Monday, August 15, 2016

Pengumuman Pemenang Giveaway: Teman Imajinasi

Hai! Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah meramaikan giveaway novel Teman Imajinasi. Semua jawabannya meyakinkan. Namun sayang, saya hanya bisa memilih satu satu pemenang saja.

So, langsung saja ya. Selamat kepada...

Deria Anggraini
yang mendapatkan 1 buah novel Teman Imajinasi dari Penerbit Diva Press

Silakan segera mengirim biodata (nama, alamat lengkap, dan nomor telepon) ke alamat email sweet_donath@yahoo.com dengan subjek "Pemenang Giveaway Teman Imajinasi", paling lambat tanggal 19 Agustus 2016.

Bagi teman-teman yang belum beruntung, enggak perlu sedih. Karena masih ada kesempatan untuk mendapatkan novel kece ini di dua blog lain. Mulai hari ini, blog tour dan giveaway novel Teman Imajinasi diselenggarakan di sini ;)


Read more >>

Monday, August 8, 2016

Blogtour + Giveaway: Teman Imajinasi


Detail Buku
Judul: Teman Imajinasi
Penulis: Andam P. Saptiar
Penyunting: Zydnee Qairin Khadafi 
Penerbit: Diva Press
Cetakan: pertama, Agustus 2016
Tebal: 196 halaman
ISBN: 978-602-391-183-7

Review
Mungkin ada sebagian orang yang pernah mengalami memiliki teman imajinasi di masa kecilnya. Daya imajinasi anak-anak memang tinggi. Mereka senang membayangkan berbicara dan bermain dengan sosok yang mereka ciptakan sendiri, tidak nyata. Namun hal tersebut berangsur menghilang setelah mereka mulai tumbuh dewasa dan sibuk dengan berbagai urusan. Lalu apa jadinya jika orang dewasa yang memiliki teman imajinasi? Apakah wajar?

Hana adalah seorang mahasiswi semester enam fakultas farmasi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Apabila dilihat dari luar, tidak ada yang aneh pada dirinya. Sosoknya biasa saja, baik dari segi penampilan maupun dari segi kecerdasan. Namun dia rajin dan aktif di berbagai kegiatan kampus. Hidupnya mapan. Keluarganya pun merupakan muslim yang taat. Setelah beberapa tahun menjadi anak tunggal, kebahagiannya bertambah dengan kehadiran kedua adik kembarnya, Rino dan Roni. 

Akhir-akhir ini Hana merasakan kejanggalan pada dirinya. Ketika sedang bingung dan sedih, dia selalu mendengar suara tanpa sosok di dalam pikirannya. Hana pun selalu membalas suara itu, hingga terdengar seperti bergumam sendiri.
Siapa yang akan pergi menghubungi sponsor sendiri? Kan ada aku yang selalu menemani. We always together, Han.
"Iya, benar. I'm not alone. Tapi tetap saja aku terlihat sendiri di mata orang-orang, karena kamu tidak nyata."
Ya... setidaknya kamu bisa merasakan kehadiranku dan dapat berdialog denganku.
"Hmmm, kau menghiburku lagi. Terima kasih."
(Halaman 23)
Merasa ada keanehan di dalam dirinya, Hana menceritakan masalahnya kepada dua orang sahabatnya di tempat liqa, Nita dan Finda. Dibantu kedua sahabatnya, Hana pun berusaha mengusir suara itu. Mulai dari mendengarkan kaset ruqyah di rumah, datang ke tempat khusus ruqyah, hingga mengunjungi psikiater. Hana pun mendapat nasihat dari psikiaternya.
"Di dunia ini, dunia nyata, kamu tidak sendiri. Banyak-banyaklah bersosialisasi. Dari kebanyakan kasus yang saya temui, walaupun secara fisik seseorang itu banyak bersosialisasi, tapi tidak dengan hatinya. Ia seperti ingin membuat dunianya sendiri. Sosialisasinya hanya sebagai formalitas saja."
(Halaman 82)
Berkat dukungan Nita dan Finda, akhirnya Hana kembali menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif, tidak ada waktu luang yang tak berguna. Berhasil! Sudah tiga bulan Hana tidak mendengar suara tanpa sosok lagi. Namun kini, tiba-tiba dia sangat merindukan suara itu. Tekadnya sudah bulat untuk mengembalikan suara itu ke dalam kehidupannya.
Sepertinya aku butuh imaginary best friend, tidak hanya sekadar suara tak bersosok. Kalau anak-anak itu mampu menciptakannya, kenapa aku tidak? Imajinasiku tak kalah dengan mereka, batin Hana. 
(Halaman 118)
Ya, akhirnya suara itu kembali lagi, bahkan dalam wujud seorang laki-laki bernama Ajin, sesuai imajinasi Hana. Tentu saja dia merahasiakan hal tersebut dari Nita dan Finda. Apakah Hana menjadi gila? Bagaimana reaksi kedua sahabatnya ketika mengetahui rahasia Hana? Apakah mereka berhasil mengembalikan Hana ke dunia nyata?

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, cerita ini dituturkan dengan sangat rapi dan mengalir. Genrenya yang merupakan novel remaja religi, semakin menarik karena mempunyai tema yang tidak biasa. Kisah persahabatan yang saling mendukung dan saling menguatkan pun menambah nilai tambah novel ini. Apalagi ditutup juga dengan akhir cerita yang mengejutkan.

Giveaway
Penasaran kepingin baca juga dan mengetahui akhir ceritanya? Tenang, ada satu buku "Teman Imajinasi" dari DIVA Press untuk satu orang yang beruntung.

Persyaratannya mudah kok.
Jelaskan mengapa kalian menginginkan buku ini.
  • Jawaban ditulis melalui komentar pada postingan ini dengan format:
Jawaban:
Nama:
Akun Twitter:
Akun Facebook:
Link Share:
  • Giveaway berlangsung pada tanggal 8-14 Agustus 2016. 
  • Pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Agustus 2016.

Yuk! Ikutan dan ajak teman-teman yang lain yah :)


Read more >>

Wednesday, May 11, 2016

Maneken: Kisah Cinta Sepasang Benda Mati


Detail Buku
Judul: Maneken
Penulis: SJ. Munkian
Editor: Triana Rahmawati
Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Cetakan: I, September 2015
Tebal: 181 halaman
ISBN: 9786029474060
Harga: Rp 47.000

Review
Pernahkah kamu merasa bahagia sekali, sehingga mengekspresikannya dengan cara memeluk dan meremas bonekamu dengan sangat kencang? Atau pernahkah kamu merasa sangat kesal, sehingga menendang dan melempar barang-barang di sekitarmu?

Hati-hati loh. Jangan-jangan boneka atau barang-barangmu itu benda mati yang mempunyai perasaan layaknya manusia, seperti Claudia dan Fereli :D

Claudia dan Fereli adalah sepasang maneken di sebuah toko pakaian di Inggris, Medilon Shakespeare. Sophie, pemilik toko tersebut, menempatkan Claudia dan Fereli di etalase utama serta menjadikan mereka sebagai daya tarik terpenting di toko tersebut.

Dengan dikenakan pakaian-pakaian modis sesuai tema-tema unik seperti New Beginning Story, Warm Summer Happy Moment, serta For Special Night, Claudia dan Fereli berhasil membuat Medilon Shakespeare sukses besar. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya di balik setiap pengaturan posisi sepasang maneken yang dibuat semakin romantis itu, ada perasaan cinta yang tumbuh di antara Claudia dan Fereli.
Kurasakan tubuh Fereli menegang, napasnya tiba-tiba tertahan, dan ada getaran di tangannya. Anehnya itu juga berlaku padaku. Baru kali ini aku merasakan dadaku berdegup begitu kencang.
(Halaman 49)
Sayangnya, kisah bahagia Claudia dan Fereli harus hancur dalam sekejap ketika Sophie patah hati serta melampiaskan kemarahannya kepada Fereli. Sophie memisahkan mereka berdua.
Bagaimana rasanya jika jantungmu diambil? Ah, kau tak akan mampu merasakannya! Yang ada kau tewas sebelum merasakannya. Sementara aku mesti menanggung rasa itu.
(Halaman 138)
~~~

Cerita tentang Claudia dan Fereli ini sangat berkesan di hati saya. Buktinya, meskipun sudah membacanya lebih dari tujuh bulan yang lalu, dan sudah tiga kali membacanya, tapi rasanya tetap terhibur. Kenapa? Saya jabarkan satu per satu ya, apa saja kelebihan dari novel ini.

(+) Kemasan yang menarik. Cover-nya menampilkan sepasang maneken yang menggunakan pakaian pengantin, dengan latar warna jingga dan hijau muda. Manis. Ditambah endorsement dari Noe Letto (musisi), Tasaro GK (penulis), dan Sinta Yudisia (Ketua Umum FLP) pula. Mantap. Begitu juga dengan blurb-nya, cukup menggambarkan isi cerita, namun tidak berlebihan, sehingga tetap membuat penasaran. Pas.

(+) Tema yang unik. Ceritanya bukan tentang kisah cinta manusia biasa, tapi kisah cinta sepasang maneken. Iya maneken, benda mati, boneka yang biasa dijadikan model di toko-toko baju itu loh. Genrenya memang romance namun diracik dengan bumbu fantasy

(+) Detail. Walaupun bergenre romance fantasy, namun logikanya tetap masuk kok. Karena di dalam novel ini, kaum maneken digambarkan oleh penulis sebagai benda mati yang memiliki lima kemampuan, yang tentu saja tidak pernah disadari oleh manusia. Seperti kemampuan nomor satu, mampu berbahasa apapun. Kemampuan nomor dua, mampu memahami percakapan manusia dan menirunya. Kemampuan nomor tiga, dapat menyampaikan perasaannya kepada manusia meski dengan ekspresi datar. Serta dua kemampuan lain yang tidak mungkin saya tuliskan di sini. Kalau mau tahu, baca dong bukunya :p

(+) Pemilihan judul bab yang tepat. Untuk mendukung isi cerita dengan tokoh utama yang merupakan benda mati, judul pada setiap babnya pun dibuat dengan kata kerja pasif. Seperti Dinamai, Diletakkan, Diperlihatkan, dan sebagainya. Sangat 'bendawi'.

(+) Dibuka dengan prolog yang cukup memikat. Diksinya cetar dan ekspresi emosinya menyayat hati. Membuat saya ingin terus membacanya sampai akhir.

(+) Novel yang terdiri dari tiga puluh empat bab ini, memiliki panjang masing-masing bab yang cukup singkat, sekitar dua sampai lima halaman saja. Hal tersebut membuat cerita jauh dari kesan membosankan.

(+) Gaya bahasa yang digunakan penulis, tajam dan puitis, namun tetap mudah dicerna. Cenderung terasa kaku sehingga mirip dengan novel terjemahan, namun memang sesuai sih dengan latar tempatnya, Inggris.

(+) Cara penyampaian ceritanya disajikan secara runut dan mengalir. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama (Claudia, kadang Fereli), penulis memulai kisah ini dengan perkenalan tokoh aku (Claudia), kemudian Sophie, lalu pegawai-pegawai Sophie, hingga kemunculan Fereli sebagai pasangan Claudia di etalase utama, serta kehadiran beberapa tokoh pendukung lain menjelang akhir cerita.

(+) Semua tokoh dalam novel ini mempunyai karakter yang jelas dan konsisten. Namun yang paling menonjol memang hanya Claudia, Fereli, dan Sophie. Claudia yang romantis, Fereli yang gentle, serta Sophie yang sangat tegas dan ambisius. Saya suka bagaimana penulis menunjukkan karakter Sophie menggunakan teknik show not tell yaitu melalui dialog-dialog bersama pegawai-pegawainya.

(+) Toko pakaian Medilon Shakespeare yang menjadi latar tempat perkembangan kisah Claudi dan Fereli, begitu menyatu dengan cerita. Begitu pun dengan tema-tema unik di toko tersebut pada setiap musimnya. Bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penggerak cerita. Jenius.

(+) Dengan menggunakan alur maju, penulis begitu lihai memainkan emosi saya. Setelah dimanjakan dengan cerita cinta yang manis, saya tiba-tiba dibawa menuju konflik yang menegangkan dan penuh aura mistis. Hebatnya lagi nih, terdapat selipan humor pada beberapa adegan klimaks. Seperti pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan Tuan Sinclair (pembuat maneken) ketika Jeany, saudara kembarnya, berusaha untuk menyelamatkan Fereli. Atau dialog antara Deborah dan Nicole tentang gunting kuku, ketika mereka sedang berusaha menggagalkan rencana Sophie untuk melenyapkan Claudia.

(+) Ditutup dengan ending dan epilog yang tidak terduga.

(+) Di antara semuanya, yang paling saya suka dari novel ini adalah sentilan-sentilan yang tersurat di dalamnya, untuk kita, manusia. Selain itu tersirat juga pelajaran hidup yang patut direnungkan. Tentang impian, cinta, perjuangan, dan pilihan dalam menyikapi berbagai permasalahan hidup.
Betapa manusia bisa sangat bersikap lembut, cerdas, lucu, rendah hati, dan elegan. Tetapi juga bisa jadi yang paling kejam di antara makhluk yang pernah diciptakan di muka dunia.
(Halaman 73)
Saya mengacungkan dua jempol untuk penulis novel ini. Sebagai karya perdana, novel Maneken mempunyai banyak nilai tambah. Namun, agar bisa lebih baik lagi, kali ini saya juga ingin menyampaikan beberapa masukan untuk novel ini. 

(-) Di bagian awal, pergolakan emosinya cenderung datar. Novel bergenre romance ini tentunya bertabur adegan dan dialog romantis antara Claudia dan Fereli. Namun, menurut saya sih 'pencarian cinta'-nya terasa kurang menggigit. Pada mulanya Claudia memang tidak suka pada Fereli. Nah, peralihan dari rasa kesal menjadi cintanya terasa terlalu cepat dan mudah.

(-) Penggunaan sudut pandang orang pertama yang kurang rapi. Sejak awal, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Claudia. Namun di bagian akhir, tiba-tiba muncul penuturan melalui sudut pandang orang pertama dari sisi Fereli. Seandainya penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Claudia dan Fereli secara bergantian sejak awal, pasti akan lebih asyik.

(-) Jumlah halamannya terlalu tipis. Kurang tebal :D

Hmmm, apa lagi ya. Saya rasa sudah cukup. Kesimpulannya, penulis berhasil menuturkan kisah cinta yang bersahaja, mengemasnya dengan manis, dan mewarnainya dengan tragedi, melalui sudut pandang yang unik. Love it....

Rating
Tiga setengah dari lima bintang. Recomended! Dan saya tidak sabar menunggu karya penulis selanjutnya ;)

~~~


Read more >>

Monday, May 9, 2016

Review: Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Teknik Lingkungan



Detail Buku
Judul: Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Teknik Lingkungan
Penulis: Widyanti Yuliandari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2016
Tebal: 102 halaman
ISBN: 978-602-03-2608-5

Review
Bisa dibaca di sini :)

Rating
Empat dari lima bintang.

Read more >>

Friday, April 29, 2016

Resensi Happy Book for Happy Parent @ Koran Jakarta

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan rekomendasi sebuah buku bagus dari seorang teman. Temanya apa lagi kalau bukan tentang pengasuhan anak :) Tapi buku ini berbeda dengan buku bertema sama lainnya. Kenapa? Karena kalau pada buku lain objeknya adalah anak, pada buku ini objeknya yaitu orang tua. Jadi, sebelum menerapkan berbagai macam metoda dan pola pengasuhan, sebaiknya orang tua perlu menyiapkan diri terlebih dahulu.

Setelah selesai membaca, saya langsung membuat resensi dan mengirimnya ke redaksi Koran Jakarta. Kangen nih, sudah lama sekali tulisan saya enggak muncul di rubrik Perada. Saya membuat resensinya hari Jumat, mengirimnya hari Sabtu, dan mendapat 'surat cinta' pada hari Minggu. Lumayan shock ketika membaca isinya :') Memang gara-gara saya juga sih. Banyak kesalahan lama yang masih diulangi, karena terlalu lama enggak bikin resensi *pembenaran* :p

Namun terbit harapan juga bahwa mungkin tulisan saya akan dimuat. Biasanya sih begitu :D Dan ternyata benar. Tulisan saya dimuat keesokan harinya, Senin, 25 April 2016. Mudah-mudahan jadi pembuka di tahun ini untuk tulisan-tulisan selanjutnya. Aamiin....

Sayangnya, lagi-lagi saya enggak berhasil mendapatkan versi cetaknya. Padahal hari itu suami sedang berada di Jakarta :(

Berikut tulisan versi asli yang saya kirim.

~~~


Tips Menjadi Orang Tua yang Bahagia

Detail Buku
Judul: Happy Book for Happy Parent
Penulis: Aisya Yuhanida Noor
Editor: Yulia Suzana
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2016
Tebal: 205 halaman
ISBN: 978-602-02-8028-8
Harga: Rp 54.800

Resensi
Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya. Namun pada era informasi seperti sekarang, ilmu pengasuhan dapat dengan mudah untuk diakses. Mulai dari buku, seminar, hingga informasi dari internet. Lalu apakah dengan begitu, tanggung jawab sebagai orang tua bisa dilalui dengan lebih mudah?

Sayangnya, tidak. Bagi sebagian orang tua, peran tersebut bisa menjadi sangat melelahkan. Bukan karena kurangnya ilmu, tapi karena kadang belum siap untuk menerapkannya.

Orang tua menduduki posisi pertama dalam daftar 'pekerjaan' berdasarkan urutan tingkat stresnya. Hal tersebut dapat memunculkan emosi negatif yang secara tidak sadar sering orang tua lampiaskan pada anak. Contohnya seperti tuntutan yang tinggi, bentakan, larangan, banyak menyalahkan, jarang mengapresiasi, jarang memeluk, dan lain-lain (hlm 7). Akibatnya, anak jadi tidak mau dekat dengan orang tua.

Latar belakang tersebut yang membuat psikolog lulusan Universitas Padjadjaran menyusun buku ini. Beliau menulis berdasarkan pengalaman profesional dan pengalaman pribadinya. Buku ini berbeda, karena tidak membahas ilmu parenting, tapi membahas kesiapan pribadi orang tua sebagai orang dewasa dalam menjalankan perannya (hlm 24).

Ada empat prinsip untuk menjadi orang tua yang bahagia, sehingga dapat mempraktikkan pola pengasuhan secara efektif. Pertama, bahwa kita adalah orang tua terbaik yang Tuhan persembahkan untuk mendampingi anak kita. Bagaimanapun kondisi anak kita, ingatlah bahwa Tuhan pastilah memberikan kita anak disertai dengan potensi kesanggupan kita untuk mengasuhnya dengan sebaik mungkin (hlm 36). Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu pula dengan kita dan anak kita.

Kedua, orang tua adalah tugas seumur hidup dan harus dipertanggungjawabkan. Kita memang tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi orang tua. Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran ketika melakukan kesalahan. Sebagai orang dewasa, kita harus terus memperbaiki kesalahan dan selalu membekali diri agar mampu menjadi orang tua terbaik sesuai potensi yang dimiliki (hlm 47).

Ketiga, emosi anak adalah cermin dari emosi orang tua. Ahli emosi mengatakan bahwa emosi itu lebih menular daripada flu. Akan berpindah dari satu orang ke orang lain, seperti virus (hlm 57). Apalagi pada anak di bawah usia enam tahun yang otaknya lebih didominasi oleh gelombang theta, yaitu gelombang yang membuat semua informasi masuk ke alam bawah sadar. Oleh karena itu, orang tua harus berusaha agar lebih sering merasa bahagia.

Keempat, kepercayaan anak terhadap orang tua tercipta dari kelekatan yang kuat. Bersama, dekat, dan lekat itu berbeda. Kelekatan dengan anak sangat penting sebagai modal untuk dapat terus mendampingi perjalanan hidupnya. Jangan pernah bosan untuk berlatih mengamati ekspresi dan gestur tubuh anak serta langsung mengkonfirmasikannya.

Penulis kemudian meramu tiga langkah kunci untuk mencapai kebahagiaan dalam mengasuh anak, yang disebut sebagai Formula 3 K. Yaitu kenali diri, kelola emosi, dan kelekatan emosi. Langkah tersebut harus senantiasa dilakukan dalam hidup kita (hlm 75).

Dalam mengenal diri, hal yang harus digali adalah kebutuhan dasar diri yang belum terpenuhi, karakter diri yang dapat menjadi sumber konflik dalam pengasuhan, kekuatan dan kelemahan diri, serta nilai pengasuhan yang ingin diteruskan pada anak.

Selanjutnya, orang tua yang mampu mengelola emosi adalah orang tua yang mau dan mampu mengambil tanggung jawab mengelola emosinya sendiri. Sehingga lebih 'tenang', lebih peka dan berempati pada perasaan anak, lebih mampu memotivasi diri, serta bereaksi secara tepat dalam menghadapi masalah (hlm 98).

Terakhir, orang tua harus memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan anak agar tercipta kelekatan emosi. Dan hal yang paling mendasar adalah agar mengada sepenuhnya ketika sedang berinteraksi dengan anak.

Buku yang terdiri dari sepuluh bab ini disampaikan dengan cara yang mengalir dan bahasa yang mudah dipahami. Pada bagian akhir, dilengkapi juga dengan tahapan terperinci dalam mempraktikkan Formula 3 K.

~~~

Sedangkan tulisan versi yang sudah diedit oleh tim redaksi bisa dibaca di sini ;)


Read more >>

Wednesday, April 27, 2016

Review: 5 Guru Kecilku - Bagian 1

5 Guru Kecilku
Detail Buku
Judul: 5 Guru Kecilku - Bagian 1
Penulis: Kiki Barkiah
Editor: Aditya Irawan
Penerbit: Mastakka Publishing
Cetakan: kedua, Oktober 2015
Tebal: 241 halaman
ISBN: 978-602-73274-0-5

Review
Sudah cukup lama saya membaca buku ini. Bagian keduanya pun sudah beberapa bulan nangkring di rak buku. Makanya, sebelum membaca bagian duanya, saya mencoba membaca ulang buku ini, sekalian membuat review-nya.

Ternyata, meskipun sudah pernah membacanya, enggak ada yang berubah dengan perasaan saya ketika membacanya untuk yang kedua kali. Tetap panas dingin, hihihi.... Maksudnya hati terasa lebih adem saat membacanya, sekaligus menjadi lebih bersemangat untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Makanya, kalau sedang galau mengenai pengasuhan anak, langsung baca buku ini deh.

Isinya bukan tentang teori pengasuhan, tetapi mengenai praktik pengasuhan yang diterapkan oleh penulisnya, Teh Kiki Barkiah. Jadi, Teh Kiki ini mempunyai lima orang anak, merantau di USA, tanpa ART, serta melakukan homeschooling pula. Superwoman banget ya?

Enggak juga sih, karena layaknya manusia biasa, Teh Kiki juga mengalami berbagai problematika dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang ibu. Makanya, beliau menuliskan curahan hatinya dalam status Facebook. Tapi, bukan curhat sembarang curhat loh. Karena Teh Kiki selalu berhasil mengambil hikmah dari setiap masalah yang dialaminya. Ketika status-statusnya dikumpulkan, maka jadilah buku ini.
Tidak ada yang lebih sempurna dari Rasulullah SAW dalam pengasuhan anak. Maka tidak perlu kita mengatakan "kami merasa gagal menjadi orang tua" namun katakanlah "bersama Allah kami bisa lebih baik lagi".
Kumpulan kisah ini dibuka dengan tulisan berjudul "Niatmu Kekuatanmu" yang menekankan bagaimana cara pandang Islam mengenai keturunan. Anak bisa menjadi perhiasan hidup dan penyenang hati. Tetapi anak juga bisa menjadi cobaan hidup, bahkan musuh. Oleh karena itu, saat mengalami tantangan dalam pengasuhan, Teh Kiki mengingat kembali niat dan tujuannya sebagai orang tua. Agar dapat membesarkan anak saleh yang akan memintakan ampunan di akhirat nanti.

Terdapat 35 buah tulisan penuh ilham yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan jujur dalam buku ini. Temanya bervariasi. Mulai dari mengatasi perilaku buruk anak, membentuk rasa kasih sayang antar saudara, pergaulan dengan teman, pendidikan seks, pilihan untuk hidup tanpa TV, cara menanamkan nilai-nilai Islam, menerima potensi dan kelemahan masing-masing anak, hingga kisah taaruf yang singkat dan proses pernikahan yang mudah, serta impian besarnya.

Dalam tulisan yang berjudul "Antara Saya, Homeschool, dan 24 Jam", Teh Kiki enggak segan-segan untuk membagikan jadwal kesehariannya. Terdapat beberapa contoh kombinasi kegiatan (menyusui, pekerjaan harian, dan sesi homeschooling) yang bisa dilakukan dalam satu waktu. Teh Kiki pun menceritakan bagaimana pembagian tugas bagi keempat anaknya (karena anak yang terakhir masih bayi) dalam tulisan yang berjudul "Pengasuhan Anti Stres dan Anti Marah-Marah Itu Ada Caranya". Dengan adanya perencanaan, kehebohan dalam pengasuhan anak dapat diminimalkan. Walaupun kini hidup tanpa asisten rumah tangga, namun Teh Kiki sangat menghargai kehadirannya, memaklumi kekurangannya, serta mendoakannya. 

Memang ya, kalau niatnya ibadah, cara pandangnya pun spesial. Lihat saja sudut pandang positif yang dimiliki Teh Kiki dalam mengatasi berbagai macam masalah pengasuhan. Contohnya yaitu ketika menghadapi anak yang picky eater.
Insya Allah pahala membujuk makan para balita tak kalah dengan pahala melobi tender proyek bagi para suami yang bekerja dengan berdasi rapi.
(Halaman 155)
Bagian yang paling saya suka yaitu ketika Teh Kiki menceritakan interaksinya dengan Ali (putra sulungnya). Apalagi penuturannya tentang kisah awal hidup Ali, hmmm indah sekali....
11 tahun yang lalu, seorang wanita istimewa dipilih Allah untuk melahirkan Ali. Namun karena kasih sayang-Nya, Allah lebih memilih untuk mengambil beliau di usia muda, dengan terlebih dahulu menggugurkan dosanya melalui sakit kanker yang dialami beliau. Dan karena kasih sayang-Nya pula, Allah memberikan kesempatan beliau untuk memiliki simpanan berupa seorang anak yang terlahir beberapa hari sebelum akhir usianya.
(Halaman 152)
Dalam buku ini, Teh Kiki juga menunjukkan betapa pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.
"Ummi sudah sangat berusaha, mengurus semua keperluan anak-anak. Keperluan tubuhnya, ilmu kognitifnya, pendidikan karakternya, bahkan mengajar Islam dan Al-Quran. Ummi mau bantu bapak agar bapak kelak bisa mempertanggungjawabkannya di depan Allah. Tapi Ummi gak sanggup kalo sendirian, karena bagaimanapun itu tanggung jawab bapak." Alhamdulillah sejak saat itu bapak melipatgandakan kekuatan untuk 'turun langsung' mendidik anak-anak.
(Halaman 149)
Kesimpulannya, buku ini sangat direkomendasikan. Keikhlasan Teh Kiki untuk merelakan ijazah cap gajahnya tersimpan rapi di dalam map, kesabarannya dalam menghadapi 5 guru kecilnya, serta sikap terbukanya dengan suami begitu menginspirasi. Menghangatkan jiwa.
Repot urusan anak di waktu kecil itu PASTI.
Repot urusan anak di waktu dewasa itu PASTI ADA YANG SALAH.
Repot urusan anak di negeri akhirat itu PASTI MERUGI.
Rating
Empat setengah dari lima bintang.

Read more >>