Saturday, February 21, 2015

Review: Little Witch Co. 1 - Daur Ulang Pakaian


Detail Buku
Judul: Little Witch Co. 1 - Daur Ulang Pakaian
Penulis: Ambiru Yasuko
Penerjemah: Yunita Dwi Susanti
Penyunting: Aan Wulandari Usman
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Tebal: 106 halaman
ISBN: 978-602-7975-54-5
Harga: Rp 30.000

Review
Setelah beberapa lama mengincar buku seri Little Witch Co. ini, akhirnya saya kesampaian juga membelinya. Waktu itu saya sedang menghadiri acara launching Buku Pintar ASI dan Menyusui yang diadakan di Togamas. Ketika acaranya belum mulai, mata saya jelalatan melihat-lihat buku-buku yang diobral di Mizan Book Fair. Senangnya hati ini saat saya melihat ketiga buku incaran saya terpampang manis di salah satu rak. Setelah acaranya selesai, langsung deh saya bawa bukunya ke kasir :D

Selain gambar sampulnya yang cute, hal lain yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah ceritanya. Tentang penyihir! Sudah ketahuan kan ya dari judulnya juga :p

Jadi, tokoh utama dalam cerita ini yaitu Nana. Dia baru saja pindah rumah. Dalam perjalanan pulang dari sekolah baru menuju rumahnya, Nana menemukan sebuah rumah cantik yang berada di dalam hutan.
Ketika Nana sedang melihat daun-daun yang berkilauan, tampak sebuah rumah terbuat dari batu bata di ujung hutan. Dinding bata itu dikelilingi bunga mawar yang sangat merah seperti anggur. Pintu dan jendela rumah juga dicat merah, di jendelanya tergantung tirai berenda putih.
(Halaman 4)
Ternyata rumah itu merupakan Perusahaan Sihir--Bagian Daur Ulang Pakaian. Penyihirnya adalah Silk, gadis seumuran Nana dengan rambut bergelombang dan pakaian serba hitam. Silk dibantu oleh seekor kucing yang bisa berbicara bernama Cotton.


Sesungguhnya, rumah tersebut hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki kepentingan mendaur ulang pakaian saja. Makanya, Silk dan Cotton merasa heran, bagaimana Nana bisa melihat rumah ini, padahal dia tidak berniat mendaur ulang pakaiannya.
Silk biasanya tahu keperluan orang yang datang ke toko tanpa harus menanyakannya. Tapi, kali ini dia heran, kenapa Nana yang tidak memiliki keperluan apa-apa bisa datang ke toko ini?
(Halaman 18)
Ketika mereka sedang bingung, datang tiga ekor tikus. Mereka membawa gaun mungil berwarna kuning dengan harapan Silk dapat mendaur ulangnya menjadi gaun yang lebih besar, yang akan dipakai oleh Nona Beruang agar bisa datang ke Karnaval Dandelion. Sayangnya, Silk tidak dapat mengabulkan permintaan para tikus.
"Baju ini terlalu kecil. Di sini memang terdapat bermacam-macam bahan. Tapi, jika semua dibuat dengan bahan baru, maka itu bukanlah 'daur ulang'."
(Halaman 26)
Melihat hal tersebut, Nana mempunyai sebuah ide. Ide apakah gerangan? Berhasilkah mereka mendaur ulang pakaian untuk Nona Beruang? Yuk baca bukunya ;)

Buku ini benar-benar menyenangkan untuk dibaca. Ceritanya ringan dan menghibur. Imajinatif sekaligus sarat dengan pesan moral. Cocok untuk anak-anak. Cangkir yang polanya berganti setiap hari, kunci berbentuk liontin yang dapat membuka satu pintu menuju berbagai ruangan yang berbeda, dan rumah kaca berisi macam-macam applique bunga, sungguh memanjakan imajinasi. Selain itu, anak-anak perempuan tentu akan tergiur dengan peralatan jahit yang dimiliki oleh Silk. Apalagi dilampirkan juga tahapan menjahitnya. Jangankan anak-anak, saya saja suka :p


Tapi bukan berarti karena novel ini bercerita tentang kegiatan penyihir maka isinya mengajarkan untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang instan. Lihat saja Silk, Cotton, dan Nana yang begitu sibuk berhari-hari mengerjakan gaun untuk Nona Beruang.
"Barang yang dibuat dengan menggunakan sihir adalah barang murahan. Perusahaan sihir--bagian daur ulang pakaian adalah toko yang membuat barang tanpa menggunakan sihir. Karena itu, barang di sini dikenal tinggi kualitasnya."
(Halaman 53)
Selain itu, saya juga suka pada ilustrasinya yang menarik. Hurufnya besar, mudah untuk dibaca oleh anak-anak yang baru bisa belajar membaca. Terjemahannya pun mengalir dan mudah dimengerti, sehingga nyaman dibaca. Kalaupun ada kekurangan, mungkin karena tidak semua ilustrasi dicetak berwarna. Serta gaya bahasa yang terasa terlalu formal.

Favourite Quote
"Tidak ada seorang pun yang bisa disamakan dengan orang lain. Masing-masing memiliki hal besar dalam diri kita. Tapi, kita sering tidak menyadarinya."
(Halaman 35)
"Kami, kalau hanya satu ekor memang kecil. Tapi jika berkelompok, tidak ada yang bisa mengalahkan kami."
(Halaman 39)
"Kau memikirkan pita yang paling bagus, jadi tidak bisa memilih. Lebih baik, kau pilih berdasarkan kecocokan dengan orang yang akan memakainya saja. Bukan karena kau suka, atau karena pitanya paling bagus"
(Halaman 89)
Rating
Saya memberikan tiga dari lima bintang untuk novel anak ini ;)


19 comments:

  1. Aaaaarrkkk..... aku juga dari dulu pengen punya ini..belum nemu2 nih mak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. masa sih mak? coba di toko buku online atuh...

      Delete
  2. Review yang lengkal mak. Bisa jadi referensi nih buat bacain anak saya juga. Heheu
    Salam kenal ya mak :))

    ReplyDelete
  3. ahh.. ilustrasinya itu emang bikin jatuh hati ya :D

    ReplyDelete
  4. Ilustrasinya jempol banget, detail dan mekarik. Sukses mak :)

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh kok kepencet hapus. Hehehe..
      Pengeen bacaa jugaa deeh.. Paling suka emank buku fantasy anak2 kaya gini.. Pengen nyari ah.. Hehehe..

      Delete
  6. Ini terjemahan, Mak? Kirain dari penulis Indonesia :D

    ReplyDelete
  7. Aku tertarik sama gambar2nya mbak :) cuteee..

    ReplyDelete
  8. saya punya lengkap bukunya. Tapi, baru Nai yang baca :)

    ReplyDelete