Wednesday, March 25, 2015

Review: Dua Cinta Negeri Sakura


Detail Buku
Judul: Dua Cinta Negeri Sakura
Penulis: Irene Dyah
Editor: Gita Savitri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 181 halaman
ISBN: 978-602-03-1269-9
Harga: Rp 49.500

Dibaca
19-20 Maret 2015

Review
Miyu Hasegawa adalah seorang gadis Jepang yang cantik dan lembut. Hidupnya selalu tenang dan damai. Hobinya menarikan tari-tari tradisional Indonesia. Demi hobinya tersebut dia rela bolak-balik antara Tokyo dan Solo. Mengelola kafe dan mengumpulkan uang di Tokyo, yang kemudian digunakan untuk tinggal beberapa waktu di Solo.

Namun, kunjungan ke Solo lah yang membuat hidup damai dan monotonnya menjadi penuh gejolak. Di sana Miyu bertemu dengan Scott, pria Indo yang tampan. Fotografer itu terpesona pada dirinya. Miyu pun merasakan ketertarikan yang sama. Sayangnya, Miyu tidak bisa memelihara perasaan tersebut karena Scott sudah mempunyai istri.

Rupanya takdir mempertemukan Miyu dan Scott kembali, karena mereka sama-sama tinggal di Tokyo. Pesona yang dipancarkan Scott tidak bisa Miyu tolak. Beberapa kali Miyu mencoba menghindari pertemuan dengan Scott, tetapi beberapa kali pula Miyu justru menikmati kebersamaan mereka.
Tidak, ini terlalu berbahaya. Miyu sudah berjanji tidak akan mengganggu rumah tangga orang. Sudah bertekad untuk menyimpan rasa sukanya itu dalam-dalam. Sayangnya, godaan untuk bisa sering-sering bertemu Scott memang terlalu menarik. Dan Miyu adalah manusia biasa. Gadis manis biasa, yang sedang jatuh cinta.
(Halaman 48)
Hingga suatu hari, Miyu bertemu dengan Misaki--istri Scott. Miyu patah hati. Beruntung, dia mempunyai sahabat yang selalu mendukungnya--Aliyah dan Ajeng. Namun, masalah menjadi lebih rumit ketika istri Scott tersebut mencoba bunuh diri setelah mengetahui hubungan asmara yang terjadi antara Miyu dan suaminya. Persahabatannya dengan Aliyah pun menjadi renggang karena Misaki dan Scott adalah sahabat Aliyah juga. Kehidupan Miyu berada pada titik terendahnya.
"Aku tidak tahu harus marah, atau sedih, atau mengasihanimu. Aku tidak tahu harus memihak siapa kali ini. Miyu... kenapa Miyu?"
(Aliyah, halaman 118)
"Aku tidak peduli dengan cincin ini. Bullshit! Aku sudah lelah dan muak melayani emosi Misaki yang naik turun tak tertebak! Dia itu butuh binatang peliharaan, butuh anjing yang mengikuti segala keinginannya tanpa keluhan. Bukan butuh suami! Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat aku merasa nyaman, Miyu.... Tolong, jangan minta aku pergi...."
(Scott, halaman 129)
"Kalau kamu memang cinta mati pada pria ini, dan dia tidak bisa hidup tanpamu, kenapa kalian tidak memperjuangkannya saja sih? Peduli amat dengan Misaki. Pasti sudah ada skenario lain untuk perempuan itu kan, seandainya kamu dan Scott akhirnya kawin?"
(Ajeng, halaman 145)
~~~

Novel bersampul depan yang manis ini dibuka dengan permainan kata yang menarik, berisi detail gerakan tari yang sedang dilakukan oleh Miyu. Berhubung saya suka menari, tentu saja saya merasa sangat bersemangat membacanya. Mengingatkan saya pada berbagai perasaaan yang muncul ketika sedang pentas di atas panggung.

Miyu dan cinta terlarangnya memang merupakan fokus utama dalam novel ini. Namun ada dua tokoh utama lain yang membuat novel ini menjadi lebih berwarna, yaitu Aliyah dan Ajeng. Mereka bertiga adalah sahabat. Awal mula pertemuan mereka bisa dibaca di novel pertama Mbak Irene--Tiga Cara Mencinta, di mana yang menjadi sorotan utamanya adalah masalah rumah tangga Aliyah.

Pada bab pertama novel ini, pembaca diajak berkenalan lagi dengan mereka bertiga. Miyu yang sedang menari di atas panggung, digambarkan begitu terganggu ketika menemukan Scott di antara penonton. Yup! Pembaca langsung digiring menuju pada bibit konflik yang akan terjadi berikutnya. Ajeng, masih nyaman dengan kehidupannya yang anti komitmen. Sedangkan Aliyah, sedang menikmati masa-masa bahagia bersama keluarga kecilnya--Takuma dan Chika.

Ketiga karakter tokoh utama dalam novel ini terasa benar-benar hidup. Saya sangat menyukai dialog yang tercipta di antara mereka. Begitu natural, sesuai dengan kepribadian masing-masing. Penuturan Miyu yang sopan, celoteh Ajeng yang ceplas-ceplos, dan gaya Aliyah yang apa adanya membaur sehingga menghasilkan perbincangan yang terasa nyata, tidak dibuat-buat. Chemistry-nya terasa sekali.

Membaca novel ini memang menyenangkan. Selain karakter tokoh utamanya yang kuat, juga karena gaya penulisan Mbak Irene yang nyaman dibaca. Lincah dan mengalir. Apalagi Mbak Irene juga menggunakan alur maju, sehingga ceritanya tidak sulit untuk dipahami.

Novel ini cukup menghibur, tetapi sayangnya kurang mengaduk-aduk emosi. Menurut saya, konflik dan penyelesaiannya kurang gereget. Begitu juga dengan hubungan antara Miyu dan Scott yang terasa kurang dalam. Padahal, dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, seharusnya interaksi dan emosi di antara keduanya bisa lebih dieksplor lagi. Saya merasa sulit menghayati patah hatinya Miyu, karena belum merasa ikut jatuh hati pada Scott.

Kemudian, terkait dengan judulnya--Dua Cinta Negeri Sakura, sepertinya mengacu pada Scott dan Thariq--kakak lelaki Asyila (guru mengaji Aliyah) yang cool, saleh, dan tampan. Tapi porsi Thariq dalam novel ini sedikit sekali, hanya muncul di bagian akhir. Interaksinya bersama Miyu pun sebagian besar dijelaskan dengan cara 'tell' dan bukan 'show'. Ah, sayang sekali…. Padahal saya berharap banyak pada Thariq :D

Walaupun begitu, di balik beberapa kekurangannya, saya mendapatkan lebih banyak hal positif dari novel ini. Pertama, persahabatan yang terjalin di antara Miyu, Ajeng, dan Aliyah. Ketika mengetahui masalah Miyu, Ajeng dan Aliyah meresponnya dengan cara yang berbeda sesuai dengan karakternya masing-masing. Namun di saat yang sama, mereka tetaplah sahabat yang selalu mendukung Miyu.

Kedua, kecintaan Miyu pada tari tradisional Indonesia. Sebagai mantan penari Bali, saya merasa tersanjung :) 
"Mungkin nanti aku akan mengajari anakku menari. Kemudian kami bisa ke Solo bersama-sama. Kalau anak perempuan, pasti dia cantik dalam baju tari Merak atau Bondan. Kalau lelaki, dia pasti lucu dengan tari Kelinci, atau gagah menarikan Gambiranom…."
(Miyu, halaman 63)
Ketiga, pengetahuan tentang lokasi-lokasi dan budaya di Jepang yang menjadi latar dalam cerita ini. Deskripsi yang disampaikan Mbak Irene tentang Odaiba dan Masjid Camii yang benar-benar menggoda, membuat saya tertarik ingin mengunjungi tempat-tempat tersebut.
Masjid Camii memang menakjubkan dengan arsitektur megah dan cantik ala Turki. Kubah masjid yang jauh tinggi itu begitu memesona karena sarat dihiasi kaligrafi dan ornamen dekoratif bernuansa islami. Bahkan sekali lihat, Aliyah langsung jatuh cinta setengah mati pada pintunya. Pada pegangan pintunya sekalipun.
(Halaman 155) 
Perbandingan budaya di Jepang dan Indonesia pun menambah wawasan baru yang menarik sekaligus menyentil.
Orang-orang Indonesia ini selalu menghadapi semua masalah dengan ringan. Orang Jepang menyebut sifat ini sebagai "ooraka"… berhati besar, pemaaf, tidak menganggap besar suatu masalah. Sifat itu sungguh kontras dengan sifat bangsa Jepang. Bagi bangsanya, semua harus serbasempurna. Serbapresisi.
(Halaman 35)
Keempat, nilai-nilai islami yang disisipkan dalam novel ini. Mengenai hijab, kedudukan perempuan, serta hak dan kewajiban suami istri dalam Islam. Cukup mencerahkan bagi orang-orang non-Islam yang ingin mengetahui tentang Islam, termasuk Miyu.
"Pasti ada kekuatan besar yang mengendalikan seluruh alam. Ada tempat bermula dan kembali. Jadi sewajarnya, ada tata cara dan kendaraan bagi manusia untuk hidup sesuai aturan Sang Pengendali itu. Dan sewajarnya pula manusia bersandar memohon kepada kekuatan besar tersebut, karena tidak semua hal dalam kehidupan ini bisa ditangani perhitungan ilmu manusia yang serba tidak sempurna…."
(Miyu, halaman 159)
Dijamin tidak akan rugi deh, membaca novel ini. Hanya, siap-siap saja bakal penasaran setelah membaca curahan hati Ajeng pada Aliyah di bagian ending-nya :p

Rating
Tiga setengah dari lima bintang untuk novel kedua Mbak Irene ini ;)

23 comments:

  1. Kelihatannya bagus :) Senang kalau ada yang berbau Jepang dan dikaitkan dengan Indonesia ceritanya :)

    ReplyDelete
  2. Mungkinkah ada kelanjutannya kalo belakangnya agak gantung? *penasaran* btw, tfs mbaak

    ReplyDelete
  3. Apik covernyaaa, trus2 itu cinta sma suami orang, si istri gimana? Ih dasar lelaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren ya covernya :)
      makanya istrinya stres :))

      Delete
  4. Wah, tahun ini semakin banyak saja Gramedia menerbitkan novel Islami ya mbak. Tetapi tentu saja mereka tidak membuat 'stempel' Islami di sampulnya untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.

    ReplyDelete
  5. pengeeeen baca, stok buku di rumah banyakan nonfiksi hiks..agak berat

    ReplyDelete
  6. asli saya penasaran sama endingnya si miyu sama scott itu :D

    ReplyDelete
  7. harus beli nie novelnya, kebetulan saya suka dengan jepang heheh :D

    ReplyDelete
  8. novel ya, judulnya aja sudah menarik ya, wah baca sedikit saja sudah enak kali kayaknya

    ReplyDelete
  9. Kelihatannya bagus :) jadi ingin membacanya :)

    ReplyDelete
  10. Beruntung yah Scott bsa dapetin cwe jepang :)

    ReplyDelete
  11. Coba ini novelnya dari kisah nyata
    jadi bsa ngiri :D

    ReplyDelete
  12. Terima Kasih ATas infonya, bermamfaat dan menambah wawasan.....
    Salam Kenal Dan Salam Sukses.....

    ReplyDelete
  13. penasaran nih mba alia pengen baca :)

    ReplyDelete