Sunday, February 12, 2017

Review: Yesterday in Bandung


Detail Buku
Judul: Yesterday in Bandung
Penulis: Rinrin Indrianie, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, NR Ristianti
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, Januari 2016
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-602-02-7861-2
Harga: Rp 54.800

Review
Meskipun disusun oleh lima orang penulis, buku bersampul merah ini bukan sebuah kumpulan cerita pendek ataupun kumpulan novelet. Tetapi sebuah novel yang merupakan outline naskah terbaik workshop "Berbagi Cinta Lewat Kata".

Masing-masing penulis menuturkan kisah tentang lima karakter utama yang tinggal bersama dalam sebuah rumah kos di Bandung. Melalui sudut pandang orang pertama dan gaya bahasa tiap penulis yang unik dan berbeda, mereka berhasil menyajikan kisah persahabatan para tokohnya dalam sebuah jalinan cerita yang utuh dan padu.

Tokoh pertama yaitu Shaki. Gadis cantik ini merupakan mahasiswa baru di ITB yang menghuni kos di kamar 04. Dia berasal dari Palembang. Meskipun dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang kaya, namun memiliki sifat sederhana dan rendah hati. Sejak kedatangan Shaki, penghuni kos yang lain sering merasakan betapa nikmat hasil masakannya.

Tokoh selanjutnya yaitu Zain. Pemuda yang menghuni kos di kamar 02. Dia berasal dari Pandeglang dan pergi merantau ke Bandung karena berhasil lulus SNMPTN di UNPAD. Zain maupun keluarganya sedang menjalani kondisi ekonomi yang sulit. Beruntung, seorang kerabat meminjami dan membayari Zain sebuah kamar di tempat kos yang mewah. Keberadaan Zain selalu menghangatkan suasana kos karena dia senang bermain basket atau bermain gitar di taman.

Kemudian ada Tania. Gadis ceria yang menghuni kos di kamar 03. Sebenarnya keluarganya tinggal di Bandung. Namun karena keadaan kedua orang tuanya yang sibuk dan tidak pernah berada di rumah, serta karena merasa hidupnya selalu diatur, maka Tania memutuskan untuk tinggal di tempat kos.

Lalu ada Dandi. Dia menghuni kos di kamar 01. Meskipun usianya masih muda, Dandi tidak meneruskan kuliah, tetapi ikut bekerja bersama omnya di sebuah perusahaan properti. Pemuda tampan ini tidak banyak berbicara, namun selalu jeli memperhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya.

Terakhir yaitu Aline. Wanita pemilik kos yang cantik dan anggun. Pekerjaannya sebagai penerjemah membuat dia sering tinggal dan melakukan yoga di rumah. Aline membuat seluruh penghuni kos penasaran karena di usianya yang sudah menginjak 35 tahun, dia belum menikah.

Suatu sore, semuanya berkumpul di taman. Zain yang berkonsentrasi tinggi memetik gitar, Dandi yang menepuk-nepuk paha berpura-pura menabuh drum, Tania yang menyanyi-nyanyi riang, juga Shaki yang hanya bertepuk tangan sambil tersenyum malu-malu (hlm 66). Sedangkan Aline hanya menjadi penonton. Ketika itu, lagu The Beatles--Yesterday--resmi dijadikan sebagai lagu persahabatan mereka bersama.

Mereka berlima memang tampak baik-baik saja (hlm 70). Padahal ternyata ada masalah besar yang sedang disembunyikan. Shaki, membenci ayahnya yang terlibat kasus korupsi. Adapun Zain, terpaksa harus terjebak dalam pergaulan hitam karena kondisi keuangan keluarganya. Kemudian Tania, memiliki pengalaman menyakitkan dengan mantan pacarnya. Begitu juga Dandi yang sulit lepas dari bayang-bayang masa lalu. Sedangkan Aline, memiliki masalah dengan kesehatannya. Perlahan, masalah tersebut mulai terkuak. Mereka pun saling menguatkan.

Kebersamaan tersebut juga menerbitkan perasaan cinta pada beberapa pihak. Dandi menyayangi Shaki karena mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Padahal Shaki justru menyukai Zain yang selalu membantunya di saat-saat sulit. Adapun Zain malah tertarik pada Aline yang dewasa.

Novel ini menarik. Bukan hanya karena ditulis oleh lima kepala yang berbeda. Tetapi juga karena menyajikan bagaimana suka duka menjadi anak kos. Di satu sisi ada kisah persahabatan yang saling menabahkan. Namun di sisi lain, harus tetap saling menghormati, membantu sahabat tanpa melanggar privasinya.

Begitu juga ketika dibumbui dengan masalah percintaan, perlu diingat bahwa cinta tidak bisa dipaksakan (hlm 248).

1 comment: