Wednesday, October 5, 2016

Review: Wonderful Life

Wonderful life - amalia prabowo

Detail Buku
Judul: Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Penyunting: Hariadhi dan Pax Benedanto
Ilustrator: Aqillurachman A. H. Prabowo
Penerbit: POP, imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Pertama, April 2015
Tebal: viii + 169 halaman
ISBN: 978-979-91-0854-8
Harga: Rp 45.500 Gratis, pinjam dari iJakarta

Dibaca
Senin, 3 Oktober 2016

Review
Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi.
(Halaman 3)
Itulah kalimat pembuka yang mengawali kisah dalam buku ini. Ya, sebagai putri dari seorang dokter spesialis yang tinggal di Malang, sejak kecil Amalia selalu dididik dengan keras. Bayangkan, setiap pagi, dia dan keempat saudaranya harus melahap semua isi koran dan menjelaskan apa yang terjadi di seluruh dunia di hadapan ayahnya. Bagi ayah Amalia, membaca merupakan bekal yang sangat penting untuk dapat menggenggam dunia. 

Berkat didikan ayahnya, Amalia tumbuh menjadi gadis yang selalu teratur dan terencana. Selama ini rencana yang dijalankannya secara disiplin, membuat hidupnya selalu sesuai dengan yang diinginkannya. Contohnya ketika dia memilih sekolah di SMA Negeri serta diterima di universitas terbaik di Indonesia melalui jalur PMDK (program penjaringan siswa berprestasi untuk masuk ke universitas terbaik).

Begitu pula ketika dia memutuskan untuk menikah muda, menapakkan kaki ke Jakarta, dan memiliki karir yang melesat hingga mencapai puncak--menjadi CEO wanita pertama di perusahaan advertising multinasional. Bahkan ketika sepuluh tahun pernikahannya merapuh, Amalia memilih untuk merelakan suaminya dan tidak larut dalam kesedihan.

Setelah dua tahun hidup sendiri, akhirnya Amalia menemukan sosok yang mengembalikan ‘rasa’ dalam hidupnya. Namanya Syafiqurachman. Mereka kemudian menikah serta memiliki dua orang anak, Aqil dan Satria. Hidupnya sempurna.

Namun, sang pemilik kehidupan mempunyai kehendak lain. Amalia kehilangan pekerjaannya dan suaminya meninggalkannya karena ingin kembali ke keyakinan yang dianutnya. Seakan belum cukup, Aqil--yang dia harapkan dapat menjadi dokter, insinyur, atau apa saja yang dapat membuat diri dan keluarganya bangga--mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Padahal Aqil sudah diserahkan ke sebuah sekolah bertaraf internasional termahal.
Ia terlahir dari keturunan yang memiliki DNA dengan kecerdasan tinggi. Ia hanya kurang keras berusaha. Ia anak manja.
(Halaman 66)
Persepsi Amalia terhadap Aqil, menciptakan jurang yang dalam di antara mereka. Amalia menyibukkan diri dengan mendirikan perusahaan baru. Sedangkan Aqil lebih mendekatkan diri dengan ibu dan kakak perempuan Amalia.

Ketika sadar bahwa Aqil adalah titipan-Nya, Amalia mulai menemui berbagai ahli untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Langit terasa runtuh menimpanya ketika Amalia mengetahui bahwa Aqil merupakan suspek disleksia.
Disleksia: gangguan dalam membaca yang disebabkan kesulitan otak dalam membedakan simbol dan merangkainya.
(Halaman 74)
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Baca bukunya ya :D

~~~

Unik dan menarik. Begitulah penilaian saya ketika secara sekilas melihat buku ini. 
  • Pertama, dari sampul depannya. Lihat saja pilihan warnanya yang simpel, hanya hitam, putih, biru, dan merah. Namun tetap memukau dengan desainnya yang eye catchy
  • Kedua, dari sampul belakangnya. Memuat blurb yang cukup menggambarkan isi buku, namun tetap membuat penasaran. Menjelaskan mengenai kesabaran dan kemauan Amalia untuk memahami dunia Aqil--putra sulungnya yang menyandang disleksia. 
  • Ketiga, penggunaan jenis hurufnya. Berbeda dengan jenis huruf yang biasanya terdapat pada buku lain. Memberikan citra santai dan jauh dari dari kesan kaku.
  • Keempat, ilustrasi yang indah. Setiap lembarnya dihiasi dengan hasil karya Aqil yang khas dan artistik. Ya, Aqil memang mengalami gangguan dalam membaca, menulis, dan berhitung, namun dia memiliki imajinasi yang luar biasa.

Selanjutnya, menginspirasi tanpa menggurui. Begitu pandangan saya terhadap buku ini setelah membaca seluruh isinya.
  • Pertama, dari gaya bahasanya. Ditulis seperti menyusun jurnal. Santai, sehingga terasa sangat dekat dengan pembacanya. Dan memang, buku ini merupakan kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis. Sehingga tidak terasa menggurui.
  • Kedua, dari cara penuturannya yang runut. Dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Me yang mengisahkan tentang latar belakang kehidupan Amalia sehingga pembaca dapat memahami alasan di balik respon Amalia ketika mengetahui masalah Aqil, kemudian Him yang menceritakan tentang Aqil dan kondisinya, serta Us yang berisi tentang usaha Amalia agar kehidupan keluarganya (dia, Aqil, dan Satria) bisa kembali harmonis.
  • Ketiga, penuh motivasi. Semangat Amalia patut dicontoh. Mulai dari prinsip hidup ayah Amalia yang kemudian menurun juga pada Amalia. Serta usaha Amalia setelah dia menyadari kebutuhan Aqil. Bagaimana dia memahami kebosanan Aqil karena harus melakukan terapi dengan membuat pola lingkaran yang berulang-ulang, bagaimana dia--yang sejak kecil tidak pernah mengenal teriknya matahari dan sesaknya debu--rela menemani Aqil melakukan terapi heavy hiking, juga bagaimana dia mencari akal agar dapat membuat pameran bagi hasil karya Aqil setelah menerima berbagai penolakan dari galeri dan kurator.
  • Keempat, menambah pengetahuan mengenai disleksia. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang disleksia. Padahal masa depan anak penyandang disleksia sangat bergantung pada bagaimana penerimaan serta bagaimana respon orang tua menyikapi amanah disleksia tersebut. Seandainya Amalia menutup mata pada kondisi anaknya, mungkin kehidupan Aqil akan semakin terpuruk.
  • Kelima, mengandung ilmu pengasuhan anak yang sangat kental. Umumnya bagi seluruh orang tua dan khususnya bagi orang tua anak penyandang disleksia. Bahwa setiap anak dilahirkan istimewa. Tugas orang tua lah untuk membantu menggali, memfasilitasi, dan mengembangkan potensinya. Jangan sampai orang tua hanya menilai dan menghargai kemampuan anak hanya dari sisi akademisnya. Aqil telah membuktikan bahwa meskipun tanpa kemampuan akademis, dia bisa tetap berprestasi dan bermanfaat bagi masyarakat. 
  • Keenam, memberikan pelajaran hidup bagi semua orang. Iya, kita memang harus selalu berusaha maksimal untuk mendapatkan sesuatu. Namun Sang Penciptalah yang memiliki hak prerogatif dalam mengatur hidup kita, karena Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Jadi, teruslah berusaha, serahkan hasilnya pada Sang Pencipta, dan terima apapun yang terjadi, begitu seterusnya.
  • Ketujuh, tetap menghibur. Meskipun cerita ini non fiksi, namun disajikan dengan cara penulisan seperti cerita fiksi. Ada bagian pembuka, subkonflik, konflik, hingga penyelesaian konflik. Makanya buku ini tidak membosankan, membuat penasaran, bahkan dapat membuat emosi pembaca naik-turun juga. 

Quote Favorit
Kendali kehidupanku sepenuhnya ada di tanganku. Bahagia atau sedih adalah pilihan sadarku.
(Halaman 11)
Evaluasi dan perencanaan kembali adalah cara terbaik untuk move on.
(Halaman 50)
Jika kehidupan adalah berkah maka musibah sekalipun adalah anugerah.
(Halaman 51)
Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan yang bukan milik kita ini adalah berdamai dengan kehidupan.
(Halaman 127)
Rating
Tiga setengah dari lima bintang. Saya sangat merekomendasikan buku non fiksi bergenre self improvement yang sarat akan cinta dan perjuangan seorang ibu ini. Bukan hanya untuk pembaca yang memiliki anak, tetapi juga untuk semua calon orang tua. Yuk baca bukunya, sebelum filmnya tayang tanggal 13 Oktober nanti ;)

Semoga dengan adanya buku Wonderful Life dan rilisnya film berjudul sama yang diangkat dari buku Wonderful Life di Bulan Peduli Disleksia Internasional ini, masyarakat dapat semakin memahami dan menghargai orang-orang yang menyandang disleksia :)

26 comments:

  1. Waah baru tau ternyata film nya dari buku yaa.. Jd penasaran pengen baca jg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru ngeh jg ternyata dr cerita nyata yaaa.. Blm nemu buku ny nih, kayak ny bakal nonton film nya dulu aja.. Hehehe

      Delete
  2. Ternyata ini buku yang sudah saya lihat triller-nya. Wah menurut saya menarik sekali ini. Hanya saja, kok sengaja dibuat jurnal ya? Bukankah akan lebih mengena jika formatnya novel? Ah, ini sih pendapat saya saja :)

    ReplyDelete
  3. baru baca reviewnya aja udah berasa kalau unsur parentingnya ada. Saya penasaran jadinya :)

    ReplyDelete
  4. wow, bakalan ada filmnya ya, mba Nath? nungguin ah, siapa tahu bisa nonton nanti.

    ReplyDelete
  5. Wahh aku baru tau kalo film Wonderful Life dari sebuah novel ternyata :)

    ReplyDelete
  6. Reviewnya keren mba :) makasih ya sharingnya :) byk bgt pelajaran nya :D

    ReplyDelete
  7. Belum kebayang awalnya, setelah baca review ini jadi penasaran. Ceritanya ringan tapi penuh makna dan ada sisi edukasinya. :)

    ReplyDelete
  8. Keren tuh bukunya mbak. Makasih rekomendasinya. Kasihan juga ya Aqilnya kena disleksia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, soalnya belum semua masyarakat paham tentang disleksia

      Delete
  9. Kirain review film heheeee... ternyata film tsb dari buku ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi... Tunggu review filmnya di blog satu lagi ya mba :)

      Delete
  10. Belum baca dan nonton filmnya. Dari ulasan Teteh tampaknya bagus.
    Teteh kuatan baca online gitu. Eva mah suka pusing kalau kelamaan baca di hape >.<

    ReplyDelete