Showing posts with label lomba. Show all posts
Showing posts with label lomba. Show all posts

Wednesday, October 5, 2016

Review: Wonderful Life

Wonderful life - amalia prabowo

Detail Buku
Judul: Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Penyunting: Hariadhi dan Pax Benedanto
Ilustrator: Aqillurachman A. H. Prabowo
Penerbit: POP, imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Pertama, April 2015
Tebal: viii + 169 halaman
ISBN: 978-979-91-0854-8
Harga: Rp 45.500 Gratis, pinjam dari iJakarta

Dibaca
Senin, 3 Oktober 2016

Review
Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi.
(Halaman 3)
Itulah kalimat pembuka yang mengawali kisah dalam buku ini. Ya, sebagai putri dari seorang dokter spesialis yang tinggal di Malang, sejak kecil Amalia selalu dididik dengan keras. Bayangkan, setiap pagi, dia dan keempat saudaranya harus melahap semua isi koran dan menjelaskan apa yang terjadi di seluruh dunia di hadapan ayahnya. Bagi ayah Amalia, membaca merupakan bekal yang sangat penting untuk dapat menggenggam dunia. 

Berkat didikan ayahnya, Amalia tumbuh menjadi gadis yang selalu teratur dan terencana. Selama ini rencana yang dijalankannya secara disiplin, membuat hidupnya selalu sesuai dengan yang diinginkannya. Contohnya ketika dia memilih sekolah di SMA Negeri serta diterima di universitas terbaik di Indonesia melalui jalur PMDK (program penjaringan siswa berprestasi untuk masuk ke universitas terbaik).

Begitu pula ketika dia memutuskan untuk menikah muda, menapakkan kaki ke Jakarta, dan memiliki karir yang melesat hingga mencapai puncak--menjadi CEO wanita pertama di perusahaan advertising multinasional. Bahkan ketika sepuluh tahun pernikahannya merapuh, Amalia memilih untuk merelakan suaminya dan tidak larut dalam kesedihan.

Setelah dua tahun hidup sendiri, akhirnya Amalia menemukan sosok yang mengembalikan ‘rasa’ dalam hidupnya. Namanya Syafiqurachman. Mereka kemudian menikah serta memiliki dua orang anak, Aqil dan Satria. Hidupnya sempurna.

Namun, sang pemilik kehidupan mempunyai kehendak lain. Amalia kehilangan pekerjaannya dan suaminya meninggalkannya karena ingin kembali ke keyakinan yang dianutnya. Seakan belum cukup, Aqil--yang dia harapkan dapat menjadi dokter, insinyur, atau apa saja yang dapat membuat diri dan keluarganya bangga--mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Padahal Aqil sudah diserahkan ke sebuah sekolah bertaraf internasional termahal.
Ia terlahir dari keturunan yang memiliki DNA dengan kecerdasan tinggi. Ia hanya kurang keras berusaha. Ia anak manja.
(Halaman 66)
Persepsi Amalia terhadap Aqil, menciptakan jurang yang dalam di antara mereka. Amalia menyibukkan diri dengan mendirikan perusahaan baru. Sedangkan Aqil lebih mendekatkan diri dengan ibu dan kakak perempuan Amalia.

Ketika sadar bahwa Aqil adalah titipan-Nya, Amalia mulai menemui berbagai ahli untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Langit terasa runtuh menimpanya ketika Amalia mengetahui bahwa Aqil merupakan suspek disleksia.
Disleksia: gangguan dalam membaca yang disebabkan kesulitan otak dalam membedakan simbol dan merangkainya.
(Halaman 74)
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Baca bukunya ya :D

~~~

Unik dan menarik. Begitulah penilaian saya ketika secara sekilas melihat buku ini. 
  • Pertama, dari sampul depannya. Lihat saja pilihan warnanya yang simpel, hanya hitam, putih, biru, dan merah. Namun tetap memukau dengan desainnya yang eye catchy. 
  • Kedua, dari sampul belakangnya. Memuat blurb yang cukup menggambarkan isi buku, namun tetap membuat penasaran. Menjelaskan mengenai kesabaran dan kemauan Amalia untuk memahami dunia Aqil--putra sulungnya yang menyandang disleksia. 
  • Ketiga, penggunaan jenis hurufnya. Berbeda dengan jenis huruf yang biasanya terdapat pada buku lain. Memberikan citra santai dan jauh dari dari kesan kaku.
  • Keempat, ilustrasi yang indah. Setiap lembarnya dihiasi dengan hasil karya Aqil yang khas dan artistik. Ya, Aqil memang mengalami gangguan dalam membaca, menulis, dan berhitung, namun dia memiliki imajinasi yang luar biasa.

Selanjutnya, menginspirasi tanpa menggurui. Begitu pandangan saya terhadap buku ini setelah membaca seluruh isinya.
  • Pertama, dari gaya bahasanya. Ditulis seperti menyusun jurnal. Santai, sehingga terasa sangat dekat dengan pembacanya. Dan memang, buku ini merupakan kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis. Sehingga tidak terasa menggurui.
  • Kedua, dari cara penuturannya yang runut. Dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Me yang mengisahkan tentang latar belakang kehidupan Amalia sehingga pembaca dapat memahami alasan di balik respon Amalia ketika mengetahui masalah Aqil, kemudian Him yang menceritakan tentang Aqil dan kondisinya, serta Us yang berisi tentang usaha Amalia agar kehidupan keluarganya (dia, Aqil, dan Satria) bisa kembali harmonis.
  • Ketiga, penuh motivasi. Semangat Amalia patut dicontoh. Mulai dari prinsip hidup ayah Amalia yang kemudian menurun juga pada Amalia. Serta usaha Amalia setelah dia menyadari kebutuhan Aqil. Bagaimana dia memahami kebosanan Aqil karena harus melakukan terapi dengan membuat pola lingkaran yang berulang-ulang, bagaimana dia--yang sejak kecil tidak pernah mengenal teriknya matahari dan sesaknya debu--rela menemani Aqil melakukan terapi heavy hiking, juga bagaimana dia mencari akal agar dapat membuat pameran bagi hasil karya Aqil setelah menerima berbagai penolakan dari galeri dan kurator.
  • Keempat, menambah pengetahuan mengenai disleksia. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang disleksia. Padahal masa depan anak penyandang disleksia sangat bergantung pada bagaimana penerimaan serta bagaimana respon orang tua menyikapi amanah disleksia tersebut. Seandainya Amalia menutup mata pada kondisi anaknya, mungkin kehidupan Aqil akan semakin terpuruk.
  • Kelima, mengandung ilmu pengasuhan anak yang sangat kental. Umumnya bagi seluruh orang tua dan khususnya bagi orang tua anak penyandang disleksia. Bahwa setiap anak dilahirkan istimewa. Tugas orang tua lah untuk membantu menggali, memfasilitasi, dan mengembangkan potensinya. Jangan sampai orang tua hanya menilai dan menghargai kemampuan anak hanya dari sisi akademisnya. Aqil telah membuktikan bahwa meskipun tanpa kemampuan akademis, dia bisa tetap berprestasi dan bermanfaat bagi masyarakat. 
  • Keenam, memberikan pelajaran hidup bagi semua orang. Iya, kita memang harus selalu berusaha maksimal untuk mendapatkan sesuatu. Namun Sang Penciptalah yang memiliki hak prerogatif dalam mengatur hidup kita, karena Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Jadi, teruslah berusaha, serahkan hasilnya pada Sang Pencipta, dan terima apapun yang terjadi, begitu seterusnya.
  • Ketujuh, tetap menghibur. Meskipun cerita ini non fiksi, namun disajikan dengan cara penulisan seperti cerita fiksi. Ada bagian pembuka, subkonflik, konflik, hingga penyelesaian konflik. Makanya buku ini tidak membosankan, membuat penasaran, bahkan dapat membuat emosi pembaca naik-turun juga. 

Quote Favorit
Kendali kehidupanku sepenuhnya ada di tanganku. Bahagia atau sedih adalah pilihan sadarku.
(Halaman 11)
Evaluasi dan perencanaan kembali adalah cara terbaik untuk move on.
(Halaman 50)
Jika kehidupan adalah berkah maka musibah sekalipun adalah anugerah.
(Halaman 51)
Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan yang bukan milik kita ini adalah berdamai dengan kehidupan.
(Halaman 127)
Rating
Tiga setengah dari lima bintang. Saya sangat merekomendasikan buku non fiksi bergenre self improvement yang sarat akan cinta dan perjuangan seorang ibu ini. Bukan hanya untuk pembaca yang memiliki anak, tetapi juga untuk semua calon orang tua. Yuk baca bukunya, sebelum filmnya tayang tanggal 13 Oktober nanti ;)

Semoga dengan adanya buku Wonderful Life dan rilisnya film berjudul sama yang diangkat dari buku Wonderful Life di Bulan Peduli Disleksia Internasional ini, masyarakat dapat semakin memahami dan menghargai orang-orang yang menyandang disleksia :)

Read more >>

Wednesday, May 11, 2016

Maneken: Kisah Cinta Sepasang Benda Mati


Detail Buku
Judul: Maneken
Penulis: SJ. Munkian
Editor: Triana Rahmawati
Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Cetakan: I, September 2015
Tebal: 181 halaman
ISBN: 9786029474060
Harga: Rp 47.000

Review
Pernahkah kamu merasa bahagia sekali, sehingga mengekspresikannya dengan cara memeluk dan meremas bonekamu dengan sangat kencang? Atau pernahkah kamu merasa sangat kesal, sehingga menendang dan melempar barang-barang di sekitarmu?

Hati-hati loh. Jangan-jangan boneka atau barang-barangmu itu benda mati yang mempunyai perasaan layaknya manusia, seperti Claudia dan Fereli :D

Claudia dan Fereli adalah sepasang maneken di sebuah toko pakaian di Inggris, Medilon Shakespeare. Sophie, pemilik toko tersebut, menempatkan Claudia dan Fereli di etalase utama serta menjadikan mereka sebagai daya tarik terpenting di toko tersebut.

Dengan dikenakan pakaian-pakaian modis sesuai tema-tema unik seperti New Beginning Story, Warm Summer Happy Moment, serta For Special Night, Claudia dan Fereli berhasil membuat Medilon Shakespeare sukses besar. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya di balik setiap pengaturan posisi sepasang maneken yang dibuat semakin romantis itu, ada perasaan cinta yang tumbuh di antara Claudia dan Fereli.
Kurasakan tubuh Fereli menegang, napasnya tiba-tiba tertahan, dan ada getaran di tangannya. Anehnya itu juga berlaku padaku. Baru kali ini aku merasakan dadaku berdegup begitu kencang.
(Halaman 49)
Sayangnya, kisah bahagia Claudia dan Fereli harus hancur dalam sekejap ketika Sophie patah hati serta melampiaskan kemarahannya kepada Fereli. Sophie memisahkan mereka berdua.
Bagaimana rasanya jika jantungmu diambil? Ah, kau tak akan mampu merasakannya! Yang ada kau tewas sebelum merasakannya. Sementara aku mesti menanggung rasa itu.
(Halaman 138)
~~~

Cerita tentang Claudia dan Fereli ini sangat berkesan di hati saya. Buktinya, meskipun sudah membacanya lebih dari tujuh bulan yang lalu, dan sudah tiga kali membacanya, tapi rasanya tetap terhibur. Kenapa? Saya jabarkan satu per satu ya, apa saja kelebihan dari novel ini.

(+) Kemasan yang menarik. Cover-nya menampilkan sepasang maneken yang menggunakan pakaian pengantin, dengan latar warna jingga dan hijau muda. Manis. Ditambah endorsement dari Noe Letto (musisi), Tasaro GK (penulis), dan Sinta Yudisia (Ketua Umum FLP) pula. Mantap. Begitu juga dengan blurb-nya, cukup menggambarkan isi cerita, namun tidak berlebihan, sehingga tetap membuat penasaran. Pas.

(+) Tema yang unik. Ceritanya bukan tentang kisah cinta manusia biasa, tapi kisah cinta sepasang maneken. Iya maneken, benda mati, boneka yang biasa dijadikan model di toko-toko baju itu loh. Genrenya memang romance namun diracik dengan bumbu fantasy. 

(+) Detail. Walaupun bergenre romance fantasy, namun logikanya tetap masuk kok. Karena di dalam novel ini, kaum maneken digambarkan oleh penulis sebagai benda mati yang memiliki lima kemampuan, yang tentu saja tidak pernah disadari oleh manusia. Seperti kemampuan nomor satu, mampu berbahasa apapun. Kemampuan nomor dua, mampu memahami percakapan manusia dan menirunya. Kemampuan nomor tiga, dapat menyampaikan perasaannya kepada manusia meski dengan ekspresi datar. Serta dua kemampuan lain yang tidak mungkin saya tuliskan di sini. Kalau mau tahu, baca dong bukunya :p

(+) Pemilihan judul bab yang tepat. Untuk mendukung isi cerita dengan tokoh utama yang merupakan benda mati, judul pada setiap babnya pun dibuat dengan kata kerja pasif. Seperti Dinamai, Diletakkan, Diperlihatkan, dan sebagainya. Sangat 'bendawi'.

(+) Dibuka dengan prolog yang cukup memikat. Diksinya cetar dan ekspresi emosinya menyayat hati. Membuat saya ingin terus membacanya sampai akhir.

(+) Novel yang terdiri dari tiga puluh empat bab ini, memiliki panjang masing-masing bab yang cukup singkat, sekitar dua sampai lima halaman saja. Hal tersebut membuat cerita jauh dari kesan membosankan.

(+) Gaya bahasa yang digunakan penulis, tajam dan puitis, namun tetap mudah dicerna. Cenderung terasa kaku sehingga mirip dengan novel terjemahan, namun memang sesuai sih dengan latar tempatnya, Inggris.

(+) Cara penyampaian ceritanya disajikan secara runut dan mengalir. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama (Claudia, kadang Fereli), penulis memulai kisah ini dengan perkenalan tokoh aku (Claudia), kemudian Sophie, lalu pegawai-pegawai Sophie, hingga kemunculan Fereli sebagai pasangan Claudia di etalase utama, serta kehadiran beberapa tokoh pendukung lain menjelang akhir cerita.

(+) Semua tokoh dalam novel ini mempunyai karakter yang jelas dan konsisten. Namun yang paling menonjol memang hanya Claudia, Fereli, dan Sophie. Claudia yang romantis, Fereli yang gentle, serta Sophie yang sangat tegas dan ambisius. Saya suka bagaimana penulis menunjukkan karakter Sophie menggunakan teknik show not tell yaitu melalui dialog-dialog bersama pegawai-pegawainya.

(+) Toko pakaian Medilon Shakespeare yang menjadi latar tempat perkembangan kisah Claudi dan Fereli, begitu menyatu dengan cerita. Begitu pun dengan tema-tema unik di toko tersebut pada setiap musimnya. Bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penggerak cerita. Jenius.

(+) Dengan menggunakan alur maju, penulis begitu lihai memainkan emosi saya. Setelah dimanjakan dengan cerita cinta yang manis, saya tiba-tiba dibawa menuju konflik yang menegangkan dan penuh aura mistis. Hebatnya lagi nih, terdapat selipan humor pada beberapa adegan klimaks. Seperti pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan Tuan Sinclair (pembuat maneken) ketika Jeany, saudara kembarnya, berusaha untuk menyelamatkan Fereli. Atau dialog antara Deborah dan Nicole tentang gunting kuku, ketika mereka sedang berusaha menggagalkan rencana Sophie untuk melenyapkan Claudia.

(+) Ditutup dengan ending dan epilog yang tidak terduga.

(+) Di antara semuanya, yang paling saya suka dari novel ini adalah sentilan-sentilan yang tersurat di dalamnya, untuk kita, manusia. Selain itu tersirat juga pelajaran hidup yang patut direnungkan. Tentang impian, cinta, perjuangan, dan pilihan dalam menyikapi berbagai permasalahan hidup.
Betapa manusia bisa sangat bersikap lembut, cerdas, lucu, rendah hati, dan elegan. Tetapi juga bisa jadi yang paling kejam di antara makhluk yang pernah diciptakan di muka dunia.
(Halaman 73)
Saya mengacungkan dua jempol untuk penulis novel ini. Sebagai karya perdana, novel Maneken mempunyai banyak nilai tambah. Namun, agar bisa lebih baik lagi, kali ini saya juga ingin menyampaikan beberapa masukan untuk novel ini. 

(-) Di bagian awal, pergolakan emosinya cenderung datar. Novel bergenre romance ini tentunya bertabur adegan dan dialog romantis antara Claudia dan Fereli. Namun, menurut saya sih 'pencarian cinta'-nya terasa kurang menggigit. Pada mulanya Claudia memang tidak suka pada Fereli. Nah, peralihan dari rasa kesal menjadi cintanya terasa terlalu cepat dan mudah.

(-) Penggunaan sudut pandang orang pertama yang kurang rapi. Sejak awal, penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Claudia. Namun di bagian akhir, tiba-tiba muncul penuturan melalui sudut pandang orang pertama dari sisi Fereli. Seandainya penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Claudia dan Fereli secara bergantian sejak awal, pasti akan lebih asyik.

(-) Jumlah halamannya terlalu tipis. Kurang tebal :D

Hmmm, apa lagi ya. Saya rasa sudah cukup. Kesimpulannya, penulis berhasil menuturkan kisah cinta yang bersahaja, mengemasnya dengan manis, dan mewarnainya dengan tragedi, melalui sudut pandang yang unik. Love it....

Rating
Tiga setengah dari lima bintang. Recomended! Dan saya tidak sabar menunggu karya penulis selanjutnya ;)

~~~


Read more >>

Monday, May 9, 2016

Review: Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Teknik Lingkungan



Detail Buku
Judul: Kuliah Jurusan Apa? Jurusan Teknik Lingkungan
Penulis: Widyanti Yuliandari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2016
Tebal: 102 halaman
ISBN: 978-602-03-2608-5

Review
Bisa dibaca di sini :)

Rating
Empat dari lima bintang.

Read more >>

Saturday, February 21, 2015

Review: Little Witch Co. 1 - Daur Ulang Pakaian


Detail Buku
Judul: Little Witch Co. 1 - Daur Ulang Pakaian
Penulis: Ambiru Yasuko
Penerjemah: Yunita Dwi Susanti
Penyunting: Aan Wulandari Usman
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Tebal: 106 halaman
ISBN: 978-602-7975-54-5
Harga: Rp 30.000

Review
Setelah beberapa lama mengincar buku seri Little Witch Co. ini, akhirnya saya kesampaian juga membelinya. Waktu itu saya sedang menghadiri acara launching Buku Pintar ASI dan Menyusui yang diadakan di Togamas. Ketika acaranya belum mulai, mata saya jelalatan melihat-lihat buku-buku yang diobral di Mizan Book Fair. Senangnya hati ini saat saya melihat ketiga buku incaran saya terpampang manis di salah satu rak. Setelah acaranya selesai, langsung deh saya bawa bukunya ke kasir :D

Selain gambar sampulnya yang cute, hal lain yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah ceritanya. Tentang penyihir! Sudah ketahuan kan ya dari judulnya juga :p

Jadi, tokoh utama dalam cerita ini yaitu Nana. Dia baru saja pindah rumah. Dalam perjalanan pulang dari sekolah baru menuju rumahnya, Nana menemukan sebuah rumah cantik yang berada di dalam hutan.
Ketika Nana sedang melihat daun-daun yang berkilauan, tampak sebuah rumah terbuat dari batu bata di ujung hutan. Dinding bata itu dikelilingi bunga mawar yang sangat merah seperti anggur. Pintu dan jendela rumah juga dicat merah, di jendelanya tergantung tirai berenda putih.
(Halaman 4)
Ternyata rumah itu merupakan Perusahaan Sihir--Bagian Daur Ulang Pakaian. Penyihirnya adalah Silk, gadis seumuran Nana dengan rambut bergelombang dan pakaian serba hitam. Silk dibantu oleh seekor kucing yang bisa berbicara bernama Cotton.


Sesungguhnya, rumah tersebut hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki kepentingan mendaur ulang pakaian saja. Makanya, Silk dan Cotton merasa heran, bagaimana Nana bisa melihat rumah ini, padahal dia tidak berniat mendaur ulang pakaiannya.
Silk biasanya tahu keperluan orang yang datang ke toko tanpa harus menanyakannya. Tapi, kali ini dia heran, kenapa Nana yang tidak memiliki keperluan apa-apa bisa datang ke toko ini?
(Halaman 18)
Ketika mereka sedang bingung, datang tiga ekor tikus. Mereka membawa gaun mungil berwarna kuning dengan harapan Silk dapat mendaur ulangnya menjadi gaun yang lebih besar, yang akan dipakai oleh Nona Beruang agar bisa datang ke Karnaval Dandelion. Sayangnya, Silk tidak dapat mengabulkan permintaan para tikus.
"Baju ini terlalu kecil. Di sini memang terdapat bermacam-macam bahan. Tapi, jika semua dibuat dengan bahan baru, maka itu bukanlah 'daur ulang'."
(Halaman 26)
Melihat hal tersebut, Nana mempunyai sebuah ide. Ide apakah gerangan? Berhasilkah mereka mendaur ulang pakaian untuk Nona Beruang? Yuk baca bukunya ;)

Buku ini benar-benar menyenangkan untuk dibaca. Ceritanya ringan dan menghibur. Imajinatif sekaligus sarat dengan pesan moral. Cocok untuk anak-anak. Cangkir yang polanya berganti setiap hari, kunci berbentuk liontin yang dapat membuka satu pintu menuju berbagai ruangan yang berbeda, dan rumah kaca berisi macam-macam applique bunga, sungguh memanjakan imajinasi. Selain itu, anak-anak perempuan tentu akan tergiur dengan peralatan jahit yang dimiliki oleh Silk. Apalagi dilampirkan juga tahapan menjahitnya. Jangankan anak-anak, saya saja suka :p


Tapi bukan berarti karena novel ini bercerita tentang kegiatan penyihir maka isinya mengajarkan untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang instan. Lihat saja Silk, Cotton, dan Nana yang begitu sibuk berhari-hari mengerjakan gaun untuk Nona Beruang.
"Barang yang dibuat dengan menggunakan sihir adalah barang murahan. Perusahaan sihir--bagian daur ulang pakaian adalah toko yang membuat barang tanpa menggunakan sihir. Karena itu, barang di sini dikenal tinggi kualitasnya."
(Halaman 53)
Selain itu, saya juga suka pada ilustrasinya yang menarik. Hurufnya besar, mudah untuk dibaca oleh anak-anak yang baru bisa belajar membaca. Terjemahannya pun mengalir dan mudah dimengerti, sehingga nyaman dibaca. Kalaupun ada kekurangan, mungkin karena tidak semua ilustrasi dicetak berwarna. Serta gaya bahasa yang terasa terlalu formal.

Favourite Quote
"Tidak ada seorang pun yang bisa disamakan dengan orang lain. Masing-masing memiliki hal besar dalam diri kita. Tapi, kita sering tidak menyadarinya."
(Halaman 35)
"Kami, kalau hanya satu ekor memang kecil. Tapi jika berkelompok, tidak ada yang bisa mengalahkan kami."
(Halaman 39)
"Kau memikirkan pita yang paling bagus, jadi tidak bisa memilih. Lebih baik, kau pilih berdasarkan kecocokan dengan orang yang akan memakainya saja. Bukan karena kau suka, atau karena pitanya paling bagus"
(Halaman 89)
Rating
Saya memberikan tiga dari lima bintang untuk novel anak ini ;)


Read more >>

Monday, February 16, 2015

Review: Ally--All These Lives (First Chapters)


Detail Buku
Judul: Ally--All These Lives
Penulis: Arleen A
Editor: Dini Novita  Sari 
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-602-03-0884-5 

Dibaca
9 Februari 2015

Review
Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya penulis. Oleh karena itu, saya benar-benar buta dan tidak tahu bagaimana ciri khas maupun gaya bertutur penulis. Saya juga belum membaca blurb-nya. Sengaja, saya memang lebih senang membiarkan pikiran saya kosong dan mengikuti jalan ceritanya secara langsung, daripada mengetahuinya dari blurb.

Namun, setelah membaca sebuah paragraf di halaman persembahan, saya memiliki firasat bahwa novel ini pasti akan sangat menarik.
This book is dedicated to all life lovers out there. I know how you appreciate all the important things in life. I know how you never take them for granted and how you hold on to them as if they can be taken away from you at any time. I know how you feel. I’m one of you and sadly speaking, yes, they can be taken away from you at any time.

Aih.... Novel ini dipersembahkan untuk orang-orang yang menghargai hal-hal penting dalam hidupnya. Jleb! Saya merasa tersindir. Bagi saya, keluarga adalah harta di dunia yang paling berharga. Saya dapat membayangkan kesedihan yang begitu dalam apabila harus kehilangan mereka. Tapi apakah saya sudah memperlakukan mereka dengan pantas? Menjadikan mereka sebagai prioritas? Saya yakin, novel ini akan membuat saya lebih menghargai lagi keberadaan orang-orang tersayang di sekitar saya. Semoga :)

Novel ini dibuka dengan paragraf pertama yang cukup menarik.
Aku baru berusia sepuluh tahun ketika hal itu terjadi untuk pertama kalinya.
(Halaman 7)
Membuat saya bertanya-tanya, "Memangnya apa sih yang terjadi pada Ally saat itu? Haid yang pertama kali? Jatuh cinta yang pertama kali? Di-bully oleh teman-temannya? Atau apa?"

Pertanyaan saya langsung terjawab pada paragraf ketiga. Ally yang saat itu baru saja pulang sekolah, sedang duduk di dapur, membicarakan hasil ulangan Matematika bersama mamanya yang sedang membuat kue cokelat. Tapi…
Tiba-tiba, sensasi menggelitik seperti kesemutan itu muncul. Kupikir ada seekor semut berjalan di atas lengan kiriku, maka kuusap dengan tangan kananku. Namun tidak ada semut di sana. Lalu kulit mukaku mulai tergelitik. Kuusap keningku. Tidak ada apa-apa juga di sana. Dan secara tiba-tiba saja... semuanya hilang. Tidak ada kegelapan, tapi juga tidak ada yang dapat kulihat seolah aku hanya satu-satunya makhluk yang ada di jagat yang luas ini.
(Halaman 7)
Setelah itu, semuanya mulai kembali seperti semula. Ally masih berada di dapur bersama mamanya. Tetapi mamanya tidak sedang membuat kue cokelat, melainkan memasak sup. Dan yang paling mengejutkan, di sebelahnya kini duduk seorang anak lelaki kecil. Namanya Albert. Mamanya menyebutkan bahwa dia adik Ally.
Anak ini benar-benar ada. Bagaimana mungkin aku punya seorang adik laki-laki? Bukankah lima menit yang lalu aku adalah anak tunggal?
(Halaman 9)
Orang tua Ally heran dan khawatir ketika mengetahui bahwa anaknya tersebut bisa tiba-tiba 'lupa' pada adiknya. Sayangnya, tidak ada satu pun dokter dan psikiater yang dapat menjelaskan apa yang terjadi pada Ally. Ally pun akhirnya menerima dan melanjutkan hidupnya.

Namun beberapa tahun kemudian, ketika Ally sedang mengerjakan tugas kelas Sastra di ruang keluarga sambil menunggu kepulangan Albert, hal itu terjadi lagi. Kali ini, Ally benar-benar khawatir. 
Perasaan déjà vu menyelimutiku. Tetap saja, adanya perasaan bahwa aku sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya tidak memberikan ketenangan bagiku. Malahan aku semakin ketakutan. Lebih takut daripada pertama kali hal itu terjadi. Aku panik. Putus asa. Ketidakberadaan kali itu telah memberiku seorang adik. Apa yang akan dilakukannya kali ini? 
(Halaman 14)
Ketika semuanya kembali, Ally harus menerima kenyataan bahwa Saat Ketidakberadaan telah mengambil Albert dari hidupnya.

Fiuh! Saya mendapatkan kejutan yang bertubi-tubi. Karena penasaran, saya pun membaca blurb-nya di sini, lalu malah menjadi semakin penasaran :))

Berdasarkan teori menulis yang pernah saya dapatkan, salah satu tips untuk mengikat perhatian pembaca yaitu melalui pembuka cerita yang menarik. Apakah bab pertamanya membuat pembaca ingin terus menyelesaikannya sampai akhir? Atau justru membosankan sehingga pembaca memutuskan menyimpannya untuk dibaca lain kali atau bahkan tidak dilanjutkan sama sekali?

Well, melalui dua bab pertamanya, penulis sukses menarik perhatian saya. Saya dibuat penasaran dan tidak sabar untuk segera membaca kelanjutannya. Berikut beberapa hal yang menjadi nilai plus dalam dua bab pertama novel yang terinspirasi dari novel House of Leaves karya Mark Z. Danielewski ini:
  • Tidak bertele-tele. Penulis langsung menyajikan ketegangan yang membuat perhatian saya tersedot pada Ally dan kehidupannya.
  • Gaya bahasa yang sesuai dengan tokoh dan latar cerita yang berasal dari luar negeri. Saya seakan-akan sedang membaca novel terjemahan dari penulis mancanegara.
  • Cara penuturan penulis yang mengalir dan nyaman dibaca.
  • Tokoh utama yang menarik. Saya memang belum benar-benar mengetahui bagaimana karakter Ally, tapi saya sudah merasa simpati kepadanya. Novel ini mengingatkan saya pada film The Butterfly Effect, di mana tokoh utamanya bisa kembali ke masa lalu dan mengubahnya sesuai dengan yang diinginkan. Tapi Ally, dia tidak dapat memilih kehidupan sesuai dengan keinginannya, justru kehidupan itu sendiri yang memilihkannya untuk Ally. Rasanya pasti sangat mengerikan :(
  • Menjanjikan konflik yang unik. Walaupun penulisnya berkata bahwa "Actually it’s 'just' a love story", saya yakin novel ini akan memberikan sensasi yang berbeda.
  • Membuat saya penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Bagaimana dan kenapa Saat Ketidakberadaan bisa terjadi pada Ally? Berapa kali lagi Ally akan mengalami hal tersebut? Bagaimana cara Ally menghadapinya? Dan tentu saja, bagaimana akhir ceritanya?
  • Meskipun saya belum membaca keseluruhan ceritanya, saya yakin ada pesan moral yang terselip dalam novel ini. 

Rating
Saya memberikan empat dari lima bintang untuk dua bab pertama novel Ally yang baru terbit tanggal 22 Januari yang lalu ini. Semoga saya bisa mendapatkan bukunya dan memberi jumlah bintang yang sama atau bahkan lebih untuk keseluruhan ceritanya :D

Read more >>

Thursday, February 12, 2015

#KisahKasihFavoritku: Halya dan Gilang

Saya selalu menyukai adegan lamaran pernikahan. Lamaran seorang pria kepada seorang wanita ya, bukan lamaran formal yang sudah melibatkan dua keluarga besar. Kenapa? Karena pasti ada unsur romantisme sekaligus keseriusan dalam sebuah lamaran. Bahwa hubungan asmara yang sudah dijalani, kemudian dilanjutkan dengan komitmen yang lebih besar.

Dok. Pribadi
Adegan lamaran yang paling berkesan di hati saya berasal dari novel Coupl(ov)e. Cuopl(ov)e bercerita tentang Halya dan Raka, sepasang sahabat yang akhirnya menikah. Bukan karena saling mencintai, tapi karena mereka ditinggalkan oleh pasangan masing-masing.

Namun, adegan favorit saya bukan adegan antara Halya dan Raka, melainkan adegan lamaran antara Halya dan Gilang--mantan kekasihnya. Suatu hari, Gilang mengajak Halya ke Pulau Bira. Di sana, Gilang memberi sebuah kejutan pada Halya, yaitu membawanya melihat pemandangan langit malam yang bertabur bintang. Kemudian, Gilang juga memakaikan gelang pada kaki Halya.

Sumber
Gilang tersenyum maklum melihat Halya yang masih kebingungan. "Jika aku memberimu sebuah cincin, hanya diriku yang bisa mengikat dan merasakan lembutnya jemarimu," tuturnya lembut.
Halya menunggu. Gilang masih menatapnya penuh kasih.
"Makanya, aku buatkan gelang kaki ini sebagai simbol." Telunjuk Gilang menyentuh kaki Halya lembut. "Semoga kamu bisa menjadi jalan surga bagi anak-anakku nanti. Bukankah surga berada di telapak kaki ibu?" lanjutnya lirih.
Halya terpana, menatap takjub mata Gilang, mencari kesungguhan di sana.
"Will you marry me, Ahalya Rahman?" Suara Gilang terdengar begitu khusyuk dan syahdu.

(Halaman 221)
So sweet kan?

Lamaran dengan cincin berlian, musik romantis, dan makan malam di restoran mewah sih sudah biasa. Tapi melamar dengan kata pengantar yang menyebutkan 'jalan surga bagi anak-anakku'? Hmmm, saya merasakan penghargaan yang sangat besar bagi seorang wanita. Bahwa Gilang bukan hanya melihat Halya dari kecantikannya saja, tapi juga mempertimbangkan kualitas Halya sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.

Adegan Halya dan Raka di Puncak juga tidak kalah romantis, bahkan lebih kreatif. Tapi adegan Halya dan Gilang ini chemistry-nya terasa sekali.

Read more >>

Thursday, January 15, 2015

Review: Friends Don't Kiss

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Friends Don't Kiss
Penulis: Syafrina Siregar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: pertama, 2014
Tebal: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1078-7
Harga: Rp 45.000

Review
Mia Ramsy adalah gadis cantik bertubuh mungil yang aktif di organisasi IBM (Indonesian Breastfeeding Mothers). Mia memang belum menikah dan mempunyai anak. Tetapi bersama teman-temannya di IBM, mereka memberikan dukungan dan bantuan bagi para ibu agar bisa memberikan ASIX (ASI Eksklusif) untuk bayinya.
"Senang rasanya melihat ekspresi cinta ibu ke anaknya saat sedang menyusui."
(Halaman 53)
Namun, di saat Lia--adiknya membutuhkan dukungan darinya saat proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini), Mia justru tidak hadir. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi buruk. Apalagi, Mia terus menguliahi Lia dengan berbagai teori tentang ASI setiap adiknya itu ingin memberikan susu formula untuk bayinya.
"Lo cuma tahu teori saja, Mia. Coba kalau lo sudah mengalami semua yang gue alami. Hamil sembilan bulan, melahirkan, dan sekarang masih harus bergadang lagi gara-gara bayi gue nggak tidur-tidur. Kalau lo jadi gue, gue yakin lo bakal melirik susu kaleng pertama yang sampai ke kamar lo," tukas Lia menggebu-gebu.
(Halaman 70)
Sementara itu, Ryan Subagyo--pria tampan bermata cokelat--yang mobilnya menjadi korban kecerobohan Mia, merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Mia. Bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena semangatnya setiap kali mereka membicarakan masalah ASI. Pada mulanya, Ryan memang tidak mengerti, tapi lama-kelamaan dia mulai memahami apa yang sedang diperjuangkan Mia dan teman-temannya.
Ryan memandang Mia dengan tatapan takjub. Sesaat mata Ryan terkunci dengan raut wajah Mia yang memancarkan semangat berapi-api. Gadis ini cerdas. Dan sungguh idealis. Hasrat seketika menguasai Ryan, membuatnya spontan meraih tangan Mia dan membawanya ke bibirnya.
(Halaman 97)
Namun, ada sesuatu yang tidak diketahui Mia tentang Ryan. Bahwa Ryan menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik Prima Gold--pabrik susu formula yang selalu bermasalah dengan IBM karena sering melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan kode WHO dalam memasarkan produknya. Maka, bagi Mia, Ryan merupakan sosok yang sangat misterius. Oleh karena itu, Mia agak bingung bagaimana harus membalas perlakuan Ryan, meskipun sebenarnya dia juga sangat menyukai pria itu.
Mia tertawa renyah. Ditepuk-tepuknya lengan Ryan dengan bersahabat. "That's what friends are for."
Ryan berjengit. Emosinya bergolak tiba-tiba. Matanya berkilat menatap sinis ke arah Mia. "In case you forgot, Mia, friends don't kiss," balas Ryan dingin.

(Halaman 153)
(+) Friends Don't Kiss merupakan novel yang unik. Temanya betul-betul tidak biasa. Sudah beberapa kali saya membaca novel dengan nuansa parenting, namun baru kali ini saya menemukan novel yang secara spesifik menjadikan isu tentang ASI sebagai pemicu konflik sejak awal hingga akhir ceritanya. Saya acungkan dua jempol pada niat tulus penulis untuk menyampaikan informasi tentang ASI melalui novel ini :)

(-) Judul dan cover-nya cukup eye catching, tetapi sayang kurang mewakili isi cerita. Seandainya belum membaca blurb-nya, saya tidak akan menyangka bahwa novel ini mengangkat tema tentang ASI sebagai isu utamanya. Mungkin calon pembaca akan lebih ngeuh apabila diberi sedikit clue pada  cover-nya. Misalnya nih, diberi gambar ponsel dengan nama Ryan tertera pada layarnya, dan ponsel tersebut tergeletak di atas tumpukan modul pelatihan ASI :D

(+) Menggunakan sudut pandang orang ketiga, cerita dibuka dengan adegan yang to the point. Tanpa bertele-tele juga tanpa adegan yang mubazir, bab pertama dalam novel ini memang langsung menuju pada bibit konflik yang akan terjadi pada bab-bab berikutnya. Membuat saya penasaran dan ingin segera mengetahui bagaimana kelanjutan ceritanya.

(-) Namun, setelah membaca keseluruhan ceritanya, saya merasa bahwa konfliknya kurang gereget. Fokus IBM yang hanya peduli pada segala strategi pemasaran Prima Gold terasa tidak fair. Kenapa mereka tidak mengajukan surat teguran juga pada rumah sakit yang tidak mendukung IMD dan ASIX? Begitu juga dengan konflik pribadi yang terjadi antara Mia dan Lia. Agak menggemaskan melihat Lia yang selama hamil sudah dicekoki dengan berbagai informasi tentang ASI, menjadi begitu mudah menyerah. Mungkin akan lebih dramatis apabila alasan di balik sikap Lia tersebut diperkuat. Misalnya, dipengaruhi mitos-mitos menyesatkan tentang ASI yang disampaikan oleh ibunya. Atau bisa juga, Lia ini wanita bekerja yang menyerah memberikan ASI pada bayinya karena kewalahan menyiapkan ASI Perah, aroma metropopnya tentu akan lebih kental.

(+) Dari segi penokohan, saya cukup suka dengan karakter kedua tokoh utamanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pula Mia dan Ryan. Mereka sama-sama mempunyai kekurangan. Bisa dikatakan, Mia adalah pejuang ASI yang payah. Misalnya, ketika Lia mengeluh karena bayinya menyusu terus semalaman. Bukannya memberikan solusi dengan memberi tahu posisi menyusui sambil berbaring agar Lia bisa beristirahat di malam hari, Mia malah memberinya ceramah panjang lebar tentang ASI. Sedangkan Ryan merupakan tipe lelaki yang romantis dan dewasa dalam bersikap. Namun sayangnya, dia selalu merasa bisa mendapatkan segalanya. Contohnya, menggunakan 'kunci ajaib' agar bisa masuk ke apartemen Mia sesuka hati, enggak banget deh. Tapi kerennya, dalam cerita ini mereka sama-sama bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Pembaca bisa belajar dari mereka berdua.

(-) Sayang, penyampaian informasi mengenai ASI-nya terasa kurang smooth. Menurut saya ada beberapa bagian yang terlalu detail. Misalnya penjelasan tentang kandungan yang terdapat di dalam ASI yang tidak bisa didapatkan di dalam susu formula. Saya rasa, dalam sebuah novel tidak perlu disebutkan satu per satu, AA, DHA, bla bla bla. Cukup dijelaskan bahwa setiap mamalia--termasuk manusia--memproduksi ASI yang kandungannya khusus disesuaikan dengan kebutuhan bayinya dan tidak bisa dibuat tiruannya. Bisa juga dibandingkan dengan kandungan yang terdapat dalam ASI induk mamalia lain--seperti sapi dan ikan paus--yang berbeda karena kebutuhannya pun tidak sama.

(+) Walaupun begitu, novel ini masih nyaman dibaca. Alur maju yang tidak berbelit-belit, ditambah gaya penulisan yang ringan dan lincah, serta dialog yang renyah khas novel-novel metropop, membuat novel ini menjadi buku yang sangat menghibur.

(-) Namun, saya sendiri agak kecewa dengan ending-nya yang terasa kurang realistis. Padahal, masih banyak alternatif penyelesaian masalah lain yang tidak terlalu singkat dan ekstrim seperti yang dilakukan oleh Ryan. Misalnya, bergabung dengan komunitas ayah yang peduli ASI, mungkin? ;)

Favourite Quote
Quote yang inspiratif...
"Hakikat seorang ibu adalah perjuangannya yang maksimal untuk memberikan yang terbaik. Dan ASI adalah hak setiap bayi."
(Halaman 122)
Quote yang manis...
"Kamu sendiri akan memberikan ASI atau tidak pada anakmu nanti?" Ryan balik bertanya.
"Sudah pasti."
"Oke, aku dukung."
Mia langsung tersipu malu.

(Halaman 147)
Quote yang nyeseuk...
"Aku ingin bisnismu sukses, Ryan. Sedangkan aku juga ingin semua bayi mendapatkan hak ASI-nya. Bagai dua sisi mata uang, jalan kita nggak akan pernah bertemu. Maafin aku," lirih Mia.
(Halaman 185)
Rating
Tiga dari lima bintang untuk novel metropop yang kaya akan ilmu ini. Romance-nya dapat, informasi mengenai ASI-nya juga cukup mencerahkan :)


Read more >>

Friday, October 31, 2014

Rindu: 1 Perjalanan 5 Pertanyaan

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati
Penerbit: Republika
Cetakan: III, November 2014
Tebal: 544 halaman
ISBN: 978-602-8997-90-4
Harga: Rp 69.000 Rp 58.650 (beli di bukabuku.com)

Dibaca
28-29 Oktober 2014

Resensi
Kesan pertama ketika petugas ekspedisi mengantarkan buku pesanan saya ini adalah terkejut. Rupanya, jumlah halamannya lebih tebal dari karya Tere Liye yang terakhir saya baca--Amelia. Namun, saya lebih terkejut lagi ketika melihat label 'Best Seller' di pojok kanan sampulnya. Bukankah bukunya baru terbit satu bulan yang lalu? Kok sudah menjadi 'Best Seller'? Begitu pikir saya. Saya pun langsung membuka halaman identitas buku tersebut dan menemukan bahwa buku yang baru sampai di tangan saya sudah merupakan cetakan yang ketiga! Wow salut…. Masuk cetakan ketiga hanya dalam waktu dua bulan, tentu menunjukkan bagaimana kualitas buku ini. Perasaan pesimis setelah melihat jumlah halamannya yang sangat tebal pun hilang seketika. Saya yakin jumlah halaman tidak akan mempengaruhi kecepatan membaca saya. Dan memang terbukti, saya berhasil menyelesaikannya hanya dalam waktu dua hari.

Kisah ini dibuka dengan deskripsi setting tempat dan waktu yang menjadi latar cerita. Tiba-tiba saja, saya seakan dibawa kembali ke masa lalu, menyaksikan hiruk pikuk sebuah dermaga di Makassar pada tahun 1938. Saat itu Blitar Holland--salah satu kapal uap terbesar milik perusahaan Belanda--baru saja tiba untuk mengangkut para calon jamaah haji dari Makassar dan sekitarnya.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, satu per satu, para tokoh utama dan tokoh pendukung mulai diperkenalkan. Tokoh pertama yaitu Daeng Andipati. Dia adalah seorang pedagang muda dari Makassar yang kaya. Sempat mengenyam pendidikan di Rotterdam School of Commerce lima belas tahun yang lalu. Kini dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya.

Selanjutnya yaitu Ahmad Karaeng, orang-orang biasa memanggilnya Gurutta. Dia merupakan ulama masyhur keturunan Sultan Alauddin dan Sultan Hasanuddin. Pernah belajar agama di Aceh sampai ke Yaman dan Damaskus. Kini dia menjadi imam di Masjid Katangka, Gowa dan rutin mengadakan pengajian sebulan sekali. Perjalanan panjang kali ini dia manfaatkan untuk menulis buku, menyusul buku-buku lainnya yang jumlahnya sudah ratusan.

Kemudian ada Ambo Uleng, pelaut muda dengan tubuh kekar dan gagah, serta kulit hitam legam karena sering terbakar sinar matahari. Dia melamar pekerjaan sebagai kelasi di kapal Blitar Holland setelah meninggalkan posisi sebagai juru mudi kapal Phinisi dua minggu yang lalu. Kepribadiannya menarik, namun terlalu pendiam.

Baru setelah kapal mulai berangkat, penulis memperkenalkan Bonda Upe. Dia merupakan perempuan Cina Islam yang tinggal di Palu. Wajahnya cantik dan selalu mengenakan pakaian berwarna cerah. Secara sukarela, dia bersedia mengajar anak-anak mengaji selama dalam perjalanan. Walaupun begitu Bonda Upe tidak terlalu suka berbaur dengan penumpang lain.

Terakhir adalah penumpang dari Semarang, Mbah Kakung Slamet. Usianya hampir delapan puluh tahun. Dia berangkat bersama istri dan anak sulungnya. Walaupun hampir pikun dan mempunyai pendengaran yang sudah tidak terlalu baik, namun dia selalu memperlakukan istrinya dengan sangat spesial, romantis.
Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan. (halaman 222)
Kelima tokoh tersebut membawa lima pertanyaan besar dalam perjalanan panjang tersebut. Pertanyaan pertama muncul dari Bonda Upe. Nama aslinya adalah Ling Ling. Saat berusia lima belas tahun, ayahnya mempertaruhkannya dalam sebuah perjudian. Ling Ling dibawa ke Batavia dan dipaksa menjadi cabo, pelacur. Meskipun sekarang dia sudah mempunyai suami yang sangat perhatian dan kehidupannya pun sudah menjadi lebih baik, namun dia tidak pernah bisa melupakan kenangan buruk itu. Dia khawatir orang-orang akan mengetahui masa lalunya.
"Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak Tanah Suci? Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi.... Apakah Allah akan menerimaku? Atau, mengabaikan perempuan pendosa sepertiku.... Membiarkan semua kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu siapa pun." (halaman 310)
Pertanyaan selanjutnya muncul dari Daeng Andipati. Siapa yang menyangka bahwa di balik keberhasilannya, dia menyimpan kebencian yang teramat besar pada ayahnya. Ayahnya merupakan pedagang yang licik. Di rumah, ayahnya selalu menyiksa ibunya--yang akhirnya meninggal karena sakit. Sejak saat itu, hatinya selalu dipenuhi oleh amarah dan dendam. Setelah menemani adiknya menyelesaikan sekolah, dia pergi ke Batavia dan melanjutkan perjalanan ke Rotterdam.
Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? (halaman 371)
Pertanyaan selanjutnya berasal dari Mbah Kakung Slamet. Mbah Putri Slamet--istri yang telah mendampinginya selama enam puluh tahun--meninggal saat sedang menunaikan shalat Shubuh.
"Kenapa harus terjadi sekarang? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenapa harus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?" (halaman 469)
Pertanyaan berikutnya hadir dari kisah cinta Ambo Uleng. Dia menyukai putri pemilik kapal di mana dia pernah bekerja. Walaupun pernah menyelamatkan putrinya dalam sebuah badai besar, tidak serta merta membuat sang ayah mau menerima Ambo Uleng sebagai menantunya. Orang tua gadis itu telah menjodohkannya dengan pemuda yang dianggap lebih pantas. Murid seseorang yang sangat penting di Gowa. Meski tidak ada sepotong pun kalimat pertanyaan yang terucap dari mulutnya, tapi ada pertanyaan yang tersirat dari pernyataan Ambo Uleng. Tentang cinta sejati, kesempatan dan jodoh.
"Aku yang menyelamatkannya dari badai lautan, dari enam hari terjebak di pulau kecil, ternyata tidak berhasil menyelamatkannya dari perjodohan. Aku kalah. Inilah aku, lari dari seluruh kisah cintaku." (halaman 490)  
Keempat pertanyaan besar tersebut dijawab dengan baik oleh Gurutta. Dia selalu membahas setiap pertanyaan dalam tiga bagian jawaban. Sebenarnya tidak ada jawaban yang 'wah'. Semuanya sederhana, hanya saja sebagai manusia, kita sering melupakannya. Begitu juga dengan Gurutta, dia sendiri sebenarnya membawa pertanyaan besar. Kematian Syekh Raniri--guru agama--dan Cut Keumala--calon istrinya--dalam peperangan Aceh melawan Belanda, membuatnya berjanji tidak akan lagi menggunakan kekerasan. Dia lebih memilih melawan lewat kalimat lembut dan tulisan yang menggugah.
"Lihatlah ya Rabbi, betapa menyedihkan dirinya. Orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, sekarang bahkan tidak berani menjawab pertanyaan diri sendiri. Ia menulis tentang kemerdekaan, tapi ia sendiri tidak pernah berani melakukannya secara kongkret. Ia selalu menghindar, lari dari pertempuran dengan alasan ada jalan keluar lebih baik." (halaman 532)
Pertanyaan tersebut justru dijawab oleh Ambo Uleng, pemuda yang baru beberapa minggu belajar shalat dan mengaji. Bukan dengan penjelasan lisan atau tulisan, tapi dengan perbuatan tangan.

Dari lima tokoh utama tersebut, tidak semuanya mempunyai porsi cerita yang sama. Sebagian besar cerita didominasi oleh Daeng Andipati--dan anak-anaknya--, Gurutta, serta Ambo Uleng. Bonda Upe dan Mbah Kakung Slamet hanya muncul sebentar-sebentar saja. Namun bukan berarti karakternya tidak dalam. Semua karakter tokoh utama, secara teliti, digambarkan dengan sangat jelas dan konsisten sejak awal hingga akhir cerita.

Cerita ini menjadi semakin menarik dengan hadirnya para tokoh pendukung. Ada Sergeant Lucas, pimpinan serdadu Belanda yang menyebalkan. Ada Kapten Philips, kapten kapal yang bijaksana. Ada Ruben si Boatswain, kelasi senior bagian dek yang menyenangkan. Ada Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangoenkoesoemo, guru yang pintar dan kreatif. Ada Chef Lars, koki galak namun berhati lembut. Dan yang paling penting, ada Anna dan Elsa--kedua putri Daeng Andipati--yang cerdas dan menggemaskan. Ada yang terasa menggelitik ketika saya membaca nama kapten kapal dan putri Daeng Andipati. Kapten Philips, mengingatkan saya pada film Captain Philips. Sedangkan Anna dan Elsa mengingatkan saya pada film Frozen. Mungkin penulis memang sengaja memilih nama tokoh yang sudah dekat di hati pembaca.

Alur yang digunakan dalam buku ini adalah alur maju, dengan beberapa kisah masa lalu yang diceritakan dalam bentuk dialog. Temponya mengalir santai, tidak terburu-buru, justru cenderung lambat. Bahkan, lima pertanyaan besar yang menjadi ide utama dalam cerita ini baru benar-benar muncul setelah setengah bagian buku ini. Tetapi, walaupun bukunya tebal dan alurnya lambat, membaca buku ini jauh dari kata membosankan. Sejak paragraf pertama hingga paragraf terakhir, penulis menyajikan kalimat-kalimat yang sederhana dan mudah dipahami, namun begitu membuai imajinasi. Rasanya seperti membaca dongeng.

Saya acungkan dua jempol untuk penggambaran setting-nya. Penulis tidak hanya berkutat dengan suasana kapal, tetapi juga menyuguhkan suasana kota-kota besar di Indonesia--tujuh puluh enam tahun yang lalu--mulai dari Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, sampai Aceh, juga bonus kota Kolombo di Sri Lanka. Saya diajak ikut menyaksikan suasana Batavia yang ramai serta pemandangan alam Lampung yang indah. Saya juga seakan ikut merasakan serunya menaiki trem di Surabaya dan menumpang kereta sapi di Kolombo.

Bukan hanya setting-nya yang membuat saya enggan berhenti membuka lembar demi lembar buku yang terdiri dari lima puluh satu bab ini. Selain lima pertanyaan besar di atas, emosi saya dibawa naik-turun dengan adanya sub-sub konflik yang mewarnai kisah perjalanan ini. Saya dibuat ikut merasa khawatir ketika terjadi pertempuran antara pemberontak dan serdadu Belanda di Pasar Turi, Surabaya--yang membuat Anna harus terpisah dari ayahnya. Bulu kuduk saya dibuat merinding ketika Gurutta merasakan ada 'sesuatu' yang selalu menguntitnya setiap malam. Saya juga dibuat terkejut ketika terjadi usaha pembunuhan pada Daeng Andipati. Saya pun merasa ikut panik ketika Blitar Holland terancam terkatung-katung di lautan selama dua hari dua malam. Bahkan saya juga merasa ikut sedih dan kesal ketika Sergeant Lucas menahan Gurutta karena telah menulis buku yang berjudul 'Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa'. Dan puncaknya adalah ketika saya ikut merasa tegang saat perompak Somalia berusaha membajak Blitar Holland. Saya tidak menyangka, rutinitas kegiatan di atas kapal yang membosankan--hanya berkisar antara dek, kabin, masjid, dan kantin--bisa menjadi sangat 'kaya' seperti ini.

Iya, buku ini memang kaya. Meskipun berlatar waktu tahun 1938, banyak hal-hal lain yang disinggung oleh penulis yang bisa dijadikan pelajaran untuk masa kini. Misalnya cerita-cerita takhayul yang dipercaya dan beredar di masyarakat padahal tidak jelas kebenarannya, serta isu toleransi antar agama ketika para kelasi merayakan Natal. Namun, yang paling berkesan di hati saya adalah bagaimana Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangoenkoesoemo mengajar murid-muridnya di kapal dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
"Terus terang, jika guru-guru di sekolah kalian seperti Anda, besok lusa bangsa kalian akan menjadi bangsa yang besar dan kuat." (halaman 348)
Adapun adegan yang menurut saya paling mengharukan dan membuat hati saya berdesir adalah bagian ini.
Gurutta sendiri yang melepas ikatan Sergeant Lucas. Membantunya duduk lebih baik. Saat wajah lebam itu menatap Gurutta dengan tatapan sayu, Gurutta berkata lembut kepadanya, "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, mijn vriend." (halaman 539)
Membaca buku ini, saya menemukan beberapa ciri khas penulis yang juga bisa ditemukan pada karya-karyanya yang lain. Pertama, tidak ada kata pengantar dan profil penulis. Tere Liye tidak suka apabila profil pribadinya diumbar, dia memang penulis yang humble. Kedua, selalu menyertakan tokoh anak yang cerdas, seperti Anggrek, Sakura, dan Jasmine dalam Sunset Bersama Rossie serta Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia dalam Serial Anak-Anak Mamak. Ketiga, ending-nya yang selalu berakhir bahagia. Yup! Hanya satu yang saya sayangkan dari buku ini, yaitu ending-nya di bagian Epilog yang menurut saya rasanya too good to be true.

Terkait teknis penyajiannya, sampai sejauh ini saya tidak menemukan adanya typo dalam cetakan yang ketiga ini. Saya juga cukup puas dengan desain cover-nya yang sederhana. Meskipun menggunakan warna-warna lembut, tetapi tetap eye catching dengan latar berwarna putih dan tulisan berwarna gelap.

Rating
Setahun yang lalu, saya pernah bertemu dengan Tere Liye dalam sebuah acara pelatihan menulis. Saya ingat, dia pernah mengatakan bahwa buku yang baik itu minimal bisa menghibur pembacanya. Lebih baik lagi apabila buku tersebut dapat memberikan pengetahuan baru bagi yang membacanya. Dan yang paling baik, buku tersebut bisa menginspirasi pembacanya.

Tere Liye tidak hanya pandai berbicara dan memotivasi para calon penulis, dia membuktikan perkataannya melalui karya-karyanya, juga kali ini. Oleh karena itu, saya memberikan empat dari lima bintang untuk buku ini:
  • Satu bintang karena saya merasa sangat terhibur saat membacanya.
  • Satu bintang karena buku ini memberikan pengetahuan baru bagi saya mengenai suasana perjalanan haji yang panjang menggunakan kapal uap serta gambaran umum kota-kota besar di Indonesia sebelum masa kemerdekaan.
  • Satu bintang karena buku ini sangat menginspirasi dengan pelajaran hidup yang sederhana tapi sangat besar manfaatnya apabila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Dan satu bintang lagi untuk berbagai macam perasaaan yang saya rasakan setelah membaca buku ini. 

Read more >>

Sunday, October 26, 2014

Letters to Aubrey: Surat Cinta Paket Lengkap

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Letters to Aubrey
Penulis: Grace Melia
Editor: Triani Retno A
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: I, Mei 2014
Tebal: 266 halaman
ISBN: 978-602-7572-27-0
Harga: Rp 48.000 Rp 40.800 (beli di Togamas)

Review
Berjuta rasanya…. Yup! Mungkin itu dua kata yang paling mampu mewakili perasaan saya selama membaca buku ini. Ada rasa sedih, tegang, khawatir, simpati, haru, salut, malu, iri (in a good way), bahagia, bersemangat, hingga termotivasi. Lengkap! So, meskipun resensi saya untuk buku ini sudah pernah dimuat di Koran Jakarta, kali ini saya ingin membuat lagi review versi lain yang lebih personal ;)

Dok. Pribadi
Sesuai dengan judulnya, buku ini memang berbentuk kumpulan surat yang ditulis Grace untuk putri semata wayangnya, Aubrey Naiym Kayacinta. Surat-surat tersebut mulai ditulis sejak usia kandungannya 34 bulan. Layaknya ibu-ibu yang sedang hamil besar, ada rasa letih yang mendera, namun terdapat lebih banyak rasa syukur.
Terima kasih, Anakku, kamu tumbuh di rahimku dan bukan di rahim wanita lain. Terima kasih untuk tiap tawa dan tangis yang sudah dan akan kita lalui bersama. (Halaman 18)
Perasaan bahagia ketika Aubrey, yang biasa dipanggil Ubii, lahir dua tahun yang lalu, berganti menjadi perasaan khawatir saat dokter menyatakan bahwa ada kemungkinan jantung Ubii bermasalah. Perkiraan dokter ternyata benar. Hasil tes Echocardiography menunjukkan bahwa terdapat kebocoran pada jantung Ubii.

Masalah tidak berhenti sampai di situ. Grace dibuat bingung dengan sikap Ubii yang selalu rewel. Badannya pun sering terlihat kaku seperti mengejang. Lalu puncaknya, ketika Grace dan suaminya sengaja meletuskan beberapa balon di telinga Ubii saat putrinya itu sedang tidur, tetapi Ubii sama sekali tidak terganggu…. Rupanya, hasil tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) menunjukkan bahwa Ubii baru bisa mendengar suara di frekuensi 105 dB, yaitu setara dengan suara pesawat! Kesedihan yang dirasakan Grace semakin menumpuk karena kemampuan motorik Ubii juga belum berkembang.

Dokter anak menyarankan agar Ubii melakukan USG otak. Hasilnya, terdapat bercak-bercak putih di otak Ubii. Akhirnya semua jawaban atas kondisi Ubii terjawab setelah dilakukan tes darah. Ubii positif terkena congenital rubella syndrom. Hal ini terjadi karena Ubii terinfeksi virus Rubella saat masih berada di dalam kandungan.

Syukurlah, Grace akhirnya menemukan dokter yang tepat untuk Ubii. Setelah melalui berbagai macam tes, kini hari-hari Grace dan Ubii diwarnai dengan sesi fisioterapi yang melelahkan. Setiap hari, Ubii juga harus menelan bermacam-macam obat. Tidak mudah, namun tetap harus dijalani. Apalagi, Rubella juga menyebabkan Ubii mengalami mikrosefalia (ukuran kepala kecil), encephalitis (pengapuran otak), TB paru, dan gangguan berat badan.

Sudah terbayang kan? Kumpulan surat ini memang bukan kumpulan surat biasa, karena dipersembahkan untuk anak istimewa dari ibu yang juga istimewa. Surat-surat ini disusun oleh Grace sebagai bukti bahwa cintanya kepada Ubii begitu besar.
Mommy hopes by reading them someday, you will realize just how much Mommy loves you, just the way you are, not more and not less. (Halaman 90)
Butuh waktu lima bulan bagi Grace untuk mengetahui penyakit Ubii. Dokter-dokter sebelumnya selalu mengatakan bahwa Ubii baik-baik saja. Untungnya, dia menyadari bahwa ada yang tidak beres pada tumbuh kembang putrinya. Dia pun terus mencari tahu hingga akhirnya bisa menemukan dokter yang tepat. Saya menyadari bahwa tidak ada ibu yang sempurna, tapi semua ibu harus selalu peka terhadap tumbuh kembang anaknya. Seperti Grace yang tidak berhenti berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ubii.

Membaca lembar demi lembar surat-surat dalam buku ini serasa menyaksikan secara langsung perjalanan Grace dan Ubii yang penuh warna. Penuturannya yang begitu jujur, membuat saya seakan sedang membaca buku harian Grace. Padahal buku ini bukanlah buku diary tempat dia mencurahkan isi hatinya. Tetapi saya dapat merasakan setiap gejolak perasaan yang dialaminya. Termasuk ketika orang-orang menatap kasihan atau berkomentar negatif pada Ubii yang menggunakan alat bantu dengar.
Mami nggak mengira akan melihat Ubii ditunjuk-tunjuk dengan jelasnya seperti itu di depan Mami dan Papi. Mami marah. Mami sakit hati. (Halaman 135)
Rasanya miris sekali membaca bagian itu. Orang tua yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anaknya, justru tidak menunjukkan sikap empati ketika berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus :( Yuk ah, kita latih diri untuk berempati, karena kita juga harus mengajarkan anak-anak kita untuk terbiasa berempati pada keadaan orang lain. Bagaimana caranya? Saya jadi teringat pada sebuah artikel yang baru saya baca beberapa minggu yang lalu.
As a mother of a child who looks different, this is my plea to you:If you are the parent whose child says another child looks funny or scary, don't simply say, "That isn't a nice thing to say." While you are right, it's not nice, simply saying that and walking away still isolates my child. The next time follow that statement up and tell your child, "I'm sure he's a very nice boy, let's go meet him." Please, come introduce yourself and ask my child's name. (Sumber)
Buku ini juga bukan buku pedoman kesehatan. Tetapi, dari buku ini saya mendapat banyak pengetahuan mengenai seluk beluk penyakit Rubella. Betapa pentingnya para calon ibu untuk melakukan screening TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes) dan vaksinasi MMR. Grace juga membagikan pengalamannya terkait latihan motorik dan pendengaran Ubii, serta beberapa ahli yang dapat dijadikan sebagai rujukan.

Yang pasti, buku ini juga bukan buku motivasi, tetapi saya mendapat begitu banyak inspirasi. Bagaimana Grace tidak menyia-nyiakan waktunya untuk menangis dan terpuruk. Setelah merenung dan menenangkan pikiran, dia dan suaminya mulai bangkit untuk memperjuangkan kesembuhan Ubii. Tidak hanya itu, Grace juga mendirikan Rumah Ramah Rubella, sebuah komunitas di mana setiap orang tua dengan anak congenital rubella syndrom bisa saling berbagi dan menyemangati.
Mami juga berharap kelak Rumah Ramah Rubella dapat membantu meringankan biaya pengobatan dengan mencarikan donatur karena pengobatan anak dengan congenital rubella syndrom sama sekali nggak bisa dibilang murah. (Halaman 189)
Sumber
Selain karena semangat berbaginya yang begitu besar, saya juga merasa malu sekali mendapati bahwa di rumahnya, Grace begitu tekun melatih kemampuan pendengaran dan motorik Ubii. Permainan-permainan edukatif yang dia sediakan untuk Ubii, tidak memerlukan biaya yang mahal. Semuanya dibuat dari bahan-bahan yang ada di rumah. Kreatif! Semangat Grace ini memang patut dicontoh. Karena itulah, beberapa bulan terakhir, saya juga mulai menyediakan permainan-permainan edukatif yang murah meriah untuk Jav di rumah :D

Sumber
Cara bertutur ibu muda yang pernah menjadi narasumber dalam acara televisi "Kick Andy" ini begitu mengalir dan ringan. Sembilan puluh dua surat yang ditulis Grace tersebut, ditutup secara sempurna dengan surat mengharukan yang ditulis oleh suaminya.
Ubii sudah mengubah Papi jadi manusia yang lebih baik. Selanjutnya adalah tugas Papi untuk mengubah diri Papi menjadi lebih dari itu. Untuk Ubii. (Halaman 266)
Buku ini memang terasa sangat 'kaya'. Saya sangat merekomendasikannya bagi siapa saja, tidak terbatas pada orang tua dengan anak congenital rubella syndrom, tetapi juga untuk semua orang tua dan calon orang tua. Kalaupun terdapat kekurangan pada buku ini, bukan pada isinya, tetapi lebih pada cara penyajiannya:
  • Tidak semua surat mencantumkan tanggal pembuatannya. Menurut saya, surat tanpa tanggal itu seperti menulis kalimat yang huruf 'i'-nya tidak menggunakan titik. Walaupun kita dapat memahami maksud kalimat tersebut, tetap saja rasanya ada yang kurang karena tidak ada titik di atas huruf 'i'. Begitu juga dengan surat tanpa tanggal. Sebenarnya tidak terlalu signifikan, karena saya masih bisa membayangkan dengan mudah rentang waktu dari surat yang satu ke surat selanjutnya. Tetapi tetap saja rasanya ada yang kurang hihihi….
  • Foto-foto yang ditampilkan dalam buku tidak dicetak berwarna. Sayang sekali. Kalau fotonya berwarna, pasti wajah Ubii yang manis dan berbagai permainan sensory play yang diceritakan, akan terlihat lebih jelas dan menarik. Semoga di buku cetakan berikutnya, foto-fotonya dicetak berwarna. Tidak perlu semua halaman, cukup halaman-halaman yang ada fotonya saja ;)
Rating

Special Note
Thank you Mami Grace atas bukunya yang sangat menginspirasi ini….

With love,
Your inspired reader

Sumber
~~~


Read more >>

Friday, June 20, 2014

Review Buku: Pre Wedding Rush

Dok. Pribadi
DETAIL BUKU
Judul: Pre Wedding Rush
Penulis: Okke 'Sepatumerah' (@sepatumerah)
Editor: Herlina P. Dewi
Penerbit: Stiletto Book (@Stiletto_Book)
Cetakan: I, Desember 2013
ISBN: 978-602-7572-21-8
Harga: Rp 42.000

REVIEW
"Will you marry me, Menina?" tanya Dewo. 

Pertanyaan Dewo membuatku mematung. Rasanya jantungku berhenti berdetak sesaat. Entah bagaimana ekspresi mukaku. Aku terdiam lama, tak bereaksi.

"Menina?"

"A-apa, Wo?" Aku tergagap.
"Maukah kamu menjadi istriku?" ulangnya, gelisah.
Menjadi istri Dewo?
Waduh!
Aku harus jawab apa? Aku harus jawab apa?
Jawab apa ini? Jawab apaaa?
Aduh.
"Kamu yakin, Wo?" tanyaku bodoh.
"Yakin. Aku yakin kamulah orangnya…." Dewo menjawab dengan sabar.
"Nngng… nggak mau cari orang lain dulu?" Pertanyaanku terdengar semakin bodoh."Nggak, Nin… aku benar-benar yakin. Kamu." Dewo berkata tegas.
(Halaman 29)


Sebagian besar perempuan pasti akan berkata "Yes, I will," sambil menangis terharu atau berteriak bahagia ketika sang kekasih mengucapkan pertanyaan keramat seperti Dewo. Tapi tidak begitu dengan Menina. Saat Dewo melamarnya di hari ulang tahunnya yang ke-28, Menina justru bingung. Walaupun dia menjawab 'iya', tapi hatinya belum benar-benar yakin. Hubungannya dengan Dewo yang baru berjalan sepuluh bulan, membuat Menina bertanya-tanya, apakah dia cukup mengenal Dewo, orang yang akan menjadi pendamping hidupnya sampai mati?

Di tengah kebimbangannya, Lanang (mantan pacar Menina yang membuatnya patah hati karena telah meninggalkannya demi mengejar passion) yang mengetahui rencana pernikahan Menina, mengajaknya untuk melakukan perjalanan bersama menggunakan kereta dari Bandung. Rencananya, Lanang turun di Yogya, sementara Menina melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk mengurus persiapan lamaran. Menina yang tidak pernah bisa membenci Lanang pun akhirnya menerima tawaran tersebut. Dalam perjalanan itu Menina baru menyadari sesuatu.

"Jadi, waktu itu kita putus ya, Nin?" 
Pertanyaannya membuatku tersentak. Aku berusaha membawa ingatanku sampai tiga tahun lalu, sampai saat aku mengantarnya ke bandara. Tidak kutemukan satu pun kata putus! Aku masih ingat kata terakhir yang diucapkan Lanang, "Sampai ketemu lagi, jaga diri baik-baik. 

"Tidak ada kata putus! 

(Halaman 63)

Kekacauan dimulai saat Menina tidak ingin berpisah dengan Lanang dan memutuskan untuk turun di Yogya. Lalu, tanpa diduga sebuah gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR menghantam Yogya. Peristiwa tersebut menuntun Menina menemukan pandangan baru terhadap berbagai hal, termasuk hubungannya dengan Dewo dan Lanang.

~~~

Love at first sight, begitulah kesan saya ketika pertama kali melihat cover novel ini. Desain dan warnanya benar-benar cantik! Temanya juga unik, yaitu kisah gempa di Yogya yang dibumbui dengan kisah percintaan. Konflik batin menjelang pernikahan yang 'perempuan banget' membuat saya tertarik untuk membeli dan membaca novel ini.

Tokoh utama dari cerita ini yaitu Menina dan Lanang. Karakter mereka cukup kuat. Menina, sembarangan. Sedangkan Lanang, santai dan selalu penuh kejutan. Lanang memang cukup menggoda, namun tokoh favorit saya yaitu Dewo. Seperti yang dikatakan Agnes (sahabat Menina), Dewo itu husband-material banget, sabar dan selalu bisa diandalkan hihihi….

Karakter yang kuat tersebut didukung dengan setting yang cukup detail. Mbak Okke sangat lihai menggambarkan berbagai suasana, sehingga apa yang saya baca terasa begitu hidup. Apalagi hiruk pikuk suasana gempa dan pascagempa di Yogya yang tidak hanya terasa nyata, tetapi juga memberi wawasan baru bagi saya. Novel ini memang bermula dari laporan pengalaman Mbak Okke sebagai relawan gempa Yogya pada tahun 2006.

Sayang, cerita dibuka dengan adegan yang cenderung datar. Namun adegan flashback pada bab setelahnya cukup membuat saya penasaran untuk terus mengikuti kisah masa lalu antara Menina dan Lanang.

Kisah ini dituturkan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu Menina. Maka, emosi yang terbangun terasa begitu kuat. Meskipun gaya bahasa yang digunakan cukup ringan, namun sanggup menyeret hati saya untuk ikut larut dalam kegalauan yang dirasakan Menina. Dialog-dialognya quotable dan renungan-renungannya mencerahkan.

Syukurlah, perasaan galau, kesal, dan bersalah yang ikut saya rasakan berakhir dengan ending yang memuaskan. Saya suka sekali dengan ending-nya yang tidak terduga ini. Genius! Love you, Dewo! Love you, Menina! Love you, Mbak Okke! :D

QUOTE FAVORIT
Kita sering nggak menganggap orang-orang terdekat sebagai anugerah. Seberapa sering kita nggak memedulikan mereka? Kita anggap memang mereka seharusnya ada di sana. We take them for granted. Orang-orang tersebut baru akan terasa istimewa setelah kita kehilangan mereka. 
(Halaman 151)

Pernikahan itu nggak ada hubungannya sama jodoh-nggak jodoh. It's just another stage of life. Sama seperti stage kehidupan lain, untuk bertahan kita harus berusaha dan berjuang. 
(Halaman 201) 

Hidup itu pilihan. Aku selalu bisa memilih yang terbaik untuk diriku dan orang-orang di sekitarku. 
(Halaman 204)

RATING
Pre Wedding Rush merupakan novel solo karya Mbak Okke ketiga yang sudah saya baca. Dibandingkan dengan Istoria da Paz dan Heart Block, saya memang paling suka dengan novel ini. Empat dari lima bintang untuk Menina. Very recomended! :)

~~~~~


Read more >>