Detail Buku
Judul: Rentak Kuda Manggani - Bayangan Tentang Sang Perempuan Cengkih
Penulis: Zelfeni Wimra dkk
Editor: Addin Negara
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: Pertama, Agustus 2015
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-255-954-2
Review
Judul buku kumpulan cerpen ini menarik enggak sih? Menurut saya sih, eksotis sekali. Indonesia banget. Meskipun saya baru tahu lokasi Manggani itu di mana setelah membaca cerpennya, hehehe....
Sampul bukunya terkesan klasik dan sederhana, bahkan cenderung kurang eye catchy. Tapi jangan salah, isinya enggak sesederhana sampulnya loh. Buku ini berisi 21 cerpen terpilih yang memenangkan lomba menulis bertema “Bangun Cinta” yang merupakan hasil kerja sama antara Penerbit DIVA Press dan Komunitas Menulis Titik Temu. Selain itu, karya-karya di dalam buku ini rupanya berasal dari para penulis yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia penulisan. Ada yang sering menulis cerpen di media massa, serta ada pula yang buku solonya pernah menjadi nominasi KLA.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, temanya memang cinta. Tapi bukan hanya cinta terhadap lawan jenis loh, cakupannya lebih luas. Selain itu, walaupun judul bukunya Indonesia banget, namun tidak semua cerita menggunakan daerah-daerah di Indonesia sebagai latar tempat ceritanya, luar negeri pun banyak.
Dari 21 cerpen yang tersaji dalam buku ini, berikut beberapa cerpen favorit saya.
Namata - Peringga Ancala
Cerpen pertama dalam buku ini langsung menyedot perhatian saya. Menggunakan latar kampung adat Namata di Nusa Tenggara Timur, penulis menyajikan kisah tentang Hiri, seorang gadis yang baru saja ditinggal meninggal oleh kakeknya--salah seorang dewan pemangku adat di kampungnya. Selama ini, dia mengambil beberapa pengrajin tenun dari desa untuk dipekerjakan di Kupang. Sedangkan Max, antropolog yang merupakan tamu kakeknya, justru berencana untuk memajukan kelompok tenun di desa tersebut.
Ama harap suatu saat nanti, kau akan pulang....Tiba-tiba saja ucapan Ama Kale setahun lalu kembali terngiang di telinga Hiri. Apakah Kakek Kale menginginkannya kembali ke tanah Sabu setelah sekian lama ia merantau? Ah, bila itu benar, apa yang bisa ia lakukan di pulau terpencil yang seakan terisolasi dari dunia luar ini?
(Halaman 15)
Dua hal yang saya suka dari cerpen ini adalah diksi dan penggunaan informasi mengenai budaya di Namata. Diksinya menarik. Adapun informasi mengenai budaya di Namatanya, cukup padat tanpa mengganggu alur cerita. Penulis sangat pandai menyatukan latar dalam jalinan cerita.
Stille Nacht - Adam Yudhistira
Bercerita tentang seorang tentara yang memilih untuk ikut berperang dan meninggalkan Frieda--kekasihnya. Selama ini Frieda menganggap bahwa Tuhan tidak pernah ada dalam perang. Sang tokoh utama tidak peduli, karena dia hanya ingin membela negaranya. Hingga suatu saat, dia merasa sangat lelah dengan perang yang tidak ada akhirnya.
Sekarang, di tempat yang sangat jauh dari rumah ini, aku tahu dia benar. Dalam perang, Tuhan memang enggan menampakkan sifat-sifat-Nya. Naluri saling bunuh begitu kental. Iblis berpesta pora di parit-parit galian dan front yang dilingkari kawat berduri. Di tempat ini, bertebaran mayat-mayat, sangat banyak, bahkan bertumpuk-tumpuk.
(Halaman 31)
Gaya bahasa dan cara penuturannya sih biasa saja, tapi saya suka ending-nya.... Mengharukan dan membuat mata berkaca-kaca. Tentang apa yang terjadi di medan perang pada malam Natal.
Gadis Pelari dan Lelaki Bertato Sayap - Endah Suci Astuti
Cerpen ini mengisahkan Lara, gadis yang patah hati karena dikhianati oleh tunangannya. Suatu sore, ketika sedang berlari--mengikuti saran psikolognya, dia melihat seorang lelaki bertato yang menarik perhatiannya.
Lelaki itu berlari, terus berlari pontang-panting seperti dikejar sesuatu. Matanya. Lara terperangah, tak pernah melihat sorot luka begitu parah.
(Halaman 100)
Ternyata, lelaki itu juga sedang sama-sama patah hati. Bahkan dia sedang merencanakan sesuatu yang sangat gila. Lalu bagaimana apabila dua orang yang sedang patah hati parah bertemu? Baca sendiri deh. Ending-nya menggemaskan :D
Biji Mata yang Tak Boleh Menangis - Wanda SP
Cerpen ini bercerita tentang seseorang yang penasaran pada hobi seorang lelaki yang dia temui di sebuah kedai kopi. Lelaki itu selalu memotret secangkir kopi di hadapannya, setiap hari, dengan berbagai posisi. Rupanya, dia melakukan hal itu untuk mengobati kerinduan pada mata istrinya yang sangat pekat.
"Sungguh, saya yakin, ada berjuta-juta perempuan di negeri ini. Dari sejuta perempuan, hanya akan ada seratus ribu perempuan yang memiliki biji mata yang hitam. Dan... dari seratus ribu perempuan dengan biji mata yang hitam, hanya ada satu atau dua perempuan yang memiliki biji mata seperti istri saya di rumah. Dan itu terjadi pada lelaki di depanmu ini," katanya merendah.
(Halaman 135)
Karena sering dibuat menangis, pekat hitam mata istrinya itu semakin 'pudar'. Ceritanya agak bertele-tele sih, tapi saya suka pada moral ceritanya serta pada twist di bagian ending-nya. Keren!
Rating
Tiga dari lima bintang.
Giveaway
Masih banyak cerpen lain yang menarik di dalam buku ini. Penasaran kepingin baca juga? Tenang, ada satu buku kumcer "Rentak Kuda Manggani" plus satu novel terbaru dari DIVA Press untuk satu teman yang beruntung.
Persyaratannya mudah kok.
Terkait dengan cerpen pertama dalam buku ini yang tokoh utamanya sedang dilanda rasa galau ketika diminta untuk kembali ke kampung halamannya. Kalau teman-teman, buat yang kuliahnya merantau, setelah lulus kuliah sudah/akan memilih untuk tetap merantau atau pulang ke kampung halaman dan membangun kampung halaman? Sebutkan alasannya ya. Buat yang kuliahnya enggak merantau, boleh ikut jawab juga kok, tinggal berandai-andai saja ;)
- Jawaban ditulis melalui komentar pada postingan ini dengan format:
Jawaban: