Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Friday, April 30, 2021

Review: Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

perempuan yang menangis kepada bulan hitam

Identitas Buku
Judul: Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam
Penulis: Dian Purnomo
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: pertama, 2020
Tebal: 320 halaman
ISBN: 9786020648453
Harga: Rp 93.000

Dibaca
14-21 April 2021

Jalan Cerita
Magi Diela, seorang pegawai honorer di Dinas Pertanian Waikabubak, tiba-tiba menghilang. Rencananya, hari itu Magi akan memberikan penyuluhan pertanian ke Desa Hupu Mada. Namun dalam perjalanan ke sana, dia diculik dan dibawa menggunakan mobil pickup yang biasa digunakan untuk membawa hewan ternak.

Pada awalnya, Magi berusaha melawan. Sayangnya, tenaga perempuan mungil ini enggak sebanding dengan lima laki-laki muda yang menculiknya. Sebagai balasannya, dia malah mendapatkan pelecehan seksual.

Magi Diela merasa sangat rendah layaknya seekor binatang. (Halaman 42)

Di sepanjang jalan, Magi enggak berhenti memikirkan siapa yang berada di balik penculikan ini. Ketika mobil memasuki Patakaju dan terdengar sambutan kemenangan bagi seseorang di kampung ini yang telah berhasil mendapatkan perempuan untuk dikawininya, Magi mulai mengingat Leba Ali.

Rasa takut dan marah berlomba-lomba menempati pikiran Magi. Dia takut karena tahu kekuatan Leba Ali. Kedekatan lelaki itu dengan orang-orang berkuasa, harta yang dimilikinya, sekaligus kegenitannya. (Halaman 44)

Magi ditarik turun dari mobil, kemudian seorang perempuan menghampiri dan memercikkan air ke wajahnya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi rileks dan dia enggak mengingat apa-apa lagi.

Ketika bangun, seluruh tubuh Magi terasa sangat sakit. Setelah perlahan menyadari semuanya, dia pun meraung dan berteriak begitu kencang sampai tenaganya habis. Ibu Leba Ali datang dan mencoba menghiburnya.

"Ko su ada di tempat aman. Kami semua adalah keluarga."
"Sa tidak akan kawin deng laki-laki yang kasih culik sa."
"Kalau ko tidak mau kawin deng Leba Ali, tidak ada laki-laki lain yang mau deng ko."
"Biar saja."
"Ko su tidak perawan lagi."
(Halaman 51)

Tentu saja Magi merasa sangat marah dan jijik. Dia diperkosa dalam keadaan enggak sadar, sudah begitu dipaksa menikah dengan pemerkosanya pula.

Review
Dari beberapa buku bertema perempuan inspiratif yang ingin saya baca dan review di bulan ini, akhirnya pilihan saya jatuh pada Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. Selain tertarik karena review-nya yang bagus (rating 4,65 di Goodreads) dan desain sampulnya yang cantik (berwarna merah muda dengan lukisan yang artistik), saya juga penasaran karena temanya yang sangat unik dan ditulis berdasarkan kisah nyata.

Yup, cerita ini benar-benar terjadi di Sumba. Penulis membuat cerita ini berdasarkan pengalaman yang didengarnya ketika mendapatkan kesempatan residensi dari Komite Buku Nasional dan Kemendiknas untuk tinggal selama enam minggu di Waikabubak. 

Lalu kesimpulannya? Memang sangat bagus dan menginspirasi, tapi hati ini rasanya teriris-iris. Bahkan ketika membuat tulisan ini pun, saya terus menghela napas.

Eh, belum apa-apa sudah membahas kesimpulan. Tenang, akan saya bahas semuanya kok.

Kematian adalah kepastian, ada yang membiarkan kedatangannya menjadi misteri, ada yang menjemputnya dengan paksa. Magi Diela mencoba menjemput kematian dengan menggigit pergelangan tangannya sendiri sampai robek, berharap nadinya terkoyak dan darah menetes habis segera. (Halaman 7)

Novel ini dimulai dengan paragraf pembuka yang to the point, langsung menuju pada inti cerita. Tanpa banyak berbasa-basi dan menghadirkan adegan yang enggak perlu, penulis menunjukkan konflik yang terjadi pada Magi. Saya dibuat ngilu, tetapi juga penasaran mengapa Magi sampai nekat berbuat seperti itu.

Selanjutnya dengan alur maju dan sedikit adegan flashback di beberapa bab awal, saya akhirnya mengetahui apa penyebabnya. Bagaimana Magi tiba-tiba menghilang dan membuat keluarganya di Kampung Karang kebingungan, serta bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya menimpa Magi.

Yappa mawine atau kawin tangkap.

"Sa sebagai wakil dari keluarga Leba Ali ada datang untuk menyampaikan kabar bahagia. Ama punya anak nona, Magi Diela Talo, ada di kami punya rumah. Kami punya adik, Leba Ali, Sarjana Pendidikan, ada keinginan untuk ambil anak nona sebagai istri." (Halaman 18)

Ya, Magi diculik, ditangkap, dan 'dijinakkan' untuk dikawini oleh Leba Ali, lelaki beristri yang mata keranjang dan sudah mengincar Magi sejak gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Yappa mawine merupakan tradisi dalam adat Sumba yang masih bertahan hingga saat ini. Sayangnya, praktiknya semakin melenceng dari budaya aslinya.

Semua adegan dalam novel ini memang berada di Sumba sebagai latar tempatnya. Penulis cukup detail menggambarkan berbagai keadaan di Sumba, sehingga saya bisa dengan mudah membayangkan bagaimana suasana di sana. Melengkapi deskripsi tersebut, penulis juga menyelipkan beberapa foto. Bonus yang menyenangkan. Tetapi sayang, warnanya hitam putih.


Wawasan saya tentang Sumba pun bertambah, terutama mengenai kehidupan masyarakat adatnya. Di satu sisi, memang sudah modern. Bisa diketahui dari para tokohnya yang menggunakan gawai, internet, dan Whatsapp untuk berkomunikasi. Namun di sisi lain, budaya dan adat istiadatnya pun masih sangat kuat. Bisa dilihat dari kepercayaan yang dianut, ritual-ritualnya, upacara adat, rumah adat, dan lain-lain. Termasuk acara adat wulla poddu (bulan hitam) yang diambil menjadi judul dalam novel ini.

Dari penggambaran tersebut, saya menangkap bahwa status perempuan dalam masyarakat adat Sumba dianggap lebih rendah. Di dalam rumah adat, ada ruang pamali di mana perempuan enggak bisa menginjakkan kakinya di sana. Perempuan hanya boleh masuk rumah melalui pintu samping. Perempuan harus selalu mengalah, enggak boleh melawan. Begitu juga dalam proses kawin tangkap, kesepakatan dan penentuan jumlah belis (mahar) dilakukan antar keluarga penculik dengan keluarga perempuan, tanpa melibatkan perempuan itu sendiri.

Ama sayange,
Sa minta maaf karena sudah menjadi anak perempuan untuk Ama. Seandainya sa lahir sebagai laki-laki, mungkin cerita kita akan berbeda.
Sekarang semua di tangan Ama. Cuma Ama yang bisa kasih selamat sa. Perkawinan ini adalah urusan laki-laki, jadi Ama sa yang bisa hentikan atau teruskan urusan ini.
(Halaman 69)
 
Suasana Sumba sebagai latar tempat di novel ini semakin terasa kental karena penulis menggunakan bahasa daerah Sumba dalam percakapan yang diucapkan oleh para tokohnya. Enggak perlu khawatir bingung, karena ada catatan kaki yang menjelaskan arti dari kata atau istilah dalam bahasa daerah tersebut. Setelah membaca seperempat bagian novel, saya pun mulai terbiasa dengan dialog khas Sumba.


Meski tinggal di Sumba, dibandingkan perempuan lain, pemikiran Magi memang lebih terbuka. Wajar, karena dia pernah kuliah di Jogja. Setelah mendapatkan gelar Sarjana Pertanian, Magi kembali ke Sumba untuk memajukan pertanian di tanah kelahirannya. Makanya, ketika menjadi korban kawin tangkap, Magi enggak mau menerima begitu saja. Dia berusaha untuk melawan bagaimanapun caranya.

Saya salut sekali dengan sikap yang dimiliki Magi. Begitu manusiawi. Sebagai perempuan, dia marah dan kecewa kepada ayahnya. Namun sebagai anak, dia juga masih begitu mencintai dan menghormati lelaki itu. 

Selain Magi sebagai tokoh utama, terdapat beberapa tokoh pendukung di dalam novel ini. Ada Leba Ali, Ama Bobo (ayah Magi), Ina Bobo (ibu Magi), Rega (kakak Magi), Tara (sahabat dan kakak ipar Magi), Dangu (sahabat Magi), Mama Mina, Bu Agustin, dan lain-lain. Semua tokoh tersebut memiliki karakter yang kuat dan berperan dalam membangun jalan cerita.

Ama Bobo dan Dangu adalah dua tokoh laki-laki yang paling dekat dengan Magi. Rasanya sedih sekali mendapati mereka enggak bisa melindungi Magi. Demi nama baik keluarga dan menjunjung tinggi adat istiadat, Ama Bobo menerima lamaran dari Leba Ali. Padahal sebelumnya Magi yakin sekali ayahnya berbeda dengan ayah teman-temannya. Buktinya, ayahnya rela menjual tanah demi menyekolahkan Magi ke Pulau Jawa.

Begitupun dengan Dangu. Meski sangat ingin, dia enggak bisa berbuat lebih banyak untuk membantu menyelamatkan Magi karena dibatasi oleh suku dan adat. 

Mengapa perbuatannya menyelamatkan sahabat sendiri dianggap dosa sementara perlakuan bejat Leba Ali dianggap memuliakan adat? (Halaman 121)

Tema novel ini memang berat, jumlah halamannya pun cukup tebal. Namun jalan cerita yang enggak terlalu rumit, tempo yang cepat, dan terbagi ke dalam 57 bab yang singkat (masing-masing babnya hanya terdiri dari 4 hingga 8 halaman), membuat novel ini menjadi sangat mudah untuk diselesaikan. Rasanya enggak ingin berhenti untuk membalik setiap halamannya. 

Ditambah lagi, konflik yang dialami Magi benar-benar mengaduk-aduk perasaan saya. Walau menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis secara lihai berhasil membuat saya turut merasakan emosi yang dialami oleh Magi. Takut, tak berdaya, marah, kecewa, sedih, bimbang, tegang, dan lain-lain. Dengan segala emosi tersebut, enggak ada kesempatan untuk merasa bosan.  

Novel dengan label 17+ ini memang mengandung beberapa adegan kekerasan fisik dan seksual. Makanya, pada buku cetakan terbaru, sudah dilengkapi dengan tulisan 'Trigger Warning' di sampulnya.

Untungnya, perjuangan yang dilakukan Magi berbuah manis. Setelah adegan menegangkan dan aksi 'gila' Magi pada puncak konflik, novel ini ditutup dengan ending yang cukup memuaskan. 

"Dong terlalu gila untuk dilawan." (Dangu, halaman 248)
"Sa lebih gila dan juga tidak bisa dilawan.” (Magi, halaman 309)

Rating
Empat setengah dari lima bintang.

Magi memang tokoh fiksi dan Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam pun hanya cerita fiksi. Namun kawin tangkap benar-benar terjadi. Membayangkan di Sumba sana masih ada perempuan yang masih menjadi korban kawin tangkap, rasanya sakit sekali hati ini. Nyeseuk....

Makanya, enggak salah saya memilih Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam untuk review buku bertema perempuan inspiratif. Perkembangan karakter dan perjuangan Magi sang tokoh utama, memang sangat menginspirasi. Segala cara dia lakukan demi mendapatkan kemerdekaan dan harga dirinya, haknya yang dirampas dengan mengatasnamakan adat istiadat.

Magi bertransformasi dari perempuan tak berdaya yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, menjadi perempuan yang lebih kuat dan berani dengan melakukan usaha yang lebih cerdas, agak nekat, dan menurut saya sangat 'gila'. Pengorbanan tersebut dia lakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk semua perempuan Sumba. 

Wahai leluhur, ini rasanya tidak adil, tapi akan sa jalani. Berhenti membuat kami merasa seperti barang, yang bisa ditukar dengan hewan, yang dihargai hanya karena kami pung rahim. (Halaman 147)

Penulisnya pun, Dian Purnomo, lebih menginspirasi. Melalui buku ini, beliau menunjukkan perlawanannya terhadap tradisi kawin tangkap di Sumba. Dikemas secara apik dalam bentuk cerita fiksi, pesan dan kritik di dalamnya tersampaikan dengan baik. Two thumbs up....

Semoga cerita yappa mawine yang saya dengar tahun lalu, tidak akan pernah terjadi lagi. (Catatan Penulis)
~~~

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan April.
Tema: Review Buku Perempuan Inspiratif



Read more >>

Monday, April 22, 2019

Pengumuman Pemenang Giveaway: Diary Gamophobia

Terima kasih banyak ya buat teman-teman yang sudah meramaikan giveaway novel Diary Gamophobia. Kini saatnya saya mengumumkan siapa pemenang yang beruntung. 

So, langsung saja ya. Saya sampaikan selamat kepada...

Bety Kusumawardhani

Silakan segera mengirim biodata (nama, alamat lengkap, dan nomor telepon) ke email sweet_donath@yahoo.com dengan subjek "Pemenang Giveaway Diary Gamophohia", paling lambat tanggal 24 April 2019.


Read more >>

Monday, April 15, 2019

Blogtour dan Giveaway: Diary Gamophobia


Detail Buku
Judul: Diary Gamophobia
Penulis: Liana Safitri
Editor: Diara Oso
Penerbit: Laksana
Cetakan: pertama, 2019
Tebal: 256 halaman
ISBN: 978-602-407-518-7
Harga: Rp 65.000

Blurb
Terlahir dari keluarga yang tak bahagia, Anna memutuskan untuk tidak menikah. Ia bertekad untuk membesarkan dan membahagiakan Sasa, anak mendiang sahabatnya. Suatu ketika ia bertemu Tony, pria yang mengantarkan Sasa pulang dari sekolah. Pertemuan itu tanpa terduga terus berlanjut. Sasa pun merasa sayang pada Tony, bahkan mengakuinya sebagai "papa"-nya di depan teman-teman sekolah. Baik Anna maupun Tony menyadari, ada sesuatu yang mulai berubah. Namun, trauma di masa lalu masih membayangi.

Review
Bagaimana apabila teman-teman melihat seorang anak kecil sedang menangis di pinggir jalan? Langsung berhenti dan menanyakan rumahnya, itulah yang dilakukan Anthony saat dia melihat anak TK menangis kebingungan di pinggir jalan. 

Awalnya Sasa ketakutan dan menolak, namun melihat ketulusan hati Tony, dia pun mau menerima bantuan Tony untuk mengantarnya pulang ke rumah. Dengan sedikit petunjuk, akhirnya Tony dapat menemukan rumah Sasa.

Setelah menunggu beberapa lama dan melalaikan janji dengan kliennya, akhirnya Tony bertemu dengan Mama Sasa, Anastasia yang panik karena telat menjemput Sasa. Tony tidak menyangka bahwa Mama Sasa masih sangat muda.

Karena mobilnya mogok, Tony menerima tawaran Anna untuk minum teh di rumahnya. Berkat hal tersebut, Tony mengetahui hobi Anna yang suka melukis. Merasa tertarik dengan lukisan Anna, Tony pun menawarkan untuk menjual lukisan-lukisan tersebut di galeri miliknya. 

Sejak saat itu, hubungan mereka bertiga semakin dekat. Sasa yang membutuhkan figur seorang ayah, Anna yang sibuk mengurus Sasa seorang diri, dan Tony yang memang menyayangi Sasa, membuat mereka sering berinteraksi.

Sudah dapat melihat ke mana arah jalan ceritanya kan? Sasa sangat senang dengan kehadiran Tony dan menyebut Tony sebagai 'Papa' di hadapan teman-teman sekolahnya. Selain menyayangi Sasa, Tony pun memiliki perasaan khusus pada Anna. Sebenarnya Anna juga mulai merasakan sesuatu pada Tony, namun dia melawan perasaan tersebut. Yup, sesuai dengan judul novel ini, Anna memiliki gamophobia, takut menikah.

"Aku tidak tahu kenapa kamu selalu melukis orang secara terpisah. Ini menyedihkan! Apakah mereka tidak bisa berada dalam satu bingkai yang sama? Berbagi tempat yang sama?" (Halaman 174)

~~~

Diary Gamophobia ini diawali tanpa prolog yang dramatis atau pancingan yang biasanya membuat pembaca pesaran. Walau begitu, novel ini dibuka dengan manis melalui cerita pertemuan antara Tony dan Sasa. Tanpa banyak berbasa-basi, pembaca langsung dihadapkan pada pemicu masalah.

Ada tiga tokoh utama dalam novel ini. Pertama Anna, seorang gadis muda yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis, kini bekerja sebagai pegawai pabrik boneka rumahan. Kedua Sasa, seorang gadis kecil anak angkat Anna, ayahnya pergi begitu saja dan ibunya sudah meninggal. Serta Tony, seorang pria muda dan mapan pemilik galeri lukisan.

Tema mengenai gamophobia yang digunakan dalam novel ini memang unik dan menarik. Melalui alur maju dengan beberapa adegan flashback, pembaca akan ikut memahami perasaan Anna. Bagaimana masa lalu Anna yang suram masih terus membayanginya hingga kini, meski Anna sudah meninggalkan rumah dan keluarganya.

Selain Anna, kedua tokoh utama dalam novel ini juga memiliki masalahnya masing-masing. Sasa sering dirundung teman sekolahnya karena tidak mempunyai ayah. Begitu pula Tony yang mempunyai masa lalu kelam dan membuatnya sangat menyesal. Dituturkan menggunakan sudut pandang orang ketiga, saya dapat ikut merasakan emosi yang dirasakan semua tokohnya dengan mudah.

Tokoh dalam novel ini memang tidak terlalu banyak. Ada tokoh pendukung seperti Daisy teman Anna, Roy teman Tony, Bu Guru, dan Bi Inem. Mereka semua memiliki peran dan porsi yang tidak berlebihan, namun mendukung berjalannya cerita dengan pas.

Oiya, saya suka bagaimana penulis mengungkap masa lalu Anna dan Tony. Contohnya melalui adegan flashback dari diary dan cerita Bi Inem, sehingga jalan cerita terasa begitu mulus. Didukung dengan gaya bercerita yang formal namun santai, serta teknik penulisan yang rapi.

Latar tempat yang digunakan dalam novel ini adalah Bandung. Wawasan saya bertambah setelah membaca novel ini. Karena sebagai orang Bandung, saya malah baru tahu kalau di Sukamulya ada sentra pembuatan boneka. Dan saya juga baru ngeuh kalau taman di Cilaki itu namanya Taman Pustaka Bunga Kandaga Puspa, hehehe....

Diary Gamophobia adalah karya penulis yang pertama kali saya baca. Salut dengan usaha penulis menunjukkan seluk beluk gamophobia, serta memperlihatkan interaksi antara Anna dan Sasa, Tony dan Sasa, juga Bu Guru dan Sasa yang terasa begitu mengalir dan natural. Konfliknya pun cukup menguras emosi. Membaca novel ini membuat perasaan saya ikut teraduk-aduk. 

"Barangkali obat lupa atau alat penghapus ingatan buruk yang paling manjur dan canggih adalah membuat ingatan baik sebanyak-banyaknya. Dengan demikian ingatan baik itu bisa melawan lalu mengalahkan ingatan buruk." (Halaman 246)

Giveaway
Penasaran enggak sama buku ini? Ingin tahu lebih banyak tentang gamophobia? Atau ingin tahu bagaimana endingnya? Tenang.... Laksana akan memberikan 1 eksemplar buku Diary Gamophobia untuk 1 orang pembaca blog ini loh.

Persyaratannya mudah kok.
Seandainya mencintai orang yang memiliki gamophobia, apa yang akan teman-teman lakukan? 
  • Jawaban ditulis melalui komentar pada postingan ini dengan format:
Jawaban:
Nama:
Akun Instagram:
Akun Twitter:
Link Share:
  • Giveaway berlangsung pada tanggal 15 - 21 April 2019. 
  • Pemenang akan diumumkan paling lambat pada tanggal 23 April 2019.
  • Bagi pemenang, wajib foto buku hadiahnya jika sudah sampai.

Yuk, ikut dan ajak teman-teman yang lain ya ;)


Read more >>

Wednesday, February 6, 2019

Review: Psikologis Suara Hati


Detail Buku
Judul: Psikologis Suara Hati
Penulis: Ivy Rifki
Penyunting: Yogi Vinanda
Penerbit: Kaifa Publishing
Cetakan: 1, 2018
Tebal: 356 halaman
ISBN: 978-602-6611-89-5

Blurb
Di hari ulang tahunnya yang ke-21, Lintar mendapat kejutan dari Dona, perempuan yang selama ini dicintainya, namun Lintar belum berani mengatakannya. Di saat yang sama Lintar harus menerima kenyataan bahwa hidupnya berubah 180 derajat setelah kedatangan arwah Guntur. Lintar dihadapkan pada situasi yang tidak pernah dia bayangkan, dia harus rela berbagi tubuh dengan Guntur.
Erik, laki-laki yang muncul tiba-tiba, dia memegang sebuah buku yang berjudul Book of Life. Buku yang menyimpan seluruh rahasia Guntur.
Akankah Lintar berani mengatakan cintanya pada Dona? Apakah Guntur ingin mengambil alih tubuh Lintar selamanya?
Novel ini menceritakan bagaimana jalinan cinta, persahabatan, dan dendam adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari jiwa manusia.

Review
Novel ini diawali dengan prolog yang menarik dan diksi yang memikat. Tentang proses kelahiran sepasang bayi kembar. Sayangnya, mereka terlahir kembar siam. Dada mereka menyatu dan hanya memiliki satu jantung saja. Tanpa sepengetahuan istrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan operasi pemisahan dan hanya menyelamatkan salah satu dari mereka. 

Kemudian cerita dibuka dengan kisah kehidupan Lintar. Dia hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, serta bersama Dona, sahabat yang diam-diam dia sukai. Namun di hari ulang tahunnya, sebuah petir menyambar Lintar dan membuatnya hilang kesadaran. Tubuhnya pun diambil alih oleh Guntur.

Ternyata Guntur adalah kembarannya yang telah meninggal 20 tahun yang lalu. Selama menggunakan tubuh Lintar, gaya dan sikapnya sangat berbeda 180 derajat, membuat orang tua dan teman-teman Lintar kebingungan. 

Ide dari novel ini sangat unik. Memang masih ada beberapa hal yang terasa misterius. Dalam eksekusinya pun, masih ada peralihan latar dan adegan yang membingungkan karena tanpa tanda/pembatas. Namun secara keseluruhan, novel ini cukup menghibur. 

Karakter tokohnya pun cukup kuat dan konsisten di sepanjang cerita. Selain Lintar dan Guntur sebagai tokoh utama, kisah dalam novel ini semakin seru dengan kehadiran tokoh-tokoh pendukung seperti Dona, Lusi, Vega, Mike, dan lain-lain. Ternyata mereka semua memiliki masalah masing-masing sehingga novel ini menyajikan konflik yang lumayan pelik. 

Kisah dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, membuat saya dapat dengan mudah memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan para tokohnya.

Latar tempat dan latar waktu enggak terlalu dieksplor dalam novel ini. Tapi enggak masalah karena enggak mengurangi keasyikan ketika menikmati ceritanya. Apalagi membacanya sambil mendengarkan alunan gitar dan suara dari penulis. Wuih, mantap.

Novel ini diakhiri dengan ending yang enggak tertebak. Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah pesan yang tersirat di dalamnya. Tentang cinta, keluarga, dan persahabatan.

Read more >>

Wednesday, December 5, 2018

Review: Enjoy The Little Things


Detail Buku
Judul: Enjoy The Little Things
Penulis: Kincirmainan
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2018
Tebal: 518 halaman
ISBN: 978-602-04-7937-8
Harga: Rp 98.800

Blurb
Bapak adalah lelaki Jawa yang perfeksionis. Sifat Bapak ini terlihat jelas saat menyelidiki bibit-bebet-bobot calon menantu yang akan menikahi tiga anak gadisnya nanti. Yang Maharani tahu, nama baik Bapak adalah segalanya. Rani tak mau merusak itu. Lebih baik tidak menikah, kalau ternyata suatu hari nanti harga diri Bapak akan terluka karena pilihan Rani.
Namun keadaan ternyata berkata lain. Pada malam ketiga setelah putus hubungan dengan Bima, Maharani bertemu seorang pemuda yang penampilannya membuat Rani sempat meragukan kejantanannya. Hanya saja 'sesuatu' terjadi di antara mereka, khususnya dua bulan setelah pertemuan mereka itu, pasti membuat Rani akan berpikir ratusan kali jika ingin meragukan siapa pun.
'Kecelakaan' yang terjadi antara Rani dan Yudha, si pemuda feminin, membuatnya harus memperkenalkan Yudha sebagai calon menantu kepada sang Bapak.
Bapak, yang ternyata kurang menerima laki-laki berwajah mulus seperti Yudha.
Bapak, yang ternyata tidak menerima ketika orang yang akan menikahi Rani adalah lelaki yang lebih memilih membuka usaha toko kue bukan toko alat listrik atau bangunan.
Seksis memang. Terlebih latar belakang keluarga Yudha sebenarnya membuat Rani berpikir ulang jutaan kali untuk maju. Mampukah Rani menyatukan dua keluarga yang saling bertolak belakang ini dalam pernikahannya dengan Yudha?

Review
Tokoh utama dalam novel yang berjudul Enjoy The Little Things ini yaitu Maharani. Dia seorang gadis Jogja berusia 23 tahun yang sedang merantau, bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan di Jakarta. Orangnya polos,  dan ngomongnya lucu campur bahasa Jawa. Rani sangat menyayangi dan menghormati orang tuanya. Makanya, selama ini dia selalu menjaga kepercayaan dan nama baik Bapak dan Bunda meski tinggal di kota metropolitan.

Pasangan Rani dalam novel ini adalah Yudha. Di balik penampilannya yang feminim karena rajin memakai skincare, Yudha merupakan sosok pria yang bertanggung jawab, perhatian, dan super sabar. Sayang, latar belakang keluarganya membuat Yudha enggak percaya diri ketika mulai menjalin hubungan dengan Rani.

Selain Rani dan Yudha, tokoh yang memiliki peran besar dalam novel ini yaitu Bapak dan Jonah. Bapak adalah ayah Rani yang tegas dan berwibawa dengan latar belakang kehidupan Jawanya. Meski gengsian, tapi beliau sangat menyayangi Rani. Adapun Jonah adalah ayah angkat Yudha yang memiliki pemikiran lebih terbuka. Dia merupakan pemilik usaha Pie Mama yang terkenal. Kepribadiannya bisa membuat Bapak syok apabila menjadi besannya, hihihi... Seru deh.

Setting waktu yang digunakan pada novel ini yaitu masa kini. Adapun setting tempatnya sebagian besar berada di Jakarta, seperti tempat kos Rani dan kantor Rani. Selain itu ada juga setting tempat di klub malam Go-Go dan Kedai Pai Mama. Meski porsinya sedikit, namun adegan di sana cukup penting dalam menggerakkan cerita.

Deskripsi setting tempatnya enggak terlalu detail. Tapi enggak masalah, karena perhatian saya sendiri sudah cukup tersita dengan cerita yang seru dan kompleks dalam novel ini.

Novel ini dikisahkan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu dari Rani sebagai tokoh utama. Dengan begini saya bisa ikut merasakan dengan persis bagaimana naik turunnya emosi yang dialami Rani dalam kisah ini. 

Gaya bahasanya ringan dan lincah. Cara penyampaiannya pun mengalir dan enggak membosankan. Dengan latar belakang tokoh utama yang berasal dari Jogja, penulis menyelipkan beberapa kata dalam bahasa Jawa. Jadi lebih menarik. Beberapa kata ada yang diberi catatan kaki apa artinya dalam bagasa Indonesia, tapi banyak juga yang enggak. Jadi sebagai orang Sunda saya enggak mengerti apa artinya, hihihi....

Tema dari novel yang diperuntukkan bagi usia 21 tahun ke atas ini bukan hanya menarik, tetapi juga begitu unik. Dengan tebal sebanyak 518 halaman, novel ini berhasil memikat saya dalam konflik yang sangat kompleks.

Banyak pelajaran yang bisa diambil. Tentang risiko melakukan 'sesuatu' di luar nikah. Tentang tanggung jawab. Tentang menikah dan menyatukan dua keluarga. Tentang hubungan antara anak dan orang tua. Dan lain-lain.

Saya suka banget. Very recomended.

Read more >>

Friday, October 12, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Pemenang Giveaway



Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah meramaikan giveaway novel Black Leather Jacket karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dari Penerbit Twigora di blog ini. Kini saatnya saya mengumumkan siapa pemenang yang beruntung. 

So, langsung saja ya. Saya sampaikan selamat kepada...

Iput A. Futhona

Silakan segera mengirim biodata (nama, alamat lengkap, dan nomor telepon) ke email sweet_donath@yahoo.com dengan subjek "Pemenang Giveaway Black Leather Jacket", paling lambat tanggal 15 Oktober 2018.

Bagi teman-teman yang belum beruntung, enggak perlu sedih. Karena blog tour ini masih berlangsung di beberapa blog lain ;)


Read more >>

Wednesday, October 3, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Giveaway



Ini dia yang ditunggu-tunggu. Saya mempunyai 1 (satu) eksemplar buku Black Leather Jacket karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dari Penerbit Twigora untuk 1 (satu) orang yang beruntung. Caranya gampang banget.

Berikut syaratnya:
1. Memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun media sosial berikut: 
3. Share banner giveaway di bawah ini di salah satu akun media sosialmu dengan hashtag #GiveawayBlackLeatherJacket dan mention kedua akun di atas. 
5. Tulis komentar pada postingan ini dengan format:
  • Nama:
  • Akun Twitter/Instagram:
  • Link Share:
6. Giveaway berlangsung pada tanggal 3-9 Oktober 2017. 
7. Pemenang akan diumumkan paling lambat pada tanggal 12 Oktober 2017.

Yuk! Ikut dan ajak teman-teman yang lain ya :)

Selanjutnya, Blog Tour Black Leather Jacket: Pemenang Giveaway


Read more >>

Tuesday, October 2, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Review dan Photo Challenge



Detail Buku:
PENERBIT RORO RAYA SEJAHTERA
NOVEL 
Status: BKP 
BLACK LEATHER JACKET 
ADITIA YUDIS & IFNUR HIKMAH 
SC; 14 x 20 cm 
Jumlah Halaman: 370 hlm 
Bookpaper 55 gr; 
ISBN : 978-602-51290-5-6 
Harga: Rp 88,000 

Blurb:
SETIAP CINTA BUTUH REVISI 

Laura tak punya alasan untuk menyukai Aidan. Pertama, novel debut lelaki itu kini mengalahkan novel-novel Laura di rak best seller. Kedua, foto Aidan yang terpampang besar di sampul belakang novelnya semakin mempertajam kecurigaan Laura: lelaki itu hanya penulis romance (genre yang dibencinya!) bermodal tampang. Jadi, maaf deh kalau dia merasa keberatan ketika Laura dipasangkan dengan Aidan untuk proyek novel selanjutnya. Tahu apa lelaki itu soal menulis novel berkualitas? 

Semakin jauh mengenal Aidan, Laura tahu bahwa lelaki itu punya pengetahuan luas tentang thriller, genre cerita favorit Laura. Aidan bahkan hafal kutipan-kutipan Agatha Christie! Sedikit demi sedikit Laura membangun respek tersendiri untuk Aidan—dan belakangan tanpa dia sadari… cinta. 

Tapi sebelum Laura berhasil membuat Aidan tahu tentang perasaannya, lelaki itu menghilang. Membiarkan proyek menulis mereka terbengkalai begitu saja—seolah tak ada artinya. Alih-alih marah, Laura merasa sangat kecewa dengan sikapnya itu. You’re breaking my heart, Aidan, and the saddest part is… you don’t even know about it.

Review
Novel ini dibuka dengan adegan saat Aidan meminta izin pada om dan kakaknya (Richard dan Allan) untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai Chief Technology Officer di perusahaan keluarga supaya bisa fokus melakukan revisi naskah novel Black Leather Jacket. Naskah tersebut merupakan karya ibunya yang belum selesai. Oleh karena itu, Aidan diam-diam menyelesaikannya. Dan ternyata ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkannya. Richard tentu saja mengizinkan, namun Aidan harus berjanji agar segera kembali setelah novelnya terbit.

Tak disangka, rupanya Black Leather Jacket menjadi novel best seller bahkan diadaptasi menjadi sebuah film. Aidan pun sadar bahwa dia sangat menikmati hidupnya sebagai penulis. Aidan semakin mantap untuk menekuni passionnya. Namun keputusannya tersebut membuat Allan marah karena harus menanggung pekerjaan adiknya. Hal ini juga memengaruhi hubungan Allan dengan Claudia, tunangannya.
Bukan berarti selama tinggal dan mengurus bisnis keluarga dia merasa terkekang, tapi menjadi penulis jauh lebih menyenangka. Dia merasa jauh lebih hidup.
(Halaman 43)
Lalu ada Laura, penulis senior di penerbit yang sama dengan Aidan. Saat ini, dia sedang berjuang menyelesaikan naskah novelnya yang berjudul Brown Eyes Don't Lie. Sebagai Ratu Thriller, karyanya tidak perlu diragukan. Namun Mya, editornya yang baru, meminta Laura agar memasukkan unsur romance ke dalam karyanya agar kisah dalam novelnya menjadi lebih kaya.

Permintaan yang berat karena Laura tidak suka menulis cerita cinta. Hingga Mya menyarankan Laura untuk bekerjasama dengan Aidan. Tentu saja, awalnya Laura menolak. Namun lama-kelamaan akhirnya dia mau menerima bantuan dari Aidan untuk merevisi naskah novelnya. Sayangnya, saat proyek mereka belum selesai, Aidan tiba-tiba menghilang.
Brown Eyes Don't Lie adalah targetnya, tapi urusan romansa membuat penyelesaian novel itu seperti angan-angan belaka. Susah diraih dan Laura semakin lelah.
(Halaman 50)
~~~

Saya suka sekali dengan tema novel ini, sangat menarik. Tentang penulis dan naskahnya, tentang penulis dan editornya, tentang penulis dan keluarganya, pokoknya all about penulis. Bahwa di balik setiap buku yang saya baca, ternyata ada bermalam-malam lembur yang dilalui penulis, ada berhari-hari riset yang dikerjakan penulis, ada berjam-jam diskusi bersama editor, serta mungkin ada hal lain yang terpaksa dikorbankan penulis seperti Aidan yang mengorbankan keluarganya.

Selain deskripsi fisik tokohnya yang membuat mupeng, wkwkwk..., saya juga suka dengan karakter kedua tokoh utamanya yang sangat bertolak belakang. Aidan yang santai berusaha membantu Laura yang keras kepala. Interaksi di antara mereka tampak kocak di awal, namun seiring bergulirnya cerita mulai terasa serius dan menyenangkan. 

Latar tempatnya digambarkan dengan cukup detail. Memudahkan saya untuk membayangkan dunia Aidan dan Laura. Gaya bahasanya santai dan nyaman dibaca. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, saya dibawa hanyut dalam plot yang enggak tertebak dan penuh teka-teki. Iya, selain gemas dengan sikap Laura yang keras kepala, dan kesal pada Mya yang hobi memaksa hehehe..., saya penasaran sekali dengan kisah antara Richard dan Lani. 

Dulu saya sering membaca karya-karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah dalam bentuk flash fiction. Bahkan tulisan saya pernah bersanding bersama tulisan mereka dalam buku kumpulan flash fiction yang berjudul 15 Hari. Ceritanya bangga, hihihi.... Namun ini adalah kali pertama saya membaca karya mereka dalam bentuk novel. Duet pula. Keren! Enggak kentara bahwa novel ini disusun oleh 2 penulis. Memang sih ada beberapa pengulangan informasi, tapi enggak masalah.

Novel salah satu pemenang #SAS2BADBOY ini diakhiri dengan ending yang manis hingga saya pun bisa menutup buku sambil tersenyum. Saya juga merasa diingatkan lagi dengan pesan yang tersirat di dalamnya. Tentang memilih prioritas, menyayangi keluarga, dan menyelesaikan tanggung jawab.

Photo Challenge
Dalam photo challenge kali ini, saya diminta untuk menirukan gaya seperti pose di cover Black Leather Jacket. Hihihi.... Sudah mirip belum?


Read more >>

Monday, October 1, 2018

Blog Tour Black Leather Jacket: Wawancara dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah

black leather jacket

Hai! Senang sekali rasanya karena kali ini saya kembali dipercaya oleh Penerbit Twigora sebagai salah satu host blog tour novel duet karya Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah yang berjudul Black Leather Jacket. Hari pertama, saya awali blog tour ini dengan pertanyaan yang saya ajukan pada kedua penulis yang biasa disapa Iif dan Adit ini. Selamat menikmati.

ADITIA YUDIS 
Lahir dan menetap di Lampung. Mulai menulis sejak tahun 2009 dan terus belajar hingga sekarang. Penulis favoritnya adalah Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan Ted Chiang. Sejak tahun 2010 sudah beberapa bukunya yang diterbitkan, antara lain novel adaptasi skenario 7 Misi Rahasia Sophie (2014),Time After Time (2015),Senandika Prisma(2016), dan Potret (2017). 
Email:aditiayudis@gmail.com
IG/Twitter: @adit_adit. 

IFNUR HIKMAH
Pembaca di pagi hari, editor di siang hari, penulis di malam hari. Menetap di Jakarta dan berkutat dengan kehidupan remaja sepanjang hari karena tuntutan pekerjaan. Menulis agar tetap waras karena butuh menuangkan isi kepala ke dalam tulisan. Sejak 2013 sudah menerbitkan beberapa buku, di antaranya Mendekap Rasa (2013), Do Rio Com Amor (2015), Reborn (2016). Impian terbesar: interview Michelle Obama. 
Email: ifnurhikmah89@gmail.com
Instagram/Twitter: @ifnurhikmah/@iiphche 

1. Bagaimana awalnya bisa menulis novel ini berdua? Ide siapa? 

Iif: Setiap kali kita ngobrol, either itu langsung atau via chat, kita sering nyeletuk random dan kadang dari celetukan random itu bisa dijadikan ide novel, termasuk BLJ ini. Waktu itu, kita sama-sama ngefans dengan Aidan Turner, dan setelah marathon nonton Being Human bareng, tiba-tiba aja kepikiran buat menulis novel yang tokohnya terinspirasi dari Aidan Turner (hence, the name, hehe). Lalu, kita buat sinopsis bareng dan mulai menulis novel ini.

Adit: Idenya, nomor satu dari Aidan, nomor dua karena pengin menulis tentang dunia tulis menulis, yang nomor tiga adalah pengorbanan seseorang untuk impiannya. Impian atau keluarga adalah hal pelik. 

2. Apa pengalaman paling berkesan saat menyusun novel ini?

Iif: Pengalaman paling berkesan ada saat revisi, karena naskah ini sudah lama jadi revisi terasa berat #curhat. Ketika revisi, mau enggak mau harus menyelami lagi isi pikirannya Aidan dan Laura ini sambil mengira-ngira dulu perasaannya gimana ya pas nulis mereka. Rasanya kayak ketemu teman lama, catching up, cerita-cerita dan baru deh bisa kenal lagi.

Adit: Bagiku yang paling berkesan adalah proses duetnya sendiri. Ifnur adalah penulis yang aku kagumi tulisan-tulisannya. Selama menulis pun, aku benar-benar belajar banyak dari partnerku ini. Sering banget aku terkesan sendiri pas baca sebuah bagian yang kalau kutulis pasti hasilnya A, tapi di tangan Ifnur hasilnya bikin aku mikir 'kok bisa dia kepikiran seperti ini'. hehe.

3. Setelah novel ini apa akan ada novel duet lagi?

Iif: Mungkin saja, kenapa enggak? Cuma kapan dan soal apa, belum kepikiran, he-he.

Adit: Kemungkinan itu selalu ada. Ngomong-ngomong, kami masih punya satu lagi naskah kolaborasi yang belum dipinang siapa-siapa nih. Hahaha.

4. Kedua tokohnya kan berprofesi sebagai penulis, tapi kenapa judulnya Black Leather Jacket, apa hubungannya?

Iif: Ada satu detail di dalam novel ini yang lekat banget dengan kedua tokoh, yaitu black leather jacket. Jadi, kita rasa item itu cocok buat menggambarkan sosok Aidan yang jadi tokoh sentral di novel ini. Ketika baca, bakalan paham kok kenapa black leather jacket ini penting banget di cerita.

Adit: Black Leather Jacket adalah judul novel di dalam novel ini. 

5. Berhubung tokohnya penulis, apakah ceritanya juga terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis?

Iif: I wish I have love story like them, hehe. Kisah mereka pure fiksi semua, palingan beberapa detail soal pekerjaan sebagai penulis itu berkaca dari pengalaman kita, sih. Misalnya sulitnya menuangkan ide padahal di kepala tuh banyak banget yang mau ditulis, tapi pas depan laptop tiba-tiba stuck. Atau diskusi dengan editor biar ceritanya lebih greget, menuangkan hasil diskusi itu ke dalam tulisan, berkali-kali revisi, kurang lebih sama kayak apa yang kita rasa.

Adit: Sedikit-sedikit, di sana dan di sini dalam novel ini, ada pengalaman pribadi yang terselip. Ada juga keinginan dan mimpi-mimpi yang ikut tersisip. Tapi, aku enggak mau bilang di bagian mana saja. He he.

6. Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama?

Iif: Seandainya difilmkan, siapa yang cocok jadi pemeran tokoh utama? Aidan Turner as Aidan, tapi itu ketinggian, he-he. Hmm... Marthino Lio boleh deh. Kalau Laura, sejak awal kepikirannya Marsha Timothy

Adit: Ya, Aidan Turner! 

Sumber: http://www.goodhousekeeping.co.uk/news/things-you-didnt-know-about-poldark-aidan-turner

Yup, sekian hasil wawancara saya dengan Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah. Jadi penasaran nih sama Aidan Turner. Dan setelah melihat fotonya di Google, ya Tuhan, ganteng banget, hihihi....

Selanjutnya, Blog Tour Black Leather Jacket: Review dan Photo Challenge

black leather jacket

Read more >>

Sunday, September 30, 2018

Review: Song for Alice

song for alice
Detail Buku
Judul: Song for Alice
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: Rinandi Dinanta
Penerbit: Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
Cetakan: pertama, Juni 2018
Tebal: 322 halaman
ISBN: 978-602-51290-7-0
Harga: Rp 85.000

Blurb
SEPERTI APA CINTA MENINGGALKANMU ADALAH SESUATU YANG TERAMAT SULIT KAU LUPAKAN.
Bagi Arsen, pulang berarti kembali pada Alice--perempuan pertama yang mencuri hatinya dua belas tahun lalu. Sore itu adalah pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Arsen menarik Alice ke dalam pelukannya, berusaha mengingatkan perempuan itu pada sejarah mereka dulu. Namun yang membersit di benak Alice hanya sakit hati... ditinggal pergi Arsen di saat dia benar-benar jatuh cinta.
Memang benar Alice selalu merindukan Arsen. Ketertarikan di antara mereka masih memercik api seperti dulu. Namun masa lalu adalah pelajaran yang teramat berharga bagi perempuan itu. Arsen adalah orang yang membuat Alice merasa paling bahagia di muka bumi, juga yang bertanggung jawab membuatnya menangis tersedu-sedu.
Sekuat tenaga Alice mencoba menerima kembali kehadiran Arsen dalam hidupnya. Membiasakan diri dengan senyumnya, tawanya, gerak-gerik saat berada di ruanh g tengah; bahkan harus meredam gejolak perasaan atas kecupan hangat Arsen di suatu malam. Terlepas dari kenyataan Arsen membuat Alice jatuh cinta sekali lagi, ada pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: pantaskah laki-laki itu diberi kesempatan kedua?
Review
Song for Alice merupakan karya terbaru Windry Ramadhina yang diterbitkan oleh Twigora. Saya sudah jatuh cinta pada karya-karya Windry sejak membaca Montase. Setelah saat itu saya mulai membeli buku-buku Windry yang terbit sebelum Montase dan membeli buku-buku barunya sejak masa pre order, saking enggak mau ketinggalannya.

Nah, beberapa bulan yang lalu saya tahu sih ada pre order Song for Alice. Tapi entah kenapa kok enggak beli ya. Kayanya pas Rashya diare. Terus lupa deh, hiks.... Makanya senang banget waktu kemarin dipercaya oleh Mbak Rizkymirgawati dan Penerbit Twigora untuk mengulas buku ini di Instagram. Alhamdulillah....

Jadi, ada dua tokoh utama dalam novel ini. Pertama Arsen Rengga, pecinta musik rock. Usianya 24 tahun. Dua belas tahun yang lalu, ibunya yang merupakan guru piano di Lilt, Rae, meninggal. Pemilik sekolah musik tersebut, Kakek Lur, mengajaknya tinggal di rumahnya. Hingga empat tahun yang lalu, seorang produser menemukannya saat sedang tampil bersama bandnya, Looking For Charlotte. Dia pun pergi demi mencapai mimpinya.

Kini Arsen menjadi musisi rock yang naik daun. Konsernya sukses, lagunya diputar di mana-mana, penjualan albumnya bagus. Sayang, hobinya bersenang-senang dan minum-minum di pub. Kualitas musiknya pun berkurang sehingga lagu barunya mendapat komentar yang tidak menyenangkan dari seorang kritikus musik. 

Kedua Alice Lila, bukan penikmat musik rock. Usianya 22 tahun. Gadis yang serius ini senang memasang ekspresi galak, mengerutkan alis, dan memanyunkan mulut. Sejak kakeknya meninggal dua tahun yang lalu, Alice terpaksa meninggalkan kuliahnya di Manajemen UI demi mengurus Lilt.

Kini dalam kesendiriannya, dia berjuang mempertahankan Lilt yang terancam mati, murid yang berkurang, guru yang mengundurkan diri, serta tagihan yang menumpuk.

Selain Arsen dan Alice, terdapat beberapa tokoh pendukung yang melengkapi kisah ini. Ada Mar, manajer Arsen yang tegas dan efisien. Serta Len, Rik, dan O, anggota band lama Arsen, Looking For Charlotte. 

Serta tak ketinggalan beberapa tokoh tanpa nama yang ikut berperan dalam menggerakkan cerita seperti produser, pemuda kurus berkucir ekor kuda, dan pemuda bertubuh besar dengan tato di leher.

Sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya membuat Arsen memikirkan kembali hidupnya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah Kakek Lur dan Alice.

Alice enggak bisa menolak kedatangan Arsen. Apalagi Arsen banyak membantu Lilt. Mulai dari melunasi tagihan, merenovasi ruangan Lilt, turun menjadi guru gitar, hingga mengadakan konser untuk menarik murid baru bersama teman-teman lamanya, Looking For Charlotte. Namun Alice belum bisa sepenuhnya percaya pada Arsen.
"Saat ini, aku... tidak yakin bisa bergantung kepadamu."
"Kenapa? Karena aku pergi? Aku kembali, Al. Itu tidak cukup?"
"Aku tidak tahu apa kau akan tetap di sini atau... pergi lagi."

(Halaman 144)
Alice memang menyukai Arsen. Sejak mereka masih anak-anak, hingga tumbuh dewasa bersama. Maka ketika Arsen menciumnya dan berjanji enggak akan meninggalkannya lagi, dia mulai berharap dan ingin percaya.
"Apa aku bisa memercayaimu?"
"Aku pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi."

(Halaman 190)
Novel ini memiliki tema yang sederhana, yaitu tentang kesempatan kedua. Namun tentu saja penulis mengeksekusinya dengan luar biasa. Mulai dari tokoh-tokoh loveable dengan karakter unik yang kuat dan konsisten. Plot dan konflik yang enggak tertebak. Hingga musik rock yang bukan hanya sebagai pemanis cerita, namun menjadi jiwa dalam kisah Arsen dan Alice ini.

Gaya bahasanya sangat nyaman dibaca. Disampaikan dengan tempo yang sedang dan diksi yang memikat. Serta menggunakan alur maju dan beberapa adegan flashback. Deskripsi settingnya begitu detail, namun enggak membosankan dan justru membuat saya benar-benar merasa seperti berada di dunia Arsen dan Alice. 

Meski menggunakan sudut pandang orang ketiga, saya bisa tetap ikut hanyut dalam gejolak emosi yang dialami setiap tokohnya. Makanya, saat membaca kisah ini, hati saya enggak keruan. Patah hati, sedih, dan ingin teriak "Mbak Windry tega!" Hihihi.... Untungnya, penulis menutupnya dengan ending yang manis.

Rating
4,5 dari 5 bintang.

Read more >>

Thursday, September 27, 2018

Review: Intersection

intersection
Detail Buku
Judul: Intersection
Penulis: Khalinta
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2018
Tebal: 488 halaman
ISBN: 978-602-04-7903-3
Harga: Rp 86.800

Blurb
Maulana Firdhaus, seorang visual designer di salah satu kantor periklanan paling sibuk di Jakarta, kembali dipertemukan dengan orang asing yang tidak begitu saja percaya bahwa sebagai seorang perempuan, nama dia benar-benar Maulana.
Biasanya Moli kesal setiap kali ada orang yang mengernyit heran dan memastikan kebenaran namanya. Tapi kali ini berbeda. Enggara Arfan begitu memikatnya. Tampan, bertingkah gugup dan cerewet di waktu bersamaan, sekaligus seorang dokter jiwa.
Tidak ada yang menduga bahwa kesialan yang menimpa keduanya karena sebuah kecelakaan di persimpangan jalan akan membawa mereka ke hal-hal yang lebih dalam melibatkan perasaan. Berbekal kebetulan yang membuat Moli dan Ega tak kunjung menemukan alasan mengapa takdir mempertemukan mereka.
Why does this feeling, a burning desire to be with someone superspecial and very atrractive, is called as a 'crush'? Maybe because you never know when will it happened or under what circumstances two hearts could come across each other.Mungkinkah sebuah kecelakaan akan berujung pada takdir lain yang mengikat keduanya?
Meet them in intersection.

Review
Tokoh utama dalam novel ini terdiri dari dua orang, yaitu Moli dan Ega. Moli, seorang perempuan imut yang bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan advertising ini memiliki nama lengkap Maulana Firdhaus. Yup, namanya memang seperti itu dan ada alasannya kenapa bisa begitu. Makanya dia ingin dipanggil Moli.
"Biar kayak cewek." (Halaman 9)
Moli tinggal di sebuah apartemen. Dia ini mandiri dan mobilitasnya sangat tinggi. Setiap hari dia bekerja menggunakan motor yang diberi nama Si Kupi.

Lalu Ega, dokter jiwa yang memiliki nama lengkap Enggara Arfan ini super ganteng dan saleh banget. Pokoknya suami idaman deh. Dia sangat menyayangi ibunya. Perkenalannya dengan Moli diawali ketika Moli dan motornya tiba-tiba menabrak Ega dan mobilnya yang sedang parkir di pinggir jalan.

Meskipun kesal, Moli enggak bisa menutupi wajah kagumnya setiap bertemu dengan Ega. Sedangkan Ega, mulanya dia hanya merasa bersalah dan kasihan pada Moli. Namun lama kelamaan mulai tertarik juga sih. Soalnya Moli ini orangnya kocak. Tapi sayangnya enggak pedean. Apalagi saat dia mengetahui Izza, mantan pacar Ega sesama dokter jiwa yang cantik dan berjiwa petualang.

Moli memiliki sahabat yang bernama Jean. Orangnya asyik banget dan sempat membuat Ega cemburu. Kemudian ada Faya, kakak kesayangan Ega yang akhirnya menjadi roommate Moli di apartemennya. Dan masih banyak tokoh pendukung lain yang membuat kisah dalam novel ini terasa semakin seru seperti Mama dan Papanya Moli, ibunya Ega dan Faya, juga Lexa.

Yang keren nih, semua tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang khas dan kuat, yang terus berkembang menjadi lebih baik dan dewasa seiring dengan mengalirnya jalan cerita.

Setting waktu yang digunakan pada novel ini yaitu masa kini. Adapun setting tempatnya sebagian besar berada di Jakarta. Seperti apartemen Moli, kantor advertising tempat Moli bekerja, rumah sakit tempat Ega bekerja, dan lain-lain. Namun selain di Jakarta, ada juga setting tempat rumah keluarga Ega di Tangerang serta rumah keluarga Moli di Bogor. 

Berbagai setting tempat pada novel ini bukan hanya sebagai pelengkap loh, namun memiliki andil juga dalam menggerakkan cerita. Contohnya apartemen Moli. Perkenalan antara Ega dan Moli memang berawal dari kecelakaan yang menimpa mereka. Tetapi mereka menjadi semakin dekat, karena Faya (kakak Ega) merasa lelah bila terus bolak-balik Jakarta-Tangerang dan memutuskan untuk menjadi roommate Moli. 

Novel ini dikisahkan melalui sudut pandang orang pertama dari 2 sisi. Yaitu dari sisi Moli dan sisi Ega. Cara penuturan keduanya hampir mirip, menggunakan kata ganti gue untuk menyebut dirinya. Yang cukup membedakan adalah pembawaan Moli yang terasa menggebu dibandingkan Ega yang lebih kalem. Serta ditambah keterangan juga di setiap pergantian sudut pandang, jadi enggak akan membuat bingung.

Saya menyukai gaya bahasa penulis yang ringan dan lincah. Meskipun jumlah halamannya lumayan tebal, saya enggak merasa bosan karena cara penyampaiannya yang mengalir.
Ya, Gusti... ini cowok abis salat Zuhur kali ya, berbinar banget mukanya kayak dibarengin malaikat. (Moli, halaman 34)
Haduh, nyengirnya itu. Persis kayak anak TK dikasih balon hijau yang nggak jadi meletus. (Ega, halaman 57)
Yang membuatnya semakin seru, bertebaran juga perumpamaan-perumpamaan sederhana tapi membuat saya menjadi semakin mudah memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan Moli dan Ega.
"Hey, Dok!" sapanya terlalu ceria. Kenapa, sih? Ekspresinya kalau ketemu gue tuh selalu ada di antara terlalu ceria dan kaget, atau melongo lebih tepatnya. (Ega, halaman 54)
Yup, memang begitu ekspresi Moli setiap bertemu dengan Ega, enggak bisa jaim saking terpesonanya sama dokter ganteng ini. Apalagi Ega bukan cuma ganteng, tapi perhatian juga, seperti mengantar sendiri motor Moli dari bengkel, membantu membereskan apartemen Moli, dan lain-lain.

Makanya Moli enggak marah ketika Ega tiba-tiba mengakui Moli sebagai pacarnya di depan Izza--mantan Ega yang sudah menikah. Sayangnya, Ega langsung meminta maaf pada Moli, membuat Moli merasa enggak pantas menjadi seorang pacar buat lelaki kayak Ega. Di sinilah konflik terasa mulai memuncak.

Tapi, ternyata Ega sadar loh bahwa sebenarnya dia memang membutuhkan seorang perempuan seperti Moli. Hingga akhirnya Ega pun meminta Moli untuk menjadi pacarnya. Yeay! Udah nih, tamat? Happy ending? Belum lah. Malah konfliknya terasa semakin rumit.
"Gue enggak mau... jadi pihak yang selalu lebih sayang daripada pasangan gue." (Moli, halaman 207)
Jadi Moli sudah telanjur merasa enggak percaya diri bersanding bersama Ega. Ditambah lagi, dia selalu curiga permintaan Ega tersebut hanya agar ibu Ega yakin bahwa anaknya sudah bisa move on dari Izza. Di lain sisi, papa dan mama Moli selalu mendesaknya supaya segera menikah. Kompleks pokoknya. Baca deh supaya tahu serunya seperti apa.

Read more >>

Thursday, September 20, 2018

Review: Nikah Muda

nikah muda
Detail Buku
Judul: Nikah Muda
Penulis: Thessalivia
Editor: Dimas Abi dan Anastasha Eka
Penerbit: Stiletto Indie Book
Cetakan: 1, Juni 2018
Tebal: 255 halaman
ISBN: 978-602-336-711-5

Blurb
Ketika Kirana dihadapkan pada pilihan antara kekasih yang dicintainya atau membahagiakan Ayah di saat-saat terakhirnya.
Kirana, 16 tahun. Ia kira hidupnya berjalan cukup baik untuk seorang anak yang telah kehilangan ibu. Kirana memiliki Ayah yang sangat menyayanginya, pacar yang keren, sekolah yang berjalan cukup baik, dan tentu saja hobi baletnya. Tetapi hidup Kirana tiba-tiba jungkir balik saat Ayah didiagnosis kanker usus, ditambah dengan rencana Ayah untuk menjodohkannya dengan orang yang sama sekali tidak dikenalinya.
Keno, 16 tahun. Seorang anak urakan yang tanpa perlu belajar, selalu bisa memperoleh nilai tinggi di kelas. Dia akan melakukan apa pun untuk dapat menyenangkan hati cinta pertamanya, Kirana.
Aji, 26 tahun. Sehari-hari sibuk dengan pekerjaannya sebagai analis bank. Sampai suatu hari dia diberi tanggung jawab untuk menjaga seorang anak atasannya, yang ternyata malah membuat Aji jatuh cinta pada pandangan pertama.
Review
Novel ini dibuka dengan adegan di kelas Kiran, saat Keno memintanya keluar dan membantu menyelesaikan PR Fisika yang lupa dia kerjakan. Meskipun sempat mengomel, tentu saja Kiran mengerjakannya dengan senang hati. Kiran pun menemukan surat dari Keno yang diselipkan di bukunya, berisi ucapan terima kasih dan 3 buah voucher spesial yang bisa Kiran klaim kapan saja. Ya ampun, manis banget.... 

Kiran sebenarnya sudah menyukai Keno sejak hari pertama mereka di SMP. Selama 3 tahun tersebut, Kiran selalu duduk di belakang Keno. Kiran sangat menikmati lelucon dan perhatian yang selalu diberikan Keno. Kiran juga senang dengan sebutan Kitty, panggilan kesayangan dari Keno. Namun Kiran sudah puas menjalani kebersamaan tersebut hanya dengan label sahabat.

Hingga akhirnya perasaan Kiran tanpa sengaja terungkap ketika mereka sudah duduk di bangku SMA. Rupanya Keno juga memiliki perasaan yang sama, cie cie.... Akhirnya mereka pun resmi berpacaran.
Kiran tahu bahwa ada seseorang yang sangat mencintainya, yang akan selalu menghiasi harinya dengan keceriaan. Meyakinkan hati Kiran bahwa setiap hari sangat berarti untuk diperjuangkan walaupun tanpa Ibu di sisinya dan Ayah yang saat ini sedang berjuang dengan kesehatannya. (Halaman 5)
Yup, ibu Kiran sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Setelah ibu Kiran meninggal, dia jadi lebih dekat dengan ayahnya. Tetapi kini, ayahnya pun divonis mengidap kanker usus stadium 2B, sehingga harus bolak-balik ke rumah sakit. Saking sayangnya Keno pada Kiran, maka dia rela tinggal sendiri di Jakarta, enggak ikut orangtuanya ke Sidney demi menemani Kiran yang sedang dilanda kesedihan. 

Namun, setelah operasinya yang pertama, ayah Kiran menyampaikan sesuatu yang membuat Kiran sangat kaget.
"Kiran, sebenarnya Ayah tidak takut mati. Yang paling Ayah takutkan adalah meninggalkan kamu seorang diri. Di kantor Ayah punya bawahan, namanya Aji." (Halaman 47)
Kiran ingin menentang rencana perjodohan tersebut, namun melihat kondisi ayahnya, tentu Kiran enggak tega. Akhirnya dia berusaha mengubah keputusan itu dengan cara lebih sering mengajak Keno untuk bertemu dengan ayahnya. 
"Bukannya Ayah tidak memercayai kamu atau Keno, tapi Ayah hanya khawatir. Dua anak muda kasmaran tanpa pengawasan. Sedangkan jika dinikahkan sekarang, Ayah rasa itu tidak adil untuk Keno." (Halaman 55)
Memang masuk di akal banget ya pertimbangan ayah Kiran. Dan sesuai dengan judulnya, Nikah Muda, saat kondisi ayahnya semakin kritis dan enggak sadarkan diri, Kiran pun akhirnya memilih untuk menyetujui rencana ayahnya, menikah dengan Aji.

Berbeda dengan Kiran yang sangat membenci Aji, Aji justru jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Aji begitu menyayangi Kiran seolah mereka sudah lama saling mengenal. 
Kiran tidak peduli lagi dengan kebahagiaannya sendiri. Yang ia mau hanya melihat Ayah bahagia. (Halaman 69)
Ternyata firasat ayahnya memang benar. Beliau meninggal setelah Kiran dan Aji resmi menikah. Lalu bagaimana ya kelanjutannya? Apa Kiran bisa melupakan Keno dan mencintai Aji? Atau malah memutuskan hubungan pernikahan dengan Aji dan kabur bersama Keno, karena toh ayahnya sudah enggak ada lagi?

~~~

Duh, belum apa-apa saya sudah jatuh cinta sama karya perdana penulis ini karena berhasil menghibur saya dengan indahnya kisah pacaran saat sekolah. Tapi setelah itu langsung dibawa sedih karena tiba-tiba kebahagiaan Kiran bersama Keno harus berakhir saat Kiran memilih untuk membahagiakan ayahnya dan menikah dengan Aji. 

Kalau dari segi tema sih, perjodohan dan nikah muda bukanlah hal yang baru ya. Namun saya sendiri sudah lama banget enggak membaca novel dengan tema seperti ini. Makanya bagi saya tema ini menjadi menarik sekali.

Menyesuaikan dengan tokoh utamanya yang masih SMA, novel ini menggunakan gaya bahasa yang ringan dan santai. Alur cerita dan cara penuturannya yang rapi banget membuat novel ini sangat nyaman dibaca. Saya juga suka bagaimana penulis meramu plot dan konfliknya. Dengan kualitas seperti ini pantas saja bila Nikah Muda menjadi finalis Gramedia Writing Project 3 tahun 2017. 

Cerita dalam novel yang terbagi ke dalam 16 bab ini dituturkan melalui sudut pandang orang ketiga. Walaupun begitu, penulis begitu lihai menunjukkan emosi setiap tokohnya sehingga saya tetap bisa dengan mudah ikut merasakan pergolakan batin yang dialami oleh Kiran, Keno, dan Aji. 

Oiya, membahas soal tokoh, entah kenapa saya begitu menyukai semua tokohnya. Mungkin karena mereka semua memiliki peran protagonis dan keadaan lah yang menjadi peran antagonisnya. Saya jadi sayang sama semuanya. Mulai dari Kiran yang polos dan lugu, Keno yang humoris dan romantis, ayah Kiran yang penyayang dan bertanggung jawab, juga Aji yang dewasa dan perhatian.

Iya, awalnya saya memang agak sebal sama Aji si Mr. You Know What yang garing ini. Namun seiring bergulirnya cerita, saya semakin suka dengan karakternya. Terutama saat melihat bagaimana dia menghalau gosip tentang Kiran dengan cara yang elegan. 

Latar waktu yang digunakan pada novel ini tampaknya masa kini. Dapat dilihat dari cara Kiran dan Keno yang berkomunikasi melalui Whatsapp. Adapun latar tempatnya sebagian besar berada di rumah, sekolah, dan rumah sakit. Tapi ada juga latar tempat di beberapa objek wisata di sekitar Jakarta yang membuat novel ini semakin berwarna.

Rating
Empat dari lima bintang. Very recomended. Bukan hanya ringan dan menghibur, tetapi juga menunjukkan esensi cinta yang sebenarnya.

Teman-teman tertarik membaca novel ini? Bisa langsung pesan ke Instagram @thessalivia atau @stiletto_book di no whatsapp 08812731411 ya ;)

Read more >>