Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts
Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts

Friday, October 28, 2016

Review: My First Qur'an Story [3]

my first qur'an story
Detail Buku
Judul: My First Qur'an Story
Penulis: Tasaro GK
Penyunting: Yadi Saeful Hidayat
Ilustrator: Rizqia Sadida
Penerbit: Mizania Kids
Cetakan: I, Mei 2016
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-602-418-025-6
Harga: Rp 199.000

Review 
Sebelumnya Review: My First Qur'an Story [2]

Kali ini, saya akan berbagi pengalaman menggunakan buku My First Qur'an Story untuk melatih whole language pada Jav. Kebetulan beberapa waktu yang lalu, saya baru mengikuti kelas literasi di sekolah Jav.

Apa saja whole language itu? Whole language bukan hanya membaca dan menulis seperti dalam calistung. Whole language yaitu kemampuan berbahasa secara utuh. Terdiri dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Itupun sebelum dipraktikkan, anak harus terlebih dahulu dipastikan bahwa kebutuhan bergeraknya sudah terpenuhi ya.

Latihan Menyimak.
Yaitu memperbanyak kosakata yang dimiliki anak dengan cara membacakan cerita. Kisah-kisah pada buku My First Qur'an Story menggunakan gaya bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti oleh Jav. Namun tetap menggunakan diksi yang menarik, sehingga Jav enggak merasa bosan. Tentu saja harus dibarengi dengan intonasi yang mendukung. Selain itu, dengan membacakan cerita para nabi dari buku My First Qur'an Story, bukan hanya dapat memperkaya kosakata Jav tetapi juga menambah wawasannya terutama dalam hal pengetahuan agama Islam. 

Latihan Berbicara.
Salah satu caranya yaitu dengan meminta anak untuk menceritakan gambar pada buku. Kadang, saya meminta Jav untuk bergantian membacakan beberapa kisah dalam buku My First Qur'an Story. Iya, Jav belum bisa membaca tulisan. Oleh karena itu, saya memintanya untuk membaca gambar dan menceritakannya dengan kalimat sendiri. Ilustrasi pada buku My First Qur'an Story cantik-cantik. Ditambah dengan ingatan Jav dari cerita yang sudah pernah saya bacakan, dia pun bisa bercerita dengan lancar. Lucu deh.

Latihan Membaca. 
Bukan dengan cara mengeja seperti n-a na b-i bi nabi. Tetapi belajar mengenal huruf dulu, lalu secara bertahap mengenal suku kata, dan terakhir mengenal kata. Untuk mengenal huruf, Jav sudah bisa. Sekarang saya sedang melatih Jav untuk mengenal suku kata. Jadi saya meminta Jav untuk mencari suku kata tersebut di dalam buku My First Qur'an Story. Contohnya mencari suku kata ba, bi, bu, dan seterusnya. Seru loh. Apalagi, jenis huruf, ukuran huruf, dan jarak antar baris yang digunakan pada buku My First Qur'an Story pun pas sehingga dapat dibaca oleh Jav dengan jelas. 

Latihan Menulis. 
Bisa dengan cara meraba huruf dengan tekstur tertentu. Kebetulan tulisan judul pada sampul buku My First Qur'an Story menggunakan huruf yang timbul. Jav bisa belajar tracing huruf pada tulisan judul tersebut menggunakan jari telunjuknya. 

Kesimpulannya, buku My First Qur'an Story ini bagus banget. Manfaatnya bukan hanya dapat menambah pengetahuan anak mengenai kisah para nabi serta meningkatkan bonding antara orang tua dan anak. Namun bisa juga digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

Read more >>

Friday, May 29, 2015

Review: Anak Bertanya Pakar Menjawab 1b


Detail Buku
Judul: Anak Bertanya Pakar Menjawab 1b - Tentang Karya & Aksi Manusia serta Isu Sosial & Ekonomi
Penyunting: Hendra Gunawan
Penerbit: Common Room Networks Foundation
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-602-17940-4-3

Review
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, buku seri Anak Bertanya Pakar Menjawab ini terdiri dari dua jilid. Yang pertama, berisi pertanyaan dan jawaban tentang alam & kehidupan serta bumi & lingkungan. Sedangkan buku yang kedua, berisi pertanyaan dan jawaban tentang karya & aksi manusia serta isu sosial & ekonomi. Keduanya merupakan kumpulan pertanyaan dari anak-anak usia Sekolah Dasar yang tergabung dalam SOS Children's Villages Indonesia yang tersebar di sembilan kota di Indonesia dan sudah ditayangkan dalam situs AnakBertanya.com.

Dalam buku yang kedua ini, terdapat tiga puluh sembilan pertanyaan yang dijawab oleh pakar yang berbeda. Pertanyaannya tidak kalah seru dengan pertanyaan di buku pertama. Pertanyaan kritis yang terkesan sederhana, tetapi membutuhkan penjelasan yang tepat untuk menjawabnya. Seperti:
  • Mengapa jarum detik terus bergerak?
  • Mengapa sekolah didirikan?
  • Mengapa saya harus sekolah?
  • Mengapa ada orang yang suka mencuri?
  • Apa saja yang dapat kita lakukan untuk menghargai jasa pahlawan?
  • Mengapa ada banyak agama?
  • Apakah jarak Bandung-Jakarta sama dengan Jakarta-Bandung?


Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh para pakarnya dengan bahasa yang ringan, menyenangkan, dan tidak bertele-tele, sehingga mudah dipahami oleh anak-anak usia Sekolah Dasar. Misalnya:

Mengapa saya harus mempelajari banyak matapelajaran? Berikut cuplikan jawaban yang dipaparkan oleh Pak Iwan Syahril (Pendidik):
Cita-cita kamu apa? Saya beri contoh, ya. Misalnya, kamu mau jadi pedagang. Nah, untuk menjadi pedagang yang sukses, kita perlu kemampuan bahasa yang bagus. Perlu bisa membaca, menulis, pintar berkomunikasi, dan pintar tawar-menawar.
Tentunya seorang pedagang juga harus pandai berhitung, mulai dari hitungan sederhana, hingga hitungan yang sulit. Pelajaran matematika mengajarkan ini, bukan?
Lalu ketika berdagang, kita juga berhubungan dengan orang dari berbagai suku dan budaya. Di pelajaran IPS kita pun belajar tentang ragam budaya di Nusantara dan seluruh dunia.
Pedagang yang baik harus pula bersifat jujur dan dapat dipercaya. Karena itu di pelajaran PKN dan pelajaran agama kita diajarkan bagaimana bersikap yang baik dengan sesama.

(Halaman 67)

Mengapa harus ada uang? Mbak Yasmeen Danu (Perencana Keuangan Independen) menjawab:
Uang diciptakan untuk memudahkan proses pertukaran. Bayangkan bagaimana proses jual beli barang dan jasa dilakukan seandainya tidak ada uang? Misalnya, kamu sedang jalan-jalan ke sebuah toko bersama orang tuamu dan melihat sebuah mobil-mobilan yang kamu suka.
Pemilik toko berkata bahwa dia sedang membutuhkan satu stoples besar coklat untuk diberikan kepada putrinya ketika dia pulang nanti. Nah, jika kamu tidak memiliki satu stoples besar coklat, maka kamu tidak dapat membawa mobil-mobilan itu pulang karena si pemilik toko tidak bersedia menukarnya dengan benda lain yang kebetulan sedang kamu bawa. Menyebalkan bukan?

(Halaman 117)

Temanya memang cenderung lebih ringan dari buku yang pertama, namun tetap menambah wawasan. Apalagi dilengkapi dengan ilustrasi minimalis yang cukup menarik. Dan, yang tidak kalah pentingnya, dilampirkan juga biodata para pakar yang berkontribusi dalam buku ini. Ada sejarawan, psikolog pendidikan, perencana keuangan, aktivis sosial, ahli filsafat, seniman, fotografer, budayawan, sastrawan, dan lain-lain.

Buku ini cocok sekali untuk dibaca tidak hanya oleh anak-anak usia Sekolah Dasar, tetapi juga oleh orang tua sebagai bekal untuk menjawab pertanyaan anak-anak ;)

Read more >>

Monday, March 9, 2015

Review: Anak Bertanya Pakar Menjawab 1a

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Anak Bertanya Pakar Menjawab 1a - Tentang Alam & Kehidupan serta Bumi & Lingkungan
Penyunting: Hendra Gunawan
Penerbit: Common Room Networks Foundation
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 160 halaman
ISBN: 978-602-17940-3-6

Review
Salut! Itulah satu kata yang mewakili perasaan saya ketika membaca buku ini. Bukan hanya karena isi bukunya, tetapi lebih karena niat yang mendasari penyusunannya.

Bermula dari keinginan untuk memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan, penyunting buku ini--Pak Hendra Gunawan bersama sahabatnya--Pak Gregorius Hadiyanto Nitihardjo yang merupakan Direktur SOS Children's Villages Indonesia, mengumpulkan ratusan pertanyaan dari anak-anak SOS Children's Villages Indonesia yang tersebar di sembilan kota di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari anak-anak usia Sekolah Dasar tersebut kemudian dikumpulkan dalam sebuah situs AnakBertanya.com. Situs tersebut tidak hanya menayangkan kumpulan pertanyaan, namun juga jawaban dari pakar yang sesuai dengan bidangnya.

Agar manfaatnya bisa menjangkau anak-anak yang belum memiliki akses terhadap internet, maka muncullah ide untuk menerbitkan pertanyaan dan jawaban yang sudah terkumpul tersebut ke dalam bentuk buku. Hasil penjualannya pun akan disumbangkan pada anak-anak SOS Children's Village Indonesia.

Buku seri Anak Bertanya Pakar Menjawab ini terdiri dari dua jilid. Yang pertama, berisi pertanyaan dan jawaban tentang alam & kehidupan serta bumi & lingkungan. Sedangkan buku yang kedua, berisi pertanyaan dan jawaban tentang karya & aksi manusia serta isu sosial & ekonomi.

Dalam buku yang pertama ini, terdapat tiga puluh sembilan pertanyaan yang dijawab oleh pakar yang berbeda. Pertanyaan kritis yang terkesan sederhana, tetapi membutuhkan penjelasan yang tentu tidak sederhana untuk menjawabnya. Seperti:
  • Mengapa bintang hanya muncul pada malam hari?
  • Apakah UFO itu ada?
  • Bagaimana pesawat terbang yang demikian besar bisa terbang?
  • Mengapa manusia butuh tidur?
  • Mengapa gambar orang yang jauh dari kita bisa ada di TV?

Para pakar dari masing-masing bidang menjawabnya dengan cukup jelas. Walaupun jawabannya ilmiah, tapi disampaikan dengan bahasa yang ringan dan tidak bertele-tele, sehingga mudah dipahami oleh anak-anak usia Sekolah Dasar. Beberapa jawaban bahkan menggunakan perumpamaan yang cukup mudah dicerna.

Katanya Bumi berputar. Mengapa kita tidak merasakannya? Berikut cuplikan jawaban yang dipaparkan oleh Pak Alexander A. Iskandar (Fisikawan):
Kita terlahir di Bumi, jadi cara kita melihat (persepsi terhadap) lingkungan di sekitar kita sudah terbentuk sejak lahir. Kita bersama dengan udara di atmosfer Bumi semuanya berputar bersama-sama, jadi kalau kita memakai acuan yang juga ada di Bumi (misalnya gunung atau bangunan) maka kita tidak merasakan bahwa kita sedang bergerak.
Hal ini sama seperti kalau kita berada di dalam bis yang sedang berjalan. Jika kita memperhatikan benda-benda yang ada dalam bis, atau teman yang duduk di bangku sebelah, maka benda-benda dan teman kita terlihat diam terhadap kita. Bila kita melihat keluar (misalnya melihat pohon), maka barulah kita ketahui bahwa bis yang kita tumpangi sedang berjalan.

(Halaman 21)
Mengapa bisa terjadi longsor? Pak Imam A. Sadisun (Geolog) menjawab:
Coba kamu letakkan kotak pensil di atas papan yang permukaannya halus, lalu miringkan papan itu dan perhatikan apa yang terjadi. Kotak pensilmu meluncur ke bawah bukan? Semakin miring papan, biasanya akan semakin cepat kotak pensilmu meluncur. Demikian halnya dengan tanah longsor.
Tanah longsor biasanya akan lebih banyak terjadi pada lereng-lereng yang terjal. Dalam proses kejadiannya, gaya gravitasi Bumi seakan telah menarik massa tanah untuk meluncur ke bagian bawah lereng. Semakin terjal lereng akan mengakibatkan gaya tarik gravitasi Bumi semakin kuat, sehingga tanah longsor pun semakin mudah terjadi.
Selain gaya gravitasi Bumi, faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor antara lain yaitu curah hujan yang tinggi, gempa bumi, penggalian lereng-lereng yang terjal, dan penggundulan hutan. 

(Halaman 83)
Membaca buku ini, jauh dari perasaan bosan. Justru menambah wawasan dengan cara yang menyenangkan, karena tidak terlalu banyak bertaburan istilah-istilah yang rumit. Lay out-nya cenderung sederhana. Namun, supaya tidak terkesan sangat 'serius', buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi minimalis yang cukup menarik.

Dan, yang tidak kalah pentingnya, pada bagian akhir, dilampirkan juga biodata para pakar yang berkontribusi dalam buku ini. Ada fisikawan, biolog, kimiawan, astronom, geolog, ahli farmasi, pakar teknik elektro, pakar lingkungan hidup, dan lain-lain. Sangat menginspirasi.

Buku ini cocok sekali untuk dibaca oleh anak-anak usia Sekolah Dasar. Tapi bukan berarti yang lain tidak boleh baca loh. Para orang tua juga sebaiknya memiliki buku ini. Agar ketika anak bertanya, "Mengapa air laut terasa sepet dan asin?", orang tua tidak akan menjawab, "Duh, Mamah enggak tau," atau malah memberi jawaban yang sesat, "Itu sih udah dari sananya, Nak." Hihihi….

Read more >>

Monday, November 10, 2014

Review: Membangun Sekolah yang Dicintai Anak

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Membangun Sekolah yang Dicintai Anak
Penulis: Monash Indonesian Islamic Society (MIIS)
Editor: Baihaqi Nu'man, Lara Fridani
Penerbit: Lentera Ilmu Cendekia
Cetakan: Pertama, April 2012
Tebal: 141 halaman
ISBN: 978-602-8969-39-0
Harga: Rp 35.000 Gratis (sumbangan dari Jule & Antzer Mother School untuk POMG di sekolah Jav)

Dibaca
3-4 November 2014. 
Ketika menerima buku ini, sebenarnya saya lagi malas membaca. Tapi setelah mengintip sedikit isinya, malah jadi keterusan :p

Review
"Oh no, it's holiday. I really miss school, Mum!" (Halaman 119)
Kalimat tersebut diucapkan oleh Saarah, putri bungsu dari Siti Rohani--seorang dosen yang sedang menjalani pendidikan S3 di Monash University, Australia. Bukan hanya saya yang mengerutkan kening, ibunya sendiri pun sempat heran mengapa kedua buah hatinya begitu bersemangat bersekolah. Sementara di Indonesia, liburan sekolah adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh semua sebagian besar anak-anak. Ternyata oh ternyata, ini karena materi pendidikan di Australia yang tidak pernah memberatkan anak-anak. Pendidikan di sana rupanya lebih mengedepankan tujuan agar anak mencintai sekolah
The essence of learning at school is actually learning how to learn, learning to live. Maka, memang seharusnya inti dari belajar di sekolah adalah membekali anak didik untuk cinta belajar agar siap untuk selalu belajar dan siap hidup di dunia nyata. Bukankah sepanjang hidup memang kita harus selalu belajar? (Halaman 123)
Kurang lebih begitulah ide utama dari buku yang disusun oleh dua belas orang ini. Menggambarkan bagaimana pola pendidikan sekolah negeri di Australia yang telah memberikan kesan positif bagi keluarga para mahasiswa yang tergabung dalam MIIS. Buku ini mereka persembahkan bagi bangsa Indonesia yang sedang berjuang mereformasi sistem pendidikan. Tidak ada maksud untuk membandingkan sekolah negeri di sana dan sekolah negeri di Indonesia. Mereka hanya berharap bahwa buku ini dapat menginspirasi siapa saja yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia.

Well, saya pribadi cukup iri tercengang melihat bagaimana pola pendidikan di Australia, jauh dari pengalaman yang saya rasakan ketika sekolah dulu. Padahal yang diceritakan di sini sekolah negeri loh, bukan sekolah swasta.

Mengembangkan sikap percaya diri
Di bagian pertama, Novi Poespita Candra menceritakan mengenai serunya kegiatan rutin di sekolah yang dilaksanakan setiap hari Senin, di mana semua murid dari grade prep sampai grade 6 dikumpulkan di ruang serbaguna. Orang tua pun diundang untuk menghadiri acara yang biasa disebut assembly tersebut.

Salah satu kegiatan dalam assembly adalah berbagi cerita dan pengalaman di akhir pekan. Ketika Kepala Sekolah bertanya, siapa yang ingin menceritakan pengalamannya, para murid segera mengangkat tangannya dan berebut ingin berbagi cerita. Berbagai cerita pun mengalir dari mulut-mulut kecil itu. Ada yang pergi berenang bersama ayahnya, ada juga yang baru membeli kucing peliharaan. Hebatnya, Kepala Sekolah mengapresiasi cerita-cerita sederhana itu dengan ucapan yang sangat manis.
"I'm sure your new lovely cat is beautiful as you are, bring to school someday, we want to see it." (Halaman 15)
Melatih kepemimpinan
Masih dituturkan oleh penulis yang sama, acara assembly rupanya merupakan tanggung jawab beberapa murid di grade 6 yang ditunjuk sebagai leader. Ada leader olahraga, leader kesenian, leader kebersihan, dan lain-lain. Leader ini tidak sama dengan ketua kelas di sekolah Indonesia yang hanya bertugas mengambil kapur dan mengumpulkan tugas.
Para leader dilatih sikap dan keterampilan menjadi pemimpin seperti bagaimana bersikap pada adik-adik yang lebih kecil dan susah diatur, bagaimana membuat program yang bermanfaat, membangun kekompakan tim serta tidak ketinggalan mereka akan menyaksikan profil pemimpin dunia yang inspiratif untuk didiskusikan bersama. (Halaman 18)
Menghargai hal-hal sederhana
Setiap minggu, para leader tersebut mengumumkan student of the week. Mereka yang mendapat penghargaan bukan hanya murid yang berprestasi di bidang akademis, namun juga karena telah melakukan hal-hal sederhana.
"For Jessie, who being friendly student and helping new student in class." (Halaman 19)
Menumbuhkan sikap sportif
Di bagian kedua, Ahmad Bukhori menceritakan kegiatan yang mendukung kecintaan terhadap olahraga di sekolah kedua buah hatinya. Salah satunya yaitu Favourite Sports Team Dress-Up Day. Pada hari itu, semua murid, guru, bahkan Kepala Sekolah mengenakan kostum tim olahraga kesayangan masing-masing. Meskipun berbeda-beda, tapi tidak ada yang namanya saling mengejek ataupun menjelekkan.

Bukan hanya itu, panitia AFL (Australian Football League) juga rutin membagikan karcis gratis kepada murid sekolah. Setiap pertandingan selalu berjalan dengan tertib dan teratur. Tidak ada acara gontok-gontokan antar pendukung seperti pertandingan bola di negeri kita tercinta.
Tidak ada pemisahan zona tempat duduk berdasarkan warna kaos tim yang bertanding. Di belakang tempatnya duduk, dua orang pendukung tim Melbourne yang mengenakan kaos, syal, dan topi warna merah dan biru duduk berdampingan dengan dua orang pendukung tim Hawthorn yang mengenakan kaos dan syal berwarna kuning dan hitam. (Halaman 28)
Mementingkan kreativitas
Di bagian lain, Galuh Yuliani mengutarakan kekhawatirannya karena selama bersekolah di kindergarten di Australia, Abiel--putranya--tidak pernah diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Padahal sekembalinya ke Indonesia, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa mata pelajaran di kelas 1 SD sudah menuntut kemampuan anak untuk membaca. Tentu saja terdapat dasar yang kuat sehingga Australia dan negara maju lainnya memutuskan untuk mengajarkan anak membaca di usia yang relatif 'tua'--7 tahun.
Otak kanan yang mengontrol empati, intuisi, kreativitas, dan fungsi-fungsi kritis lainnya, kabarnya tidak berkembang semudah otak kiri di fase berikut pada kehidupan anak. Sehingga, fungsi-fungsi inilah yang sebenarnya lebih penting untuk diasah di tahap awal perkembangan otaknya. (Halaman 51)
Melindungi adik kelas
Selanjutnya, Anita Sartika Devi menceritakan mengenai program buddies di sekolah Audrey--putri bungsunya. Dalam program tersebut, murid di kelas 4, 5, dan 6 diberi tanggung jawab untuk mendampingi adik kelas mereka di kelas 0, 1, 2, dan 3. Jadi, Audrey yang duduk di kelas 6 menjadi big buddy bagi Simone yang masih duduk di kelas 0. Big buddies tidak hanya bertugas untuk menjemput dan mengantar little buddies menuju tempat assembly, namun juga menemani bermain dalam beberapa kesempatan.
Konsep buddies ini sedemikian kuasa mengantisipasi potensi-potensi bullying atau ancam-mengancam di antara para siswa. Hampir tidak ada kejadian saling ancam apalagi sampai siswa dipalaki kakak kelasnya. (Halaman 102)
Masih banyak cerita lain yang tidak mungkin saya tuliskan satu per satu. Kalau saya tulis semua, bisa jadi satu buku dong, hihihi…. Yang pasti setiap pengalaman yang dituturkan kedua belas penulis ini, semuanya sangat menginspirasi. Mereka tidak hanya memperlihatkan bagaimana pola pendidikan di Australia, tetapi mengaitkannya juga dengan kondisi di Indonesia. Ada kekecewaan, pertanyaan, harapan, hingga alternatif solusi bagi pendidikan di Indonesia. Apalagi, disebutkan juga bahwa sebenarnya banyak sekolah di Indonesia yang memiliki potensi untuk menjadi lebih unggul.

Walaupun tema yang diangkat dalam buku ini tidak ringan, namun membacanya tidak akan terasa berat sama sekali. Dengan gaya penulisannya masing-masing--ada yang santai, agak serius, bahkan ada pula yang menyajikannya seperti cerita fiksi, para penulis menceritakan pengalamannya dengan cara yang mudah dipahami.

Rating
Tiga setengah dari lima bintang. Menurut saya, buku ini wajib dibaca oleh semua guru dan pembuat kebijakan pendidikan di Indonesia.

Read more >>