Identitas Buku
Judul: Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya
Penulis: Reda Gaudiamo
Penyunting: Ipank Pamungkas
Penerbit: Shira Media
Cetakan: XXIV, Desember 2025
Tebal: 126 halaman
ISBN: 978-623-8678-23-5
Harga: Rp 59.000
Dibaca
1 Mei 2026
Blurb
Di balik setiap wajah yang kita jumpai, ada kisah yang nyaris tak pernah terucap. Melalui Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya, Reda Gaudiamo merangkai tiga puluh satu cerita pendek yang mengingatkan kita, bahwa hidup tidak pernah benar-benar biasa. Di tangan Reda, cerita orang-orang biasa berubah menjadi potret kehidupan yang hangat, lucu, dan terkadang menyayat--serta membuat kita sadar, mungkin kita pun salah satunya.
Review
Setelah menonton film Na Willa bersama suami dan anak-anak, saya ingin sekali membaca semua seri bukunya. Keinginan yang udah muncul lama banget, dari zaman si sulung masih kecil sampai sekarang udah remaja. Pokoknya kali ini enggak mau ditunda-tunda lagi.
Tapi pas siap-siap berangkat ke Banjar, tiba-tiba hati ini lebih tertarik untuk membaca buku ini terlebih dahulu, kumpulan cerita pendek dari penulis yang sama.
Kayanya cocok deh untuk dibaca di kereta. Kalaupun ada distraksi, enggak akan terlalu mengganggu proses membaca karena ceritanya pendek-pendek dan enggak bersambung.
Sesuai yang tertulis di blurb-nya, ada tiga puluh satu cerita pendek dalam buku setebal 126 halaman ini. Banyak juga ya. Yup, benar-benar cerita pendek karena paling panjang itu 8 halaman. Bahkan ada juga yang paling pendek hanya 1 halaman. Singkat dan padat. Gaya bahasanya pun ringan serta mudah dipahami.
Sepintas, cerita-ceritanya tampak biasa aja. Hanya adegan orang-orang biasa yang sehari-hari kita jumpai. Namun apabila kita mau memperhatikan dengan lebih saksama, sebenarnya banyak kisah menarik loh dari orang-orang biasa tersebut. Sederhana, tapi mengesankan.
Berikut beberapa cerita pendek yang paling membekas di hati saya.
1, 37, ...
Bercerita tentang seorang perempuan yang enggak pernah menyukai binatang peliharaan. Namun dia terpaksa mengalah ketika suatu hari suaminya memungut kucing dari jalan. Satu per satu terus bertambah hingga akhirnya sudah ada 37 kucing.
"Aku mengancam, kalau dalam seminggu kucing tidak dibuang, aku yang akan keluar dari rumah," katanya."Ternyata dalam seminggu itu kau jatuh cinta pada si kucing?""Tentu tidak! Yang terjadi adalah dia pergi bersama kucing!" Dia menunjuk suaminya.(Halaman 3)
Cerita pembuka yang benar-benar menarik, meski ending-nya miris.
Taruni
Bercerita tentang Taruni--seorang asisten rumah tangga yang setiap pulang kampung selalu diajak kawin, lalu ditinggalkan suaminya setelah tabungannya dikuras habis.
"Dengar, Tar, Lebaran ini, kamu jangan kawin dulu, ya. Ingat, jangan kawin. Tahan diri sedikit," Mak terdengar gemas.(Halaman 50)
Kisah yang menggelitik. Ending yang menggantung membuat saya mengharapkan akhir yang baik untuk Taruni.
Sang Penerbang
Bercerita tentang Jo--pemuda paling gagah dan pintar di pulau--yang bercita-cita ingin menjadi penerbang. Sayang, dia menyia-nyiakan kesempatannya hanya karena tergila-gila pada seorang gadis.
Sejam kemudian, Jo sudah di jalan. Pulang: meninggalkan kertas ujiannya, tergeletak di meja. Kosong. Ditemani pensil dan penghapus yang dibiarkan berserakan.(Halaman 71)
Nyeseuk deh bacanya. Jadi reminder untuk kita semua, jangan sampai bertindak bodoh dan akhirnya menyesal hanya karena cinta, hehehe....
Sang Biduan
Bercerita tentang seorang supir pribadi yang hobi menyanyi. Ternyata sebelumnya dia pernah diajak rekaman oleh Jaja Miharja dan manggung bersama Iis Sugiarti.
"Punya nama panggung, Jo?" tiba-tiba saja Bu Mimis bertanya."Ada, Bu. Soalnya kalau pakai nama Tarjo, ra payu.""Jadi, apa nama panggungmu?""Rocky Jo Kelana, Bu."(Halaman 110)
Cara Jo menyikapi masa lalunya yang sempat gemilang membuat hati terasa hangat.
Penulis Baru
Bercerita tentang seorang bos yang penasaran dengan karyawannya yang tiba-tiba berhenti bekerja tanpa pamit.
Tertulis di situ, Nuni kelahiran Pati. Bukan Bangka. Ia menyesal tak meminta nomor telepon keluarga Nuni yang bisa dihubungi. Ia kesal tak mencatat alamat ayah dan ibu anak ini. Bagaimana ia bisa seceroboh itu?(Halaman 118)
Kisah dengan plot paling ngetwist dalam kumpulan cerita pendek ini. Bikin merinding.
Rating
Empat dari lima bintang. Pas banget untuk teman-teman yang butuh bacaan ringan. Asyik juga untuk dijadikan teman me time favorit--membaca buku di kereta.
No comments:
Post a Comment