Showing posts with label kumcer. Show all posts
Showing posts with label kumcer. Show all posts

Monday, September 14, 2015

Pengumuman Pemenang Giveaway: Rentak Kuda Manggani

Siapa yang kemarin ikut giveaway kumcer 'Rentak Kuda Manggani'? :D

Alhamdulillah, ada 36 perserta yang ikut. Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah turut berpartisipasi dalam giveaway tersebut. Bukan hanya sudah ikut meramaikan tetapi juga memberikan pamahaman baru bagi saya mengenai arti 'merantau' dan 'pulang' melalui cara pandangnya masing-masing :)

Jujur, saya merasa sulit sekali memilih pemenangnya. Karena untuk pertanyaan: Buat yang kuliahnya merantau, setelah lulus kuliah sudah/akan memilih untuk tetap merantau atau pulang ke kampung halaman dan membangun kampung halaman? Sebutkan alasannya ya. Buat yang kuliahnya enggak merantau, boleh ikut jawab juga kok, tinggal berandai-andai saja ;) Tentu saja tidak ada jawaban yang benar maupun yang salah. Baik yang memilih untuk tetap merantau atau kembali pulang, memiliki alasan yang sudah mempertimbangkan kondisi serta cita-cita dan impiannya masing-masing. Kalau saya hanya memilih satu pemenang, bukan berarti karena jawaban peserta yang lainnya jelek ya.

So, langsung saja ya. Ini satu orang beruntung yang mendapatkan satu buah buku kumcer 'Rentak Kuda Manggani' dan satu buah buku terbaru dari DIVA Press.

Fuad Nasir

Jawabannya singkat dan padat, tapi langsung jleb di hati saya.

Selamat ya! Silakan segera mengirim biodata (nama, alamat lengkap, dan nomor telepon) ke email sweet_donath@yahoo.com dengan subjek "Pemenang Giveaway Rentak Kuda Manggani", paling lambat tanggal 20 September 2015

Sedangkan bagi yang belum beruntung, tenang, masih ada tiga blog yang menyelenggarakan blogtour dan giveaway buku kumcer 'Rentak Kuda Manggani'. Minggu ini, blogtour-nya di sini. Ayo, jangan sampai ketinggalan ya ;)


Read more >>

Monday, September 7, 2015

Blogtour + Giveaway: Rentak Kuda Manggani


Detail Buku
Judul: Rentak Kuda Manggani - Bayangan Tentang Sang Perempuan Cengkih
Penulis: Zelfeni Wimra dkk
Editor: Addin Negara
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: Pertama, Agustus 2015
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-255-954-2

Review
Judul buku kumpulan cerpen ini menarik enggak sih? Menurut saya sih, eksotis sekali. Indonesia banget. Meskipun saya baru tahu lokasi Manggani itu di mana setelah membaca cerpennya, hehehe....

Sampul bukunya terkesan klasik dan sederhana, bahkan cenderung kurang eye catchy. Tapi jangan salah, isinya enggak sesederhana sampulnya loh. Buku ini berisi 21 cerpen terpilih yang memenangkan lomba menulis bertema “Bangun Cinta” yang merupakan hasil kerja sama antara Penerbit DIVA Press dan Komunitas Menulis Titik Temu. Selain itu, karya-karya di dalam buku ini rupanya berasal dari para penulis yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia penulisan. Ada yang sering menulis cerpen di media massa, serta ada pula yang buku solonya pernah menjadi nominasi KLA.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, temanya memang cinta. Tapi bukan hanya cinta terhadap lawan jenis loh, cakupannya lebih luas. Selain itu, walaupun judul bukunya Indonesia banget, namun tidak semua cerita menggunakan daerah-daerah di Indonesia sebagai latar tempat ceritanya, luar negeri pun banyak.

Dari 21 cerpen yang tersaji dalam buku ini, berikut beberapa cerpen favorit saya.

Namata - Peringga Ancala
Cerpen pertama dalam buku ini langsung menyedot perhatian saya. Menggunakan latar kampung adat Namata di Nusa Tenggara Timur, penulis menyajikan kisah tentang Hiri, seorang gadis yang baru saja ditinggal meninggal oleh kakeknya--salah seorang dewan pemangku adat di kampungnya. Selama ini, dia mengambil beberapa pengrajin tenun dari desa untuk dipekerjakan di Kupang. Sedangkan Max, antropolog yang merupakan tamu kakeknya, justru berencana untuk memajukan kelompok tenun di desa tersebut.
Ama harap suatu saat nanti, kau akan pulang....Tiba-tiba saja ucapan Ama Kale setahun lalu kembali terngiang di telinga Hiri. Apakah Kakek Kale menginginkannya kembali ke tanah Sabu setelah sekian lama ia merantau? Ah, bila itu benar, apa yang bisa ia lakukan di pulau terpencil yang seakan terisolasi dari dunia luar ini?
(Halaman 15)
Dua hal yang saya suka dari cerpen ini adalah diksi dan penggunaan informasi mengenai budaya di Namata. Diksinya menarik. Adapun informasi mengenai budaya di Namatanya, cukup padat tanpa mengganggu alur cerita. Penulis sangat pandai menyatukan latar dalam jalinan cerita.

Stille Nacht - Adam Yudhistira
Bercerita tentang seorang tentara yang memilih untuk ikut berperang dan meninggalkan Frieda--kekasihnya. Selama ini Frieda menganggap bahwa Tuhan tidak pernah ada dalam perang. Sang tokoh utama tidak peduli, karena dia hanya ingin membela negaranya. Hingga suatu saat, dia merasa sangat lelah dengan perang yang tidak ada akhirnya.
Sekarang, di tempat yang sangat jauh dari rumah ini, aku tahu dia benar. Dalam perang, Tuhan memang enggan menampakkan sifat-sifat-Nya. Naluri saling bunuh begitu kental. Iblis berpesta pora di parit-parit galian dan front yang dilingkari kawat berduri. Di tempat ini, bertebaran mayat-mayat, sangat banyak, bahkan bertumpuk-tumpuk.
(Halaman 31)
Gaya bahasa dan cara penuturannya sih biasa saja, tapi saya suka ending-nya.... Mengharukan dan membuat mata berkaca-kaca. Tentang apa yang terjadi di medan perang pada malam Natal.

Gadis Pelari dan Lelaki Bertato Sayap - Endah Suci Astuti
Cerpen ini mengisahkan Lara, gadis yang patah hati karena dikhianati oleh tunangannya. Suatu sore, ketika sedang berlari--mengikuti saran psikolognya, dia melihat seorang lelaki bertato yang menarik perhatiannya.
Lelaki itu berlari, terus berlari pontang-panting seperti dikejar sesuatu. Matanya. Lara terperangah, tak pernah melihat sorot luka begitu parah.
(Halaman 100)
Ternyata, lelaki itu juga sedang sama-sama patah hati. Bahkan dia sedang merencanakan sesuatu yang sangat gila. Lalu bagaimana apabila dua orang yang sedang patah hati parah bertemu? Baca sendiri deh. Ending-nya menggemaskan :D

Biji Mata yang Tak Boleh Menangis - Wanda SP
Cerpen ini bercerita tentang seseorang yang penasaran pada hobi seorang lelaki yang dia temui di sebuah kedai kopi. Lelaki itu selalu memotret secangkir kopi di hadapannya, setiap hari, dengan berbagai posisi. Rupanya, dia melakukan hal itu untuk mengobati kerinduan pada mata istrinya yang sangat pekat.
"Sungguh, saya yakin, ada berjuta-juta perempuan di negeri ini. Dari sejuta perempuan, hanya akan ada seratus ribu perempuan yang memiliki biji mata yang hitam. Dan... dari seratus ribu perempuan dengan biji mata yang hitam, hanya ada satu atau dua perempuan yang memiliki biji mata seperti istri saya di rumah. Dan itu terjadi pada lelaki di depanmu ini," katanya merendah.
(Halaman 135)
Karena sering dibuat menangis, pekat hitam mata istrinya itu semakin 'pudar'. Ceritanya agak bertele-tele sih, tapi saya suka pada moral ceritanya serta pada twist di bagian ending-nya. Keren!

Rating
Tiga dari lima bintang.

Giveaway
Masih banyak cerpen lain yang menarik di dalam buku ini. Penasaran kepingin baca juga? Tenang, ada satu buku kumcer "Rentak Kuda Manggani" plus satu novel terbaru dari DIVA Press untuk satu teman yang beruntung.

Persyaratannya mudah kok.
Terkait dengan cerpen pertama dalam buku ini yang tokoh utamanya sedang dilanda rasa galau ketika diminta untuk kembali ke kampung halamannya. Kalau teman-teman, buat yang kuliahnya merantau, setelah lulus kuliah sudah/akan memilih untuk tetap merantau atau pulang ke kampung halaman dan membangun kampung halaman? Sebutkan alasannya ya. Buat yang kuliahnya enggak merantau, boleh ikut jawab juga kok, tinggal berandai-andai saja ;)
  • Jawaban ditulis melalui komentar pada postingan ini dengan format:
Jawaban:
Nama:
Akun Twitter:
Akun Facebook:
Link Share:
  • Giveaway berlangsung pada tanggal 7-13 September 2015.
  • Pemenang akan diumumkan pada tanggal 14 September 2015.

Yuk! Ikutan dan ajak teman-teman yang lain yah :)



Read more >>

Saturday, October 11, 2014

Review: Gadis 360 Hari yang Lalu

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Gadis 360 Hari yang Lalu
Penulis: Sayfullan dkk
Editor: Nisrina Lubis
Cetakan: pertama, Juni 2014
Penerbit: de Teens
Tebal: 376 halaman
ISBN: 978-602-255-622-0
Harga: Rp 50.000 Rp 37.500 (beli di penerbitnya)

Review
Di antara serbuan novel-novel lokal yang menggunakan latar tempat berbagai kota di luar negeri sebagai daya tarik utamanya, de Teens (Diva Press) tiba-tiba menghadirkan kumpulan cerita pendek bercitarasa lokal, Indonesia. Tapi kumpulan cerpen ini enggak sembarangan loh. Karena dua puluh buah cerpen yang terdapat dalam buku ini ditulis oleh dua puluh orang alumni Kampus Fiksi terbaik, #KampusFiksiEmas. Untuk yang belum tahu, Kampus Fiksi merupakan acara pelatihan menulis gratis yang rutin diadakan oleh Diva Press setiap beberapa bulan sekali.

Namanya juga cerpen terbaik, pasti telah melalui seleksi yang sangat ketat. Maka tidak heran, apabila dalam hal teknik penulisan, cerpen-cerpen tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Semuanya terasa mengalir dan nyaman dibaca, meskipun gaya yang digunakan berbeda-beda. Mulai dari yang ngepop (ringan) sampai yang nyastra (membuat saya bertanya-tanya, ini kesimpulan yang saya tangkap sesuai enggak yah dengan maksud yang ingin disampaikan penulis) :D

Sayangnya, walaupun di bagian blurb disebutkan bahwa tema kumpulan cerpen ini adalah 'cinta dalam balutan kearifan lokal dari berbagai penjuru nusantara', tidak semua penulis menggunakan kearifan lokal sebagai jiwa dari cerpen-cerpen tersebut. Menurut saya, terdapat beberapa penulis yang menjadikan kearifan lokal sekadar tempelan dalam cerpennya.

Dari dua puluh cerpen yang terdapat dalam buku ini, berikut empat cerpen yang menjadi favorit saya.
  • Gadis 360 Hari yang Lalu oleh Sayfullan
Judul cerpen pembuka ini diambil menjadi judul buku karena berhasil menyandang predikat sebagai cerpen terbaik #KampusFiksiEmas. Sebenarnya ide ceritanya biasa saja, tentang sepasang suami istri yang harus berpisah karena perbedaan adat. Namun, aroma kearifan lokalnya terasa kental sekali. Mulai dari Upacara Kasada (upacara yang dilakukan masyarakat Tengger untuk memperingati pengorbanan diri Raden Kusuma) sebagai tempat pertama kalinya pasangan itu bertemu, sampai aturan adat suku Tengger (bahwa pengantin pria harus tinggal mengikuti pengantin wanita) yang menjadi pemicu konflik dalam cerita ini.
Setelah berbulan-bulan pasca pernikahan sakral itu, aku seolah tersadar, aku masih punya karier yang masih perlu diperjuangkan di ibu kota. Dan apakan aku harus melepasnya begitu saja? Demi menjadi petani dan adat yang tak kupercayai? (Hal. 17)
Selain ending yang nendang, penggunaan alur mundur juga membuat cerpen ini menjadi yang paling unik di antara cerpen-cerpen lainnya.
  • Darah Koteklema dan Air Mata Lama Fa oleh Farrahnanda
Cerpen ini juga tema kearifan lokalnya dapet banget, mengenai tradisi menangkap koteklema (paus) di desa Lamalera, Pulau Lembata, Flores. Penduduk Lamalera menggunakan minyak paus sebagai bahan bakar utama untuk penerangan. Tetapi mereka hanya menangkap paus yang sudah dewasa. Kisah persahabatan Robertus dan seekor paus sahabatnya lah yang membuat perasaan saya mengharu biru. Ending- nya itu loh, nyeuseuk :(
Berita bagus bagi Robertus, Lamalera si paus tidak pernah kena ujung tempuling para lama fa--juru tikam pemburu paus. Mungkin karena usia Lamalera si paus yang dirasa belum dewasa bagi penduduk Lamalera yang melihatnya. Sebuah hal yang harus dipatuhi dalam perburuan. Tapi…, Robertus tidak akan siap kalau Lamalera si paus tumbuh dewasa. (Hal. 55)
  • Retak-Retak Mutiara di Tepi Laut Wakatobi oleh Zachira
Menceritakan kehidupan suku Bajo di Kepulauan Wakatobi. Bagaimana mereka menjadikan laut sebagai rumah, serta adanya kepercayaan terhadap pamakitalo (makhluk halus penjaga laut) yang membuat mereka tidak berani berbuat macam-macam di laut.
Nah, lihat. Daunnya tidak tenggelam dan ujung tangkainya menunjuk ke satu arah. Itu artinya, kita boleh cari ikan di tempat yang arahnya ditunjuk daun sirih ini. (Hal. 284)
Arya, rela meninggalkan pekerjaannya sebagai peniliti di sebuah perusahaan swasta, demi mengajar di Pulau Kaledupa. Serta demi Hima, gadis Bajo yang telah menghangatkan hatinya. Namun sebuah fitnah menyebabkan Arya harus pergi meninggalkan Wakatobi. Twist di ending-nya benar-benar ngegemesin, bikin kepingin uwel-uwel penulisnya, hihihi....
  • Forgotten Promise oleh Mufidatun Fauziyah
Tema kearifan lokalnya sebenarnya kurang tereksplor. Hanya sedikit disebutkan mengenai sejarah pura yang terdapat di pantai Ngobaran, Gunung Kidul. Tidak spesial. Yang membuat saya suka dengan cerpen ini adalah paragraf pembukanya. Di sebagian besar ceritanya, penulis cerpen ini berhasil menyeret saya ke dalam dunianya yang gelap dan terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bagaimana kalau dunia ini mendadak gelap gulita tanpa penerangan apa pun? Semua orang tak dapat melihat apa pun karena tak ada cahaya sama sekali. Mereka mencari sesuatu atau berjalan dengan cara meraba-raba. Apakah kau akan berpikir bahwa dunia telah kiamat?! (Hal. 114)
Kalau udah ngomongin favorit, urusannya ya tergantung selera masing-masing. Kalau kamu? Ayo baca bukunya dan temukan cerpen favoritmu ;)

Rating
Tiga setengah dari lima bintang untuk kumpulan cerita pendek yang menyuguhkan keunikan dan kekayaan budaya nusantara kita tercinta ini :)

Read more >>