Wednesday, February 22, 2017

Review: Seri Aku Bisa Melindungi Diri


Suatu pagi beberapa hari yang lalu, di WA Group teman-teman SMA, seseorang membagikan dua halaman buku cerita anak berjudul Aku Belajar Mengendalikan Diri serta mengingatkan orang tua agar lebih berhati-hati dalam membeli buku anak. Tentu saja saya kaget melihatnya. Tetapi lebih terkejut lagi ketika menemukan nama penulis yang tercantum di sampul bukunya, Fita Chakra.

Masa sih? Fita Chakra merupakan seorang penulis buku anak dan remaja yang terkenal dan sudah memiliki banyak karya. Di rumah, saya memiliki beberapa bukunya, semuanya bagus dan berkualitas. Mbak Fita juga sama-sama blogger dan kami pernah beberapa kali saling mengunjungi blog masing-masing. Rasanya enggak percaya.

Namun setelah memerhatikan lebih lama, saya pun ingat. Sepertinya saya mempunyai bukunya. Maka saya pun segera mengecek di timbunan buku tumpukan buku yang belum dibaca. Betul, saya menemukan dua buku seri Aku Bisa Melindungi Diri karya Fita Chakra. Masih rapi terbungkus plastik. Ups, ketahuan deh kalau saya bukan cuma suka menimbun novel dan buku parenting, tetapi buku cerita bergambar untuk Jav juga, heuheu....

Jadi, seri Aku Bisa Melindungi Diri ini terdiri dari 6 buku. Satu buku memiliki dua cerita. Yaitu:
  • Aku Berani Bilang "Tidak" - Aku dan Penampilanku
  • Haruskah Aku Dikhitan? - Saat Aku Ingin Pipis
  • Aku Bisa Menghubungi Nomor Darurat - Saat Aku Takut dan Bingung
  • Apa Itu Hamil? - Caraku Berpakaian di Tempat Umum
  • Jika Aku Menonton TV - Apa Beda Laki-Laki dan Perempuan
  • Aku Berani Tidur Sendiri - Aku Belajar Mengendalikan Diri

Bulan Januari kemarin, saya mendapatkannya dari sebuah toko buku anak online di IG. Namun saya hanya membeli dua buku seri ini, Haruskah Aku Dikhitan? - Saat Aku Ingin Pipis dan Aku Berani Tidur Sendiri - Aku Belajar Mengendalikan Diri. Kenapa? Karena Jav belum tidur sendiri dan karena Jav belum dikhitan.


Detail Buku
Judul: Haruskah Aku Dikhitan? - Saat Aku Ingin Pipis
Penulis: Fita Chakra
Ilustrator: Sisca Anggreany
Editor: Dhita Kurniawan
Cetakan: pertama, Agustus 2016
Penerbit: Tiga Ananda
Tebal: 36 halaman
ISBN: 978-602-366-187-9


Haruskah Aku Dikhitan?
Bercerita tentang Seto yang diajak pergi oleh ayahnya mengunjungi klinik Om Dani. Ternyata hari itu sedang diadakan khitan gratis untuk anak-anak panti asuhan. Seto pun mendapat penjelasan mengenai khitan dari Om Dani.


Saat Aku Ingin Pipis
Lio sedang berkemah bersama teman-temannya. Malam harinya, Lio ingin pipis, tapi Adi tidak mau menemaninya pergi ke toilet karena mengantuk. Padahal jalan ke arah toilet sangat gelap. Maka Lio memutuskan untuk pipis di dekat pohon saja.


Detail Buku
Judul: Aku Berani Tidur Sendiri - Aku Belajar Mengendalikan Diri
Penulis: Fita Chakr
Ilustrator: Adlina
Editor: Dhita Kurniawan
Cetakan: pertama, September 2016
Penerbit: Tiga Ananda
Tebal: 36 halaman
ISBN: 978-602-366-191-6


Aku Berani Tidur Sendiri
Hari ini Azan berulang tahun. Ayah memberi hadiah sebuah kamar. Namun Azan merasa kecewa karena dia takut tidur sendiri. Ayah pun menjelaskan kenapa Azan harus tidur terpisah dengan adiknya, Awfa.


Aku Belajar Mengendalikan Diri
Didi tidak bisa tidur siang. Karena bosan, dia mulai memainkan alat kelaminnya. Untung Bunda datang dan menjelaskan kenapa kegiatan tersebut tidak baik.

Cerita ini nih yang menjadi viral di kalangan para orangtua. Soalnya, yang tersebar hanya dua halaman ketika Didi memainkan alat kelaminnya. Padahal apabila dibaca secara keseluruhan, cerita tersebut justru memberitahu anak bahwa perbuatan memainkan alat kelamin itu tidak baik untuk kesehatan.

Meskipun selanjutnya isi lengkap bukunya, klarifikasi penulis, dan permintaan maaf penerbit sudah tersebar juga, tetap saja menimbulkan kontroversi. Secara umum, yang pro mengatakan bahwa penting memberikan pendidikan seksualitas sejak dini. Sedangkan yang kontra menganggap bahwa hal tersebut sebaiknya disajikan dalam bentuk buku parenting, bukan buku cerita bergambar untuk anak.

Lalu apakah saya berniat untuk mengembalikan buku tersebut ke penerbit? Enggak dong. Soalnya isinya memang bagus. Sangat membantu serta bisa menciptakan diskusi antara saya dan Jav tentang hubungan kakak-adik, bedanya khitan dengan mencuci biasa, berani meminta tolong pada guru, dan lain-lain. Saya--dan Jav juga tentunya--suka banget.

Namun sebagai orangtua yang memiliki hak prerogatif untuk menentukan bacaan bagi anaknya, jujur, saya dan suami memilih untuk tidak membacakan cerita Aku Belajar Mengendalikan Diri untuk Jav (6 tahun). Bukan karena tabu, bukan karena kami anti menanamkan pendidikan seksualitas sejak dini (Jav mempunyai beberapa buku lain dengan tema ini), bukan pula karena saya belum pernah melihat dia memainkan alat kelaminnya (pernah, beberapa tahun yang lalu). Kami bukan psikolog anak. Tapi kami dapat melihat karakter Jav cenderung lebih tertantang untuk meniru hal-hal yang negatif.

Contohnya, ketika saya membacakan buku cerita bergambar tentang seorang anak yang tidak suka makan sayur. Alhamdulillah Jav termasuk anak yang suka makan sayur. Sayur favoritnya yaitu brokoli. Tapi setelah membaca buku tersebut, Jav malah jadi terinspirasi malas makan sayur. "Ali juga enggak suka sayur." Aargh, gemas deh. Padahal jelas-jelas di akhir cerita ujung-ujungnya Ali jadi suka makan sayur. Fiuh.... Harus dibujuk lagi, diceritain lagi, diskusi lagi. Yah, begitulah salah satu 'keseruan' kami dalam mendidik Jav.

Terus kesimpulannya? Saya pribadi sangat mengapresiasi niat baik penerbit dan penulis untuk menyediakan buku bermuatan pendidikan seksualitas bagi anak usia dini. Apalagi penerbit juga sudah menarik buku ini beberapa bulan sebelum kemudian menjadi viral (Desember 2016). Jadi, seharusnya sekarang sudah enggak jadi masalah lagi kan ya.

Bagi para orangtua, daripada hanya menyalahkan penerbit atau penulis, lebih baik introspeksi diri juga. Yuk biasakan mengecek terlebih dahulu serta mendampingi anak ketika membaca buku. Baik buku tersebut memiliki label 'Bimbingan Orangtua' ataupun tidak. Saya pernah sedikit membahasnya di sini. Sehingga harapannya buku yang dikonsumsi oleh anak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut keluarga. Karena setiap keluarga mempunyai nilai dan batasan masing-masing bukan.

Untuk Mbak Fita, tetap semangat berkarya ya. Saya--dan Jav--menunggu buku-buku berikutnya ;)

5 comments:

  1. Sempet kaget juga mbak waktu ada yg komplain ttg buku itu. . Padahal ya jelas ini buku yg niat nya untuk menberikan penahaman atau pendidikan pada anak mengenai seksualitas. Jelas juga butuh bimbingan org tua saat anak membacanya. . Tfs mbaaak salam kenaal ya 😁

    ReplyDelete
  2. Pendampingan utk anak yang masih dibawah umur untuk bacaan, maupun tontonan emang penting banget. Karena arus informasi, tontonan or bacaan yang ngga bagus pasti ada, peran orang tua emang penting makanya kita disebut orang tua agar bisa mendidik & mendampingin anak :D
    Menurut aku, resiko terbukanya info melalui internet ya gitu.. kadang blm apa2 udah rame, dan banyak orang yg sumbu pendek, main nyamber ngga jelas.. Makanya aku ngga pernah share berita macem2 di sosmed kalau emang blm terbukti kebenaran & kejelasannya :)

    ReplyDelete
  3. Aku suka reviewmu ini, mbak :) Aku juga sempet heran kok tiba2 jd viral, krn sebelumnya seri Aku bisa mengendalikan diri ini kan udah banyak.ya, dan ga jadi masalah. Hm, kadang ada "mungkin" pesan2 terselubung yg entah punya niatan apa ya. Tp kl ortu bisa ngeliat obyektif, pasti bisa paham. Bukannya asal ngejudge :( Apalagi klarifikasi sdh byk dilakukan ya.

    ReplyDelete
  4. Padahal sebenarnya niatnya baik, ya. Orang terlalu mudah menghakimi hanya berdasarkan dua halaman.

    ReplyDelete
  5. sempet kaget baca screenshot postingan buku yg heboh ini. palagi kenal dgn penulisnya. tapi saya ga ikut2an share n menghakimi. untung masalahnya sudah clear ya sekarang. semoga ini tidak jadi penghalang u mba fita terus menulis cerita anak2.

    ReplyDelete