Thursday, May 7, 2026

Review: Jejak Dedari



Identitas Buku
Judul: Jejak Dedari
Penulis: Erwin Arnada
Editor: Alit Tisna Palupi
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: pertama, 2016
Tebal: 324 halaman
ISBN: 979-780-860-0
Harga: Rp 75.000

Dibaca
Maret 2026

Blurb
Rare terlahir sebagai gadis bisu tuli dan tak dapat mengelak dari takdir kelahirannya yang dianggap sebagai kutukan.

Hinaan dan duka sepanjang hidupnya membuat Rare bertekad menjadi seorang penari Sanghyang Dedari. Gairah dan semangatnya menjadi penari Sanghyang Dedari menembus kebisuan. Penari Sanghyang Dedari dipercaya sebagai titisan dewa yang menjelma untuk menyembuhkan duka dan petaka yang memburu hingga anak cucu.

Rare berharap dengan menjadi penari Sanghyang Dedari akan menghapus tuduhan “anak kutukan” yang melekat kepada dirinya.

Menak—sang ibu—pun rela berkorban dan membuka rahasia hidup yang ia kubur selama ini. Ia ikhlaskan pengorbanan yang paling berat, bahkan pengorbanan yang paling sesat. Demi Rare dan karma baik keluarga.

Namun, jalan yang ditempuh ternyata tak semudah yang mereka kira.

Review
Lupa beli buku ini kapan, di mana, dan karena apa. Apakah karena latar tempatnya di Bali, atau karena kondisi tokoh utamanya yang bisu dan tuli, atau karena keinginan tokoh utamanya yang ingin menjadi penari.

Tiba-tiba nemu di tumpukan buku yang belum dibaca, warna pinggiran kertasnya sudah menguning, hiks....

Buku ini dibuka dengan kisah tentang sejarah dan mitos yang hidup selama ratusan tahun di Desa Beskala.

Berawal dari wabah dan kekeringan yang menimpa desa ini pada akhir tahun 1800. Perasaan takut akan kematian membuat penduduk desa sebelah barat pergi, meninggalkan penduduk desa sebelah timur yang sedang sekarat. Hal ini berujung pada sumpah dan kutukan untuk penduduk desa sebelah barat yang dikabulkan para dewa dan leluhur.

Untuk semua yang tak mau mendengar teriakan kami... yang tak peduli pada kesakitan anak anak kami.... Semoga Sang Hyang Widhi membisukan mulut kalian, menulikan telinga kalian.
(Halaman 2)

Rare, tokoh utama dalam novel ini, menanggung dosa lama tersebut, terlahir tuli dan bisu. Meski wajahnya cantik dan otaknya cerdas, dia juga lahir tepat pada hari Wuku Wayang.

Wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang membawa tulah karena pada waktu inilah lahirnya raksasa Dewa Kala.
(Halaman 7)

Hal ini membuat Rare kerap disalahkan setiap terjadi petaka dan masalah di Desa Beskala. Bapaknya yang diusir dari desa, keracunan yang menimpa teman-teman sekelasnya, hingga hewan-hewan peliharaan yang tiba-tiba mati, dianggap terjadi karena Rare yang membawa sial.

Rare yang dikeluarkan dari sekolah, mulai belajar menari bersama uwanya, Uwe Ronji. Rare pun mulai bermimpi untuk menjadi penari Sanghyang Dedari.

Ini tarian sakral, yang hanya boleh ditarikan jika desa membutuhkan pengampunan dan pertolongan kepada Ida Batara. Misalnya saat desa ada musibah, wabah penyakit, dan malapetaka.
(Halaman 219)

Sementara itu, ibu Rare, Menak juga tahu bahwa untuk memurnikan anaknya yang lahir pada hari Wuku Wayang, harus melaksanakan ruwatan Sapuh Leger. Sayangnya biayanya enggak sedikit.

Melalui sudut pandang orang ketiga dan alur maju dengan selipan cerita flashback, saya dibawa ke kehidupan Bali dari sisi yang berbeda. Ternyata Bali bukan hanya tempat wisata dan pantai yang indah, tapi ada juga desa yang sebagian besar penduduknya kolok (bisu dan tuli). Yup, kisah dalam buku ini terinspirasi dari kehidupan Desa Kolok di Bali Utara.

Temanya menarik, latarnya pun unik. Gaya bahasanya secara umum ringan dan mudah dipahami. Penulis begitu detail menunjukkan konsep dualisme kehidupan sekala (alam kasat mata) dan niskala (alam tidak kasat mata) di Bali. Suasana Balinya pun semakin terasa kental dengan penggunaan kata dan istilah dalam Bahasa Bali. Sayangnya terlalu banyak, sehingga membuat saya kurang nyaman. Ada catatan kaki sih yang menjelaskan arti kata dan istilah tersebut, tetapi hanya di bab-bab awal aja.

Oh iya, karena sebelumnya sudah diangkat ke layar kaca, terdapat bonus foto-foto yang diambil dari adegan film tersebut. Meski belum menonton filmnya, jadi bisa membayangkan tokoh-tokohnya dengan lebih nyata. Ada Christine Hakim, Reza Rahadian, Alex Komang, dan lain-lain.

Membahas soal tokoh, saya paling suka dengan pergulatan emosi dan perkembangan karakter yang dialami Rare. Kebalikannya, saya kurang bisa memahami tokoh Menak. Keputusan-keputusan yang dibuatnya enggak masuk akal.

Untungnya endingnya bahagia.

Rating
Tiga dari lima bintang.

No comments:

Post a Comment