Wednesday, February 6, 2019

Review: Psikologis Suara Hati


Detail Buku
Judul: Psikologis Suara Hati
Penulis: Ivy Rifki
Penyunting: Yogi Vinanda
Penerbit: Kaifa Publishing
Cetakan: 1, 2018
Tebal: 356 halaman
ISBN: 978-602-6611-89-5

Blurb
Di hari ulang tahunnya yang ke-21, Lintar mendapat kejutan dari Dona, perempuan yang selama ini dicintainya, namun Lintar belum berani mengatakannya. Di saat yang sama Lintar harus menerima kenyataan bahwa hidupnya berubah 180 derajat setelah kedatangan arwah Guntur. Lintar dihadapkan pada situasi yang tidak pernah dia bayangkan, dia harus rela berbagi tubuh dengan Guntur.
Erik, laki-laki yang muncul tiba-tiba, dia memegang sebuah buku yang berjudul Book of Life. Buku yang menyimpan seluruh rahasia Guntur.
Akankah Lintar berani mengatakan cintanya pada Dona? Apakah Guntur ingin mengambil alih tubuh Lintar selamanya?
Novel ini menceritakan bagaimana jalinan cinta, persahabatan, dan dendam adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari jiwa manusia.

Review
Novel ini diawali dengan prolog yang menarik dan diksi yang memikat. Tentang proses kelahiran sepasang bayi kembar. Sayangnya, mereka terlahir kembar siam. Dada mereka menyatu dan hanya memiliki satu jantung saja. Tanpa sepengetahuan istrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan operasi pemisahan dan hanya menyelamatkan salah satu dari mereka. 

Kemudian cerita dibuka dengan kisah kehidupan Lintar. Dia hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, serta bersama Dona, sahabat yang diam-diam dia sukai. Namun di hari ulang tahunnya, sebuah petir menyambar Lintar dan membuatnya hilang kesadaran. Tubuhnya pun diambil alih oleh Guntur.

Ternyata Guntur adalah kembarannya yang telah meninggal 20 tahun yang lalu. Selama menggunakan tubuh Lintar, gaya dan sikapnya sangat berbeda 180 derajat, membuat orang tua dan teman-teman Lintar kebingungan. 

Ide dari novel ini sangat unik. Memang masih ada beberapa hal yang terasa misterius. Dalam eksekusinya pun, masih ada peralihan latar dan adegan yang membingungkan karena tanpa tanda/pembatas. Namun secara keseluruhan, novel ini cukup menghibur. 

Karakter tokohnya pun cukup kuat dan konsisten di sepanjang cerita. Selain Lintar dan Guntur sebagai tokoh utama, kisah dalam novel ini semakin seru dengan kehadiran tokoh-tokoh pendukung seperti Dona, Lusi, Vega, Mike, dan lain-lain. Ternyata mereka semua memiliki masalah masing-masing sehingga novel ini menyajikan konflik yang lumayan pelik. 

Kisah dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, membuat saya dapat dengan mudah memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan para tokohnya.

Latar tempat dan latar waktu enggak terlalu dieksplor dalam novel ini. Tapi enggak masalah karena enggak mengurangi keasyikan ketika menikmati ceritanya. Apalagi membacanya sambil mendengarkan alunan gitar dan suara dari penulis. Wuih, mantap.

Novel ini diakhiri dengan ending yang enggak tertebak. Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah pesan yang tersirat di dalamnya. Tentang cinta, keluarga, dan persahabatan.

Read more >>

Wednesday, December 5, 2018

Review: Enjoy The Little Things


Detail Buku
Judul: Enjoy The Little Things
Penulis: Kincirmainan
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2018
Tebal: 518 halaman
ISBN: 978-602-04-7937-8
Harga: Rp 98.800

Blurb
Bapak adalah lelaki Jawa yang perfeksionis. Sifat Bapak ini terlihat jelas saat menyelidiki bibit-bebet-bobot calon menantu yang akan menikahi tiga anak gadisnya nanti. Yang Maharani tahu, nama baik Bapak adalah segalanya. Rani tak mau merusak itu. Lebih baik tidak menikah, kalau ternyata suatu hari nanti harga diri Bapak akan terluka karena pilihan Rani.
Namun keadaan ternyata berkata lain. Pada malam ketiga setelah putus hubungan dengan Bima, Maharani bertemu seorang pemuda yang penampilannya membuat Rani sempat meragukan kejantanannya. Hanya saja 'sesuatu' terjadi di antara mereka, khususnya dua bulan setelah pertemuan mereka itu, pasti membuat Rani akan berpikir ratusan kali jika ingin meragukan siapa pun.
'Kecelakaan' yang terjadi antara Rani dan Yudha, si pemuda feminin, membuatnya harus memperkenalkan Yudha sebagai calon menantu kepada sang Bapak.
Bapak, yang ternyata kurang menerima laki-laki berwajah mulus seperti Yudha.
Bapak, yang ternyata tidak menerima ketika orang yang akan menikahi Rani adalah lelaki yang lebih memilih membuka usaha toko kue bukan toko alat listrik atau bangunan.
Seksis memang. Terlebih latar belakang keluarga Yudha sebenarnya membuat Rani berpikir ulang jutaan kali untuk maju. Mampukah Rani menyatukan dua keluarga yang saling bertolak belakang ini dalam pernikahannya dengan Yudha?

Review
Tokoh utama dalam novel yang berjudul Enjoy The Little Things ini yaitu Maharani. Dia seorang gadis Jogja berusia 23 tahun yang sedang merantau, bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan di Jakarta. Orangnya polos,  dan ngomongnya lucu campur bahasa Jawa. Rani sangat menyayangi dan menghormati orang tuanya. Makanya, selama ini dia selalu menjaga kepercayaan dan nama baik Bapak dan Bunda meski tinggal di kota metropolitan.

Pasangan Rani dalam novel ini adalah Yudha. Di balik penampilannya yang feminim karena rajin memakai skincare, Yudha merupakan sosok pria yang bertanggung jawab, perhatian, dan super sabar. Sayang, latar belakang keluarganya membuat Yudha enggak percaya diri ketika mulai menjalin hubungan dengan Rani.

Selain Rani dan Yudha, tokoh yang memiliki peran besar dalam novel ini yaitu Bapak dan Jonah. Bapak adalah ayah Rani yang tegas dan berwibawa dengan latar belakang kehidupan Jawanya. Meski gengsian, tapi beliau sangat menyayangi Rani. Adapun Jonah adalah ayah angkat Yudha yang memiliki pemikiran lebih terbuka. Dia merupakan pemilik usaha Pie Mama yang terkenal. Kepribadiannya bisa membuat Bapak syok apabila menjadi besannya, hihihi... Seru deh.

Setting waktu yang digunakan pada novel ini yaitu masa kini. Adapun setting tempatnya sebagian besar berada di Jakarta, seperti tempat kos Rani dan kantor Rani. Selain itu ada juga setting tempat di klub malam Go-Go dan Kedai Pai Mama. Meski porsinya sedikit, namun adegan di sana cukup penting dalam menggerakkan cerita.

Deskripsi setting tempatnya enggak terlalu detail. Tapi enggak masalah, karena perhatian saya sendiri sudah cukup tersita dengan cerita yang seru dan kompleks dalam novel ini.

Novel ini dikisahkan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu dari Rani sebagai tokoh utama. Dengan begini saya bisa ikut merasakan dengan persis bagaimana naik turunnya emosi yang dialami Rani dalam kisah ini. 

Gaya bahasanya ringan dan lincah. Cara penyampaiannya pun mengalir dan enggak membosankan. Dengan latar belakang tokoh utama yang berasal dari Jogja, penulis menyelipkan beberapa kata dalam bahasa Jawa. Jadi lebih menarik. Beberapa kata ada yang diberi catatan kaki apa artinya dalam bagasa Indonesia, tapi banyak juga yang enggak. Jadi sebagai orang Sunda saya enggak mengerti apa artinya, hihihi....

Tema dari novel yang diperuntukkan bagi usia 21 tahun ke atas ini bukan hanya menarik, tetapi juga begitu unik. Dengan tebal sebanyak 518 halaman, novel ini berhasil memikat saya dalam konflik yang sangat kompleks.

Banyak pelajaran yang bisa diambil. Tentang risiko melakukan 'sesuatu' di luar nikah. Tentang tanggung jawab. Tentang menikah dan menyatukan dua keluarga. Tentang hubungan antara anak dan orang tua. Dan lain-lain.

Saya suka banget. Very recomended.

Read more >>

Wednesday, October 24, 2018

Review: Hijrah Sakinah

hijrah sakinah

Detail Buku
Judul: Hijrah Sakinah - Mengatasi 55 Masalah Utama Pernikahan Semudah Senyum
Penulis: Hanny Dewanti
Penyunting: Ilona Alle
Penerbit: Ikon (Imprint Penerbit Serambi)
Cetakan: I, September 2018
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-61440-8-9
Harga: Rp 82.000

Blurb
Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang kalut dengan permasalahan rumah tangga.
Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang bingung arah rumah tangga kacau balau ini.
Buku ini diperuntukkan bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk belajar tentang bagaimana berumah tangga.
Buku ini juga diperuntukkan bagi Anda yang sedang mempertimbangkan untul mengakhiru rumah tangga.
Jika hari ini ada kesempatan, jangan ke mana-mana dulu. Buatlah secangkir teh hangat dan nyalakan muratal terbaik yang Anda sukai, lalu duduk sejenak untuk membaca buku ini. Buku ini akan menemani Anda dan menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam rumah tangga untuk Anda. Insha-Allah.

Review
Awalnya saya merasa sedikit ragu untuk membaca buku ini. Soalnya tema yang diangkat cukup berat, masalah rumah tangga. Apalagi saat membaca blurb-nya, duh jadi maju-mundur. Bukannya apa-apa. Saat ini kan saya sedang mempunyai bayi. Dengan waktu membaca yang sangat terbatas, rasanya kalau ada kesempatan untuk mencuri-curi membaca buku, saya lebih senang memilih buku fiksi yang ringan dan menghibur saja, hohoho....

Tapi karena penasaran dengan temanya yang sangat menarik, saya pun mulai melahap buku ini. Dan enggak menyesal. Setelah dibaca, isinya memang berat dan padat. Diperkuat dengan dalil dari Al-Quran dan hadist pula. Namun... disampaikan dengan gaya bahasa yang ringan dan santai. Asyik dan seru deh. Jauh banget dari membosankan. Teknik penulisannya rapi, dengan cara penuturan yang runut. Membuat saya susah untuk berhenti membaca.

Buku ini terbagi dalam 10 bab, yang di dalamnya terdapat beberapa sub bab lagi menjadi 55 masalah utama dalam rumah tangga. Sebagai gambaran bagi teman-teman, berikut pembagian babnya.
  • Setelah Gebyar Pesta 
  • Finansial yang Harus Transparan
  • Soal Anak yang Membuat Galak
  • Pekerjaan Rumah? Pekerjaan Siapa?
  • Jarak yang Semakin Jauh
  • Tetangga, Oh Tetangga
  • Media Sosial Membuat Antisosial
  • Hancurnya Dinding Kesetiaan
  • Penghancur Rumah Tangga
  • Ini Keluarga Kita, Bukan Mereka
Yang ditutup dengan bab Sebelum Berpisah sebagai bahan renungan bagi teman-teman yang sedang mempertimbangkan untuk bercerai.

Unik-unik ya judul babnya. Begitupun dengan judul sub babnya. Pembahasannya lengkap banget. Mulai dari masalah rumah tangga yang tampak "ringan" seperti pekerjaan rumah dan tetangga. Kemudian masalah rumah tangga yang cukup berat seperti KDRT dan perselingkuhan. Hingga masalah rumah tangga yang biasanya tabu untuk dibahas dalam masyarakat kita, seperti seks dan keuangan.

Dalam tulisan yang berjudul Istri Itu Celengan Suami, para istri diingatkan agar bisa mengelola keuangan rumah tangga dengan lebih baik lagi. Bahwa uang yang diberikan suami, maupun uang yang dihasilkan sendiri oleh istri akan dimintai pertanggungjawabannya. Apalagi di zaman yang serba online ini, di mana begitu banyak godaan belanja untuk para istri, hehehe....
Istri kan memang celengan suami. Istri tidak harus bekerja mencari nafkah seperti suami. Namun, istri wajib menjadi parasut agar saat suami jatuh rasanya tidak terlalu menyakitkan.
(Halaman 36)
Kemudian saya senyum-senyum sekaligus terharu saat membaca tulisan yang berjudul Istriku Pembantu Gratisanku. Penulis menceritakan tentang seorang ayah yang menolak lamaran seorang laki-laki yang baru lulus dan sudah dapat kerja. Kenapa? Karena pandangan laki-laki tersebut mengenai seorang istri. 
"Jadi, setelah Neng seharian bantu orang tuamu di warung, terus pulang ke rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga gitu?"
"Iya, bener, Pak."
"Jadi, kamu mau menikahi anak saya biar dapat pembantu gratis di warung orang tuamu?"
(Halaman 74)
Hihihi.... Hai para suami, melakukan pekerjaan rumah tangga itu enggak akan mengurangi kejantanan kok. Justru hal tersebut bisa membuat istri semakin hormat dan sayang. Memang setiap rumah tangga itu enggak sama kondisinya. Kalau memang seorang suami enggak bisa membantu pekerjaan istrinya, cukup tunjukkan saja perhatian dan jangan terlalu banyak menuntut seperti yang dibahas penulis dalam tulisan yang berjudul Paling Tidak, Pedulilah Saja Dulu.

Lalu bagaimana apabila hadir perempuan lain dalam rumah tangga? Penulis memaparkan cara mengatasinya dalam tulisan yang berjudul Predator Itu Bernama Pelakor.
Kita perlu melakukan klarifikasi. Tapi, lakukan dengan cara yang anggun. Sungguh, keanggunan perempuan dinilai dari caranya bertutur kata. Selesaikan urusan ini dengan baik. Cari pihak ketiga yang amanah untuk menjadi mediator. Bagaimana dengan pelakornya? Tenang. Allah Maha Adil dan Mengetahui. Sungguh azab Allah sangat pedih.
(Halaman 170)
Dan masih banyak masalah rumah tangga lain yang dibahas dalam buku ini. Seperti hubungan dengan ipar, pola asuh anak, riba, suami yang cemburu, hobi, fenomena reuni serta kopdar, dan lain-lain. Beberapa masalah rumah tangga cukup relate dengan kehidupan saya, namun sebagian besar membuat saya tercengang. Menambah wawasan dan menjadi pelajaran yang dapat diambil hikmahnya.

Pertama, masalah dalam pernikahan itu merupakan hal yang biasa. Daripada menanggapi dengan emosi berlebihan, lebih baik menghadapinya dengan tenang.
Ya memang tidak mudah. Kalau mudah, pernikahan tidak akan disebut sebagai penyempurna agama.
(Halaman 210)
Kedua, apapun masalahnya, yang penting terus jaga komunikasi antara suami dan istri. 
Yang diperlukan hanyalah bibir untuk bercerita dan telinga untuk mendengar.
(Halaman 214)
Meski desainnya didominasi warna pink yang unyu-unyu, buku ini bisa dibaca baik oleh laki-laki maupun perempuan. Namun saya bertanya-tanya juga sih, kenapa mesti pink ya, khawatir mata menjadi lelah. Eh, ternyata enggak loh. Dipadukan dengan font yang nyaman dibaca, buku ini enggak membuat mata lelah. 

Kesimpulannya, buku ini benar-benar recomended. Dapat memberikan pencerahan menuju keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Read more >>

Friday, October 12, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Pemenang Giveaway



Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah meramaikan giveaway novel Black Leather Jacket karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dari Penerbit Twigora di blog ini. Kini saatnya saya mengumumkan siapa pemenang yang beruntung. 

So, langsung saja ya. Saya sampaikan selamat kepada...

Iput A. Futhona

Silakan segera mengirim biodata (nama, alamat lengkap, dan nomor telepon) ke email sweet_donath@yahoo.com dengan subjek "Pemenang Giveaway Black Leather Jacket", paling lambat tanggal 15 Oktober 2018.

Bagi teman-teman yang belum beruntung, enggak perlu sedih. Karena blog tour ini masih berlangsung di beberapa blog lain ;)


Read more >>

Wednesday, October 3, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Giveaway



Ini dia yang ditunggu-tunggu. Saya mempunyai 1 (satu) eksemplar buku Black Leather Jacket karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dari Penerbit Twigora untuk 1 (satu) orang yang beruntung. Caranya gampang banget.

Berikut syaratnya:
1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun media sosial berikut: 
3. Share banner giveaway di bawah ini di salah satu akun media sosialmu dengan hashtag #GiveawayBlackLeatherJacket dan mention kedua akun di atas. 
5. Tulis komentar pada postingan ini dengan format:
  • Nama:
  • Akun Twitter/Instagram:
  • Link Share:
6. Giveaway berlangsung pada tanggal 3-9 Oktober 2017. 
7. Pemenang akan diumumkan paling lambat pada tanggal 12 Oktober 2017.

Yuk! Ikut dan ajak teman-teman yang lain ya :)

Selanjutnya, Blog Tour Black Leather Jacket: Pemenang Giveaway


Read more >>

Tuesday, October 2, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Review dan Photo Challenge



Detail Buku:
PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL 
Status: BKP 
BLACK LEATHER JACKET 
ADITIA YUDIS & IFNUR HIKMAH 
SC; 14 x 20 cm 
Jumlah Halaman: 370 hlm 
Bookpaper 55 gr; 
ISBN : 978-602-51290-5-6 
Harga: Rp 88,000 

Blurb:
SETIAP CINTA BUTUH REVISI 

Laura tak punya alasan untuk menyukai Aidan. Pertama, novel debut lelaki itu kini mengalahkan novel-novel Laura di rak best seller. Kedua, foto Aidan yang terpampang besar di sampul belakang novelnya semakin mempertajam kecurigaan Laura: lelaki itu hanya penulis romance (genre yang dibencinya!) bermodal tampang. Jadi, maaf deh kalau dia merasa keberatan ketika Laura dipasangkan dengan Aidan untuk proyek novel selanjutnya. Tahu apa lelaki itu soal menulis novel berkualitas? 

Semakin jauh mengenal Aidan, Laura tahu bahwa lelaki itu punya pengetahuan luas tentang thriller, genre cerita favorit Laura. Aidan bahkan hafal kutipan-kutipan Agatha Christie! Sedikit demi sedikit Laura membangun respek tersendiri untuk Aidan—dan belakangan tanpa dia sadari… cinta. 

Tapi sebelum Laura berhasil membuat Aidan tahu tentang perasaannya, lelaki itu menghilang. Membiarkan proyek menulis mereka terbengkalai begitu saja—seolah tak ada artinya. Alih-alih marah, Laura merasa sangat kecewa dengan sikapnya itu. You’re breaking my heart, Aidan, and the saddest part is… you don’t even know about it.

Review
Novel ini dibuka dengan adegan saat Aidan meminta izin pada om dan kakaknya (Richard dan Allan) untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai Chief Technology Officer di perusahaan keluarga supaya bisa fokus melakukan revisi naskah novel Black Leather Jacket. Naskah tersebut merupakan karya ibunya yang belum selesai. Oleh karena itu, Aidan diam-diam menyelesaikannya. Dan ternyata ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya. Richard tentu saja mengizinkan, namun Aidan harus berjanji agar segera kembali setelah novelnya terbit.

Tak disangka, rupanya Black Leather Jacket menjadi novel best seller bahkan diadaptasi menjadi sebuah film. Aidan pun sadar bahwa dia sangat menikmati hidupnya sebagai penulis. Aidan semakin mantap untuk menekuni passionnya. Namun keputusannya tersebut membuat Allan marah karena harus menanggung pekerjaan adiknya. Hal ini juga memengaruhi hubungan Allan dengan Claudia, tunangannya.
Bukan berarti selama tinggal dan mengurus bisnis keluarga dia merasa terkekang, tapi menjadi penulis jauh lebih menyenangka. Dia merasa jauh lebih hidup.
(Halaman 43)
Lalu ada Laura, penulis senior di penerbit yang sama dengan Aidan. Saat ini, dia sedang berjuang menyelesaikan naskah novelnya yang berjudul Brown Eyes Don't Lie. Sebagai Ratu Thriller, karyanya tidak perlu diragukan. Namun Mya, editornya yang baru, meminta Laura agar memasukkan unsur romance ke dalam karyanya agar kisah dalam novelnya menjadi lebih kaya.

Permintaan yang berat karena Laura tidak suka menulis cerita cinta. Hingga Mya menyarankan Laura untuk bekerjasama dengan Aidan. Tentu saja, awalnya Laura menolak. Namun lama-kelamaan akhirnya dia mau menerima bantuan dari Aidan untuk merevisi naskah novelnya. Sayangnya, saat proyek mereka belum selesai, Aidan tiba-tiba menghilang.
Brown Eyes Don't Lie adalah targetnya, tapi urusan romansa membuat penyelesaian novel itu seperti angan-angan belaka. Susah diraih dan Laura semakin lelah.
(Halaman 50)
~~~

Saya suka sekali dengan tema novel ini, sangat menarik. Tentang penulis dan naskahnya, tentang penulis dan editornya, tentang penulis dan keluarganya, pokoknya all about penulis. Bahwa di balik setiap buku yang saya baca, ternyata ada bermalam-malam lembur yang dilalui penulis, ada berhari-hari riset yang dikerjakan penulis, ada berjam-jam diskusi bersama editor, serta mungkin ada hal lain yang terpaksa dikorbankan penulis seperti Aidan yang mengorbankan keluarganya.

Selain deskripsi fisik tokohnya yang membuat mupeng, wkwkwk..., saya juga suka dengan karakter kedua tokoh utamanya yang sangat bertolak belakang. Aidan yang santai berusaha membantu Laura yang keras kepala. Interaksi di antara mereka tampak kocak di awal, namun seiring bergulirnya cerita mulai terasa serius dan menyenangkan. 

Latar tempatnya digambarkan dengan cukup detail. Memudahkan saya untuk membayangkan dunia Aidan dan Laura. Gaya bahasanya santai dan nyaman dibaca. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, saya dibawa hanyut dalam plot yang enggak tertebak dan penuh teka-teki. Iya, selain gemas dengan sikap Laura yang keras kepala, dan kesal pada Mya yang hobi memaksa hehehe..., saya penasaran sekali dengan kisah antara Richard dan Lani. 

Dulu saya sering membaca karya-karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dalam bentuk flash fiction. Bahkan tulisan saya pernah bersanding bersama tulisan mereka dalam buku kumpulan flash fiction yang berjudul 15 Hari. Ceritanya bangga, hihihi.... Namun ini adalah kali pertama saya membaca karya mereka dalam bentuk novel. Duet pula. Keren! Enggak kentara bahwa novel ini disusun oleh 2 penulis. Memang sih ada beberapa pengulangan informasi, tapi enggak masalah.

Novel salah satu pemenang #SAS2BADBOY ini diakhiri dengan ending yang manis hingga saya pun bisa menutup buku sambil tersenyum. Saya juga merasa diingatkan lagi dengan pesan yang tersirat di dalamnya. Tentang memilih prioritas, menyayangi keluarga, dan menyelesaikan tanggung jawab.

Photo Challenge
Dalam photo challenge kali ini, saya diminta untuk menirukan gaya seperti pose di cover Black Leather Jacket. Hihihi.... Sudah mirip belum?


Read more >>

Monday, October 1, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Wawancara dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah

black leather jacket

Hai! Senang sekali rasanya karena kali ini saya kembali dipercaya oleh Penerbit Twigora sebagai salah satu host blog tour novel duet karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah yang berjudul Black Leather Jacket. Hari pertama, saya awali blog tour ini dengan pertanyaan yang saya ajukan pada kedua penulis yang biasa disapa Iif dan Adit ini. Selamat menikmati.

ADITIA YUDIS 
Lahir dan menetap di Lampung. Mulai menulis sejak tahun 2009 dan terus belajar hingga sekarang. Penulis favoritnya adalah Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan Ted Chiang. Sejak tahun 2010 sudah beberapa bukunya yang diterbitkan, antara lain novel adaptasi skenario 7 Misi Rahasia Sophie (2014),Time After Time (2015),Senandika Prisma(2016), dan Potret (2017). 
Email:aditiayudis@gmail.com
IG/Twitter: @adit_adit. 

IFNUR HIKMAH
Pembaca di pagi hari, editor di siang hari, penulis di malam hari. Menetap di Jakarta dan berkutat dengan kehidupan remaja sepanjang hari karena tuntutan pekerjaan. Menulis agar tetap waras karena butuh menuangkan isi kepala ke dalam tulisan. Sejak 2013 sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Mendekap Rasa (2013), Do Rio Com Amor (2015), Reborn (2016). Impian terbesar: interview Michelle Obama. 
Email: ifnurhikmah89@gmail.com
Instagram/Twitter: @ifnurhikmah/@iiphche 

1. Bagaimana awalnya bisa menulis novel ini berdua? Ide siapa? 

Iif: Setiap kali kita ngobrol, either itu langsung atau via chat, kita sering nyeletuk random dan kadang dari celetukan random itu bisa dijadikan ide novel, termasuk BLJ ini. Waktu itu, kita sama-sama ngefans dengan Aidan Turner, dan setelah marathon nonton Being Human bareng, tiba-tiba aja kepikiran buat menulis novel yang tokohnya terinspirasi dari Aidan Turner (hence, the name, hehe). Lalu, kita buat sinopsis bareng dan mulai menulis novel ini.

Adit: Idenya, nomor satu dari Aidan, nomor dua karena pengin menulis tentang dunia tulis menulis, yang nomor tiga adalah pengorbanan seseorang untuk impiannya. Impian atau keluarga adalah hal pelik. 

2. Apa pengalaman paling berkesan saat menyusun novel ini?

Iif: Pengalaman paling berkesan ada saat revisi, karena naskah ini sudah lama jadi revisi terasa berat #curhat. Ketika revisi, mau enggak mau harus menyelami lagi isi pikirannya Aidan dan Laura ini sambil mengira-ngira dulu perasaannya gimana ya pas nulis mereka. Rasanya kayak ketemu teman lama, catching up, cerita-cerita dan baru deh bisa kenal lagi.

Adit: Bagiku yang paling berkesan adalah proses duetnya sendiri. Ifnur adalah penulis yang aku kagumi tulisan-tulisannya. Selama menulis pun, aku benar-benar belajar banyak dari partnerku ini. Sering banget aku terkesan sendiri pas baca sebuah bagian yang kalau kutulis pasti hasilnya A, tapi di tangan Ifnur hasilnya bikin aku mikir 'kok bisa dia kepikiran seperti ini'. hehe.

3. Setelah novel ini apa akan ada novel duet lagi?

Iif: Mungkin saja, kenapa enggak? Cuma kapan dan soal apa, belum kepikiran, he-he.

Adit: Kemungkinan itu selalu ada. Ngomong-ngomong, kami masih punya satu lagi naskah kolaborasi yang belum dipinang siapa-siapa nih. Hahaha.

4. Kedua tokohnya kan berprofesi sebagai penulis, tapi kenapa judulnya Black Leather Jacket, apa hubungannya?

Iif: Ada satu detail di dalam novel ini yang lekat banget dengan kedua tokoh, yaitu black leather jacket. Jadi, kita rasa item itu cocok buat menggambarkan sosok Aidan yang jadi tokoh sentral di novel ini. Ketika baca, bakalan paham kok kenapa black leather jacket ini penting banget di cerita.

Adit: Black Leather Jacket adalah judul novel di dalam novel ini. 

5. Berhubung tokohnya penulis, apakah ceritanya juga terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis?

Iif: I wish I have love story like them, hehe. Kisah mereka pure fiksi semua, palingan beberapa detail soal pekerjaan sebagai penulis itu berkaca dari pengalaman kita, sih. Misalnya sulitnya menuangkan ide padahal di kepala tuh banyak banget yang mau ditulis, tapi pas depan laptop tiba-tiba stuck. Atau diskusi dengan editor biar ceritanya lebih greget, menuangkan hasil diskusi itu ke dalam tulisan, berkali-kali revisi, kurang lebih sama kayak apa yang kita rasa.

Adit: Sedikit-sedikit, di sana dan di sini dalam novel ini, ada pengalaman pribadi yang terselip. Ada juga keinginan dan mimpi-mimpi yang ikut tersisip. Tapi, aku enggak mau bilang di bagian mana saja. He he.

6. Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama?

Iif: Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama? Aidan Turner as Aidan, tapi itu ketinggian, he-he. Hmm... Marthino Lio boleh deh. Kalau Laura, sejak awal kepikirannya Marsha Timothy

Adit: Ya, Aidan Turner! 

Sumber: http://www.goodhousekeeping.co.uk/news/things-you-didnt-know-about-poldark-aidan-turner

Yup, sekian hasil wawancara saya dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah. Jadi penasaran nih sama Aidan Turner. Dan setelah melihat fotonya di Google, ya Tuhan, ganteng banget, hihihi....

Selanjutnya, Blog Tour Black Leather Jacket: Review dan Photo Challenge

black leather jacket

Read more >>