpati Romantis dan Nabi Ibrahim A.S., serta Serigala Malang dan Nabi Yusuf A.S. Adapun pada buku versi baru, satu buku berjudul My First Qur'an Story terdiri dari lima belas cerita. Meskipun konsekuensinya buku menjadi lebih berat, namun jadi lebih praktis juga. 

Kedua, ukurannya. Buku Seri Kisah Al-Quran Pertamaku versi lama memakai kertas ukuran B5. Sedangkan buku My First Qur'an Story versi baru ini disusun pada kertas berukuran A4. Jadi lebih mantap ya karena memberi ruang yang lebih besar bagi ilustrasi pendukungnya. 

Ketiga, jenis kertasnya. Meskipun sama-sama dikemas dengan sampul jenis hard cover, namun jenis kertas di bagian isi pada kedua versi buku ini berbeda. Kertas jenis art paper yang digunakan pada buku versi lama, enggak digunakan lagi pada buku versi baru. Jadi, buku versi barunya menggunakan kertas HVS.

Keempat, ilustrasinya. Ilustrator pada buku Seri Kisah Al-Quran Pertamaku versi lama yaitu Alie Fachri bersama Erry Gusnadin dan Indra J. Kesannya lebih ceria dengan pilihan warna-warna terang. Sedangkan ilustrator pada buku My First Qur'an Story versi baru yaitu Rizqia Sadida. Ilustrasinya berupa lukisan dengan pilihan warna yang lebih lembut.

my first quran story
Bagi saya pribadi sih, buku My First Qur'an Story versi yang baru ini lebih menarik. Jav juga begitu. Kalau diminta untuk memilih, dia lebih senang dibacakan kisah para nabi dari buku versi yang baru. 


Read more >>

Sunday, October 16, 2016

Review: My First Qur'an Story [1]

my first quran story

Detail Buku
Judul: My First Qur'an Story
Penulis: Tasaro GK
Penyunting: Yadi Saeful Hidayat
Ilustrator: Rizqia Sadida
Penerbit: Mizania Kids
Cetakan: I, Mei 2016
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-602-418-025-6
Harga: Rp 199.000

Review 
Sejak mengandung Jav, saya memang mulai berburu buku cerita anak Islami, termasuk diantaranya buku yang memuat tentang kisah nabi dan rasul. Tentu saja karena saya ingin mengenalkan kisah-kisah Al-Quran pada Jav sejak usianya masih dini. Kenapa harus memiliki bukunya? Kenapa saya enggak langsung mendongeng saja? Itu karena saya suka mati gaya kalau mendongeng. Yup, saya sudah mencobanya beberapa kali pada Jav, dan... garing. 

Beruntung, saya sudah menemukan buku tersebut. Saya tinggal membacakan saja ceritanya dan Jav bisa mendengarkan sambil menikmati ilustrasinya. Tapi sebenarnya saya masih kurang puas sih. Karena buku yang pertama ilustrasinya kurang oke, cara penulisannya pun berantakan, sehingga saya harus banyak melakukan improvisasi. Adapun buku yang kedua, ilustrasinya oke, cara penulisannya rapi, tapi tulisannya panjang-panjang. Kalau yang ini saya simpan dulu untuk Jav kalau usianya sudah agak besar dan bisa membaca sendiri.

Hingga akhirnya saya menemukan buku ini, My First Qur'an Story yang ditulis oleh Tasaro GK dan diterbitkan oleh Mizania Kids--penerbit buku-buku untuk anak Muslim. Melihatnya secara sepintas saja, saya langsung suka. Pertama, dari nama penerbit dan penulisnya, insya Allah berkualitas ya. Kedua, dari sampulnya, berupa hard cover dengan ilustrasi yang cantik. 

Begini isinya....

my first quran story

Setiap musim semi di sebuah kerajaan binatang di tengah hutan belantara bernama Kerajaan Rimba Raya, seluruh rakyatnya berkumpul di alun-alun kerajaan. Secara bergiliran, binatang-binatang tersebut menceritakan kisah istimewa yang pernah mereka alami. 

my first quran story

Cerita pertama dituturkan oleh seekor gagak yang pintar. Nenek moyangnya, pernah menjadi saksi kehidupan Nabi Adam A.S. Setelah diusir dari surga, Nabi Adam A.S. dan Hawa tinggal di bumi. Kemudian mereka memiliki dua anak kembar. Yang pertama Qabil dan Iqlima, adapun yang kedua Habil dan Layutsa. Sejak kecil hingga dewasa, Qabil selalu mengganggu Habil. Ketika Qabil menyakiti Habil hingga meninggal, dia belajar cara mengubur jasad saudaranya dari burung gagak.

my first quran story

Cerita selanjutnya dituturkan oleh seekor unta. Pada zaman Nabi Shaleh A.S., kaum Tsamud menolak ajakannya untuk menyembah Allah. Maka Allah memberi mukjizat kepada Nabi Shaleh A.S. dengan mengeluarkan seekor unta betina dari pecahan gunung. Nabi Shaleh A.S. meminta kaum Tsamud untuk tidak mengganggu unta tersebut, namun pemimpin kaum Tsamud malah membunuhnya. Akhirnya Allah menghukum kaum Tsamud dengan bencana gempa.

Ada pula burung merpati yang bercerita tentang kisah Nabi Ibrahim A.S., serigala yang bercerita tentang kisah Nabi Yusuf A.S., domba yang bercerita tentang kisah Nabi Ismail A.S., paus yang bercerita tentang kisah Nabi Yunus A.S., dan lain-lain. Sudut pandang yang digunakan pada buku ini memang unik. Terdapat lima belas kisah dalam Al-Quran yang dituturkan oleh lima belas binatang yang hidup pada zaman nabi-nabi. Termasuk Nabi Uzair A.S. dan Nabi Khidir A.S., turut diceritakan juga.

Setiap kisahnya memiliki judul yang menarik, nama binatang dan sifat khasnya disandingkan dengan nama nabi yang dikisahkannya. Seperti Paus Wangi dan Nabi Yusuf A.S., Semut Beriman dan Nabi Sulaiman A.S., Ikan Misterius dan Nabi Khidir A.S. Di bawah judulnya dilengkapi dengan ayat Al-Quran yang menjadi referensi cerita. 

my first quran story

Gaya bahasanya pun sederhana sehingga mudah untuk dicerna anak-anak. Serta didukung dengan tipe huruf dan ilustrasi yang penuh warna dan memanjakan mata. 

Rating
Empat dari lima bintang. Sangat direkomendasikan bagi teman-teman yang ingin mengenalkan dan mendekatkan anak atau keponakannya pada kisah nabi-nabi dengan cara yang menyenangkan ;)

Selanjutnya, Review: My First Qur'an Story [2]

Read more >>

Wednesday, October 5, 2016

Review: Wonderful Life

Wonderful life - amalia prabowo

Detail Buku
Judul: Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Penyunting: Hariadhi dan Pax Benedanto
Ilustrator: Aqillurachman A. H. Prabowo
Penerbit: POP, imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Pertama, April 2015
Tebal: viii + 169 halaman
ISBN: 978-979-91-0854-8
Harga: Rp 45.500 Gratis, pinjam dari iJakarta

Dibaca
Senin, 3 Oktober 2016

Review
Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi.
(Halaman 3)
Itulah kalimat pembuka yang mengawali kisah dalam buku ini. Ya, sebagai putri dari seorang dokter spesialis yang tinggal di Malang, sejak kecil Amalia selalu dididik dengan keras. Bayangkan, setiap pagi, dia dan keempat saudaranya harus melahap semua isi koran dan menjelaskan apa yang terjadi di seluruh dunia di hadapan ayahnya. Bagi ayah Amalia, membaca merupakan bekal yang sangat penting untuk dapat menggenggam dunia. 

Berkat didikan ayahnya, Amalia tumbuh menjadi gadis yang selalu teratur dan terencana. Selama ini rencana yang dijalankannya secara disiplin, membuat hidupnya selalu sesuai dengan yang diinginkannya. Contohnya ketika dia memilih sekolah di SMA Negeri serta diterima di universitas terbaik di Indonesia melalui jalur PMDK (program penjaringan siswa berprestasi untuk masuk ke universitas terbaik).

Begitu pula ketika dia memutuskan untuk menikah muda, menapakkan kaki ke Jakarta, dan memiliki karir yang melesat hingga mencapai puncak--menjadi CEO wanita pertama di perusahaan advertising multinasional. Bahkan ketika sepuluh tahun pernikahannya merapuh, Amalia memilih untuk merelakan suaminya dan tidak larut dalam kesedihan.

Setelah dua tahun hidup sendiri, akhirnya Amalia menemukan sosok yang mengembalikan ‘rasa’ dalam hidupnya. Namanya Syafiqurachman. Mereka kemudian menikah serta memiliki dua orang anak, Aqil dan Satria. Hidupnya sempurna.

Namun, sang pemilik kehidupan mempunyai kehendak lain. Amalia kehilangan pekerjaannya dan suaminya meninggalkannya karena ingin kembali ke keyakinan yang dianutnya. Seakan belum cukup, Aqil--yang dia harapkan dapat menjadi dokter, insinyur, atau apa saja yang dapat membuat diri dan keluarganya bangga--mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Padahal Aqil sudah diserahkan ke sebuah sekolah bertaraf internasional termahal.
Ia terlahir dari keturunan yang memiliki DNA dengan kecerdasan tinggi. Ia hanya kurang keras berusaha. Ia anak manja.
(Halaman 66)
Persepsi Amalia terhadap Aqil, menciptakan jurang yang dalam di antara mereka. Amalia menyibukkan diri dengan mendirikan perusahaan baru. Sedangkan Aqil lebih mendekatkan diri dengan ibu dan kakak perempuan Amalia.

Ketika sadar bahwa Aqil adalah titipan-Nya, Amalia mulai menemui berbagai ahli untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Langit terasa runtuh menimpanya ketika Amalia mengetahui bahwa Aqil merupakan suspek disleksia.
Disleksia: gangguan dalam membaca yang disebabkan kesulitan otak dalam membedakan simbol dan merangkainya.
(Halaman 74)
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Baca bukunya ya :D

~~~

Unik dan menarik. Begitulah penilaian saya ketika secara sekilas melihat buku ini. 
  • Pertama, dari sampul depannya. Lihat saja pilihan warnanya yang simpel, hanya hitam, putih, biru, dan merah. Namun tetap memukau dengan desainnya yang eye catchy
  • Kedua, dari sampul belakangnya. Memuat blurb yang cukup menggambarkan isi buku, namun tetap membuat penasaran. Menjelaskan mengenai kesabaran dan kemauan Amalia untuk memahami dunia Aqil--putra sulungnya yang menyandang disleksia. 
  • Ketiga, penggunaan jenis hurufnya. Berbeda dengan jenis huruf yang biasanya terdapat pada buku lain. Memberikan citra santai dan jauh dari dari kesan kaku.
  • Keempat, ilustrasi yang indah. Setiap lembarnya dihiasi dengan hasil karya Aqil yang khas dan artistik. Ya, Aqil memang mengalami gangguan dalam membaca, menulis, dan berhitung, namun dia memiliki imajinasi yang luar biasa.

Selanjutnya, menginspirasi tanpa menggurui. Begitu pandangan saya terhadap buku ini setelah membaca seluruh isinya.
  • Pertama, dari gaya bahasanya. Ditulis seperti menyusun jurnal. Santai, sehingga terasa sangat dekat dengan pembacanya. Dan memang, buku ini merupakan kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis. Sehingga tidak terasa menggurui.
  • Kedua, dari cara penuturannya yang runut. Dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Me yang mengisahkan tentang latar belakang kehidupan Amalia sehingga pembaca dapat memahami alasan di balik respon Amalia ketika mengetahui masalah Aqil, kemudian Him yang menceritakan tentang Aqil dan kondisinya, serta Us yang berisi tentang usaha Amalia agar kehidupan keluarganya (dia, Aqil, dan Satria) bisa kembali harmonis.
  • Ketiga, penuh motivasi. Semangat Amalia patut dicontoh. Mulai dari prinsip hidup ayah Amalia yang kemudian menurun juga pada Amalia. Serta usaha Amalia setelah dia menyadari kebutuhan Aqil. Bagaimana dia memahami kebosanan Aqil karena harus melakukan terapi dengan membuat pola lingkaran yang berulang-ulang, bagaimana dia--yang sejak kecil tidak pernah mengenal teriknya matahari dan sesaknya debu--rela menemani Aqil melakukan terapi heavy hiking, juga bagaimana dia mencari akal agar dapat membuat pameran bagi hasil karya Aqil setelah menerima berbagai penolakan dari galeri dan kurator.
  • Keempat, menambah pengetahuan mengenai disleksia. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang disleksia. Padahal masa depan anak penyandang disleksia sangat bergantung pada bagaimana penerimaan serta bagaimana respon orang tua menyikapi amanah disleksia tersebut. Seandainya Amalia menutup mata pada kondisi anaknya, mungkin kehidupan Aqil akan semakin terpuruk.
  • Kelima, mengandung ilmu pengasuhan anak yang sangat kental. Umumnya bagi seluruh orang tua dan khususnya bagi orang tua anak penyandang disleksia. Bahwa setiap anak dilahirkan istimewa. Tugas orang tua lah untuk membantu menggali, memfasilitasi, dan mengembangkan potensinya. Jangan sampai orang tua hanya menilai dan menghargai kemampuan anak hanya dari sisi akademisnya. Aqil telah membuktikan bahwa meskipun tanpa kemampuan akademis, dia bisa tetap berprestasi dan bermanfaat bagi masyarakat. 
  • Keenam, memberikan pelajaran hidup bagi semua orang. Iya, kita memang harus selalu berusaha maksimal untuk mendapatkan sesuatu. Namun Sang Penciptalah yang memiliki hak prerogatif dalam mengatur hidup kita, karena Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Jadi, teruslah berusaha, serahkan hasilnya pada Sang Pencipta, dan terima apapun yang terjadi, begitu seterusnya.
  • Ketujuh, tetap menghibur. Meskipun cerita ini non fiksi, namun disajikan dengan cara penulisan seperti cerita fiksi. Ada bagian pembuka, subkonflik, konflik, hingga penyelesaian konflik. Makanya buku ini tidak membosankan, membuat penasaran, bahkan dapat membuat emosi pembaca naik-turun juga. 

Quote Favorit
Kendali kehidupanku sepenuhnya ada di tanganku. Bahagia atau sedih adalah pilihan sadarku.
(Halaman 11)
Evaluasi dan perencanaan kembali adalah cara terbaik untuk move on.
(Halaman 50)
Jika kehidupan adalah berkah maka musibah sekalipun adalah anugerah.
(Halaman 51)
Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan yang bukan milik kita ini adalah berdamai dengan kehidupan.
(Halaman 127)
Rating
Tiga setengah dari lima bintang. Saya sangat merekomendasikan buku non fiksi bergenre self improvement yang sarat akan cinta dan perjuangan seorang ibu ini. Bukan hanya untuk pembaca yang memiliki anak, tetapi juga untuk semua calon orang tua. Yuk baca bukunya, sebelum filmnya tayang tanggal 13 Oktober nanti ;)

Semoga dengan adanya buku Wonderful Life dan rilisnya film berjudul sama yang diangkat dari buku Wonderful Life di Bulan Peduli Disleksia Internasional ini, masyarakat dapat semakin memahami dan menghargai orang-orang yang menyandang disleksia :)

Read more >>

Monday, August 15, 2016

Pengumuman Pemenang Giveaway: Teman Imajinasi

Hai! Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah meramaikan giveaway novel Teman Imajinasi. Semua jawabannya meyakinkan. Namun sayang, saya hanya bisa memilih satu satu pemenang saja.

So, langsung saja ya. Selamat kepada...

Deria Anggraini
yang mendapatkan 1 buah novel Teman Imajinasi dari Penerbit Diva Press

Silakan segera mengirim biodata (nama, alamat lengkap, dan nomor telepon) ke alamat email sweet_donath@yahoo.com dengan subjek "Pemenang Giveaway Teman Imajinasi", paling lambat tanggal 19 Agustus 2016.

Bagi teman-teman yang belum beruntung, enggak perlu sedih. Karena masih ada kesempatan untuk mendapatkan novel kece ini di dua blog lain. Mulai hari ini, blog tour dan giveaway novel Teman Imajinasi diselenggarakan di sini ;)


Read more >>

Monday, August 8, 2016

Blogtour + Giveaway: Teman Imajinasi


Detail Buku
Judul: Teman Imajinasi
Penulis: Andam P. Saptiar
Penyunting: Zydnee Qairin Khadafi 
Penerbit: Diva Press
Cetakan: pertama, Agustus 2016
Tebal: 196 halaman
ISBN: 978-602-391-183-7

Review
Mungkin ada sebagian orang yang pernah mengalami memiliki teman imajinasi di masa kecilnya. Daya imajinasi anak-anak memang tinggi. Mereka senang membayangkan berbicara dan bermain dengan sosok yang mereka ciptakan sendiri, tidak nyata. Namun hal tersebut berangsur menghilang setelah mereka mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan berbagai urusan. Lalu apa jadinya jika orang dewasa yang memiliki teman imajinasi? Apakah wajar?

Hana adalah seorang mahasiswi semester enam fakultas farmasi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Apabila dilihat dari luar, tidak ada yang aneh pada dirinya. Sosoknya biasa saja, baik dari segi penampilan maupun dari segi kecerdasan. Namun dia rajin dan aktif di berbagai kegiatan kampus. Hidupnya mapan. Keluarganya pun merupakan muslim yang taat. Setelah beberapa tahun menjadi anak tunggal, kebahagiannya bertambah dengan kehadiran kedua adik kembarnya, Rino dan Roni. 

Akhir-akhir ini Hana merasakan kejanggalan pada dirinya. Ketika sedang bingung dan sedih, dia selalu mendengar suara tanpa sosok di dalam pikirannya. Hana pun selalu membalas suara itu, hingga terdengar seperti bergumam sendiri.
Siapa yang akan pergi menghubungi sponsor sendiri? Kan ada aku yang selalu menemani. We always together, Han.
"Iya, benar. I'm not alone. Tapi tetap saja aku terlihat sendiri di mata orang-orang, karena kamu tidak nyata."
Ya... setidaknya kamu bisa merasakan kehadiranku dan dapat berdialog denganku.
"Hmmm, kau menghiburku lagi. Terima kasih."
(Halaman 23)
Merasa ada keanehan di dalam dirinya, Hana menceritakan masalahnya kepada dua orang sahabatnya di tempat liqa, Nita dan Finda. Dibantu kedua sahabatnya, Hana pun berusaha mengusir suara itu. Mulai dari mendengarkan kaset ruqyah di rumah, datang ke tempat khusus ruqyah, hingga mengunjungi psikiater. Hana pun mendapat nasihat dari psikiaternya.
"Di dunia ini, dunia nyata, kamu tidak sendiri. Banyak-banyaklah bersosialisasi. Dari kebanyakan kasus yang saya temui, walaupun secara fisik seseorang itu banyak bersosialisasi, tapi tidak dengan hatinya. Ia seperti ingin membuat dunianya sendiri. Sosialisasinya hanya sebagai formalitas saja."
(Halaman 82)
Berkat dukungan Nita dan Finda, akhirnya Hana kembali menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif, tidak ada waktu luang yang tak berguna. Berhasil! Sudah tiga bulan Hana tidak mendengar suara tanpa sosok lagi. Namun kini, tiba-tiba dia sangat merindukan suara itu. Tekadnya sudah bulat untuk mengembalikan suara itu ke dalam kehidupannya.
Sepertinya aku butuh imaginary best friend, tidak hanya sekadar suara tak bersosok. Kalau anak-anak itu mampu menciptakannya, kenapa aku tidak? Imajinasiku tak kalah dengan mereka, batin Hana. 
(Halaman 118)
Ya, akhirnya suara itu kembali lagi, bahkan dalam wujud seorang laki-laki bernama Ajin, sesuai imajinasi Hana. Tentu saja dia merahasiakan hal tersebut dari Nita dan Finda. Apakah Hana menjadi gila? Bagaimana reaksi kedua sahabatnya ketika mengetahui rahasia Hana? Apakah mereka berhasil mengembalikan Hana ke dunia nyata?

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, cerita ini dituturkan dengan sangat rapi dan mengalir. Genrenya yang merupakan novel remaja religi, semakin menarik karena mempunyai tema yang tidak biasa. Kisah persahabatan yang saling mendukung dan saling menguatkan pun menambah nilai tambah novel ini. Apalagi ditutup juga dengan akhir cerita yang mengejutkan.

Giveaway
Penasaran kepingin baca juga dan mengetahui akhir ceritanya? Tenang, ada satu buku "Teman Imajinasi" dari DIVA Press untuk satu orang yang beruntung.

Persyaratannya mudah kok.
Jelaskan mengapa kalian menginginkan buku ini.
  • Jawaban ditulis melalui komentar pada postingan ini dengan format:
Jawaban:
Nama:
Akun Twitter:
Akun Facebook:
Link Share:
  • Giveaway berlangsung pada tanggal 8-14 Agustus 2016. 
  • Pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Agustus 2016.

Yuk! Ikutan dan ajak teman-teman yang lain yah :)


Read more >>