Friday, April 29, 2016

Resensi Happy Book for Happy Parent @ Koran Jakarta

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan rekomendasi sebuah buku bagus dari seorang teman. Temanya apa lagi kalau bukan tentang pengasuhan anak :) Tapi buku ini berbeda dengan buku bertema sama lainnya. Kenapa? Karena kalau pada buku lain objeknya adalah anak, pada buku ini objeknya yaitu orang tua. Jadi, sebelum menerapkan berbagai macam metoda dan pola pengasuhan, sebaiknya orang tua perlu menyiapkan diri terlebih dahulu.

Setelah selesai membaca, saya langsung membuat resensi dan mengirimnya ke redaksi Koran Jakarta. Kangen nih, sudah lama sekali tulisan saya enggak muncul di rubrik Perada. Saya membuat resensinya hari Jumat, mengirimnya hari Sabtu, dan mendapat 'surat cinta' pada hari Minggu. Lumayan shock ketika membaca isinya :') Memang gara-gara saya juga sih. Banyak kesalahan lama yang masih diulangi, karena terlalu lama enggak bikin resensi *pembenaran* :p

Namun terbit harapan juga bahwa mungkin tulisan saya akan dimuat. Biasanya sih begitu :D Dan ternyata benar. Tulisan saya dimuat keesokan harinya, Senin, 25 April 2016. Mudah-mudahan jadi pembuka di tahun ini untuk tulisan-tulisan selanjutnya. Aamiin....

Sayangnya, lagi-lagi saya enggak berhasil mendapatkan versi cetaknya. Padahal hari itu suami sedang berada di Jakarta :(

Berikut tulisan versi asli yang saya kirim.

~~~


Tips Menjadi Orang Tua yang Bahagia

Detail Buku
Judul: Happy Book for Happy Parent
Penulis: Aisya Yuhanida Noor
Editor: Yulia Suzana
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2016
Tebal: 205 halaman
ISBN: 978-602-02-8028-8
Harga: Rp 54.800

Resensi
Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya. Namun pada era informasi seperti sekarang, ilmu pengasuhan dapat dengan mudah untuk diakses. Mulai dari buku, seminar, hingga informasi dari internet. Lalu apakah dengan begitu, tanggung jawab sebagai orang tua bisa dilalui dengan lebih mudah?

Sayangnya, tidak. Bagi sebagian orang tua, peran tersebut bisa menjadi sangat melelahkan. Bukan karena kurangnya ilmu, tapi karena kadang belum siap untuk menerapkannya.

Orang tua menduduki posisi pertama dalam daftar 'pekerjaan' berdasarkan urutan tingkat stresnya. Hal tersebut dapat memunculkan emosi negatif yang secara tidak sadar sering orang tua lampiaskan pada anak. Contohnya seperti tuntutan yang tinggi, bentakan, larangan, banyak menyalahkan, jarang mengapresiasi, jarang memeluk, dan lain-lain (hlm 7). Akibatnya, anak jadi tidak mau dekat dengan orang tua.

Latar belakang tersebut yang membuat psikolog lulusan Universitas Padjadjaran menyusun buku ini. Beliau menulis berdasarkan pengalaman profesional dan pengalaman pribadinya. Buku ini berbeda, karena tidak membahas ilmu parenting, tapi membahas kesiapan pribadi orang tua sebagai orang dewasa dalam menjalankan perannya (hlm 24).

Ada empat prinsip untuk menjadi orang tua yang bahagia, sehingga dapat mempraktikkan pola pengasuhan secara efektif. Pertama, bahwa kita adalah orang tua terbaik yang Tuhan persembahkan untuk mendampingi anak kita. Bagaimanapun kondisi anak kita, ingatlah bahwa Tuhan pastilah memberikan kita anak disertai dengan potensi kesanggupan kita untuk mengasuhnya dengan sebaik mungkin (hlm 36). Manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu pula dengan kita dan anak kita.

Kedua, orang tua adalah tugas seumur hidup dan harus dipertanggungjawabkan. Kita memang tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi orang tua. Namun hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran ketika melakukan kesalahan. Sebagai orang dewasa, kita harus terus memperbaiki kesalahan dan selalu membekali diri agar mampu menjadi orang tua terbaik sesuai potensi yang dimiliki (hlm 47).

Ketiga, emosi anak adalah cermin dari emosi orang tua. Ahli emosi mengatakan bahwa emosi itu lebih menular daripada flu. Akan berpindah dari satu orang ke orang lain, seperti virus (hlm 57). Apalagi pada anak di bawah usia enam tahun yang otaknya lebih didominasi oleh gelombang theta, yaitu gelombang yang membuat semua informasi masuk ke alam bawah sadar. Oleh karena itu, orang tua harus berusaha agar lebih sering merasa bahagia.

Keempat, kepercayaan anak terhadap orang tua tercipta dari kelekatan yang kuat. Bersama, dekat, dan lekat itu berbeda. Kelekatan dengan anak sangat penting sebagai modal untuk dapat terus mendampingi perjalanan hidupnya. Jangan pernah bosan untuk berlatih mengamati ekspresi dan gestur tubuh anak serta langsung mengkonfirmasikannya.

Penulis kemudian meramu tiga langkah kunci untuk mencapai kebahagiaan dalam mengasuh anak, yang disebut sebagai Formula 3 K. Yaitu kenali diri, kelola emosi, dan kelekatan emosi. Langkah tersebut harus senantiasa dilakukan dalam hidup kita (hlm 75).

Dalam mengenal diri, hal yang harus digali adalah kebutuhan dasar diri yang belum terpenuhi, karakter diri yang dapat menjadi sumber konflik dalam pengasuhan, kekuatan dan kelemahan diri, serta nilai pengasuhan yang ingin diteruskan pada anak.

Selanjutnya, orang tua yang mampu mengelola emosi adalah orang tua yang mau dan mampu mengambil tanggung jawab mengelola emosinya sendiri. Sehingga lebih 'tenang', lebih peka dan berempati pada perasaan anak, lebih mampu memotivasi diri, serta bereaksi secara tepat dalam menghadapi masalah (hlm 98).

Terakhir, orang tua harus memberikan respon yang sesuai dengan kebutuhan anak agar tercipta kelekatan emosi. Dan hal yang paling mendasar adalah agar mengada sepenuhnya ketika sedang berinteraksi dengan anak.

Buku yang terdiri dari sepuluh bab ini disampaikan dengan cara yang mengalir dan bahasa yang mudah dipahami. Pada bagian akhir, dilengkapi juga dengan tahapan terperinci dalam mempraktikkan Formula 3 K.

~~~

Sedangkan tulisan versi yang sudah diedit oleh tim redaksi bisa dibaca di sini ;)


32 comments:

  1. Jadi orang tua itu berat pertanggung jawabannya..apa lagi punya anak perempuan..Sebelum anak perempuan nikah..Tanggung jawab dan dosa anak jadi tanggungan Bapaknya...

    ReplyDelete
  2. iyaa setuju mbak..
    jadi ortu memang stressful
    ketika depresi malahg ada yang menyakiti anaknya
    uhm..kalo menular..berarti anak yang tantrum itu..ortunya juga lagi galau?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, makanya butuh persiapan matang supaya ga stres :D

      Delete
    2. oiya mbak..akun twitternya apa ya?

      Delete
  3. Seneng banget baca tulisan ini, sedikit banyak mengingatkan saya sebagai orangtua untuk tetap bisa mengontrol diri dan tetap happy. Nice sharing mba :)

    ReplyDelete
  4. Anak adalah tanggung jawab orang tua, dan menjadikan anak untuk menjadi dewasa tugas yg berat. Yah begitulah gk band sa konentar lagi yg lain.
    Bukunya bagus

    ReplyDelete
  5. minta izin copas ya mbak... buaat dipelajari hehe maaf klu di monitor lama lama baca pening mbak.!

    ReplyDelete
  6. jadi orang tua gak ada sekolahnya dan gak ada wisudanya ya mbak.tiap saat harus update ilmu

    ReplyDelete
  7. selamat ya mba ...jadi pengen baca bukunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba :)
      ayo dibaca mba, recomended...

      Delete
  8. Menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup ya.

    ReplyDelete
  9. Bener tuh kata mbak Ade menjadi orang tua adalah proses belajar SEUMUR HIDUP, saya pun masih akan terus belajar menjadi orang tua

    ReplyDelete
  10. Selamat ya mbak nembus korjak untuk kesekian kalinya

    ReplyDelete
  11. Wah, hebat dimuat di Koran Jakarta. Selamat, ya :)

    ReplyDelete
  12. jadi penasaran sama bukunya, bener banget kadang sebaagi orangtua tidak siap dengan semua permasalahan saat mengasuh anak, oh iyaa, selamat ya tulisannya dimuat di Koran Jakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, pas mau jd ortu nyari ilmunya tentang anak mulu, pdhl diri sendiri blum siap :D

      Delete
  13. Sebelum bsok jadi orang tua, kayaknya kau harus baca-baca buku itu ya mbak ._. suwer jadi orang tua tanggung jawabnya ._. ngeriii :D tapi mau nggak mau tetep harus dijalani sih ya :D

    ReplyDelete
  14. Memang kedekatan emosi dengan anak itu penting banget yah Teh,
    Percuma aja dekat secara fisik tapi secara emosi malah jauh :)

    Keren tulisannya masuk koran nih, selamat yah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan klo lg banyak pikiran, susah bgt praktikinnya :D

      Delete
  15. Bukunya bagus sekali, Mbak.
    Meskipun sudah jadi ortu selama hampir tujuh tahun, selalu ada banyak hal baru menghadapi anak. Jadi kepengin banget baca bukunya ^_^

    ReplyDelete