Friday, October 31, 2014

Rindu: 1 Perjalanan 5 Pertanyaan

Dok. Pribadi
Detail Buku
Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Editor: Andriyati
Penerbit: Republika
Cetakan: III, November 2014
Tebal: 544 halaman
ISBN: 978-602-8997-90-4
Harga: Rp 69.000 Rp 58.650 (beli di bukabuku.com)

Dibaca
28-29 Oktober 2014

Resensi
Kesan pertama ketika petugas ekspedisi mengantarkan buku pesanan saya ini adalah terkejut. Rupanya, jumlah halamannya lebih tebal dari karya Tere Liye yang terakhir saya baca--Amelia. Namun, saya lebih terkejut lagi ketika melihat label 'Best Seller' di pojok kanan sampulnya. Bukankah bukunya baru terbit satu bulan yang lalu? Kok sudah menjadi 'Best Seller'? Begitu pikir saya. Saya pun langsung membuka halaman identitas buku tersebut dan menemukan bahwa buku yang baru sampai di tangan saya sudah merupakan cetakan yang ketiga! Wow salut…. Masuk cetakan ketiga hanya dalam waktu dua bulan, tentu menunjukkan bagaimana kualitas buku ini. Perasaan pesimis setelah melihat jumlah halamannya yang sangat tebal pun hilang seketika. Saya yakin jumlah halaman tidak akan mempengaruhi kecepatan membaca saya. Dan memang terbukti, saya berhasil menyelesaikannya hanya dalam waktu dua hari.

Kisah ini dibuka dengan deskripsi setting tempat dan waktu yang menjadi latar cerita. Tiba-tiba saja, saya seakan dibawa kembali ke masa lalu, menyaksikan hiruk pikuk sebuah dermaga di Makassar pada tahun 1938. Saat itu Blitar Holland--salah satu kapal uap terbesar milik perusahaan Belanda--baru saja tiba untuk mengangkut para calon jamaah haji dari Makassar dan sekitarnya.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, satu per satu, para tokoh utama dan tokoh pendukung mulai diperkenalkan. Tokoh pertama yaitu Daeng Andipati. Dia adalah seorang pedagang muda dari Makassar yang kaya. Sempat mengenyam pendidikan di Rotterdam School of Commerce lima belas tahun yang lalu. Kini dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya.

Selanjutnya yaitu Ahmad Karaeng, orang-orang biasa memanggilnya Gurutta. Dia merupakan ulama masyhur keturunan Sultan Alauddin dan Sultan Hasanuddin. Pernah belajar agama di Aceh sampai ke Yaman dan Damaskus. Kini dia menjadi imam di Masjid Katangka, Gowa dan rutin mengadakan pengajian sebulan sekali. Perjalanan panjang kali ini dia manfaatkan untuk menulis buku, menyusul buku-buku lainnya yang jumlahnya sudah ratusan.

Kemudian ada Ambo Uleng, pelaut muda dengan tubuh kekar dan gagah, serta kulit hitam legam karena sering terbakar sinar matahari. Dia melamar pekerjaan sebagai kelasi di kapal Blitar Holland setelah meninggalkan posisi sebagai juru mudi kapal Phinisi dua minggu yang lalu. Kepribadiannya menarik, namun terlalu pendiam.

Baru setelah kapal mulai berangkat, penulis memperkenalkan Bonda Upe. Dia merupakan perempuan Cina Islam yang tinggal di Palu. Wajahnya cantik dan selalu mengenakan pakaian berwarna cerah. Secara sukarela, dia bersedia mengajar anak-anak mengaji selama dalam perjalanan. Walaupun begitu Bonda Upe tidak terlalu suka berbaur dengan penumpang lain.

Terakhir adalah penumpang dari Semarang, Mbah Kakung Slamet. Usianya hampir delapan puluh tahun. Dia berangkat bersama istri dan anak sulungnya. Walaupun hampir pikun dan mempunyai pendengaran yang sudah tidak terlalu baik, namun dia selalu memperlakukan istrinya dengan sangat spesial, romantis.
Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan. (halaman 222)
Kelima tokoh tersebut membawa lima pertanyaan besar dalam perjalanan panjang tersebut. Pertanyaan pertama muncul dari Bonda Upe. Nama aslinya adalah Ling Ling. Saat berusia lima belas tahun, ayahnya mempertaruhkannya dalam sebuah perjudian. Ling Ling dibawa ke Batavia dan dipaksa menjadi cabo, pelacur. Meskipun sekarang dia sudah mempunyai suami yang sangat perhatian dan kehidupannya pun sudah menjadi lebih baik, namun dia tidak pernah bisa melupakan kenangan buruk itu. Dia khawatir orang-orang akan mengetahui masa lalunya.
"Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak Tanah Suci? Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi.... Apakah Allah akan menerimaku? Atau, mengabaikan perempuan pendosa sepertiku.... Membiarkan semua kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu siapa pun." (halaman 310)
Pertanyaan selanjutnya muncul dari Daeng Andipati. Siapa yang menyangka bahwa di balik keberhasilannya, dia menyimpan kebencian yang teramat besar pada ayahnya. Ayahnya merupakan pedagang yang licik. Di rumah, ayahnya selalu menyiksa ibunya--yang akhirnya meninggal karena sakit. Sejak saat itu, hatinya selalu dipenuhi oleh amarah dan dendam. Setelah menemani adiknya menyelesaikan sekolah, dia pergi ke Batavia dan melanjutkan perjalanan ke Rotterdam.
Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? (halaman 371)
Pertanyaan selanjutnya berasal dari Mbah Kakung Slamet. Mbah Putri Slamet--istri yang telah mendampinginya selama enam puluh tahun--meninggal saat sedang menunaikan shalat Shubuh.
"Kenapa harus terjadi sekarang? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenapa harus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?" (halaman 469)
Pertanyaan berikutnya hadir dari kisah cinta Ambo Uleng. Dia menyukai putri pemilik kapal di mana dia pernah bekerja. Walaupun pernah menyelamatkan putrinya dalam sebuah badai besar, tidak serta merta membuat sang ayah mau menerima Ambo Uleng sebagai menantunya. Orang tua gadis itu telah menjodohkannya dengan pemuda yang dianggap lebih pantas. Murid seseorang yang sangat penting di Gowa. Meski tidak ada sepotong pun kalimat pertanyaan yang terucap dari mulutnya, tapi ada pertanyaan yang tersirat dari pernyataan Ambo Uleng. Tentang cinta sejati, kesempatan dan jodoh.
"Aku yang menyelamatkannya dari badai lautan, dari enam hari terjebak di pulau kecil, ternyata tidak berhasil menyelamatkannya dari perjodohan. Aku kalah. Inilah aku, lari dari seluruh kisah cintaku." (halaman 490)  
Keempat pertanyaan besar tersebut dijawab dengan baik oleh Gurutta. Dia selalu membahas setiap pertanyaan dalam tiga bagian jawaban. Sebenarnya tidak ada jawaban yang 'wah'. Semuanya sederhana, hanya saja sebagai manusia, kita sering melupakannya. Begitu juga dengan Gurutta, dia sendiri sebenarnya membawa pertanyaan besar. Kematian Syekh Raniri--guru agama--dan Cut Keumala--calon istrinya--dalam peperangan Aceh melawan Belanda, membuatnya berjanji tidak akan lagi menggunakan kekerasan. Dia lebih memilih melawan lewat kalimat lembut dan tulisan yang menggugah.
"Lihatlah ya Rabbi, betapa menyedihkan dirinya. Orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, sekarang bahkan tidak berani menjawab pertanyaan diri sendiri. Ia menulis tentang kemerdekaan, tapi ia sendiri tidak pernah berani melakukannya secara kongkret. Ia selalu menghindar, lari dari pertempuran dengan alasan ada jalan keluar lebih baik." (halaman 532)
Pertanyaan tersebut justru dijawab oleh Ambo Uleng, pemuda yang baru beberapa minggu belajar shalat dan mengaji. Bukan dengan penjelasan lisan atau tulisan, tapi dengan perbuatan tangan.

Dari lima tokoh utama tersebut, tidak semuanya mempunyai porsi cerita yang sama. Sebagian besar cerita didominasi oleh Daeng Andipati--dan anak-anaknya--, Gurutta, serta Ambo Uleng. Bonda Upe dan Mbah Kakung Slamet hanya muncul sebentar-sebentar saja. Namun bukan berarti karakternya tidak dalam. Semua karakter tokoh utama, secara teliti, digambarkan dengan sangat jelas dan konsisten sejak awal hingga akhir cerita.

Cerita ini menjadi semakin menarik dengan hadirnya para tokoh pendukung. Ada Sergeant Lucas, pimpinan serdadu Belanda yang menyebalkan. Ada Kapten Philips, kapten kapal yang bijaksana. Ada Ruben si Boatswain, kelasi senior bagian dek yang menyenangkan. Ada Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangoenkoesoemo, guru yang pintar dan kreatif. Ada Chef Lars, koki galak namun berhati lembut. Dan yang paling penting, ada Anna dan Elsa--kedua putri Daeng Andipati--yang cerdas dan menggemaskan. Ada yang terasa menggelitik ketika saya membaca nama kapten kapal dan putri Daeng Andipati. Kapten Philips, mengingatkan saya pada film Captain Philips. Sedangkan Anna dan Elsa mengingatkan saya pada film Frozen. Mungkin penulis memang sengaja memilih nama tokoh yang sudah dekat di hati pembaca.

Alur yang digunakan dalam buku ini adalah alur maju, dengan beberapa kisah masa lalu yang diceritakan dalam bentuk dialog. Temponya mengalir santai, tidak terburu-buru, justru cenderung lambat. Bahkan, lima pertanyaan besar yang menjadi ide utama dalam cerita ini baru benar-benar muncul setelah setengah bagian buku ini. Tetapi, walaupun bukunya tebal dan alurnya lambat, membaca buku ini jauh dari kata membosankan. Sejak paragraf pertama hingga paragraf terakhir, penulis menyajikan kalimat-kalimat yang sederhana dan mudah dipahami, namun begitu membuai imajinasi. Rasanya seperti membaca dongeng.

Saya acungkan dua jempol untuk penggambaran setting-nya. Penulis tidak hanya berkutat dengan suasana kapal, tetapi juga menyuguhkan suasana kota-kota besar di Indonesia--tujuh puluh enam tahun yang lalu--mulai dari Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, sampai Aceh, juga bonus kota Kolombo di Sri Lanka. Saya diajak ikut menyaksikan suasana Batavia yang ramai serta pemandangan alam Lampung yang indah. Saya juga seakan ikut merasakan serunya menaiki trem di Surabaya dan menumpang kereta sapi di Kolombo.

Bukan hanya setting-nya yang membuat saya enggan berhenti membuka lembar demi lembar buku yang terdiri dari lima puluh satu bab ini. Selain lima pertanyaan besar di atas, emosi saya dibawa naik-turun dengan adanya sub-sub konflik yang mewarnai kisah perjalanan ini. Saya dibuat ikut merasa khawatir ketika terjadi pertempuran antara pemberontak dan serdadu Belanda di Pasar Turi, Surabaya--yang membuat Anna harus terpisah dari ayahnya. Bulu kuduk saya dibuat merinding ketika Gurutta merasakan ada 'sesuatu' yang selalu menguntitnya setiap malam. Saya juga dibuat terkejut ketika terjadi usaha pembunuhan pada Daeng Andipati. Saya pun merasa ikut panik ketika Blitar Holland terancam terkatung-katung di lautan selama dua hari dua malam. Bahkan saya juga merasa ikut sedih dan kesal ketika Sergeant Lucas menahan Gurutta karena telah menulis buku yang berjudul 'Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa'. Dan puncaknya adalah ketika saya ikut merasa tegang saat perompak Somalia berusaha membajak Blitar Holland. Saya tidak menyangka, rutinitas kegiatan di atas kapal yang membosankan--hanya berkisar antara dek, kabin, masjid, dan kantin--bisa menjadi sangat 'kaya' seperti ini.

Iya, buku ini memang kaya. Meskipun berlatar waktu tahun 1938, banyak hal-hal lain yang disinggung oleh penulis yang bisa dijadikan pelajaran untuk masa kini. Misalnya cerita-cerita takhayul yang dipercaya dan beredar di masyarakat padahal tidak jelas kebenarannya, serta isu toleransi antar agama ketika para kelasi merayakan Natal. Namun, yang paling berkesan di hati saya adalah bagaimana Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangoenkoesoemo mengajar murid-muridnya di kapal dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.
"Terus terang, jika guru-guru di sekolah kalian seperti Anda, besok lusa bangsa kalian akan menjadi bangsa yang besar dan kuat." (halaman 348)
Adapun adegan yang menurut saya paling mengharukan dan membuat hati saya berdesir adalah bagian ini.
Gurutta sendiri yang melepas ikatan Sergeant Lucas. Membantunya duduk lebih baik. Saat wajah lebam itu menatap Gurutta dengan tatapan sayu, Gurutta berkata lembut kepadanya, "Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, mijn vriend." (halaman 539)
Membaca buku ini, saya menemukan beberapa ciri khas penulis yang juga bisa ditemukan pada karya-karyanya yang lain. Pertama, tidak ada kata pengantar dan profil penulis. Tere Liye tidak suka apabila profil pribadinya diumbar, dia memang penulis yang humble. Kedua, selalu menyertakan tokoh anak yang cerdas, seperti Anggrek, Sakura, dan Jasmine dalam Sunset Bersama Rossie serta Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia dalam Serial Anak-Anak Mamak. Ketiga, ending-nya yang selalu berakhir bahagia. Yup! Hanya satu yang saya sayangkan dari buku ini, yaitu ending-nya di bagian Epilog yang menurut saya rasanya too good to be true.

Terkait teknis penyajiannya, sampai sejauh ini saya tidak menemukan adanya typo dalam cetakan yang ketiga ini. Saya juga cukup puas dengan desain cover-nya yang sederhana. Meskipun menggunakan warna-warna lembut, tetapi tetap eye catching dengan latar berwarna putih dan tulisan berwarna gelap.

Rating
Setahun yang lalu, saya pernah bertemu dengan Tere Liye dalam sebuah acara pelatihan menulis. Saya ingat, dia pernah mengatakan bahwa buku yang baik itu minimal bisa menghibur pembacanya. Lebih baik lagi apabila buku tersebut dapat memberikan pengetahuan baru bagi yang membacanya. Dan yang paling baik, buku tersebut bisa menginspirasi pembacanya.

Tere Liye tidak hanya pandai berbicara dan memotivasi para calon penulis, dia membuktikan perkataannya melalui karya-karyanya, juga kali ini. Oleh karena itu, saya memberikan empat dari lima bintang untuk buku ini:
  • Satu bintang karena saya merasa sangat terhibur saat membacanya.
  • Satu bintang karena buku ini memberikan pengetahuan baru bagi saya mengenai suasana perjalanan haji yang panjang menggunakan kapal uap serta gambaran umum kota-kota besar di Indonesia sebelum masa kemerdekaan.
  • Satu bintang karena buku ini sangat menginspirasi dengan pelajaran hidup yang sederhana tapi sangat besar manfaatnya apabila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Dan satu bintang lagi untuk berbagai macam perasaaan yang saya rasakan setelah membaca buku ini. 

30 comments:

  1. uwaaaa..pengen beli mbk,jujur ya pertama kali baca novel yang bener2 bikin aku penasaran pingin baca lembar demi lembar ya bukunya tere liye Daun yg jatuh itu.Nggak tau ya,asik bangetlah baca karya2 dia,apalagi q yg notabene nggak suka baca novel hehehehe..makasih mbk ulasanyyaaaaa....sukalah ^^

    ReplyDelete
  2. kayaknya buku bagus nih.,,sudah smp cetaka ke 3

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. uwaaaaa.... asli dari kemarin penasaran banget ma buku ini :(

    ReplyDelete
  5. Keren keknya ya ...... banyak pelajaran hidup di dalamnya ... serasa ikut perjalanan ya Mbak :)

    ReplyDelete
  6. bagus ya kayaknya mak.... aku dah lama gak baca buku .____.

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba baca ini mak... walaupun tebel, tp ga kerasa deh bacanya, tau2 abis :D

      Delete
  7. Bagus juga tuh dari cuplikannya...

    ReplyDelete
  8. Nama saya fayyadh umur saya10 tahun. kujungi blog saya ya..... dan balas komentarnya

    ReplyDelete
  9. cuplikannya keren nih mbak saya jadi penasaran :)

    ReplyDelete
  10. Aku belum selesai baca bukunya mbak. Padahal mupeng pengen ikutan lombanya. hiks.

    ReplyDelete
  11. Kayanya baguus yaaa.. Saya baru baca 1 buku Terr Liye, n kayany bakal masuk list pengarang fav saya.. Hehehe.. Anyway, salam kenal ya teh.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal hihihi... makasih udah mampir :)
      udah baca yg serial anak-anak mamak?

      Delete
  12. Semoga laris manis bukunya ya mbak hehe

    ReplyDelete
  13. belum ada satupun buku Tere Liye yang saya baca, padahal banyak yang bilang bagus. Kayaknya semangat membaca saya harus ditingkatkan lagi hehe

    ReplyDelete
  14. yang ini belum bacaaaa...msh wish list, mudah2 bisa beli nih bulan ini...saya suka buku2 tere liye yang paling suka negeri para bedebah karena temanya lain dari karya2 tere liye yang lain...

    ReplyDelete