Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Wednesday, October 5, 2016

Review: Wonderful Life

Wonderful life - amalia prabowo

Detail Buku
Judul: Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Penyunting: Hariadhi dan Pax Benedanto
Ilustrator: Aqillurachman A. H. Prabowo
Penerbit: POP, imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Pertama, April 2015
Tebal: viii + 169 halaman
ISBN: 978-979-91-0854-8
Harga: Rp 45.500 Gratis, pinjam dari iJakarta

Dibaca
Senin, 3 Oktober 2016

Review
Namaku Amalia, putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi.
(Halaman 3)
Itulah kalimat pembuka yang mengawali kisah dalam buku ini. Ya, sebagai putri dari seorang dokter spesialis yang tinggal di Malang, sejak kecil Amalia selalu dididik dengan keras. Bayangkan, setiap pagi, dia dan keempat saudaranya harus melahap semua isi koran dan menjelaskan apa yang terjadi di seluruh dunia di hadapan ayahnya. Bagi ayah Amalia, membaca merupakan bekal yang sangat penting untuk dapat menggenggam dunia. 

Berkat didikan ayahnya, Amalia tumbuh menjadi gadis yang selalu teratur dan terencana. Selama ini rencana yang dijalankannya secara disiplin, membuat hidupnya selalu sesuai dengan yang diinginkannya. Contohnya ketika dia memilih sekolah di SMA Negeri serta diterima di universitas terbaik di Indonesia melalui jalur PMDK (program penjaringan siswa berprestasi untuk masuk ke universitas terbaik).

Begitu pula ketika dia memutuskan untuk menikah muda, menapakkan kaki ke Jakarta, dan memiliki karir yang melesat hingga mencapai puncak--menjadi CEO wanita pertama di perusahaan advertising multinasional. Bahkan ketika sepuluh tahun pernikahannya merapuh, Amalia memilih untuk merelakan suaminya dan tidak larut dalam kesedihan.

Setelah dua tahun hidup sendiri, akhirnya Amalia menemukan sosok yang mengembalikan ‘rasa’ dalam hidupnya. Namanya Syafiqurachman. Mereka kemudian menikah serta memiliki dua orang anak, Aqil dan Satria. Hidupnya sempurna.

Namun, sang pemilik kehidupan mempunyai kehendak lain. Amalia kehilangan pekerjaannya dan suaminya meninggalkannya karena ingin kembali ke keyakinan yang dianutnya. Seakan belum cukup, Aqil--yang dia harapkan dapat menjadi dokter, insinyur, atau apa saja yang dapat membuat diri dan keluarganya bangga--mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Padahal Aqil sudah diserahkan ke sebuah sekolah bertaraf internasional termahal.
Ia terlahir dari keturunan yang memiliki DNA dengan kecerdasan tinggi. Ia hanya kurang keras berusaha. Ia anak manja.
(Halaman 66)
Persepsi Amalia terhadap Aqil, menciptakan jurang yang dalam di antara mereka. Amalia menyibukkan diri dengan mendirikan perusahaan baru. Sedangkan Aqil lebih mendekatkan diri dengan ibu dan kakak perempuan Amalia.

Ketika sadar bahwa Aqil adalah titipan-Nya, Amalia mulai menemui berbagai ahli untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Langit terasa runtuh menimpanya ketika Amalia mengetahui bahwa Aqil merupakan suspek disleksia.
Disleksia: gangguan dalam membaca yang disebabkan kesulitan otak dalam membedakan simbol dan merangkainya.
(Halaman 74)
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Baca bukunya ya :D

~~~

Unik dan menarik. Begitulah penilaian saya ketika secara sekilas melihat buku ini. 
  • Pertama, dari sampul depannya. Lihat saja pilihan warnanya yang simpel, hanya hitam, putih, biru, dan merah. Namun tetap memukau dengan desainnya yang eye catchy
  • Kedua, dari sampul belakangnya. Memuat blurb yang cukup menggambarkan isi buku, namun tetap membuat penasaran. Menjelaskan mengenai kesabaran dan kemauan Amalia untuk memahami dunia Aqil--putra sulungnya yang menyandang disleksia. 
  • Ketiga, penggunaan jenis hurufnya. Berbeda dengan jenis huruf yang biasanya terdapat pada buku lain. Memberikan citra santai dan jauh dari dari kesan kaku.
  • Keempat, ilustrasi yang indah. Setiap lembarnya dihiasi dengan hasil karya Aqil yang khas dan artistik. Ya, Aqil memang mengalami gangguan dalam membaca, menulis, dan berhitung, namun dia memiliki imajinasi yang luar biasa.

Selanjutnya, menginspirasi tanpa menggurui. Begitu pandangan saya terhadap buku ini setelah membaca seluruh isinya.
  • Pertama, dari gaya bahasanya. Ditulis seperti menyusun jurnal. Santai, sehingga terasa sangat dekat dengan pembacanya. Dan memang, buku ini merupakan kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis. Sehingga tidak terasa menggurui.
  • Kedua, dari cara penuturannya yang runut. Dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu Me yang mengisahkan tentang latar belakang kehidupan Amalia sehingga pembaca dapat memahami alasan di balik respon Amalia ketika mengetahui masalah Aqil, kemudian Him yang menceritakan tentang Aqil dan kondisinya, serta Us yang berisi tentang usaha Amalia agar kehidupan keluarganya (dia, Aqil, dan Satria) bisa kembali harmonis.
  • Ketiga, penuh motivasi. Semangat Amalia patut dicontoh. Mulai dari prinsip hidup ayah Amalia yang kemudian menurun juga pada Amalia. Serta usaha Amalia setelah dia menyadari kebutuhan Aqil. Bagaimana dia memahami kebosanan Aqil karena harus melakukan terapi dengan membuat pola lingkaran yang berulang-ulang, bagaimana dia--yang sejak kecil tidak pernah mengenal teriknya matahari dan sesaknya debu--rela menemani Aqil melakukan terapi heavy hiking, juga bagaimana dia mencari akal agar dapat membuat pameran bagi hasil karya Aqil setelah menerima berbagai penolakan dari galeri dan kurator.
  • Keempat, menambah pengetahuan mengenai disleksia. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengerti tentang disleksia. Padahal masa depan anak penyandang disleksia sangat bergantung pada bagaimana penerimaan serta bagaimana respon orang tua menyikapi amanah disleksia tersebut. Seandainya Amalia menutup mata pada kondisi anaknya, mungkin kehidupan Aqil akan semakin terpuruk.
  • Kelima, mengandung ilmu pengasuhan anak yang sangat kental. Umumnya bagi seluruh orang tua dan khususnya bagi orang tua anak penyandang disleksia. Bahwa setiap anak dilahirkan istimewa. Tugas orang tua lah untuk membantu menggali, memfasilitasi, dan mengembangkan potensinya. Jangan sampai orang tua hanya menilai dan menghargai kemampuan anak hanya dari sisi akademisnya. Aqil telah membuktikan bahwa meskipun tanpa kemampuan akademis, dia bisa tetap berprestasi dan bermanfaat bagi masyarakat. 
  • Keenam, memberikan pelajaran hidup bagi semua orang. Iya, kita memang harus selalu berusaha maksimal untuk mendapatkan sesuatu. Namun Sang Penciptalah yang memiliki hak prerogatif dalam mengatur hidup kita, karena Dia yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Jadi, teruslah berusaha, serahkan hasilnya pada Sang Pencipta, dan terima apapun yang terjadi, begitu seterusnya.
  • Ketujuh, tetap menghibur. Meskipun cerita ini non fiksi, namun disajikan dengan cara penulisan seperti cerita fiksi. Ada bagian pembuka, subkonflik, konflik, hingga penyelesaian konflik. Makanya buku ini tidak membosankan, membuat penasaran, bahkan dapat membuat emosi pembaca naik-turun juga. 

Quote Favorit
Kendali kehidupanku sepenuhnya ada di tanganku. Bahagia atau sedih adalah pilihan sadarku.
(Halaman 11)
Evaluasi dan perencanaan kembali adalah cara terbaik untuk move on.
(Halaman 50)
Jika kehidupan adalah berkah maka musibah sekalipun adalah anugerah.
(Halaman 51)
Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan yang bukan milik kita ini adalah berdamai dengan kehidupan.
(Halaman 127)
Rating
Tiga setengah dari lima bintang. Saya sangat merekomendasikan buku non fiksi bergenre self improvement yang sarat akan cinta dan perjuangan seorang ibu ini. Bukan hanya untuk pembaca yang memiliki anak, tetapi juga untuk semua calon orang tua. Yuk baca bukunya, sebelum filmnya tayang tanggal 13 Oktober nanti ;)

Semoga dengan adanya buku Wonderful Life dan rilisnya film berjudul sama yang diangkat dari buku Wonderful Life di Bulan Peduli Disleksia Internasional ini, masyarakat dapat semakin memahami dan menghargai orang-orang yang menyandang disleksia :)

Read more >>

Friday, April 29, 2016

Resensi Happy Book for Happy Parent @ Koran Jakarta

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan rekomendasi sebuah buku bagus dari seorang teman. Temanya apa lagi kalau bukan tentang pengasuhan anak :) Tapi buku ini berbeda dengan buku bertema sama lainnya. Kenapa? Karena kalau pada buku lain objeknya adalah anak, pada buku ini objeknya yaitu orang tua. Jadi, sebelum menerapkan berbagai macam metoda dan pola pengasuhan, sebaiknya orang tua perlu menyiapkan diri terlebih dahulu.

Setelah selesai membaca, saya langsung membuat resensi dan mengirimnya ke redaksi Koran Jakarta. Kangen nih, sudah lama sekali tulisan saya enggak muncul di rubrik Perada. Saya membuat resensinya hari Jumat, mengirimnya hari Sabtu, dan mendapat 'surat cinta' pada hari Minggu. Lumayan shock ketika membaca isinya :') Memang gara-gara saya juga sih. Banyak kesalahan lama yang masih diulangi, karena terlalu lama enggak bikin resensi *pembenaran* :p

Namun terbit harapan juga bahwa mungkin tulisan saya akan dimuat. Biasanya sih begitu :D Dan ternyata benar. Tulisan saya dimuat keesokan harinya, Senin, 25 April 2016. Mudah-mudahan jadi pembuka di tahun ini untuk tulisan-tulisan selanjutnya. Aamiin....

Sayangnya, lagi-lagi saya enggak berhasil mendapatkan versi cetaknya. Padahal hari itu suami sedang berada di Jakarta :(

Berikut tulisan versi asli yang saya kirim.

~~~


Tips Menjadi Orang Tua yang Bahagia

Detail Buku
Judul: Happy Book for Happy Parent
Penulis: Aisya Yuhanida Noor
Editor: Yulia Suzana
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2016
Tebal: 205 halaman
ISBN: 978-602-02-8028-8
Harga: Rp 54.800

Resensi
Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya. Namun pada era informasi seperti sekarang, ilmu pengasuhan dapat dengan mudah untuk diakses. Mulai dari buku, seminar, hingga informasi dari internet. Lalu apakah dengan begitu, tanggung jawab sebagai orang tua bisa dilalui dengan lebih mudah?

Sayangnya, tidak. Bagi sebagian orang tua, peran tersebut bisa menjadi sangat melelahkan. Bukan karena kurangnya ilmu, tapi karena kadang belum siap untuk menerapkannya.

Orang tua menduduki posisi pertama dalam daftar 'pekerjaan' berdasarkan urutan tingkat stresnya. Hal tersebut dapat memunculkan emosi negatif yang secara tidak sadar sering orang tua lampiaskan pada anak. Contohnya seperti tuntutan yang tinggi, bentakan, larangan, banyak menyalahkan, jarang mengapresiasi, jarang memeluk, dan lain-lain (hlm 7). Akibatnya, anak jadi tidak mau dekat dengan orang tua.

Latar belakang tersebut yang membuat psikolog lulusan Universitas Padjadjaran menyusun buku ini. Beliau menulis berdasarkan pengalaman profesional dan pengalaman pribadinya. Buku ini berbeda, karena tidak membahas ilmu parenting, tapi membahas kesiapan pribadi orang tua sebagai orang dewasa dalam menjalankan perannya (hlm 24).

Ada empat prinsip untuk menjadi orang tua yang bahagia, sehingga dapat mempraktikkan pola pengasuhan secara efektif. Pertama, bahwa kita adalah orang tua terbaik yang Tuhan persembahkan untuk mendampingi anak kita. Bagaimanapun kondisi anak kita, ingatlah bahwa Tuhan pastilah memberikan kita anak disertai dengan potensi kesanggupan kita untuk mengasuhnya dengan sebaik mungkin (hlm 36). Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu pula dengan kita dan anak kita.

Kedua, orang tua adalah tugas seumur hidup dan harus dipertanggungjawabkan. Kita memang tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi orang tua. Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran ketika melakukan kesalahan. Sebagai orang dewasa, kita harus terus memperbaiki kesalahan dan selalu membekali diri agar mampu menjadi orang tua terbaik sesuai potensi yang dimiliki (hlm 47).

Ketiga, emosi anak adalah cermin dari emosi orang tua. Ahli emosi mengatakan bahwa emosi itu lebih menular daripada flu. Akan berpindah dari satu orang ke orang lain, seperti virus (hlm 57). Apalagi pada anak di bawah usia enam tahun yang otaknya lebih didominasi oleh gelombang theta, yaitu gelombang yang membuat semua informasi masuk ke alam bawah sadar. Oleh karena itu, orang tua harus berusaha agar lebih sering merasa bahagia.

Keempat, kepercayaan anak terhadap orang tua tercipta dari kelekatan yang kuat. Bersama, dekat, dan lekat itu berbeda. Kelekatan dengan anak sangat penting sebagai modal untuk dapat terus mendampingi perjalanan hidupnya. Jangan pernah bosan untuk berlatih mengamati ekspresi dan gestur tubuh anak serta langsung mengkonfirmasikannya.

Penulis kemudian meramu tiga langkah kunci untuk mencapai kebahagiaan dalam mengasuh anak, yang disebut sebagai Formula 3 K. Yaitu kenali diri, kelola emosi, dan kelekatan emosi. Langkah tersebut harus senantiasa dilakukan dalam hidup kita (hlm 75).

Dalam mengenal diri, hal yang harus digali adalah kebutuhan dasar diri yang belum terpenuhi, karakter diri yang dapat menjadi sumber konflik dalam pengasuhan, kekuatan dan kelemahan diri, serta nilai pengasuhan yang ingin diteruskan pada anak.

Selanjutnya, orang tua yang mampu mengelola emosi adalah orang tua yang mau dan mampu mengambil tanggung jawab mengelola emosinya sendiri. Sehingga lebih 'tenang', lebih peka dan berempati pada perasaan anak, lebih mampu memotivasi diri, serta bereaksi secara tepat dalam menghadapi masalah (hlm 98).

Terakhir, orang tua harus memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan anak agar tercipta kelekatan emosi. Dan hal yang paling mendasar adalah agar mengada sepenuhnya ketika sedang berinteraksi dengan anak.

Buku yang terdiri dari sepuluh bab ini disampaikan dengan cara yang mengalir dan bahasa yang mudah dipahami. Pada bagian akhir, dilengkapi juga dengan tahapan terperinci dalam mempraktikkan Formula 3 K.

~~~

Sedangkan tulisan versi yang sudah diedit oleh tim redaksi bisa dibaca di sini ;)


Read more >>

Wednesday, April 27, 2016

Review: 5 Guru Kecilku - Bagian 1

5 Guru Kecilku
Detail Buku
Judul: 5 Guru Kecilku - Bagian 1
Penulis: Kiki Barkiah
Editor: Aditya Irawan
Penerbit: Mastakka Publishing
Cetakan: kedua, Oktober 2015
Tebal: 241 halaman
ISBN: 978-602-73274-0-5

Review
Sudah cukup lama saya membaca buku ini. Bagian keduanya pun sudah beberapa bulan nangkring di rak buku. Makanya, sebelum membaca bagian duanya, saya mencoba membaca ulang buku ini, sekalian membuat review-nya.

Ternyata, meskipun sudah pernah membacanya, enggak ada yang berubah dengan perasaan saya ketika membacanya untuk yang kedua kali. Tetap panas dingin, hihihi.... Maksudnya hati terasa lebih adem saat membacanya, sekaligus menjadi lebih bersemangat untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Makanya, kalau sedang galau mengenai pengasuhan anak, langsung baca buku ini deh.

Isinya bukan tentang teori pengasuhan, tetapi mengenai praktik pengasuhan yang diterapkan oleh penulisnya, Teh Kiki Barkiah. Jadi, Teh Kiki ini mempunyai lima orang anak, merantau di USA, tanpa ART, serta melakukan homeschooling pula. Superwoman banget ya?

Enggak juga sih, karena layaknya manusia biasa, Teh Kiki juga mengalami berbagai problematika dalam menjalankan amanahnya sebagai seorang ibu. Makanya, beliau menuliskan curahan hatinya dalam status Facebook. Tapi, bukan curhat sembarang curhat loh. Karena Teh Kiki selalu berhasil mengambil hikmah dari setiap masalah yang dialaminya. Ketika status-statusnya dikumpulkan, maka jadilah buku ini.
Tidak ada yang lebih sempurna dari Rasulullah SAW dalam pengasuhan anak. Maka tidak perlu kita mengatakan "kami merasa gagal menjadi orang tua" namun katakanlah "bersama Allah kami bisa lebih baik lagi".
Kumpulan kisah ini dibuka dengan tulisan berjudul "Niatmu Kekuatanmu" yang menekankan bagaimana cara pandang Islam mengenai keturunan. Anak bisa menjadi perhiasan hidup dan penyenang hati. Tetapi anak juga bisa menjadi cobaan hidup, bahkan musuh. Oleh karena itu, saat mengalami tantangan dalam pengasuhan, Teh Kiki mengingat kembali niat dan tujuannya sebagai orang tua. Agar dapat membesarkan anak saleh yang akan memintakan ampunan di akhirat nanti.

Terdapat 35 buah tulisan penuh ilham yang disampaikan dengan bahasa yang ringan dan jujur dalam buku ini. Temanya bervariasi. Mulai dari mengatasi perilaku buruk anak, membentuk rasa kasih sayang antar saudara, pergaulan dengan teman, pendidikan seks, pilihan untuk hidup tanpa TV, cara menanamkan nilai-nilai Islam, menerima potensi dan kelemahan masing-masing anak, hingga kisah taaruf yang singkat dan proses pernikahan yang mudah, serta impian besarnya.

Dalam tulisan yang berjudul "Antara Saya, Homeschool, dan 24 Jam", Teh Kiki enggak segan-segan untuk membagikan jadwal kesehariannya. Terdapat beberapa contoh kombinasi kegiatan (menyusui, pekerjaan harian, dan sesi homeschooling) yang bisa dilakukan dalam satu waktu. Teh Kiki pun menceritakan bagaimana pembagian tugas bagi keempat anaknya (karena anak yang terakhir masih bayi) dalam tulisan yang berjudul "Pengasuhan Anti Stres dan Anti Marah-Marah Itu Ada Caranya". Dengan adanya perencanaan, kehebohan dalam pengasuhan anak dapat diminimalkan. Walaupun kini hidup tanpa asisten rumah tangga, namun Teh Kiki sangat menghargai kehadirannya, memaklumi kekurangannya, serta mendoakannya. 

Memang ya, kalau niatnya ibadah, cara pandangnya pun spesial. Lihat saja sudut pandang positif yang dimiliki Teh Kiki dalam mengatasi berbagai macam masalah pengasuhan. Contohnya yaitu ketika menghadapi anak yang picky eater.
Insya Allah pahala membujuk makan para balita tak kalah dengan pahala melobi tender proyek bagi para suami yang bekerja dengan berdasi rapi.
(Halaman 155)
Bagian yang paling saya suka yaitu ketika Teh Kiki menceritakan interaksinya dengan Ali (putra sulungnya). Apalagi penuturannya tentang kisah awal hidup Ali, hmmm indah sekali....
11 tahun yang lalu, seorang wanita istimewa dipilih Allah untuk melahirkan Ali. Namun karena kasih sayang-Nya, Allah lebih memilih untuk mengambil beliau di usia muda, dengan terlebih dahulu menggugurkan dosanya melalui sakit kanker yang dialami beliau. Dan karena kasih sayang-Nya pula, Allah memberikan kesempatan beliau untuk memiliki simpanan berupa seorang anak yang terlahir beberapa hari sebelum akhir usianya.
(Halaman 152)
Dalam buku ini, Teh Kiki juga menunjukkan betapa pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.
"Ummi sudah sangat berusaha, mengurus semua keperluan anak-anak. Keperluan tubuhnya, ilmu kognitifnya, pendidikan karakternya, bahkan mengajar Islam dan Al-Quran. Ummi mau bantu bapak agar bapak kelak bisa mempertanggungjawabkannya di depan Allah. Tapi Ummi gak sanggup kalo sendirian, karena bagaimanapun itu tanggung jawab bapak." Alhamdulillah sejak saat itu bapak melipatgandakan kekuatan untuk 'turun langsung' mendidik anak-anak.
(Halaman 149)
Kesimpulannya, buku ini sangat direkomendasikan. Keikhlasan Teh Kiki untuk merelakan ijazah cap gajahnya tersimpan rapi di dalam map, kesabarannya dalam menghadapi 5 guru kecilnya, serta sikap terbukanya dengan suami begitu menginspirasi. Menghangatkan jiwa.
Repot urusan anak di waktu kecil itu PASTI.
Repot urusan anak di waktu dewasa itu PASTI ADA YANG SALAH.
Repot urusan anak di negeri akhirat itu PASTI MERUGI.
Rating
Empat setengah dari lima bintang.

Read more >>

Monday, April 25, 2016

Review: Time Out dalam Parenting

time out dalam parenting

Detail Buku
Judul: Time Out dalam Parenting
Penulis: dr. Zulaehah Hidayati dan Ratihqah Munar Wahyu, S.Si
Editor: Yuki Anggia Putri dan Nickyta Pramudia
Penerbit: Esensi
Cetakan: pertama, 2015
Tebal: 149 halaman
ISBN: 978-602-7596-79-5

Review
Sebagian besar orang tua tentu sudah tidak merasa asing lagi dengan istilah time out. Saya sendiri memahami time out sebagai salah satu metoda yang digunakan untuk menerapkan disiplin pada anak. Sayangnya, banyak yang menganggap bahwa time out sama dengan hukuman. Padahal bukan.

Maka dr. Zulaehah Hidayati (pendiri Rumah Parenting) dan Ratihqah Munar Wahyu, S.Si (pengelola komunitas homeschooling ITB Motherhood) sengaja menyusun buku ini untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada orang tua mengenai seluk beluk serta teknik dalam mempraktikkan time out.

Buku yang terdiri dari tujuh bab ini diawali dengan penjelasan mengenai marah. Apa definisinya, bagaimana polanya, faktor yang menyebabkannya, dampaknya, serta cara mengendalikannya. Kenapa? Karena...
Time out adalah cara untuk mengendalikan kemarahan dan untuk menghentikan perilaku buruk anak dengan memberikannya kesempatan untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali perbuatan yang dilakukannya.
(Halaman 48)
Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk memahami terlebih dahulu mengenai seluk beluk marah, baik pada orang dewasa, maupun pada anak.

Penjelasan dalam buku ini kemudian dilanjutkan dengan uraian mengenai perilaku buruk pada anak, yaitu apa saja faktor penyebabnya. Baru setelah itu dipaparkan secara detail mengenai teknik time out sebagai salah satu cara untuk menghentikan perilaku buruk pada anak. Kadang ada orang tua yang menganggap perilaku buruk pada anak sebagai suatu hal yang wajar, "Namanya juga anak kecil." Padahal...
Bila kita biarkan anak melakukan sebuah perilaku buruk, itu berarti kita seolah-olah menghargai perilaku tersebut. Tidak heran bila nanti sang anak akan mengulangi perilaku tersebut.
(Halaman 46)
Pembahasan mengenai teknik time out dimulai dengan definisi, alasan, kapan dan di mana dapat dilakukan, pada usia berapa boleh diterapkan, manfaatnya, paradigma yang tidak tepat, hingga teknik serta permasalahan dalam pelaksaanaan time out. Ternyata time out itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada syaratnya, yaitu tanpa marah dan tanpa banyak kata.

Pada buku ini juga dijelaskan mengenai pelaksanaan time out sesuai teknik P.A.R.E.N.T.I.N.G yaitu P (pengasuhan yang benar agar anak dapat terbimbing), A (memahami anak adalah anugerah), R (redam amarah kepada anak), E (empati mendengarkan), N (notifikasi pembicaraan dan tindakan), T (tanamkan energi positif), I (istiqomah atau secara berulang), dan NG (mengadakan time out).

Setelah membahas mengenai cara menghentikan perilaku buruk, diuraikan juga mengenai cara menanamkan perilaku buruk. Yaitu tentang nilai dan norma, cara membangun motivasi intrinsik, melatih perilaku baik, mendukung dengan motivasi ekstrinsik, kendala, dan rumusnya.
Time out tidak boleh dipakai untuk membentuk perilaku baik.
(Halaman 72)
Sebagai penutup, buku ini menyajikan langkah-langkah dalam praktik time out di rumah maupun di PAUD.

Buku ini baik untuk dibaca oleh para orang tua. Isinya lengkap, padat, runut, dan sangat mudah dimengerti. Serta didukung dengan contoh dialog antara orang tua dan anak sehingga pembaca bisa lebih mudah memahami dan mempraktikkannya.

Rating
Empat dari lima bintang.

Read more >>

Thursday, November 26, 2015

Review: Anak Bukan Kertas Kosong


Detail Buku
Judul: Anak Bukan Kertas Kosong
Penulis: Bukik Setiawan
Editor Materi: Dr. Wiwin Hendriani dan Dwi Krisdianto, S. Psi
Editor Bahasa: Gita Romadhona
Penerbit: PandaMedia
Tebal: 250 halaman
Cetakan: kedua, 2015
ISBN: 979-780-782-7
Harga: Rp 68.000

Review
Buku ini pada dasarnya mengajak kita para orang tua untuk menengok kembali gagasan tentang pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara. Menakjubkan! Karena sebenarnya pemikiran dan kritik beliau terhadap pendidikan pada masa kolonial dulu juga sesuai untuk sistem pendidikan nasional yang terjadi sekarang. Sistem pendidikan yang menyeragamkan kecerdasan anak dan menilai anak berdasarkan satu ukuran tunggal.

Berikut tiga pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menginspirasi penulis untuk menyusun buku ini:
1. Setiap anak itu istimewa.
Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya.
(Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan, halaman 21)
2. Belajar bukanlah proses memasukkan pengetahuan ke diri anak. Belajar adalah proses membentuk pengetahuan, mengonstruksikan pemahaman.
Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu dipelopori atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri.
(Ki Hadjar Dewantara, Peringatan Taman Siswa 30 Tahun)
3. Pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak.
Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas.
(Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan, halaman 382)
Saat ini, kita sedang memasuki zaman kreatif. Zaman dimana teknologi informasi berkembang dengan sangat cepat, zaman dimana keberadaan sumber daya alam semakin terbatas, zaman dimana produk-produk baru dan profesi-profesi kreatif bermunculan. Makanya, kita jangan sampai terlena, karena banyak tantangan di zaman kreatif yang harus dihadapi.

Coba direnungkan lagi, apakah di zaman kreatif ini kita:
  • Membuat karya, bukan hanya meniru
  • Memanfaatkan internet untuk mencari yang relevan, bukan hanya terpengaruh
  • Menggunakan media sosial untuk menemukan teman, bukan untuk mengumbar emosi
  • Mengunggah yang bermakna, bukan hanya mengunduh
  • Fokus pada kekuatan diri, bukan hanya fokus pada profesi
  • Menjadi manusia yang kreatif, bukan mengeksploitasi alam
(Halaman 30)

Hanya orang-orang kreatif yang bisa menjawab tantangan tersebut. Lalu bagaimana caranya agar anak-anak kita, calon generasi penerus bangsa bisa menjadi orang yang kreatif? Kita perlu mempraktikkan 'pendidikan yang menumbuhkan' kepada anak-anak kita. Karena anak ibarat telur.
Kita tidak bisa menetaskan telur dengan cara menekan dari luar, mengeluarkan isi telur sebelum waktunya, atau menggunakan cara pemaksaan lain. Ketika kekuatan dari luar menekan telur, benih kehidupan akan mati. Bayangkan telur tersebut adalah anak kita, apakah kita menekan keras dari luar atau menumbuhkan kekuatan dari dalam diri anak?
(Halaman 34)
Kadang, sebagai orang dewasa kita menganggap anak sebagai kertas kosong, yang bisa kita beri gambar dan warnai sesuka hati kita. Padahal, anak mempunyai kesukaan, kegemaran, kekuatan, dan minatnya sendiri. Sayangnya, saat ini sistem pendidikan nasional menjejali anak kita dengan kurikulum tunggal. Dimana setiap anak harus mempelajari begitu banyak pengetahuan yang seragam yang belum tentu dia minati. Dampaknya, anak akan berperilaku baik hanya ketika berada di hadapan orang tua, kepercayaan dirinya menurun, dan potensinya menjadi terabaikan.
Pendidikan itu bukanlah menanamkan, melainkan menumbuhkan. Pendidikan bukanlah mengubah beragam keistimewaan anak menjadi seragam, melainkan menstimulasi anak untuk menjadi dirinya sendiri.
(Halaman 45)
Lalu bagaimana pendidikan yang menumbuhkan itu? Anggaplah anak kita adalah sebuah benih. Seperti benih bunga yang mempunyai karakteristik tersendiri dan butuh perlakuan khusus, mulai dari tempat, komposisi tanah, kadar air, hingga jumlah cahaya. Perlakuan untuk bunga matahari tentu tidak bisa disamakan dengan perlakuan untuk bunga suplir.
Ketika berbagai jenis bunga diperlakukan seragam, pasti ada bunga yang mengering dan mati atau tumbuh, tetapi sekadar tumbuh, tidak optimal pertumbuhannya.
(Halaman 70)
Tugas kita sebagai orang tua untuk menjadi 'petani' atau 'pekebun' bagi anak-anak kita. Yaitu dengan cara memberikan stimulasi yang tepat sesuai dengan karakteristiknya (kecerdasan majemuk yang dimilikinya).

Dimulai dari mengenalkan cara belajar yang seayik bermain, pahami bahwa setiap anak mempunyai beragam kecerdasan, ketahui prinsip dalam mengembangkan bakat anak, ketahui siklus perkembangan bakat anak, ketahui apa peran orang tua dalam pengembangan bakat anak.

Bagaimana caranya? Semuanya diuraikan secara lengkap di buku ini. Bahkan di bagian akhir, disertakan panduan awal pengembangan bakat anak dan aktivitas orang tua yang dapat mengembangkan bakat anak. Loh, orang tua? Iya, karena setiap orang tua juga istimewa. Makanya, agar dapat membimbing anak dengan optimal, orang tua harus mengenali diri dan kondisinya dulu dong.

Rating
Empat setengah dari lima bintang. Very recomended! Gaya penulisannya ringan dan mengalir, tapi membuat kepala saya langsung penuh :D

Read more >>

Wednesday, May 6, 2015

Review: Buku Pintar ASI dan Menyusui



Detail Buku
Judul: Buku Pintar ASI dan Menyusui
Penulis: F. B. Monika
Penyunting: Kiki Sulistiyani
Penerbit: Noura Books
Cetakan: ke-1, Desember 2014
Tebal: 288 halaman
ISBN: 978-602-0989-20-4
Harga: Rp 77.000 Gratis (Dari acara talkshow dan peluncuran Buku Pintar ASI dan Menyusui)

Review
Dalam dua tahun pertama kehidupannya, bayi membutuhkan ASI sebagai sumber nutrisi terbaik bagi pertumbuhannya. Sayangnya masih banyak mitos menyesatkan tentang ASI dan menyusui yang berkembang di masyarakat. Seperti menyusui dapat membuat payudara menjadi kendur, susu formula dapat membuat bayi tidur lebih lama, payudara kecil berarti produksi ASI-nya sedikit, ibu yang sedang menyusui dan hamil harus segera menyapih bayinya, dan lain-lain.

Buku ini, menjelaskan semua hal yang terkait dengan ASI dan menyusui. Pembahasannya dibagi ke dalam sembilan bab dengan cara penyajian yang lengkap, detail, dan mudah dipahami.

Pada bab pertama, Teh Monik--penulis buku ini--memaparkan berbagai manfaat ASI, bukan hanya untuk bayi tetapi juga untuk ibu. Manfaat ASI untuk bayi misalnya mengurangi risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) dan mencegah kerusakan gigi. Adapun manfaat menyusui bagi ibu diantaranya yaitu mempercepat bentuk rahim kembali ke keadaan semula dan mengurangi risiko terkena kanker payudara, kanker indung telur, dan kanker endometrium.
Air susu diciptakan khusus untuk setiap spesies (milk is species specific) memiliki arti bahwa setiap spesies mamalia memproduksi air susu yang khusus (spesifik) sesuai dengan kebutuhan bayi/anaknya. Tidak seperti bayi spesies yang perlu segera berjalan, bayi manusia perlu untuk mengembangkan otaknya, dan komposisi ASI-lah yang paling sesuai untuk kebutuhan ini. 
(Halaman 16)
Karakteristik ASI dibahas di bab berikutnya. Tahap perkembangan ASI (mulai dari kolostrum, ASI transisi, hingga ASI matang), kandungan ASI, dan sifat ASI. Meskipun produsen susu formula menekankan beberapa kandungan nutrisi yang lebih tinggi, ASI lebih mudah dicerna dan diserap tubuh bayi sehingga bayi mendapatkan berbagai nutrisi yang tepat sesuai kebutuhannya.

Pada bab tiga, dijelaskan mengenai anatomi payudara dan produksi ASI. Ukuran payudara ditentukan oleh jumlah jaringan lemak yang tidak ada hubungannya dengan produksi ASI. Artinya, payudara yang besar bukan jaminan menghasilkan ASI yang banyak dan sebaliknya, payudara yang kecil belum tentu menghasilkan ASI sedikit. Produksi ASI ditentukan oleh hormon prolaktin. Sedangkan pengeluaran ASI ditentukan oleh hormon oksitosin.

Selanjutnya, dibahas juga mengenai syarat-syarat dan langkah-langkah pelaksanaan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), manajemen laktasi (mulai dari persiapan menyusui, posisi menyusui, teknik menyusui, menyusui pada malam hari, menyusui ketika ibu/anak sakit, menyusui bayi kembar, menyusui bayi adopsi, hingga menyapih), masalah-masalah menyusui (mulai dari nyeri puting, payudara bengkak, mastitis, tongue tie, hingga baby blues dan post partum depression), manajemen ASI Perah, nutrisi untuk ibu menyusui, dan dukungan terhadap ASI dan menyusui. 

Ketika menjelaskan manajemen laktasi, Teh Monik menyebutkan usaha-usaha yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan menyusui. Mulai dari menguasai ilmu tentang ASI dan menyusui, memilih tempat bersalin yang mendukung pemberian ASI Eksklusif, hingga mempersiapkan surat permohonan  pelaksanaan kelahiran dan menyusui (Birth Plan).
Para pakar laktasi dunia sangat menyarankan agar persiapan menyusui dilakukan jauh sebelum bayi lahir karena ibu yang telah memiliki pengetahuan laktasi sebelum melahirkan akan lebih siap dan percaya diri saat mulai menyusui.
(Halaman 62)
Ibu yang khawatir apakah produksi ASI-nya dapat memenuhi kebutuhan bayinya atau tidak, dapat mempelajari tanda-tanda kecukupan ASI yang dijelaskan dalam buku ini. Pertama dilihat dari frekuensi buang air kecil (BAK) bayi per hari, kedua dilihat dari pola buang air besar (BAB) bayi, ketiga dilihat dari pertumbuhan bayi, keempat dilihat dari perilaku bayi, dan kelima dilihat dari perkembangan bayi.

Pada bab terakhir, Teh Monik menegaskan bahwa pemberian ASI dan menyusui bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu. Kesuksesan pemberian ASI dipengaruhi oleh dukungan dari berbagai pihak, salah satunya yaitu dukungan dari ayah.
Dukungan ayah dapat meningkatkan kepuasan dan lama waktu ibu dalam menyusui dan meningkatkan adaptasi ayah dan ibu dalam hal pengasuhan anak. 
(Halaman 251)
Buku ini sangat informatif dan komprehensif dalam membahas ASI dan menyusui, disertai dengan ilustrasi yang sangat menunjang. Walaupun Teh Monik tidak mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan, tetapi buku ini disusun berdasarkan berbagai teori laktasi dari Pelatihan Konseling Menyusui Modul 40 Jam WHO-UNICEF yang pernah diikuti Teh Monik serta dari pengalaman praktis sebagai konselor menyusui di La Leche League (LLL).

Rating
Lima dari lima bintang. Very recomended! Menyusui memang kodrat seorang ibu. Tetapi buku ini bukan hanya disarankan untuk dibaca oleh para ibu dan calon ibu, para ayah dan calon ayah pun sangat dianjurkan untuk membacanya.

Read more >>

Monday, February 2, 2015

Review: @TentangAnak

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: @TentangAnak
Penulis: Joko Dwinanto
Editor: Fiore
Penerbit: Noura Books
Cetakan: ke-1, November 2014
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-1306-68-0
Harga: Rp 53.000

Dibaca
22-24 Januari 2015

Review
Anak merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan, namun juga sekaligus amanah yang harus dijaga--baik raga maupun jiwanya. Sayangnya, tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana cara mengasuh anak yang baik dan benar. Mengasuh anak kadang menjadi terasa sangat melelahkan. Padahal, sesungguhnya, menjadi orang tua itu menyenangkan loh, asal kita tahu ilmunya.
Parenting is supposed to be fun.

Begitulah tagline dari buku dengan sampul yang ceria ini. Buku yang berisi kumpulan tweet dari akun @tentanganak ini, bisa menjadi alternatif sumber ilmu bagi para orang tua mengenai serba-serbi pengasuhan anak. Menjawab pertanyaan dan kegelisahan yang muncul di benak para orang tua.

Parenting is supposed to be fun. Ah, saya sih enggak peduli, urusan mengasuh anak kan tugas istri saya. 
Siapa bilang mengasuh anak merupakan kewajiban seorang ibu. Ibu itu tugasnya melahirkan dan menyusui. Sedangkan ayah tugasnya mencari nafkah. Mengasuh dan mendidik anak? Tugas berdua dong.
Iya, Mas Bro, lo memang cape seharian di kantor, tetapi bini lo lebih cape karena seharian di rumah dan sumpek enggak ganti suasana. Dalam tahapan perkembangan emosinya, anak membutuhkan figur ayah dan ibu yang seimbang agar perkembangan emosi mereka sempurna. 
(#PeranAyah, halaman 20)
Parenting is supposed to be fun. Tapi enggak se-fun waktu jomblo kan?
Iya sih, dulu waktu jomblo, Jumat malam biasanya ke salon, hang out sama teman, atau dinner sama pacar. Setelah menikah, apalagi sudah punya anak, jangankan hang out, yang ada malah begadang menyusui bayi, dasteran pula :))
Setelah nikah, kamu akan kehilangan sebagian kenikmatan yang bisa kamu peroleh sewaktu jomblo, tapi Tuhan akan kasih kenikmatan lain yang lebih besar sebagai gantinya.
(#BedanyaDuludanSekarang, halaman 38)
Parenting is supposed to be fun. Bagaimana bisa fun, kalau saya harus terus menyusui bayi saya? Repot!
Duh, menyusui kan memang kodratnya seorang ibu. Selain itu, ASI bukan hanya baik untuk bayi loh. Banyak sekali manfaat ASI, baik untuk bayi, untuk ibu, untuk bonding antara bayi dan ibu, serta untuk ayah juga. Berikut beberapa contohnya.
  • ASI memiliki kandungan gizi yang sangat lengkap dan keseimbangan yang tepat.
  • Memperkecil risiko terkena kanker payudara.
  • ASI siap sedia diperoleh kapan saja dan tidak memerlukan biaya apa pun. Lebih mudah, murah, dan meriah.
(#ASI123, halaman 62)
Parenting is supposed to be fun. Biarkan saja anak menonton TV, dijamin orang tua bisa fun.
Di Indonesia, ada dua jenis TV, Free to Air (FTA) TV dan Pay TV. Dalam buku ini, dijelaskan karakteristik kedua TV tersebut, kelebihan dan kekurangannya. Sebagai konsumen, seharusnya kita lebih selektif dalam memilih tontonan, karena kebiasaan menonton TV akan mempengaruhi kebiasaan dan cara berpikir keluarga kita.
We can always choose what's best for us. As for me, I turned off my FTA TV, watch it occasionally and have a selective Pay TV, which I also watch occasionally. Daripada TV, mendingan guling-gulingan sama anak dan pasangan di kasur. Jauh lebih seru.
(#JanganSalahkanTV, halaman 148)
Parenting is supposed to be fun. Fun bagaimana? Biaya pendidikan kan mahal!
Well, biaya pendidikan sekarang ini memang bisa membuat sakit kepala. Bagaimana tidak, setiap tahun naik terus. Tapi tenang, dalam buku ini, ada tips untuk menyiasatinya. Bisa dengan cara investasi dan juga asuransi.
Santai, Mas Bro! Nikmati berproses. Nikmati waktu bersama anak-anak kita. Mereka lebih butuh kehadiran kita, kok.
(#DanaPendidikanAnak, halaman 184)
Masih banyak hal lain yang dibahas dalam buku ini. Seperti babyblues, bahaya baby walker, tips mempersiapkan kakak menyambut kelahiran sang adik, mendekatkan anak dengan buku, pengaruh negatif bioskop dan video games, sentilan untuk para ayah yang merokok, juga sudut pandang lain mengenai isu mertua versus menantu.

Pokoknya pembahasannya lengkap deh. Mulai dari yang ringan sampai yang berat. Mulai dari yang santai sampai yang serius.

Saya sendiri dibuat manggut-manggut karena mendapatkan pengetahuan baru yang menginspirasi. Selain itu, saya juga dibuat cengar-cengir ketika merasakan pengalaman yang sama. Renungan-renungannya sempat membuat mata saya berkaca-kaca. Sedangkan sindirannya membuat saya nyeseuk.

Quote favorit (Dok. Pribadi)
Membaca buku ini, memang jauh dari kata membosankan. Berbeda dengan buku parenting lainnya, 35 bab dalam buku ini ditulis dengan gaya yang santai dan akrab. Kita seakan membaca penuturan seorang teman. Tidak terkesan menggurui, meskipun penuh dengan nasihat-nasihat yang jleb.

Penulis buku ini memang bukan dokter, ataupun psikolog. Tetapi, bukan berarti apa yang tersaji dalam buku ini isinya asal-asalan loh. Informasi yang terkandung dalam buku ini terjamin akurat. Buktinya, lihat saja daftar pustakanya yang berasal dari sumber-sumber terpercaya.

Kelebihan lainnya, pembahasan dalam buku ini disampaikan secara singkat namun padat. Pendek-pendek tetapi tepat mengenai sasaran. Khas lelaki sekali, yang tidak suka bertele-tele. Sangat cocok dibaca oleh para orang tua yang sok sibuk ataupun orang tua yang kurang suka membaca buku.

Namun menurut saya sih, lebih baik judul-judulnya diurutkan berdasarkan kategori-kategori. Misalnya, judul-judul yang berkaitan dengan bayi yang baru lahir dikumpulkan di kategori pertama, kemudian judul-judul yang berkaitan dengan anak yang sudah agak besar di kategori berikutnya. Begitu seterusnya sesuai dengan perkembangan anak. Hingga judul-judul yang memberikan renungan untuk orang tua disajikan di kategori yang paling akhir. Mungkin akan lebih nyaman dibaca :D

Rating
Tiga setengah dari lima bintang untuk buku parenting yang asyik ini ;)

Read more >>

Sunday, October 26, 2014

Letters to Aubrey: Surat Cinta Paket Lengkap

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Letters to Aubrey
Penulis: Grace Melia
Editor: Triani Retno A
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: I, Mei 2014
Tebal: 266 halaman
ISBN: 978-602-7572-27-0
Harga: Rp 48.000 Rp 40.800 (beli di Togamas)

Review
Berjuta rasanya…. Yup! Mungkin itu dua kata yang paling mampu mewakili perasaan saya selama membaca buku ini. Ada rasa sedih, tegang, khawatir, simpati, haru, salut, malu, iri (in a good way), bahagia, bersemangat, hingga termotivasi. Lengkap! So, meskipun resensi saya untuk buku ini sudah pernah dimuat di Koran Jakarta, kali ini saya ingin membuat lagi review versi lain yang lebih personal ;)

Dok. Pribadi
Sesuai dengan judulnya, buku ini memang berbentuk kumpulan surat yang ditulis Grace untuk putri semata wayangnya, Aubrey Naiym Kayacinta. Surat-surat tersebut mulai ditulis sejak usia kandungannya 34 bulan. Layaknya ibu-ibu yang sedang hamil besar, ada rasa letih yang mendera, namun terdapat lebih banyak rasa syukur.
Terima kasih, Anakku, kamu tumbuh di rahimku dan bukan di rahim wanita lain. Terima kasih untuk tiap tawa dan tangis yang sudah dan akan kita lalui bersama. (Halaman 18)
Perasaan bahagia ketika Aubrey, yang biasa dipanggil Ubii, lahir dua tahun yang lalu, berganti menjadi perasaan khawatir saat dokter menyatakan bahwa ada kemungkinan jantung Ubii bermasalah. Perkiraan dokter ternyata benar. Hasil tes Echocardiography menunjukkan bahwa terdapat kebocoran pada jantung Ubii.

Masalah tidak berhenti sampai di situ. Grace dibuat bingung dengan sikap Ubii yang selalu rewel. Badannya pun sering terlihat kaku seperti mengejang. Lalu puncaknya, ketika Grace dan suaminya sengaja meletuskan beberapa balon di telinga Ubii saat putrinya itu sedang tidur, tetapi Ubii sama sekali tidak terganggu…. Rupanya, hasil tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) menunjukkan bahwa Ubii baru bisa mendengar suara di frekuensi 105 dB, yaitu setara dengan suara pesawat! Kesedihan yang dirasakan Grace semakin menumpuk karena kemampuan motorik Ubii juga belum berkembang.

Dokter anak menyarankan agar Ubii melakukan USG otak. Hasilnya, terdapat bercak-bercak putih di otak Ubii. Akhirnya semua jawaban atas kondisi Ubii terjawab setelah dilakukan tes darah. Ubii positif terkena congenital rubella syndrom. Hal ini terjadi karena Ubii terinfeksi virus Rubella saat masih berada di dalam kandungan.

Syukurlah, Grace akhirnya menemukan dokter yang tepat untuk Ubii. Setelah melalui berbagai macam tes, kini hari-hari Grace dan Ubii diwarnai dengan sesi fisioterapi yang melelahkan. Setiap hari, Ubii juga harus menelan bermacam-macam obat. Tidak mudah, namun tetap harus dijalani. Apalagi, Rubella juga menyebabkan Ubii mengalami mikrosefalia (ukuran kepala kecil), encephalitis (pengapuran otak), TB paru, dan gangguan berat badan.

Sudah terbayang kan? Kumpulan surat ini memang bukan kumpulan surat biasa, karena dipersembahkan untuk anak istimewa dari ibu yang juga istimewa. Surat-surat ini disusun oleh Grace sebagai bukti bahwa cintanya kepada Ubii begitu besar.
Mommy hopes by reading them someday, you will realize just how much Mommy loves you, just the way you are, not more and not less. (Halaman 90)
Butuh waktu lima bulan bagi Grace untuk mengetahui penyakit Ubii. Dokter-dokter sebelumnya selalu mengatakan bahwa Ubii baik-baik saja. Untungnya, dia menyadari bahwa ada yang tidak beres pada tumbuh kembang putrinya. Dia pun terus mencari tahu hingga akhirnya bisa menemukan dokter yang tepat. Saya menyadari bahwa tidak ada ibu yang sempurna, tapi semua ibu harus selalu peka terhadap tumbuh kembang anaknya. Seperti Grace yang tidak berhenti berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ubii.

Membaca lembar demi lembar surat-surat dalam buku ini serasa menyaksikan secara langsung perjalanan Grace dan Ubii yang penuh warna. Penuturannya yang begitu jujur, membuat saya seakan sedang membaca buku harian Grace. Padahal buku ini bukanlah buku diary tempat dia mencurahkan isi hatinya. Tetapi saya dapat merasakan setiap gejolak perasaan yang dialaminya. Termasuk ketika orang-orang menatap kasihan atau berkomentar negatif pada Ubii yang menggunakan alat bantu dengar.
Mami nggak mengira akan melihat Ubii ditunjuk-tunjuk dengan jelasnya seperti itu di depan Mami dan Papi. Mami marah. Mami sakit hati. (Halaman 135)
Rasanya miris sekali membaca bagian itu. Orang tua yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anaknya, justru tidak menunjukkan sikap empati ketika berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus :( Yuk ah, kita latih diri untuk berempati, karena kita juga harus mengajarkan anak-anak kita untuk terbiasa berempati pada keadaan orang lain. Bagaimana caranya? Saya jadi teringat pada sebuah artikel yang baru saya baca beberapa minggu yang lalu.
As a mother of a child who looks different, this is my plea to you:If you are the parent whose child says another child looks funny or scary, don't simply say, "That isn't a nice thing to say." While you are right, it's not nice, simply saying that and walking away still isolates my child. The next time follow that statement up and tell your child, "I'm sure he's a very nice boy, let's go meet him." Please, come introduce yourself and ask my child's name. (Sumber)
Buku ini juga bukan buku pedoman kesehatan. Tetapi, dari buku ini saya mendapat banyak pengetahuan mengenai seluk beluk penyakit Rubella. Betapa pentingnya para calon ibu untuk melakukan screening TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes) dan vaksinasi MMR. Grace juga membagikan pengalamannya terkait latihan motorik dan pendengaran Ubii, serta beberapa ahli yang dapat dijadikan sebagai rujukan.

Yang pasti, buku ini juga bukan buku motivasi, tetapi saya mendapat begitu banyak inspirasi. Bagaimana Grace tidak menyia-nyiakan waktunya untuk menangis dan terpuruk. Setelah merenung dan menenangkan pikiran, dia dan suaminya mulai bangkit untuk memperjuangkan kesembuhan Ubii. Tidak hanya itu, Grace juga mendirikan Rumah Ramah Rubella, sebuah komunitas di mana setiap orang tua dengan anak congenital rubella syndrom bisa saling berbagi dan menyemangati.
Mami juga berharap kelak Rumah Ramah Rubella dapat membantu meringankan biaya pengobatan dengan mencarikan donatur karena pengobatan anak dengan congenital rubella syndrom sama sekali nggak bisa dibilang murah. (Halaman 189)
Sumber
Selain karena semangat berbaginya yang begitu besar, saya juga merasa malu sekali mendapati bahwa di rumahnya, Grace begitu tekun melatih kemampuan pendengaran dan motorik Ubii. Permainan-permainan edukatif yang dia sediakan untuk Ubii, tidak memerlukan biaya yang mahal. Semuanya dibuat dari bahan-bahan yang ada di rumah. Kreatif! Semangat Grace ini memang patut dicontoh. Karena itulah, beberapa bulan terakhir, saya juga mulai menyediakan permainan-permainan edukatif yang murah meriah untuk Jav di rumah :D

Sumber
Cara bertutur ibu muda yang pernah menjadi narasumber dalam acara televisi "Kick Andy" ini begitu mengalir dan ringan. Sembilan puluh dua surat yang ditulis Grace tersebut, ditutup secara sempurna dengan surat mengharukan yang ditulis oleh suaminya.
Ubii sudah mengubah Papi jadi manusia yang lebih baik. Selanjutnya adalah tugas Papi untuk mengubah diri Papi menjadi lebih dari itu. Untuk Ubii. (Halaman 266)
Buku ini memang terasa sangat 'kaya'. Saya sangat merekomendasikannya bagi siapa saja, tidak terbatas pada orang tua dengan anak congenital rubella syndrom, tetapi juga untuk semua orang tua dan calon orang tua. Kalaupun terdapat kekurangan pada buku ini, bukan pada isinya, tetapi lebih pada cara penyajiannya:
  • Tidak semua surat mencantumkan tanggal pembuatannya. Menurut saya, surat tanpa tanggal itu seperti menulis kalimat yang huruf 'i'-nya tidak menggunakan titik. Walaupun kita dapat memahami maksud kalimat tersebut, tetap saja rasanya ada yang kurang karena tidak ada titik di atas huruf 'i'. Begitu juga dengan surat tanpa tanggal. Sebenarnya tidak terlalu signifikan, karena saya masih bisa membayangkan dengan mudah rentang waktu dari surat yang satu ke surat selanjutnya. Tetapi tetap saja rasanya ada yang kurang hihihi….
  • Foto-foto yang ditampilkan dalam buku tidak dicetak berwarna. Sayang sekali. Kalau fotonya berwarna, pasti wajah Ubii yang manis dan berbagai permainan sensory play yang diceritakan, akan terlihat lebih jelas dan menarik. Semoga di buku cetakan berikutnya, foto-fotonya dicetak berwarna. Tidak perlu semua halaman, cukup halaman-halaman yang ada fotonya saja ;)
Rating

Special Note
Thank you Mami Grace atas bukunya yang sangat menginspirasi ini….

With love,
Your inspired reader

Sumber
~~~


Read more >>

Thursday, October 2, 2014

Resensi Letters to Aubrey @ Koran Jakarta

Alhamdulillah…. Setelah beberapa kali mengalami penolakan serta mendapatkan kritik membangun dari redakturnya, resensi saya dimuat lagi di Rubrik Perada Koran Jakarta edisi 30 September 2014. Dengan banyak editan, tentunya.

Versi cetak (Dok. Pribadi)
Judul awalnya 'Menjadikan Kelemahan Sebagai Sumber Kekuatan', diedit menjadi 'Mengubah Kelemahan Menjadi Sumber Kekuatan'. Isinya merupakan resensi dari buku 'Letters to Aubrey', kumpulan surat yang berisi tentang pengorbanan dan harapan seorang ibu untuk putrinya yang berkebutuhan khusus akibat terinfeksi virus Rubella. Buku yang sarat akan cinta ini ditulis oleh Grace Melia dan diterbitkan oleh Stiletto Book pada bulan Mei tahun 2014.

Versi online (Dok. Pribadi)
Versi online-nya bisa dibaca di sini :)

Dari beberapa penolakan sebelumnya, serta dari kritik yang saya dapatkan, agar resensi bisa dimuat di Koran Jakarta itu harus:
  • Meresensi buku dengan tebal minimal 200 halaman.
  • Teliti. Jangan sampai salah memasukkan informasi yang terkandung di dalam buku.
  • Gunakan kalimat-kalimat netral. Berbeda dengan menulis review di blog, jangan terlalu melibatkan emosi dalam menulis resensi untuk media cetak.
  • Patuhi syarat minimal jumlah karakter yaitu 4000 karakter (walaupun selama ini saya mengamati resensi yang dimuat biasanya berkisar antara 3000-4000 karakter).
  • Kreatif. Hindari pengulangan kata, sehingga tidak membosankan.
Masih harus banyak belajar meresensi buku nih ;)

Read more >>

Sunday, December 23, 2012

Baby Blues



Judul: Baby Blues 1: Siaga Satu Anak Pertama dan Baby Blues 2: Dimana Zoe? 
Penulis: Rick Kirkman & Jerry Scott
Penerbit: Buah Hati Books
Tebal/Ukuran: 124 halaman / 21x21 cm
Jenis Cetak : Soft cover/ Bookpaper
Harga: @ Rp 33.000


Kalau buku-buku parenting yang lain berisi teori-teori, buku yang ini berbeda karena isinya berbentuk komik yang sangat menghibur. Baby Blues merupakan komik parenting yang sangat terkenal di Amerika. Komik ini sudah terbit sejak Januari 1990, dan sampai sekarang masih dimuat di harian New York Times. Sayangnya, di Indonesia baru terbit dua buku saja.


Baby Blues bercerita tentang Darryl dan Wanda. Mereka adalah pasangan kelas ekonomi menengah yang baru mempunyai anak perempuan bernama Zoe.


Yang saya kurang suka dari buku ini:

  • Cetakannya buram dan kurang tajam
  • Bilingual, namun terdapat beberapa slank Bahasa Inggris yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia secara kurang tepat. Jadi saya lebih suka membaca versi Bahasa Inggrisnya.
Secara keseluruhan buku ini benar-benar menghibur, apalagi ceritanya kurang lebih sama dengan yang saya alami (dan mungkin juga orang tua lain).
  • Pada buku pertama, setelah Zoe lahir, kehidupan Darryl dan Wanda berubah 180 derajat. Digambarkan bagaimana mereka jungkir balik untuk beradaptasi. Tidak ada lagi tidur malam yang nyeyak dan tidak ada lagi tubuh yang terawat. Digambarkan juga bagaimana repotnya bepergian membawa bayi dan semua perlengkapannya, serta sulitnya bermesraan dengan pasangan hihihi.
  • Pada buku kedua, Zoe sudah berusia 7 bulan. Dia mulai merangkak dan belajar makan. Darryl dan Wanda sudah mulai bisa beradaptasi, namun muncul masalah baru diantaranya yaitu panik memikirkan biaya pendidikan dan dilema untuk kembali bekerja atau tidak.
Membaca buku ini, selain puas menertawakan Darryl dan Wanda (juga menertawakan diri sendiri), membuat saya merasa lega karena ternyata saya tidak sendiri. Karena sebanyak apa pun orang tua mempersiapkan diri, mereka tidak pernah bisa benar-benar siap, selalu saja ada hal tidak terduga yang muncul sepaket dengan makhluk mungil yang disebut bayi ini. Maka belajar menjadi orang tua adalah proses yang tidak pernah berhenti.

Buku ini bagus dibaca oleh semua kalangan, baik oleh:

  • Seorang single yang belum menikah
  • Pasangan yang sedang menanti kelahiran anak
  • Pasangan yang baru saja mendapatkan anak
  • Atau orang tua yang sedang stres jenuh dan butuh hiburan seperti saya :D
Semoga lanjutan dari komik ini bisa segera terbit :)

~~~~~

Review buku ini diikutsertakan dalam "2012 End of Year Book Contest".


Photobucket
Read more >>

Saturday, December 15, 2012

Mendidik Anak Itu Mudah

Membaca judul di atas, pasti membuat para orang tua ingin mengeroyok saya, hehehe. Tapi memang begitulah kesimpulan yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Tenang, yuk baca dulu review-nya.


Judul: Mendidik Anak Sesuai Fitrah
Nama penulis: Sri Rahayu
Penerbit: Puspaindah Publisher
Tahun: 2011
Harga: Rp 25.000

Buku setebal 90 halaman ini ditulis oleh seorang wanita yang mempunyai latar belakang pendidikan parenting di Jepang. Beliau merupakan Ketua Yayasan Puspaindah sekaligus menjadi pembina dan pendamping di beberapa TK yang menggunakan metode Islamic Montessori. Melalui buku ini, beliau berharap dapat menjawab kegelisahan para orang tua akan arah pendidikan anak-anaknya khususnya pada masa golden age (0-5 tahun). Tau aja nih saya sedang galau tentang pendidikan Jav hihihi.

Di bagian prolog, disebutkan bahwa banyak muslim dan muslimah yang memperdalam ilmu tentang mendidik anak dari dunia Barat. Padahal sebenarnya tuntunan seputar ilmu mendidik anak telah diberikan Allah melalui Al-Quran dan Sunnah. Konsep pendidikan Montessori yang disuarakan oleh para ilmuwan Barat, ternyata banyak yang sudah diajarkan melalui Al-Quran dan Sunnah tersebut. 

Poin-poin yang dibahas di dalam buku ini adalah:

Mendidik anak sesuai fitrah

  • Allah SWT telah menciptakan manusia dengan fitrah pembawaan bakat belajar dan mandiri. Manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Pada bagian ini dijelaskan tahapan periode sensitif pada anak. 
  • Beberapa tugas orang tua terhadap anak diantaranya adalah melindungi, mengarahkan, mempunyai kreativitas dan berwawasan luas, serta menanamkan aqidah sesuai syariah Islam. 

Konsep pendidikan sesuai fitrah 

  • Sebagai pendidik dan guru pertama anak, orang tua harus menunjukkan ketauladanan yang baik. 
  • Orang tua harus memahami karakter anak, yaitu unik, memiliki otak yang dapat menyerap informasi, selalu ingin belajar, dan belajar melalui bermain. 
  • Anak harus belajar melalui tahapan. Dimulai dari konsep yang sederhana sampai yang sulit melalui latihan dan perlu diulang-ulang, serta diberikan contoh dan penjelasan. 
Bagaimana anak bermain
  • Tidak ada satupun permainan anak yang tidak ada unsur belajar. Di bagian ini dijelaskan bagaimana cara orang tua memfasilitasi anak untuk bermain. Dan sebagai pelengkap, diberikan juga berbagai contoh permainan keterampilan hidup yang mengajarkan kemandirian, konsentrasi, koordinasi, dan motorik.
Menurut saya, buku ini sangat bagus untuk dibaca sebagai pengetahuan dasar dalam ilmu parenting sebelum membaca/mempelajari berbagai metode parenting lainnya.

Yang paling mengena di hati dan pikiran saya dari buku ini adalah bahwa karakter anak pada masa golden age memiliki otak seperti spons, membuat dia akan merekam, menyerap, dan mempraktekan apa yang dilihatnya. Inilah yang saya maksud dengan mendidik anak itu mudah. Karena tanpa perlu diajarkan, seorang anak dengan sendirinya akan meniru kebiasaan orang-orang di sekelilingnya (orang tua dan atau pengasuh). Saya tidak pernah mengajarkan anak saya mematikan televisi apabila sudah selesai menonton, membuang sampah, menyimpan sepatu di tempatnya, atau 'ikut-ikutan' mengambil wudhu, sholat, dan membaca Al-Quran. Semua dia lakukan atas kehendaknya sendiri setelah melihat kebiasaan orang-orang di sekelilingnya (orang tua dan keluarga). Di bawah ini video Jav (23 bulan) sedang membaca mantra 'ikut-ikutan' membaca Al-Quran. Maaf gambarnya jelek, yang ngerekamnya (saya) masih amatir hehe.

Sebagai orang tua, saya merasa yang sangat tidak mudah justru selalu memperbaiki kualitas diri agar dapat menjadi teladan yang baik bagi anak, sehingga apa yang terserap pada otaknya adalah hal-hal yang baik. Serta mendidik diri sendiri agar menjadi orang tua yang kreatif dan berwawasan luas, sehingga tumbuh kembangnya optimal.

~~~~~

Review buku ini diikutsertakan dalam "2012 End of Year Book Contest".


Read more >>