Showing posts with label wawancara. Show all posts
Showing posts with label wawancara. Show all posts

Monday, October 1, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Wawancara dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah

black leather jacket

Hai! Senang sekali rasanya karena kali ini saya kembali dipercaya oleh Penerbit Twigora sebagai salah satu host blog tour novel duet karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah yang berjudul Black Leather Jacket. Hari pertama, saya awali blog tour ini dengan pertanyaan yang saya ajukan pada kedua penulis yang biasa disapa Iif dan Adit ini. Selamat menikmati.

ADITIA YUDIS 
Lahir dan menetap di Lampung. Mulai menulis sejak tahun 2009 dan terus belajar hingga sekarang. Penulis favoritnya adalah Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan Ted Chiang. Sejak tahun 2010 sudah beberapa bukunya yang diterbitkan, antara lain novel adaptasi skenario 7 Misi Rahasia Sophie (2014),Time After Time (2015),Senandika Prisma(2016), dan Potret (2017). 
Email:aditiayudis@gmail.com
IG/Twitter: @adit_adit. 

IFNUR HIKMAH
Pembaca di pagi hari, editor di siang hari, penulis di malam hari. Menetap di Jakarta dan berkutat dengan kehidupan remaja sepanjang hari karena tuntutan pekerjaan. Menulis agar tetap waras karena butuh menuangkan isi kepala ke dalam tulisan. Sejak 2013 sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Mendekap Rasa (2013), Do Rio Com Amor (2015), Reborn (2016). Impian terbesar: interview Michelle Obama. 
Email: ifnurhikmah89@gmail.com
Instagram/Twitter: @ifnurhikmah/@iiphche 

1. Bagaimana awalnya bisa menulis novel ini berdua? Ide siapa? 

Iif: Setiap kali kita ngobrol, either itu langsung atau via chat, kita sering nyeletuk random dan kadang dari celetukan random itu bisa dijadikan ide novel, termasuk BLJ ini. Waktu itu, kita sama-sama ngefans dengan Aidan Turner, dan setelah marathon nonton Being Human bareng, tiba-tiba aja kepikiran buat menulis novel yang tokohnya terinspirasi dari Aidan Turner (hence, the name, hehe). Lalu, kita buat sinopsis bareng dan mulai menulis novel ini.

Adit: Idenya, nomor satu dari Aidan, nomor dua karena pengin menulis tentang dunia tulis menulis, yang nomor tiga adalah pengorbanan seseorang untuk impiannya. Impian atau keluarga adalah hal pelik. 

2. Apa pengalaman paling berkesan saat menyusun novel ini?

Iif: Pengalaman paling berkesan ada saat revisi, karena naskah ini sudah lama jadi revisi terasa berat #curhat. Ketika revisi, mau enggak mau harus menyelami lagi isi pikirannya Aidan dan Laura ini sambil mengira-ngira dulu perasaannya gimana ya pas nulis mereka. Rasanya kayak ketemu teman lama, catching up, cerita-cerita dan baru deh bisa kenal lagi.

Adit: Bagiku yang paling berkesan adalah proses duetnya sendiri. Ifnur adalah penulis yang aku kagumi tulisan-tulisannya. Selama menulis pun, aku benar-benar belajar banyak dari partnerku ini. Sering banget aku terkesan sendiri pas baca sebuah bagian yang kalau kutulis pasti hasilnya A, tapi di tangan Ifnur hasilnya bikin aku mikir 'kok bisa dia kepikiran seperti ini'. hehe.

3. Setelah novel ini apa akan ada novel duet lagi?

Iif: Mungkin saja, kenapa enggak? Cuma kapan dan soal apa, belum kepikiran, he-he.

Adit: Kemungkinan itu selalu ada. Ngomong-ngomong, kami masih punya satu lagi naskah kolaborasi yang belum dipinang siapa-siapa nih. Hahaha.

4. Kedua tokohnya kan berprofesi sebagai penulis, tapi kenapa judulnya Black Leather Jacket, apa hubungannya?

Iif: Ada satu detail di dalam novel ini yang lekat banget dengan kedua tokoh, yaitu black leather jacket. Jadi, kita rasa item itu cocok buat menggambarkan sosok Aidan yang jadi tokoh sentral di novel ini. Ketika baca, bakalan paham kok kenapa black leather jacket ini penting banget di cerita.

Adit: Black Leather Jacket adalah judul novel di dalam novel ini. 

5. Berhubung tokohnya penulis, apakah ceritanya juga terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis?

Iif: I wish I have love story like them, hehe. Kisah mereka pure fiksi semua, palingan beberapa detail soal pekerjaan sebagai penulis itu berkaca dari pengalaman kita, sih. Misalnya sulitnya menuangkan ide padahal di kepala tuh banyak banget yang mau ditulis, tapi pas depan laptop tiba-tiba stuck. Atau diskusi dengan editor biar ceritanya lebih greget, menuangkan hasil diskusi itu ke dalam tulisan, berkali-kali revisi, kurang lebih sama kayak apa yang kita rasa.

Adit: Sedikit-sedikit, di sana dan di sini dalam novel ini, ada pengalaman pribadi yang terselip. Ada juga keinginan dan mimpi-mimpi yang ikut tersisip. Tapi, aku enggak mau bilang di bagian mana saja. He he.

6. Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama?

Iif: Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama? Aidan Turner as Aidan, tapi itu ketinggian, he-he. Hmm... Marthino Lio boleh deh. Kalau Laura, sejak awal kepikirannya Marsha Timothy

Adit: Ya, Aidan Turner! 

Sumber: http://www.goodhousekeeping.co.uk/news/things-you-didnt-know-about-poldark-aidan-turner

Yup, sekian hasil wawancara saya dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah. Jadi penasaran nih sama Aidan Turner. Dan setelah melihat fotonya di Google, ya Tuhan, ganteng banget, hihihi....

Selanjutnya, Blog Tour Black Leather Jacket: Review dan Photo Challenge

black leather jacket

Read more >>

Saturday, October 14, 2017

Blog Tour Pinocchio Husband: Wawancara dengan Pia Devina


Hai! Senang sekali rasanya karena kali ini saya dipercaya oleh Penerbit Twigora sebagai salah satu host blog tour novel terbaru Pia Devina yang berjudul Pinocchio Husband. Hari pertama, saya awali blog tour ini dengan pertanyaan yang saya ajukan pada Pia Devina. Selamat menikmati.
PROFIL PENULIS 
Farmasis yang tidak lupa bersenang-senang dengan membaca dan menulis fiksi. Di sela quality time bersama keluarga, hobinya adalah menonton drama Korea atau film romance. Suka mendengarkan musik dan menjadikan ‘90s songs sebagai salah satu teman untuk menemaninya menulis. Pinocchio Husband adalah novel solo ketiga belas yang diterbitkan oleh penerbit mayor.
Penulis bisa dihubungi di e-mail piadevina@yahoo.com, atau di sosial medianya, Facebook (Pia Devina), Twitter (Pia Devina), juga blog (devinacandybox.blogspot.com). 
1. Novel Pinocchio Husband ini kan juara 3 Lomba "Sweet and Spicy Romance" ya. Bagaimana ide awal pembuatan naskahnya? 
Saat tahu ada lomba yang diadakan Twigora, saya pengin nulis tentang love-hate relationships dua tokoh utamanya. Ide itu berkembang dengan keinginan ‘membumbui’ konflik keluarga dari salah satu tokoh. Waktu itu saya juga lagi nonton TV dan berpikiran ‘kenapa nggak bikin tokoh utama ceweknya jadi anchor, ya?’. Lalu, dimulai deh cerita awal bertemunya Gwen dan Tristan saat Gwen mewawancarai pria yang nggak dia sangka akan jadi suaminya itu, hehehehe. 
2. Berapa lama proses pengerjaannya? Bagaimana mengatur waktunya di antara kesibukan sebagai istri, ibu, farmasis, dan menonton drama Korea?
Sekitar satu bulan untuk bikin draft awal, sebulanan lagi untuk self-edit. Emang yang butuh effort banget itu di tahap setelah draft awal beres, mesti permak sana-sini sebelum kirim.
Biasanya saya nulis kalau pulang kerja, atau setelah anak tidur. Nggak jarang juga minta suami buat nemenin anak kalau nanny-nya anak lagi pulang kampung, hehehe. Yang paling saya inget, di hari terakhir pengumpulan naskah (deadline dari Twigora), saya mesti ke Bandung, ke rumah orangtua karena mau tahun baruan di sana. Di antara kehebohan persiapan mau acara keluarga, saya minta tolong suami buat full nemenin anak dari siang sampai sore, sementara sayanya ngunci diri di kamar buat finishing naskah (untungnya suami mau, hahaha).
Kalau soal nonton drama Korea, biasanya kalau lagi dikejar deadline nulis gitu frekuensinya jadi lebih jarang. Curi-curi waktu kalau kepala mulai puyeng nulis, salah satu cara refreshingnya ya dengan nonton  
3. Apa pengalaman paling berkesan ketika menulis novel ini?
Yang sebelumnya saya ceritakan. Ngejar deadline dengan ngurung diri di kamar, padahal di rumah ortu lagi heboh siap-siap mau acara tahun baruan (untung nggak dipecat jadi anak sama orangtua) X)
4. Adakah kendala dalam menulis novel ini?
Pinocchio Husband (awalnya naskah ini berjudul Bittersweet Lies) adalah salah satu novel yang bisa dibilang ‘lancar’ ngerjainnya. Dalam artian saya enjoy waktu nulis, pas riset juga seneng-seneng aja. Agak berat saat perlu revisi karena ada beberapa komponen kritis yang perlu diperbaiki. Untungnya dapet editor yang sangat membantu mengarahkan buat mempercantik naskahnya. Makasih, Mbak Alit  
5. Seandainya novel ini difilmkan, siapa yang diharapkan akan memerankan Gwen dan Tristan?
Hmmm... Prisia Nasution dan Rio Dewanto, mungkin? Hihihi...
Yup, sekian hasil wawancara saya dengan Pia Devina. Enggak nyangka ternyata hanya butuh waktu dua bulan untuk merampungkan novel ini. Alhamdulillah ya ada suami siaga yang siap membantu mengasuh anak saat sedang bergelut dengan deadline. By the way, saya setuju banget kalau Rio Dewanto yang memerankan Tristan. Ganteng dan berkarisma :D



Read more >>